Unik dan khasnya nama orang-orang Manggarai

0
37
Rumah adat orang Manggarai di Ruteng Pu’u – Foto: Kompas.com/Markus Makur

Ketika berkenalan dengan sesama kawan, saya kerap ditanya marga atau fam. Pertanyaan-pertanyaan itu, misalnya, kau dari marga apa? Marga kamu apa? Nama kamu tidak pakai marga ka?

Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah. Sebagai orang yang lahir di kampung dengan budaya yang masih terjaga, saya tidak lantas mengatakan bahwa saya tidak punya marga, kami dari marga A atau B, dan lain-lain.

Bahwa nama orang-orang Manggarai berbeda dengan nama-nama masyarakat lain di Pulau Flores atau Indonesia timur lainnya adalah fakta yang tidak terbantahkan. Meski begitu, terdapat beberapa nama belakang seperti orang-orang dari daerah lainnya di Flores.

Di Flores Timur, misalnya, kita dengan mudah menemukan nama-nama fam seperti da Cunha, de Ornai, da Silva, da Costa, Pareira, Riberu, Tukan, Raya, Ratu, Bala, Kobun, Suban, Hayon, dan lain-lain.

Di Manggarai (kini Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Kabupaten Manggarai Barat), kita tentu sulit menemukan deretan nama sama atau satu “marga”. Namun, tidak mustahil kita dapat melacak nama-nama orang Manggarai dan seluk-beluknya. Kita dapat dengan mudah menemukan fakta-fakta tentang nama orang-orang dari bagian barat Pulau Flores ini. 

Ada beberapa fakta yang mencirikan nama orang Manggarai begitu khas, unik, dan tentu membuat siapapun berdecak kagum, serta memudahkan kita untuk melacak leluhur atau “marga” orang Manggarai. Fakta-fakta itu saya sajikan dalam tulisan ringan ini, dan tentu tidak menutup kemungkinan terdapat fakta-fakta lain bila ditelaah secara antropolgis, historis, sosial-budaya, dan lain-lain.

Fakta-fakta yang saya rangkum adalah sebagai berikut:

Pertama, nama kampung. Di Manggarai lebih dari dua kampung tentu mempunyai nama yang sama meski di wilayah kecamatan atau kabupaten berbeda. Misalnya nama Kampung Karot di Ruteng (ibu kota Kabupaten Manggarai), juga terdapat nama yang sama dengan nama kampung di kecamatan atau bahkan kabupaten lainnya. Di Kecamatan Lelak (Manggarai) dan Welak (Manggarai Barat) terdapat nama Kampung Karot. Begitu pula dengan nama-nama kampung lainnya, seperti, Suka, Todo, Welu, Lenteng, dan lain-lain;

Kedua, nama kebun (lingko) bisa ditemukan nama yang sama di sejumlah kampung, bahkan di daerah lainnya menjadikan nama kampung. Misalnya Tureng, Ka, Golo Kalo, Wae Selang, Wae Lelang, dll;

Ketiga, nama-nama orang Manggarai bisa bernama sama, bahkan dari awal sampai akhir (nama awal dan akhir). Misalnya nama Timoteus Marten akan dengan mudah ditemukan di kampung lain dengan nama yang tidak kurang satu huruf pun;

Keempat, dalam satu keturunan (panga/wa’u) hampir pasti diselipkan nama nenek moyang, misalnya nama nenek untuk anak perempuan atau nama kakek (entah generasi keberapa) untuk anak laki-laki, sehingga mudah dilacak;

Kelima, nama marga atau nama leluhur biasa ditemukan pada keluarga-keluarga tertentu dan itu biasanya untuk orang-orang terpandang dan keturunan kraeng atau dalu atau raja;

Keenam, nama orang Manggarai biasanya mirip atau seperti nama orang-orang muslim Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, dan digabungkan dengan nama serani (kristiani). Misalnya, Fransiskus Nurdin, Marselinus Syamsudin, Karolus Burdin, Heribertus Senudin, Yohanes Hamad, Ignasius Hasyim, Ignasius Suradin, dan lain-lain;

Ketujuh, nama akhir orang-orang Manggarai biasanya kebanyakan diawali huruf Je. Misalnya, Jemarut, Jelahut, Jelahu, Jekaut, Jedanggu, Jegau, Jehuruf, Jebaru, Jemeko, Jemahu, Jempao, Jewaru, Jebia, Jebian, Jeluhu, Jemima, Jematu, Jemarus, Jehana, Jehaban, Jehabur, Jehadi, Jehabut, Jelatu, Jehatu, dan lain-lain;

Kedelapan, nama-nama orang Manggarai juga biasa ditemukan seperti nama orang-orang Jawa. Misalnya, Adrianus Durhaman, Yulianus Sudyanto, Adrianus Suryanto, Fulgensius Suryanto, Heribertus Karno, Evalius Arman, dan lain-lain;

Kesembilan, nama-nama orang Manggarai juga seperti nama orang muslim dan digabung dengan nama serani. Misal, Laurensius Gafur, Emilianus Burhan, Sirilus Subin, dan lain-lain;

Kesepuluh, orang-orang Manggarai biasanya mempunyai tradisi “nunduk” atau melacak silsilah. Jika kita bertamu atau bertemu orang Manggarai, hampir pasti kita selalu disuguhkan dengan pertanyaan awal asal kampung, menanyakan keluarga, dan akhirnya ditarik suatu kesimpulan bahwa kita berasal atau punya hubungan keluarga atau punya leluhur yang sama. Itu tadi. Dari nunduk itu ditemukan satu garis keturunan, baik dari pihak bapak, maupun dari pihak mama;

Kesebelas, nama-nama orang Manggarai juga seperti nama marga orang Barat, misalnya, Andreas Bale, Rikardus Nsalu, Andreas Nasu, Beatus Yufarlo, dan lain-lain;

Keduabelas, nama-nama orang Manggarai biasa juga ditemukan seperti arah mata angin, misalnya, Yohanes Selatan, Fransiskus Barat Daya, dan Aloysius Timur;

Ketigabelas, nama orang-orang Manggarai juga seperti nama hari, misalnya, Antonius Minggu, Robertus Rabu, Andreas Selasa, Hironimus Sabtu, Barnabas Jumat, dan lain-lain.

Itulah fakta-fakta yang saya rangkum. Yang pasti nama-nama itu mempunyai arti, unik, khas, dan pesan serta punya sejarahnya, apalagi orang-orang Manggarai punya tradisi memberi nama dengan upacara adat yang dinamakan cear cumpeng atau cear cumpe, selain tradisi krisitiani..[]

Artikel ini sebelumnya dipublikasikan di Societasnews.id dan diedit seperlunya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here