Tanda unik saat penjemputan Betrand Peto

Ada yang unik dan langka dalam penjemputan artis cilik Betrand Peto, Sabtu, 5 Oktober 2019. Penyambutannya di Manggarai, Flores, dilakukan dengan upacara adat. Tapi tetap ada yang unik dan langka.

Mata saya langsung tertuju pada salah satu momen. Ketika itu Betrand bersama rombongan sedang mendarat di Bandara Komodo Labuan Bajo dan Bandara Frans Sales Lega Ruteng.

Saat keluar dari pintu pesawat, orang-orang tumpah-ruah. Menunggunya sejak lama. Disambut tari-tarian (danding). Tuak kapu juga. Pokoknya disambut meriah.

Baca juga:

Tradisi wuat wa’i dan pesta sekolah di Lentang

Betrand disalami. Dipangil dengan sorak-sorai. Disematkan selendang dan songkok songke bermotif komodo.

Momen penjemputan itu didokumentasikan secara apik dalam channel youtube tim Ruben Onsu bernama MOP Channel dan beberapa video yang beredar di facebook dan youtube.

Saya hanya menonton pada saluran Youtube berjudul “Sah! Betrand Peto Resmi Menjadi Bertrand Peto Putra Onsu – Cuap Cuap Update” yang dipublikasikan 5 Oktober 2019. Hingga saya menulis artikel ini pada Minggu sore, 6 Oktober 2019, video itu ditonton 1.927.895 kali.

Pada menit 5.45 saya langsung menjeda tontonan. Menangkap layar ponsel pada adegan unik itu. Tampak sesosok pria jangkung berkaca mata. Dia menyalami Betrand.

Pria itu membubuhkan tanda pada dahi si Betrand. Sepertinya itu mantan Bupati Manggarai, Christian Rotok.

Saya lantas mengkonfirmasi apakah betul itu Bupati Rotok yang saat kontestasi bupati Manggarai familiar dengan slogan Kredo (Kris-Deno) atau orang lain.

Saya lalu mengacak-acak laman maya. Menkonfirmasi kebenaran dugaan saya tadi. Saya pun semakin yakin setelah melihat di laman youtube dan Pos Kupang.

Dari informasi tersebut saya semakin yakin, bahwa Rotok dan bupati periode 2005-2015 itu memang hadir.

Saya terharu. Bercampur bangga. Hemat saya, membubuhkan tanda itu adalah tontonan unik, dan langka yang terekam kamera.

Saya jadi teringat di kampung. Biasanya sang bapa atau orang-orang tua, kakek, dan keluarga yang dituakan menyematkan tanda salib atau huruf T di dahi anak, sebelum ia keluar rumah (merantau).

Pada saat tertentu juga, misalnya, saat tidur atau ditinggal orang tua, sang anak dibuatkan tanda itu di dahinya.

Saya waktu kecil tak memahami maknanya. Tidak juga berusaha bertanya pada bapak untuk memahami maknanya. Biarkan saya melakukannya sendiri saat, entah nanti, menjadi seorang ayah atau bapak.

Memang saya selalu melihat praktik semacam itu ketika ada anak-anak yang keluar rumah atau kampung halamannya.

Ketika saya merantau dan melanjutkan pendidikan ke SMP (kelak tinggal di asrama) dan SMA di kota (kelak tinggal di asrama juga)–empat jam dari kampung halaman, bapa membuatkan tanda itu di dahi saya.

Dalam situasi tertentu pembuatan tanda pada dahi didahului oleh detak one lema (sentuh ujung jari pada lidah).

Dalam pemotongan ayam persembahan, sesaat sebelum anak-anak merantau juga kerap dibuatkan tanda itu di dahinya. Bapa mencelupkan ujung jempolnya ke atas darah ayam, yang sudah dipersembahkan kepada leluhur, lalu dibuatkan tanda pada dahi sang anak.

Pada saat tertentu praktik seperti ini menggunakan darah ayam. Dibikin seperti salib atau hanya menempelkan sedikit di dahi.

Kini saya mengetahui bahwa itu sebagai simbol perlindungan atau penyertaan. Bahwa fungsi patron sang bapa pada anak tampak di sini.

Kemana pun anak-anak pergi, bapa dan orang-orang tua dan keluarga selalu hadir sebagai pelindung. Hingga ia kembali nanti. Setidaknya diyakini bahwa mereka hadir dalam doa-doa dan roh mereka.

Entah saat menyematkan tanda tersebut disertai ucapan dalam hati (mantra) atau tidak sama sekali, yang pasti setelah itu kita merasa nyaman, dan tanpa ragu melangkah, bahkan sejauh bermil-mil sekalipun.

Saya jadi teringat dalam tradisi gereja saat perayaan ekaristi. Umat membuat tanda salib dengan jempol pada dahi, mulut, dan dada, sebelum mendengarkan bacaan Injil oleh imam.

“Inilah injil Yesus Kristus menurut Santo (Mateus, Markus, Lukas, atau Yohanes)!”

Dijawab oleh umat disertai dengan membuat tanda salib di dahi, mulut, hati dan berkata, “dimuliakanlah Tuhan!”

Dalam tradisi kekristenan awal juga jemaat membubuhkan tanda pada dahi. Zaman gereja perdana atau zaman para rasul, jemaat membuat tanda salib dengan sebutan INRI.

Itu singkatan dari bahasa Latin: Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (Yesus dari Narazareth raja orang Yahudi). Dalam kitab suci disebutkan bahwa tulisan itu dibuat Pontius Pilatus di salib Yesus.

Lalu apakah hubungan tradisi gereja tadi dengan budaya Manggarai? Setidaknya ada keterkaitan antara religiositas iman Katolik dan tradisi Manggarai.

Katolisitas menulis sejumlah makna tanda salib bagi orang Katolik. Di antaranya, anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya, sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.

Bagaimana dengan penjemputan Betrand? Ya, Betrand lahir dan dibesarkan dalam kultur dan tradisi yang kental, baik tradisi orang Manggarai, maupun tradisi Gereja Katolik Flores.

Dia adalah anak yang terbilang beruntung. Nasibnya segera berubah usai viral dan dipanggil sejumlah stasiun televisi.

Ruben Onsu, artis dan aktor yang familiar di televisi pun tertarik pada si anak Cancar Manggarai tadi. Suaranya yang unik membuat Ruben tidak hanya membantu mengembangkan karier Betrand, tapi tak tanggung-tanggung mengangkatnya menjadi anak.

Lalu akhir pekan ini mereka ke Cancar, ibu kota Kecamatan Ruteng. Nun jauh di Flores bagian barat, mereka mencarter pesawat Trans Nusa, dari Labuan Bajo ke Ruteng.

Ruben dan istrinya Sarwendah meminta restu secara adat Manggarai, agar tidak ada halangan di kemudian hari saat Betrand menjadi anak sulung mereka.

Kelak Betrand menjadi “Anak Menteng”. Artis dan anak artis. Namun, bagaimana pun dia berasal dari lingkungan dan latar belakang tradisi yang kental, baik tradisi Kristiani, maupun tradisi warisan leluhurnya di Manggarai.

Selain dua warisan itu, bakat atau talentanya kelak melambungkan namanya. Tuhan pasti akan selalu menjaga adek Betrand. []

Foto: tangkapan layar youtube

#Jpr0kt19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *