Tradisi wuat wa’i dan pesta sekolah di Lentang

“Eme lalong bakok du lakom, toto panggal koe kole tanam.”

Beberapa waktu lalu saya ditelepon adik dan keluarga dari kampung. Pasalnya sejak Mei lalu ramai dihelat pesta sekolah. Tradisi ini memang lumrah sejak saya masih kecil, bahkan jauh sebelum itu. Biasanya sampai Agustus atau September saban tahun.

Pesta sekolah merupakan ajang berkumpul bersama untuk mengumpulkan dana bagi anak-anak lulusan SMA, yang akan pergi merantau, baik untuk studi, maupun mencari nafkah atau biasa disebut ngo pala.

Saya lantas mau mengulas sekenanya ihwal tradisi tersebut: pesta sekolah dan wuat wai. Setidaknya menjadi semacam flash back, atau sekadar informasi bagi sidang pembaca.

Lentang selayang pandang

Hampir pasti semua kampung di Manggarai memiliki tradisi serupa tiap tahun selepas seorang anak tamat SMA.

Namun saya memfokuskan ulasan sederhana ini pada Kampung Lentang–tempat saya menghabiskan masa kecil dan mengenal budaya Manggarai.

Secara administratif Kampung Lentang berada di Desa Lentang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ditempuh sejauh 30 kilometer ke arah barat dari kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai atau sekira satu jam perjalanan dengan oto (angkutan pedesaan).

Berada di perbatasan Manggarai dan Manggarai Barat, akses ke Lentang ditempuh selama empat jam dengan mobil dari Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.

Desa yang berbatasan dengan Kecamatan Satarmese Barat dan Kabupaten Manggarai Barat ini, baru dimekarkan dari desa induknya, Desa Lamba-Ketang, pada 2017, dengan kepala desa pertama Hironimus Jehamat.

Desa Lentang memiliki tiga kampung, yakni Kampung Kalo, Pelus dan Kampung Lentang–yang memiliki beberapa “kampung” pemekaran, yakni, Ketang/Ka, Golo Nderu, Golo Lando, Watu Weri, Wae Roku, dan Rombang.

Secara geografis Desa Lentang berada di daerah perbukitan dan gunung-gemunung, dengan persentasi kemiringan 10-65 persen dan ketinggian 900-1.000 mdpl.

Rumah-rumah penduduk berada di punggung-punggung bukit (golo) dan puncak bukit. Sebagian besar mata pencaharian mereka adalah bertani dan peternak.

Mereka bercocok tanam dua musim (cekeng dan kelang) pada kondisi tanah androsol dengan tingkat keasaman (PH) sekitar 5,5 – 5,7 (BPS, 2018).

Di sini terdapat 2 dusun, 3 RW, dan 9 RT. Luas wilayahnya 8,10 kilometer. Penduduknya sebanyak 1.923 jiwa dengan kepadatan 237,41 per kilometer persegi (BPS).

Lokus penulisan saya hanya Kampung Lentang. Dalam pemahaman yang lazim, seperti dalam KBBI, kampung berarti; 1) kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah); 2) desa, dusun; 3) kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu, terletak di bawah kecamatan; 4) terbelakang (belum modern), berkaitan dengan kebiasaan di kampung, kolot.

Kampung dalam bahasa dan budaya Manggarai artinya beo atau golo. Kampung berarti kumpulan masyarakat dari berbagai klan atau panga (wa’u), yang tinggal bersama, melaksanakan aktivitas bersama, diikat oleh adat dan tradisi yang sama dan diwariskan secara turun-temurun.

Kampung atau golo (beo) berarti memiliki lima atribut yang menjadi filosofi masyarakat, yakni, mbaru bate ka’eng (rumah tinggal), natas bate labar (halaman kampung), wae bate teku (air dan mata air untuk warga kampung), compang bate dari (mesbah undakan batu sebagai persembahan bagi leluhur) dan uma bate duat (kebun komunal tempat bekerja).

Di dalam sebuah kampung terdapat rumah adat (mbaru tembong), dan rumah-rumah bersama yang ditinggali beberapa kepala keluarga dari satu panga (klan).

Sebuah kampung dipimpin oleh tua golo dan perangkatnya–semacam menteri atau dinas-dinas yang mengurusi bidang-bidang tertentu.

Misalnya tua teno untuk pembukaan kebun komunal, tua panga untuk urusan klan. Tua golo dan perwakilan klan (panga) tinggal di rumah adat tadi.

Perlengkapan-perlengkapan caci, gong/gendang, dan barang lainnya disimpan di mbaru tembong.
Mbaru tembong juga sebagai tempat pertemuan warga kampung (pa’angn olo ngaungn musi).

Biasanya gong dibunyikan jika ada pertemuan atau sidang di kampung. Jika ada bunyo gong berarti akan ada sidang dan paang olo ngaung musi pun bergagas.

Dengan demikian, kampung merujuk pemahaman bahasa Manggarai, Kampung Lentang. Kampung juga disebut gendang; Gendang Lentang. Seperti ungkapan lazim tentang kampung; gendangn one lingkon pe’ang (kampung dan kebun).

Menurut penuturan orang-orang tua, nenek moyang orang Lentang bernama Wae Ngaram Rani. Dua saudaranya bernama Teka Wewam Toal dan Ratus Makur.

Teka dan Ratus Makur tinggal di Kampung Lamba, Desa Lamba-Ketang. Dari Teka Wewam Toal dan Ratus Makur, berkembanglah generasi Kampung Lamba, Ketang, dan sebagian di Maras (Kecamatan Ruteng).

Sedangkan Wae Ngaram Rani memperanakkan tiga anak (laki-laki). Ketiganya biasa disebut Wae Ngaso, One Reha dan Wae Cucu. Keturunan ketiganya tinggal di Lentang, bersama beberapa keluarga yang biasa disebut Anak Rona Ara dan Woe Lela, serta masyarakat dari beberapa kampung lain.

Keturunan orang Lentang selain tinggal di kampung dan pemekarannya, ada yang tinggal di Boleng, Terang, Manggarai Barat, dan Lada, Kecamatan Reok Barat, Manggarai, serta Golo Karot, Lembor, Manggarai Barat.

Generasi bertambah saban tahun. Permukiman masyarakat Kampung Lentang pun dibuka hingga melahirkan pemukiman baru. Biasa disebut pemekaran, yakni bagian barat Golo Ketang (Lingko Ka), Golo Nderu, Golo Lando, Watu Weri, Rombang dan Wae Roku.

Begitu sepintasnya. Lentang yang dimaksud dalam tulisan sederhana ini adalah Kampung Lentang atau Golo Lentang. Bukan Desa Lentang.

Pada masa pemerintahan Kerajaan Todo (di selatan Manggarai), Lentang masuk dalam administrasi Hamente Lelak.
Maka sebutan kampung dalam tulisan ini, saya pertegas, agar orang-orang bukan Manggarai dan media massa, tidak keliru saat menyebut kampung dan desa di Manggarai.

Meski tak ada data yang pasti, dalam kenyataannya, penyebutan kampung dan desa kerap keliru. Desa dan kampung seolah-olah sama dan sejajar, atau menyebut desa untuk satu kampung. Padahal, sebenarnya satu kampung belum tentu satu desa, meski tak dimungkiri ada juga desa yang hanya satu kampung.

Kampung Lentang, Manggarai, Flores
Kampung Halamanku. Namanya Kampung Lentang. Ini rumah adat kami (Mbaru Gendang/Mbaru Tembong). Mbaru=rumah, tembong=gendang. Di dalam rumah gendang dihuni beberapa keluarga yang merupakan perwakilan dari tiap panga (klan). Di dalamnya juga disimpan alat-alat musik tradisional semisal Gong, gendang, dll. Selain itu juga disimpan atribut tarian caci seperti Nggiling (tameng), lempa (pecut), koret (perisai), dll. Di bubungannya ada tanduk kerbau. Di bagian depan itu mesbah yang ditanam pohon dadap (haju kalo). Mesbah sebagai tempat menyimpan persembahan kepada leluhur dan atau (YANG TERTINGGI yang disebut MORI KRAENG). Halamannya disebut natas (natas bate labar). foto: dok.pribadi

Di Manggarai biasanya satu desa terdiri dari dua atau lebih kampung. Misalnya Desa Lamba-Ketang, sebelum dimekarkan terdiri atas tujuh kampung, yakni, Lamba, Lentang, Tango, Pelus, Kalo, Polor, dan Raong.

Desa itu kemudian dimekarkan menjadi Desa Lentang (Lentang, Pelus, Kalo) dan Desa Lamba-Ketang (Lamba, Tango, Polor, dan Raong).

Atau desa tetangga, Desa Bulan, yang terdiri atas Kampung Anam, Anam Nangka, Bung, dan Gulung, dan Desa Bangka Lelak sebelum pemekaran yang terdiri atas; Kampung Rejeng, Dese, Wakel, Manu, Welu, Tonggur, Mbohang, Werong dan Karot.

Kebudayaan Manggarai

Setelah panjang lebar omong tentang Lentang, saya hanya menyentil sedikit tradisi wuat wa’i dan pala atau merantau seturut pemahaman dan cerita tutur masyarakat dan orang-orang tua.

Meski berdasarkan penuturan dan pengalaman penulis, artikel ini sedianya didukung ketidakterbatasan referensi ilmiah dan sahih, dan bukan hanya pengalaman empiris. Terutama dan pertama-tama karena tradisi dan kebudayaan merujuk pada makna serupa. Oleh karenanya, rujukan ilmiah menjadi kaya.

Namun demikian, pemikiran-pemikiran para ahli sedianya mempertebal referensi dan gambaran tentang kebudayaan Kampung Lentang dan Manggarai pada umumnya.

Secara sederhana budaya berasal dari bahasa Sanksekerta (Liputan6.com, 2019), budi yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Budaya adalah cara (pola) hidup sekelompok orang yang terus berkembang dan diturunkan ke generasi berikutnya.

Menurut KBBI adat merupakan aturan (perbuatan dsb) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala.

Adat adalah cara (kelakuan dsb) yang sudah menjadi kebiasaan; adat juga sebagai wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem; cukai menurut peraturan yang berlaku.

Adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat.

Sedangkan budaya, yaitu pikiran; akal budi, dan adat-istiadat adalah sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju) dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat.

Adat dan budaya atau tradisi itu agaknya beda-beda tipis. Adat itu tetap dan tidak dipengaruhi perkembangan zaman, sedangkan tradisi bisa jadi berkembang sesuai perkembangan zaman.

Beberapa pendapat ahli seperti dirangkum Aridarmayasa dalam dps.ac.id (2019) mendefisikan kebudayaan. Misalnya antropolog Universitas Indonesia
Koentjaraningrat, yang berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.

Edward Burnett Tylor mendefinisikan kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari pengertian tersebut di atas ditemukan kata kunci yakni akal, rasa, karsa, tindakan, masyarakat, dan diwariskan secara turun-temurun.

Orang Lentang dan Manggarai pada umumnya memiliki kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun.

Wuat wa’i dan pesta sekolah

Bagaimana dengan tradisi wuat wa’i dan pesta sekolah? Secara harafiah wuat wai dari kata wuat dan wa’i. Wuat artinya memberi makan (memberi bekal), dan wa’i artinya kaki.

Biasanya wuat wa’i merupakan ritual doa bersama saat seseorang atau anggota keluarga merantau. Entah untuk studi atau mencari nafkah.

Saat wuat wa’i, juru doa menyampaikan doa permohonan kepada Mori Jari Agu Dedek (Tuhan Pencipta dan Pemilik Kehidupan) dan leluhur, agar melindungi dan menyertai dia yang akan meninggalkan kampung halaman.

Maka dibunuhlah ayam putih sebagai silih persembahan. Daging ayam tersebut dimakan bersama. Bagian terdalamnya ditaruh dalam wadah lalu diberikan kepada leluhur sebagai simbol, bahwa mereka juga hadir dalam upacara tersebut, dan selalu membimbing si calon perantau.

Acara ini biasa dilakukan pada malam, dan pagi hari sebelum meninggalkan rumah, kampung, dan sanak famili. Harapannya agar seorang anak akan merantau dan pulang dengan membawa keberhasilan, baik dalam studi, maupun dalam hal-hal lainnya.

Orang Lentang, Manggarai, Flores
Suasana keluarga dalam pesta sekolah di Kampung Lentang, 2 Juli 2019 – Delomes/Dokpri

Harapan itu biasa simbolkan dalam ungkapan “lalong bakok du lakom lalong rombeng koe du kolem” (ayam putih waktu berangkat semoga ayam berwarna-warni saat pulang).

Tudak wuat wai harus manuk bakok, porong eme lalong bakok, du lakom lalong rombeng koe du kolem (tudak/doa wuat wa’i harus ayam jantan putih dan ayam warna-warni saat pulang),” kata warga Lentang, Ema Yeremias Gambur.

Jika si anak menyelesaikan kuliah kelak, maka dilakukan upacara syukuran.

“Karena kalau sudah kuliah dilakukan ucapan terima kasih ijazah dengan manuk rompok cepang,” lanjutnya.

Dalam tradisi Manggarai biasa disebut “toto panggal“. Toto (menunjukkan) panggal (penutup kepala dan perlengkapan tarian caci) merujuk pada kesuksesan. Kelulusan yang disimbolkan seperti toga.

“Maksudnya sudah gelar sarjana dan bawa pulang ijazah,” kata bapak lima anak, yang semuanya sukses menyandang sarjana itu.

Sedangkan pesta sekolah lebih modern. Disebut pesta sekolah, karena yang menjadi “mempelai” adalah dia yang baru tamat sekolah dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Acara ini dimeriahkan dengan musik-musik, baik musik tradisional maupun musik modern, diselingi dansa dan disko.

Undangan membawa sejumlah uang untuk si “mempelai”. Mereka akan berjabat tangan sambil memberikan uang. Bahasa Manggarainya cau lime atau pegang tangan.

Selain jabat tangan, undangan juga membeli tuak, rokok dan daging kepada tuan pesta. Uang hasil jualan itu semata-mata untuk si anak yang akan merantau (studi) tadi.

Saat pesta berlangsung biasanya dimulai oleh MC atau penata acara, jabat tangan, tuak kapu atau tuak reis, makan dan “acara bebas”.

Tuak kapu adalah sapaan (menyapa) dari pemilik pesta (dan kampung) yang disimbolkan dengan tuak (minuman tradisional) kepada undangan.

Ungkapannya, misalnya:
Mori, hitut bao ko?” (Tuan, terima kasih karena kalian sudah datang dan menghadiri undangan kami).

Dan dijawab serempak, “Iyo, ite!!” (Ya, Tuan).

Lalu dilanjutkan,
“Mori, ai olo lami tombon, rewengn agu wewa te bantang cama reje lele wie ho’o. Ole ho’o neng mai itet Mori. Bombong keta dami rak, mohas nai. Neho joeng tuka koe, neho tendeng tuka mese. Naka lami neho wua pandang kapu neho wua pau. Te kapu lami ite, mese baild itet mori. Ole, hoo kin tuak dami!”

Terjemahan bebas:
“Tuan, sudah lama kami beri tahu, menyuarakan tentang pesta bersama malam ini. Aduh, kami senang karena tuan-tuan sudah hadir. Hati kami berbunga-bunga. Perut kami ibarat buah joeng dan tendeng. Kami menyambut seperti mendapat buah nanas dan mangga. Kami mau pangku kalian, tapi kalian lebih besar dan tidak bisa dipangku seperti anak kecil. Karena itu, inilah tuak simbol penyambutan dan penghormatan kami.”

Setelah juru bicara (biasanya tua adat atau yang dituakan) memberikan tuak, perwakilan undangan menjawab bebas dan mengambil tuak itu, lalu memberikan sejumlah uang.

Setelah tuak kapu, dilanjutkan acara lainnya, seperti nasihat-nasihat, dansa dan disko, setelah semuanya makan, lalu acara bebas atau gosok lantai sampai pagi.

Nasihat atau petuah biasa dilakukan melalui lagu-lagu dan kata-kata. Acara bebas atau gosok lantai adalah saat berdansa atau disko bagi muda-mudi.

Sebelum tahun 2000-an, pesta sekolah biasa dihadiri masyarakat kampung, baik kampung tetangga, maupun kampung jauh lainnya, yang sudah diberi tahu melalui undangan. Undangan memenuhi kemah dan natas (halaman) kampung.

Di sisi lain, pesta sekolah biasanya juga ajang cari jodoh, sehingga dominan yang hadir adalah muda-mudi. Namun, seiring waktu berjalan, penduduk semakin bertambah. Pesta sekolah pun hanya keluarga-keluarga tertentu dan pang olo ngaung musi (masyarakat sekampung), dan keluarga lainnya. Tapi esensinya pesta sekolah adalah kumpul dana.

Belum pasti sejak kapan pesta sekolah dimulai. Tapi sejak adanya kesadaran masyarakat tentang sekolah dan “langgar laut”, sejak saat itu pula dibuat pesta sekolah. Di Lentang misalnya dilakukan sejak 1970-an.

Heribertus Jehadun adalah salah satu anak muda Kampung Lentang. Dia mengatakan, bahwa pesta sekolah didukung oleh orang banyak, untuk segala niat dan rencana bagi perjuangan hidup para pelajar.

Dukungan keluarga dan para kerabat menjadi motivasi utama di samping keinginan pribadi dan restu Mori Jari Agu Dedek.

“Pada intinya bahwa betapa pentingnya sekolah, maka dukungan ende/ema, ase/kae, menjadi sebuah kekuatan dalam mengejar nasib seseorang (pelajar),” kata Heribertus.

