Status religius dari filsafat menurut Bernard Lonergan

0
115
Bernard Lonergan SJ
Bernard Lonergan, SJ, filsuf-teolog dalam tradisi Thomisme dan ekonom dari Buckingham Quebec - Foto/jesuit.ie

Bernard Lonergan, SJ lahir pada 17 Desember 1904. Dia adalah seorang imam Yesuit (sebutan untuk religius Serikat Yesus) Kanada.

Dia juga adalah seorang filsuf-teolog dalam tradisi Thomisme dan seorang ekonom dari Buckingham Quebec. Bernard Lonergan, SJ adalah penulis Insight: A Study of Human Understanding (1957) dan Method in Theology (1972) yang mengukuhkan generalized empirical method (GEM).

Lonergan masuk Ordo Serikat Yesus pada 1922, memperoleh gelar BA dalam bidang filsafat dari Heythrop College, pada 1929, dan ditahbiskan menjadi imam Katolik Roma pada 1933, serta memperoleh gelar Doktor Suci Teologi dari Universitas Kepausan Gregoriana pada tahun 1940.

Disertasi doktoralnya disarankan oleh Charles Boyer, SJ, kemudian diterbitkan dengan judul Collected Works as Grace and Freedom: Operative Grace in the thought of St. Thomas Aquinas.

Sekilas tentang siapa itu Bernard Lonergan, SJ. Pada bagian selanjutnya kita akan melihat pandangannya tentang status religius filsafat.

Keharusan yang mendesak filsafat bagi iman, bukan hanya menjadi kritik Karl Barth, melainkan menjadi pertanyaan konkret mahasiswa filsafat Katolik.

Sebagai mahasiswa yang mempelajari teologi dan filsafat, terdapat pertanyaan mengenai apakah filsafat sebagai filsafat, dapat membawa orang kepada iman, dan pada gilirannya membantu calon imam mempelajari teologi, atau membantu mencapai spiritualitas yang asli? Ataukah kita kini, karena perkembangan sains dan ilmu sosial, mesti perlahan-lahan meninggalkan filsafat, dan berpaling pada ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial? Benarkah bahwa filsafat kini, tidak lebih sebagai sarana “sport ekstrim untuk otak dan akal manusia” belaka? (Kleden: 2009, 26).

Jika filsafat sesungguhnya berkaitan erat dengan iman, dan dapat membantu memahami Allah, maka bagaimana tepatnya filsafat yang relevan dengan iman tersebut selayaknya dipahami?

Berbeda dengan Karl Barth yang menganggap bahwa revitalisasi filsafat adalah posisi anti Kristus, teolog besar seperti Karl Rahner yakin bahwa “revitalisasi pemikiran Kristiani dimulai dalam filsafat, ketimbang dalam teologi”. Namun, revitalisasi seperti apa dan macam mana?

Lonergan menawarkan apa yang ia sebut sebagai “filsafat eksistensial”, yang berkaitan dengan tematisasi operasi sadar dan berdasarkan niat manusia, berdasarkan metodenya yang khas, yang berkaitan dengan “horison metode”.

Salah satu aspek penting dalam “horison metode” ialah bahwa mengetahui tidak bisa dipahami dalam analogi visi indra penglihatan, melainkan merupakan hasil dari aktivitas struktur kognitif manusia yaitu mengalami, memahami, mempertimbangkan dan memutuskan.

Struktur ini dianggap bersifat transendental, serta menjadi dasar dari pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan kognitif pada manusia.

“Metode” Lonergan tersebut bukan dipahami sebagai sebentuk teknik, melainkan merupakan “pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan aspek normatif yang berulang dan berhubungan, yang hasilnya bersifat kumulatif dan ke arah kemajuan”.

Jika “metode” dipahami dalam arti tulisan sebagai “cara” (methodos), maka “metode” Lonergan dianggap sebagai metode dasariah, yang merupakan cara mengkomunikasikan makna berdasarkan orientasi intensional dan eksistensial manusia; yaitu “hasrat untuk mengetahui, keinginan akan yang baik, dan cinta tanpa batas” (Fallon: 1987, 113).

Pada gilirannya, metode ini, bagi Lonergan bukan hanya “cara mengetahui”, namun sekaligus membentuk subjek yang mengetahui tersebut: jadi sekaligus “suatu cara berada”.

Jadi, tampak bahwa dengan “metode”, Lonergan menekankan kesatuan antara filsafat dengan sang filsuf itu sendiri. Jika “objektivitas sejati adalah subjek yang otentik”, maka filsafat (eksistensial) yang sejati tidak dapat dipisahkan dari filsuf sebagai subjek yang otentik: yang menghadirkan data seluas mungkin memahami dengan cerdas, mempertimbangkan dengan arif, yang memutuskan secara bertanggung jawab, dan yang mencintai dengan total.

Berdasarkan pemahaman ini, Lonergan sama sekali tidak bermaksud meniadakan apa yang ia namakan “philosophy of…”: filsafat sejarah, politik, agama, dan sebagainya.

“Metode” yang dikembangkannya bukan terutama menegasikan pelbagai bidang ilmu atau filsafat yang lain, namun berusaha mentematisasi “pijakan dasar” atau intensi dasariah dari subjek yang berfilsafat.

“Metode” adalah sebuah organum bagi pikiran manusia, yang menyediakan pijakan dasariah bagi objektivitas pengetahuan dan otentisitas tindakan manusia, di mana semua yang mau terbuka dan mempunyai niat baik dapat bertemu.

Baca juga:

Di sini, seorang filsuf yang sejati bukan terutama yang berbicara tentang filsafat, melainkan yang dalam segenap pembicaraan dan tindakannya senantiasa berusaha peka, cerdas, rasional, bertanggung jawab, serta mengasihi.

Atau lebih tepatnya, “metode” berkaitan dengan prinsip normatif akal budi manusia, yang bisa cocok dengan filsuf profesional, teolog atau orang yang beroperasi dalam dunia common sense (akal budi).

Dalam arti ini, orang yang beroperasi dalam dunia common sense semata, mungkin akan berpikir dan bertindak berdasarkan arti pragmatis: “apa yang berguna untuk saya”, sementara orang yang beroperasi dalam dunia common sense yang telah ditransformasi ke dalam “pijakan metode” atau yang telah terkonversi, akan berusaha berpikir dan bertindak bukan berdasarkan apa yang berguna dan memuaskan saya”, melainkan “apa yang baik dan bernilai untuk saya dan untuk kebaikan bersama”.

Dalam kaitan dengan filsafat, maka horison personal seorang filsuf (dalam arti subjek autentik yang menerapkan metode dalam pelbagai bidang pengetahuan kategorial), tentu saja berbeda dengan orang lain.

“Cara berada” seorang “filsuf” yang berusaha terus-menerus memperhatikan dengan sungguh-sungguh data yang ada, memahami data dengan cerdas, mempertimbangkan secara arif, memutuskan secara bertanggung jawab, serta mencintai dengan total, mempunyai aspek disposisi eksistensial dengan kualitas yang berbeda, yang memiliki fokus dan orientasi dasariah yang khas, yang berasal dari keterarahan terhadap makna dan nilai, pada apa yang benar dan baik, serta pada cinta tak terbatas akan kebijaksanaan.

Dengannya, tampak bahwa “metode” tidak membatasi para filsuf pada orang yang belajar tentang filsafat semata, melainkan pada semua orang dari pelbagai dunia makna orang yang sungguh mempunyai orientasi mendasar akan yang benar dan yang baik, yang senantiasa berusaha memperoleh pengalaman seluas mungkin, pemahaman yang secerdas mungkin terhadap data-data pengalaman, pertimbangan yang matang berdasarkan pengalaman yang telah dipahami secara cerdas, serta yang selalu berusaha memutuskan secara bertanggung jawab berdasarkan data pengalaman yang telah dipahami dan dipertimbangkan tersebut, dalam pelbagai bidang hidup, dunia makna dan spesialisasi ilmu dan pekerjaan mereka.

Namun, walaupun orientasi dasar seperti itu dapat dilakukan oleh semua orang, pada kenyataannya menjadi fokus orientasi orang, yang belajar filsafat atau yang dapat mentematisasi dan memahami “metode”, sekaligus punya kesadaran filosofis seperti ini, dan yang terus-menerus berusaha mempraktikkan “pijakan dasar” tersebut dalam pelbagai persoalan konkret, atau yang sungguh-sungguh berfilsafat (ketiga syarat tersebut tak terpisahkan).

Dengan ini, filsafat yang sejati bagi Lonergan adalah sebuah “cara berada” yang dituntun oleh eros budi, dan eros budi tersebut merupakan gabungan dari data, pikiran, kehendak dan hati.

Jadi, yang kita peroleh berdasarkan metodenya adalah tiga hal berurutan, yang pada akhirnya sampai pada status religius dari filsafat.

Bagi penulis tiga hal dibagi sebagai berikut:

Pertama, para filsuf yang berusaha menjadikan “metode” sebagai latar pijakan mereka, mempunyai orientasi kesadaran khusus, dengan fokus dan kejernihannya yang khas tentang bagaimana sungguh-sungguh menjadi objektif dalam pergumulan bidang kategorial mereka.

“Metode” Lonergan yang menekankan latihan untuk memberi perhatian terhadap data, pemahaman yang cerdas terhadap data, pertimbangan yang arif terhadap data yang sudah dipahami secara cerdas tersebut, serta memutuskan secara bertanggung jawab berdasarkan data yang sudah dipahami secara cerdas tersebut, membantu mengembalikan filsafat bukan hanya sebagai sebuah “olahraga otak semata”, melainkan sebagai praksis dan “cara berada”, yang mendasari segenap objektivitas pengetahuan kategorial;

Kedua, latihan-latihan yang telah dengan cermat secara tekun dalam “metode” tersebut, secara khas menggeser filsafat sebagai sebuah abstraksi konseptual semata (yang kekuatannya kini telah terdepak oleh ilmu empiris), kepada perannya sang sejati yaitu sebuah sikap hidup yang serius, yang melandasi objektivitas sejati dari segenap cara pandang, cara paham dan keakuratan ilmu-ilmu.

“Analisis intensionalitas” matisasi dari proses berpikir, serta pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan terbentuk secara sadar dan intensional manusia yang dilakukan Lonergan melalui “metode”, pada hemat penulis dapat menjadi pendekatan khusus dalam filsafat yang tidak lagi hanya menemani ilmu-ilmu empiris untuk memberikan basis etika, melainkan kembali menjadi organum atau sumber pertimbangan dasar bagi objektivitas ilmu-ilmu empiris atau pelbagai cara paham manusia;

Ketiga, dengan “metode”, filsafat pun benar-benar dapat dikembalikan kepada artinya yang paling asli yaitu sophia atau cinta akan kebijaksanaan, dan para filsuf adalah para pecinta kebijaksanaan tersebut (Fallon, 1987: 114).

Lonergan meyakini bahwa dorongan sejati “cinta akan kebijaksanaan” tersebut, mendorong para filsuf untuk sampai pada “aktus pemahaman yang tak terbatas”, dan sebaliknya aktus pemahaman yang tak terbatas tersebut, akan mendorongnya pada “cinta tak terbatas” yang memberi landasan pada cinta akan kebijaksanaan tersebut.

Dari kekosongan tidak bisa lahir apa-apa, sehingga cinta akan kebijaksanaan dari para filsuf, mesti dilatari oleh “aktus cinta tak terbatas”, yang memberi kekuatan pada dorongan tak terbatas untuk mengetahui atau mencintai kebijaksanaan. Dengan kata lain, di satu sisi dipahami bahwa yang melatari segenap pengetahuan dan cinta, termasuk cinta akan kebijaksanaan filsuf adalah “aktus cinta tak terbatas”.

Sementara itu di sisi lain dipahami bahwa refleksi terhadap proses dorongan tak terbatas manusia, dapat mengarahkan orang pada “aktus cinta tak terbatas”, yang dalam agama dinamakan “Allah”.

Dengan demikian, tampak Lonergan secara baru menempatkan hubungan khas filsafat dan teologi dengan cara yang unik, di mana baginya, dorongan akal budi yang sejati selalu menghantar orang kepada pertanyaan tentang Allah, yang digeluti khusus dalam teologi.

Lonergan mengedepankan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal budi yang menjadi penekanan filsafat, dan dalam arti tertentu teologi hanyalah sekadar taraf lanjutan dari dorongan akal budi manusia yang tak terbatas untuk mengetahui pengalaman imannya.

Jadi, tampak bahwa ungkapan “fides quaerens intellectum” didefinisikan dalam pendekatan yang sejalan dengan ungkapan A. Forest:

“Kalau pikiran pulang ke dasarnya, ia dengan sendirinya menjadi Dagai sesuatu yang disimpulkan, melainkan ‘l yang pasti. la dengan sendirinya menjadi religius, bukan sebagai sesuatu yang disimpulkan, melainkan sebagai sesuatu yang pasti.. Ia dengan sendirinya menjadi filsafat yang berdoa “philosophie orante” (Jozef, 2005:340).

Singkatnya, “metode” Lonergan pada hemat penulis merupakan cara baru mempertanggungjawabkan status religius dari filsafat, di mana filsafat dalam hal ini dipahami secara eksistensial (kata “eksistensial” berbeda dalam arti Sartre dan Heidegger atau filsuf eksistensial lainnya, bagi Lonergan eksistensial adalah sebuah analisis terhadap pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan secara sadar dan intensional dalam diri subjek, dengan pola normatif: “peka, cerdas, arif, bertanggung jawab dan mengasihi”) yang dalam “metode” dipahami sebagai sikap “peka, cerdas, arif, bertanggung jawab, dan mengasihi”. []

 

Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Referensi:

Fallon, P. 1987. Religion and Culture: Essay in Honor of Bernard Lonergan, SJ. New York: New York Press 

Kleden, Ignas. 2009. Status Ilmiah Filsafat dan Tantangan Kontemporer. Maumere: Ledalero

P, Jozef. 2005. Mengabdi Kebenaran. Maumere: Ledalero

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here