Via Batavia

0
45
Kopi Aceh di Jakarta - foto Timo
Ilustrasi - Dokpri

Kafe ini bukan area no smoking. Makanya ramai. Asap membumbung, membentur bingkai-bingkai foto yang dipajang di dinding cokelat.

Desainnya antik. Klasik. Tampak foto-foto tokoh revolusioner. Nuansa hitam putih. Ada Soekarno, Che Guevara, dan beberapa lainnya yang tidak sempat saya rekam di dalam kepala.

Kami duduk di pojok. Berempat. Diskusi kecil. Mata saya persis berhadapan dengan foto dua tokoh revolusioner di atas tadi.

Sore ini, Jumat, 13 Desember 2019. Plaza Atrium, Senen, Jakpus menjulang. Sebelum kembali ke daerah masing-masing, kami bertiga—saya, kawan dari Ternate, Maluku Utara, dan satu kaka dari Nabire, Papua—memutuskan untuk nongkrong dan mengopi di salah satu kafe di dalam Atrium.

Satu kawan sedari tadi di dalam kafe. Entah, saya lupa namanya. Kini kami berempat. Baku kenal, pesan kopi dan bacarita.

Saya menengok daya HP tak lebih dari 50 persen, sehingga harus dititip cas di meja sebelah. Lalu saya memutuskan untuk ke toilet karena sejak setengah jam yang lalu kebelet pipis.

“Saya ke toilet dulu,” kata saya kepada tiga kawan.

Sa titip beli rokok ka!” Kata salah satu kawan.

“Iyo, ko turun ke lantai bawah situ ada supermarket,” kata kawan lainnya.

Baiklah. Saya menuju ke supermarket tanpa hambatan. Selepas beli rokok, saya pulang. Menaiki eskalator. Melangkah dengan PD (percaya diri).

Astaga, saya lupa nama kafe—tempat kami nongkrong tadi. Saya jalan kesana-kemari. Pura-pura melihat pakaian, sepatu, atau apa pun di etalase.

“Anjret, saya datang dari mana tadi?” Saya membatin.

Saya bertanya ke beberapa penjaga atau karyawan/i toko. Bukan membeli pakaian atau barang-barang yang dijual. Pura-pura tanya saja.

“Kafe bebas merokok dimana ya?”

“Oh, di sono, Bang!”

Saya lalu menuju ke arah yang mereka tunjuk. Apes, bukan tempat itu yang saya maksud. Tidak ada tanda-tanda bahwa saya datang dari tempat ini.

Saya jalan lagi. Putar-putar. Siapa tau mata saya menangkap pemandangan kafe yang ingin saya tuju.

Kira-kira seperempat jam lamanya saya berkutat dengan pencarian. Sedangkan tiga kawan masih menunggu, entah, dalam kecemasan.

Wah, saya tersesat di keramaian nih. Lengkap sudah. Lagian saya tidak mengantongi HP, untuk bertanya kepada mereka per pesan singkat atau telepon. Ponsel memang dititip mengisi daya (charge).

Bisa-bisa saya ketinggalan pesawat nanti malam ke Jayapura. Saya pura-pura jalan lagi. Keliling lokasi perbelanjaan. Siapa tau yaro tempat tadi kudapati.

Langkah saya pelan. Cek harga barang-barang, dari satu tempat ke tempat lainnya, sambil berniat untuk menanyai siapa saja, yang bisa memberi jawaban pasti.

Di sini, manusia menyemut. Lalu-lalang. Tak ada satu pun manusia yang saya kenal. Begitu pula mereka. Jikalau ada seseorang yang diam-diam melihat saya, barangkali dia berkesan, saya sedang tidak waras. Ah, sudahlah.

Di keramaian seperti ini, kita adalah orang asing. Kita adalah orang asing bagi sesama yang asing. Kau tak bakal menjumpai senyuman ramah merekah di bibir, sebagaimana kau alami di Flores atau Papua.

Tapi, sekira setengah jam kemudian, satu kakak perempuan lewat. Pakai noken. Dia menawarkan barang. Mau belanja rupanya.

Apakah saya harus minta bantuan padanya? Sekadar tanya begitu. Lebih baik bertanya karena tidak tahu daripada berlagak tahu dan tidak tahu diri lalu ketahuan bebal. Saya lantas mengikuti dia. Mendekatinya. Lalu.

Kaka, bantu saya dulu,” kata saya sambil mendekat.

Dia pun berhenti dan menatap saya dengan bingung. Saya menarik nafas lega.

“Bagaimana?”

Adoh, bantu saya dulu. Saya tersesat ni.”

Dia terus menatap dengan kasihan dan saya melanjutkan cerita.

“Tadi saya dari sebuah kafe. Entahlah namanya. Tapi foto di dinding banyak. Seperti di Kota Tua begitu.”

“Waduh, sa juga tidak tau, tapi mari tong tanya sama-sama sudah.”

Baiklah. Kami keliling kawasan ini. Bertanya kepada siapa pun yang tau tempat yang tidak saya tau.

Sa dapat dong nanti sa bla dorang,” katanya kesal dengan kawan saya dan mengasihani saya, sebab seharusnya mereka memberi tahu saya tentang jalan pulang.

“Tadi dia pu tempat (kafe) namanya apa?”

“Adoh, sa tra tau Kaka. Sa cuma ingat desainnya klasik dan banyak foto hitam putih di dinding.”

“Baik, mari tong cari.”

Kami pun mencari sama-sama. Lumayan lama juga. Kira-kira seperempat jam. Tak kurang dari enam orang yang kami tanya. Jawaban mereka hanya “babingung” dan meleset.

“Baru ko darimana?”

Adoh kaka sa dari Jayapura ni ada kegiatan di Jakarta.”

“Iyo, sa juga ada kegiatan. Tong dari Manokwari.”

“Oh, begitu ka?”

Tak terasa perbincangan kami hingga tiba di sebuah pojok. Semoga ini kafenya.

“Coba ko lihat. Apakah ini tempatnya?” katanya.

Saya perhatikan baik-baik. Melihat satu per satu tamu di dalam kafe melalui celah terali dan asap-asap, yang menyebar hingga langit-langit kafe.

“Benar. Ini sudah kaka. Adoooo terima kasih.”

Iyo, ko masuk sudah dan sa sampai di sini saja.”

“Ah, kaka mari tong masuk sudah. Ngopi sama-sama ka.”

Karena buru-buru, dia kembali dan saya memasuki kafe. Kawan-kawan menatap saya dengan bingung. Saya langsung membanting rokok di atas meja. Taulah. Antara marah dan senang; marah karena seharusnya saya tidak mengiyakan permohonan membeli rokok, senang karena akhirnya menemukan jalan pulang.

Mereka kaget setengah mati. Padahal jarak supermarket cuma satu lantai turun melalui eskalator.

“Saya sudah curiga ko tersesat,” kata satu dari tiga kawan.

Iyooo, adoo beruntung ada kaka perempuan yang bantu saya,” saya menjawab.

Ko tra tanya security? Tanya saja Aroma Batavia, dan dorang pasti tau,” kata lainnya.

Wadohhh, sa lupa baca. Hahaha…”

Saya menjawabnya untuk sekadar menghibur diri. Lalu kami menyeruput kopi. Kopi di gelas saya, tak ada namanya. Hanya tertulis kopi hitam pada daftar menu.

Muka si pelayan mulai berubah seperti memerah ketika saya memberondongnya dengan pertanyaan: apakah ada jenis kopi Gayo, Wamena, Toraja atau Kopi Flores.

Ai mamamia lezatos, inilah secuil cerita receh di jalan menuju kafe Aroma Batavia. Tersesat di keramaian. Via Aroma Batavia. Seandainya via Batavia, seperti Lombok, saya mungkin tidak tersesat.

Lombok bukan cabe deh. Lombok dari bahasa Sasak artinya jalan lurus.” Demikian tulisan pada kaos oblong oleh-oleh dari Lombok suatu waktu di masa silam.

Tapi ini Batavia, kawan. Mama Kota. Mama yang mengandung 17.504 pulau, dari Distrik Sota di Merauke sampai Pulau Weh di Aceh, dari Miangas sampai tana aer beta di Nusa Tenun. Ini Jakarta—kota dengan kepadatan paling gila; kota yang membikin macet, tersesat, dan semua ada; kota dengan langit biru yang dikepung kabut polusi dan asap industri. Pusat mana keriuhan sering menghiasi televisi Marten dan Ursula di pelosok negeri. Kata Abdur Arsyad ft Timo Marten.

Cerita konyol ini kelak menjadi kenangan. Dan saya menulisnya sambil menikmati kemacetan pukul 6 sore, Jumat ini, dari Kwitang menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Tersesat di dalam gedung adalah hal biasa dan bukan masalah atau hanya sebuah kebodohan. Setidaknya, bisa jadi, orang-orang Jakarta dan pembaca menduganya demikian.

Tapi kau tau, saya punya kode booking tiket dalam HP yang sengaja ditinggal karena mau dicas. Sebentar lagi saya harus ke bandara, dan saya masih di sini: apakah itu tidak membikin jantung berdetak lebih cepat dari biasanya?

Bisa saja saya malas tau dan menunggu tiga kawan di luar plaza. Biarkan nanti dorang yang antar sa pu HP. Tapi, ketika mereka pulang, misalnya jam 8 atau 9 malam, dan departure time pukul 10 malam, pesawat tra mungkin atret lagi ketika saya baru tiba pukul 11 malam. Di situ saya langsung pulang dan pergi ke monas, cek poster demo yang viral kali lalu. Siapa tau masih ada poster “entah apa yang merasukimu.”

Catatan kecil ini, entahlah punya pesan atau trada. Tapi ada satu yang pasti, bahwa bantuan meski kecil—seperti renungan jalan salib di Madah Bakti—tapi sangat berarti bagi orang-orang yang membutuhkannya. Trims teruntuk kaka perempuan yang membuat saya menemukan jalan pulang. Halo kaka sorry sa lupa nama.

Bahwasannya tolong-menolong timbul dari kepekaan sosial. Empati, simpati, atau apapun sebutannya, pasti dimiliki orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam budaya komunitas yang mendarah daging. Begitu.

Perhatian-perhatian pesawat jurusan Jakarta-Jayapura-Merauke, silakan naik melalui pintu A5. Aiiiii, sa omong apa ini? []

Foto: Dokpri/Lomes

#JP1&8DS19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here