Syukuran adat Manggarai
Upacara adat dan misa syukuran keluarga Bapak Yeremias Gambur di Lentang, Juni 2019 – facebook/icha leonarda

Catatan reflektif

Tulisan ini mungkin melelahkan mata pembaca. Mata saya juga nyaris berair, sehingga kawan saya mengira saya sedang menangis. Tambahan pula, topiknya kental dengan nuansa lokalitasnya.

Pada gilirannya, wuat wai dan pesta sekolah patut direfleksikan, dikaji, dan dilestarikan, sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Manggarai.

Dalam upacara wuat wai dan pesta sekolah, dukungan anggota keluarga dan undangan sangat dibutuhkan. Dukungan itu berupa dukungan moril dan materil. Ditandai dengan kehadiran, doa bersama, mengikuti semua prosesi dengan baik, dan memberikan sepeser uang, serta menjaga tradisi.

Kesemua itu merupakan dukungan tidak terhingga. Apalagi itu bersifat sukarela dan bukan paksaan. Kehadiran wujud tertinggi (Mori Jari Dedek) dan leluhur juga menjadi penting.

Kampung Lentang dan Manggarai pada umumnya, merupakan bagian dari komunitas global yang memiliki tradisi, budaya, dan seperangkat nilai dalam kehidupan bermasyarakat.

Adat, tradisi, dan nilai-nilai itu diwariskan dalam kehidupan bermasyarakat, dimana pun mereka berada. Tak terkecuali dalam memajukan (mendukung) pendidikan.

Tradisi atau praktik yang diwariskan secara turun-turun dalam masyarakat Kampung Lentang tadi–yang sebagiannya terejawantah dalam upacara wuat wa’i dan pesta sekolah–merupakan kebiasaan orang Manggarai pada umumnya.

Kebersamaan (kekeluargaan), tolong-menolong (gotong-royong) dan rasa sosial, serta nilai budaya sangat kentara dalam wuat wa’i dan pesta sekolah.

Rasa sosial dan kepedulian terhadap sesama tersebut merupakan bagian dari kebiasaan yang dilakukan turun-temurun. Ini sejalan dengan konsep kebudayaan menurut Ralph Linton (1839-1953) sebagaimana dikutip Aridarmayasa (2018) dalam dps.ac.id (2019). Linton mendefisikan kebudayaan sebagai sifat sosial yang dimiliki oleh manusia secara turun-temurun (Man’s social heredi).

Warisan-warisan dan tradisi seperti di atas patut dijaga dan dilestarikan. Bukan malah melepaskannya dengan dalih modernitas dan legitimasi sikap individualistik dan egosentristik.

Orang-orang tua Manggarai biasa berpetuah melalui nyanyian dan ungkapan (go’et) tentang kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, dan nilai moral lainnya, dalam budaya. Beberapa di antaranya, padir wai rentu sai, bantang cama reje leleng, teu ca ambong neka woleng jaong, muku ca pu’u neka woleng curup, dan masih banyak go’et lainnya.

“Saya biasa nyanyi lagu dengan goet-goet (ungkapan-ungkapan)–untuk memberikan nasihat saat pesta sekolah,” kata Yeremias.

Mengajarkan nilai-nilai kebudayaan pada masyarakat Manggarai seperti itu, sedianya mempunyai kemiripan dengan apa yang dilakukan filsuf Tiongkok, Konfusius.

Dalam Lyndon Saputra (edit.), Literatur Ajaran Lengkap Konfusius (2002), Konfusius selalu mengajarkan murid-muridnya dalam empat disiplin ilmu, yakni, kebudayaan, tingkah laku, loyalitas, dan itikad baik. Kebajikan Konfusius diperoleh berkat kecintaan pada kebudayaan nenek moyang, kecerdasan, dan kerja kerasnya.

Kepergian seperti yang diharapkan pada wuat wa’i dan pesta kelak juga dilakukan upacara yang sama. Berupa misa syukuran dan ritual adat. Ini menandakan bahwa orang Lentang (dan Manggarai pada umumnya), meyakini bahwa kesuksesan diraih berkat campur tangan Tuhan dan leluhur.

“Setelah acara adat baru misa syukuran. Kapu cengkalis ijazah diset lima agu wote sua tau, koa sua tau,” ujar Yeremias.

Mbe, ela, agu lalong rompok cepang (kambing, babi, dan ayam warna warni), merupakan hewan persembahan untuk ritual yang dimaksud. []

JPR, tijul19

Ase Iwantinus Agung SVD, Ase Petrus Jandu (Piter), dan Ase Ari Jehamat berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *