Tolak penutupan Pulau Komodo!

Mengapa saya menolak penutupan Pulau Komodo? Tak terhitung berapa banyak orang yang bertanya mengenai hal itu. Ada yang menghina, memuji, meng-kick out saya dari grup WA, dan ada yang penasaran.

Saya berkeyakinan bahwa Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilo Laiskodat akan mengambil alih Taman Nasional Komodo (TNK) di bawah otoritas Pemerintah Provinsi NTT, sehingga dia punya wewenang untuk menyerahkan pengelolaannya kepada pihak lain atau swasta.

Perusahaan swasta inilah yang akan bermain banyak di TNK. Di Pulau Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, banyak uang yang beredar dan banyak potensi yang belum digarap dengan baik.

Di Kecamatan Komodo terdapat usaha kecil sebanyak 55 perusahaan, perusahaan menengah 10, dan sektor perusahaan besar 16 perusahaan.

Beliau jangan sampai terjebak untuk menjadikan TNK sebagai pundi-pundi rupiah, entah untuk pemprov atau  kantong pribadi.

Sejak Gubernur Viktor melontarkan wacana kenaikan tiket masuk TNK pada November 2018 di Gedung Assumpta Ruteng, Kabupaten Manggarai, saya sudah meyakini bahwa akan ada banyak “amunisi” yang dipakai untuk mencapai tujuan menguasai TNK.

Setelah wacana itu, muncul wacana baru untuk menghentikan izin semua hotel melati di Labuan Bajo. Ini modus supaya orang-orang kelas menengah tidak berinvestasi di Labuan bajo.

Beberapa bulan setelah itu, muncul lagi wacana penutupan pulau Komodo dengan alasan revitalisasi dan konservasi.

Mengapa ditutup? Mengapa ditutup hanya setahun? Mengapa hanya Pulau Komodo yang ditutup? Seberapa rusak Pulau Komodo sehingga perlu direvitalisasi? Apakah selama ini aktivitas pariwisata sudah merusak konservasi? Pendapatan asli daerah (PAD) dari TNK kecil?

Desa Komodo sendiri seluas 19.808 hektare. Penduduk di Desa Komodo menurut data BPS dalam Kecamatan Komodo Dalam Angka 2018 sebanyak 855 laki-laki dan 904 perempuan dengan sex ratio 94.58. Di Desa Komodo terdapat 1 pustu dan 2 posyandu, serta 1 SD dan 1 SMP.

Penduduk setempat bermata pencaharian sebagai nelayan dan mereka sudah ada jauh sebelum ditetapkan sebagai TNK pada 6 Maret 1980 dan cagar manusia dan biosfer pada 1977, serta ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 1991, dan trend wisata Indonesia hingga sekarang.

Luas TNK sekitar 1.733 kilometer persegi dan 60 persen dari luas tersebut adalah kawasan perairan.

Arnaz Mehta Erdmann (2004) dalam Panduan Sejarah Ekologi Taman Nasional Komodo (PDF), menyebutkan, di wilayah perairan TNK terdapat 17 kilometer persegi terumbu karang dengan kedalaman sekitar 20 meter, 253 spesies karang pembentuk terumbu yang termasuk dalam 70 marga, 1.000 spesies ikan dan hewan laut yang tergolong langka, seperti duyung, paus, lumba-lumba, penyu, dan sejumlah hewan laut yang dilindungi lainnya.

Sedangkan spesies lainnya terdapat alga, lamun, dan 19 spesies bakau dan 8 spesies berhubungan dengan bakau.

Sedangkan di wilayah daratan, menurut data Balai TNK, satwa komodo hingga 2018 sebanyak 2.800 ekor. Di Pulau Rinca sekira 1.040 ekor.

Jumlah kunjungan per 2017 di TNK sebanyak 125.069 orang dengan perincian 76.612 wisatawan asing dan 48.457 wisatawan domestik.

Taman Nasional Komodo terdiri dari 147 pulau, dengan 5 pulau besar–Komodo, Rinca, Padar, Nusa Kode, dan Pulau Gili Motang.

Dari banyak pulau ini, hanya Pulau Komodo, Padar, dan Pulau Rinca yang dijadikan lokasi trekking oleh wisatawan, baik untuk melihat komodo, maupun menikmati panorama alamnya.

Pulau terbesar dari tiga pulau tujuan trekking tersebut adalah Pulau Komodo dengan luas 390 kilometer persegi.

Dari luas ini, lokasi yang digunakan oleh wisatawan untuk melihat Komodo hanya wilayah Loh Liang. Rata-rata wisatawan trekking di Loh Liang untuk melihat keseharian binatang purbakala Komodo (Varanus Komodoensis) dan menghbiskan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Rute atau jalur trekking itu sudah diatur sedemikian rupa oleh otoritas TNK, sehingga wisatawan hanya boleh berjalan di atas track yang ada. Anda yang suka jogging–berapa panjang Anda jogging dengan tenggat waktu 1,5 jam?

Sepengalaman saya yang biasa jogging di Labuan bajo dan biasa trekking menemani wisatawan, saya mampu kurang lebih dua sampai tiga kilometer.

Itu artinya apa? Artinya di Loh Liang, kita trekking kurang lebih tiga kilometer. Itu belum kita hitung pergi pulang (PP) dan belum lagi jalur yang berkelok-kelok. Yah, segitu saja wisatawan pakai tanah Loh Liang untuk melihat komodo dragon dari dekat.

Lalu apa urgensi penutupan Pulau Komodo? Tidak ada! Sekali lagi tidak ada! Wisatawan memanfaatkan Loh Liang itu hanya 0,8% dari Pulau Komodo.

Perlukah revitalisasi? Tidak perlu! Sekali lagi tidak perlu! Revitaliasi perlu dilakukan manakala terjadi kerusakan di Loh Liang akibat kunjungan wisatawan dan kehidupan Komodo terganggu.

Faktanya kehidupan komodo aman-akan saja, sebab wisatawan tidak mengejar mereka, tidak menembak, dan tidak mencuri mereka.

Rata-rata wisatawan hanya berkunjung selama dua jam di Loh Liang. Jadi, tidak masuk akal jika Pulau Komodo ditutup dengan alasan revitalisasi.

Bagaimana dengan konservasi?

Konservasi adalah upaya perlindungan, pengelolaan dan pelestarian terhadap sumber daya alam dan ekosistem yang ada.

Pertanyaannya, apakah menutup Pulau Komodo adalah bagian dari konservasi? Sama sekali tidak! Penutupan suatu tempat yang menjadi objek konservasi tidak dibenarkan. Apalagi penutupan satu tahun. Mana cukup?

Selama ini Balai TNK sudah menjalankan tugas yang sempurna dalam memastikan arti penting konservasi ini. Prinsip konservasi inilah yang dijaga dan sudah dijalankan bertahun-tahun.

Semua stakeholder sudah menjalankan perannya masing-masing dalam menjaga prinsip konservasi.

Berbicara soal konservasi di Pulau Komodo, berarti kita bicara soal binatang komodo, hutan, flora dan fauna dan terutama manusia.

Manusia harus dimuliakan, manusia harus diutamakan karena harkat dan martabatnya yang menjadi kodratnya.

Tidak ada korelasi dan urgensi atas upaya penutupan ini untuk alasan revitalisasi dan konservasi sekalipun!

PAD NTT kecil?

Saya tidak tahu cara menghitung dan memperoleh atau memperbesar PAD. Setahu saya, PAD bersumber dari pajak, retribusi daerah dan BUMD.

Terkait PAD dari TNK itu retribusi wisatawan per hari per wisatawan sebesar Rp 100 ribu. Belum terhitung tiket masuk, tiket snorkeling, tiket trekking, tiket parkir kapal dan beberapa jenis tiket lain.

Rata-rata wisatawan masuk TNK selama dua hari, yaitu ke Loh Buaya, Pulau Rinca dan Loh Padar Pulau Padar, serta Loh Liang Pulau Komodo.

Belum terhitung pajak dari hotel, restoran, tempat hiburan dan beberapa perusahan bidang pariwisata lainya. Jadi, PAD kecil dari pariwisata itu bukan alasan yang masuk akal sehat.

Gubernur NTT masih banyak tugas dan tanggung jawabnya yang harus diselesaikan daripada hanya sibuk mengurus dan menguras energi untuk Pulau Komodo. []

Foto: Dok. Penulis/FB

Penulis: Ignasius Suradin, Alumni Pariwisata Universitas Udayana, Bali. CEO Sogo Bakery dan Komodo Tur. Tinggal di Labuan Bajo, Flores

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *