Sopi yang tidak memabukkan

0

Sopi, arak, tuak atau moke tidak asing lagi bagi orang-orang Flores, Sumba, Timor dan Alor atau Flobamora. Mereka sudah akrab dengan minuman lokal beralkohol, yang diproduksi dari tempaan pohon aren atau enau dan lontar. 

Mengapa kita minum sopi tentu punya alasan masing-masing. Orang-orang Flobamora, secara khusus, meminum sopi bukan karena gaya hidup, tetapi terutama karena mereka punya budaya minum tuak, sopi, arak atau moke. 

Orang-orang Flobamora menyopi karena budaya. Maksudnya bukan budaya mabuk-mabukan atau hura-hura. Mabuk-mabukan atau hura-hura bukan budaya mereka. 

Tapi sebaliknya. Tuak atau sopi adalah salah satu materi dalam upacara adat, sehingga siapa pun, hampir pasti dengan sukarela minum sopi atau tuak jika mengikuti sebuah upacara adat. Dalam tradisi Manggarai, misalnya, seperti dalam tulisan saya sebelumnya tentang Sophia aka sopi asli.

Saya pernah menulis tentang Sophia dari perspektif budaya orang Manggarai di Flores. Tulisan kali ini bukan tentang itu lagi, karena saya sudah menulisnya secara lengkap ketika itu. Sekurang-kurangnya hemat saya.

Judul tulisan ini pun terkesan seperti mengajak masyarakat untuk mabuk-mabukan. Sebenarnya tidak. 

Bahwa ada pengalaman yang harus dibagikan, sebagai bagian dari rasa solidaritas terhadap sesama. Itu.

Terkait minuman jenis ini, setiap orang memang punya daya tahan fisik berbeda. Pengalaman minum pun berbeda.  

Saya juga bukan peminum atau peracik minuman lokal beralkohol. Namun, tulisan ini, sedianya merupakan saripati dari  pengalaman setiap orang yang ahli dibidangnya, yang sudah saya temui.

Bagaimanapun tiap orang punya pengalaman berbeda. Banyak tips juga yang mereka bagikan. Tapi saya menyarikan beberapa hal, yang saya kira berguna bagi sidang pembaca. 

Sopi atau moke, yang merupakan hasil sulingan dari tuak itu, ternyata harus diracik lagi untuk menetralisir alkoholnya. 

Artinya ketika kita meminum sopi yang sudah diracik secara mandiri di rumah, maka minuman itu aman. Paling tidak, sesuai pengalaman saya dan beberapa kawan. 

Harus diakui bahwa orang-orang yang mempunyai tradisi memproduksi minuman lokal beralkohol, memiliki pengalaman meracik atau membuat ramuan yang ampuh untuk “membunuh” alkohol yang bajingan.

Bila kau minum sopi, dan kau langsung mabuk, artinya, fisikmu tidak kuat, kau sedang sakit, sopinya tidak enak, kau tidak terbiasa, dan kau terbiasa. 

Ya, terbiasa. Biasanya saraf mereka yang biasa minum asal-asalan itu cepat rusak. Biar minum sedikit saja alkoholnya cepat bereaksi. Cepat mabuk. 

Sopi yang tidak enak itu pasalnya sopi yang memabukkan. Maksudnya sopi yang cepat bereaksi di kepala. Begitu kata kawan saya suatu ketika. Memang betul juga.

Kami pernah minum sopi satu jeriken besar (jumbo), sekitar pukul 6 sore hingga dini hari dan dilanjutkan keesokan harinya. Tidak mabuk. 

Kenapa? Itu tadi. Dengan memperhatikan teknik minum yang tepat, misalnya, duduk bersila dan jangan bergerak-gerak, makan yang banyak dan minum air putih sebelum minum sopi, makan daging dan cemilan kacang-kacangan saat menikmati sopi.

Sopi juga biasanya diracik dengan mencampur akar-akar atau kulit kayu tertentu, daun-daunan, dan lain-lain. Misalnya akar alang-alang, ginseng korea, kulit kayu manis, sarang semut, dan kulit pohon damer (buyur). 

Akar alang-alang (wake ri’i) ternyata mempunyai khasiat untuk mengobati sakit perut, maag dan batu ginjal, serta untuk kesehatan jantung. 

Begitu juga kulit kayu manis (haju ndingar), yang berkhasiat untuk mengobati penyakit ginjal, ginseng korea, sarang semut, dan damer untuk memberikan efek pahit pada tuak dan mengatasi kencing manis. 

Tiap campuran atau ramuan pada sopi ini mempunyai manfaatnya untuk kesehatan seperti disebut di atas tadi, selain, tentu untuk menetralisir alkohol. 

Sopi sekeras apapun, semenyala apapun saat disulut api, dia akan “takluk” pada ramuan akar-akaran atau kulit-kulitan seperti tadi. 

Mengapa kita minum sopi tentu punya alasan masing-masing. Namun orang-orang NTT punya tradisi yang melekat dengan tuak, sopi atau moke, selain tradisi memakan sirih-pinang dalam upacara adat. 

Saya pun tidak berpretensi mendukung peraturan presiden tentang bidang usaha penanaman modal dalam industri minuman beralkohol, yang sudah dicabut itu. Toh perpres nomor 10/2021 baru “kemarin sore”, sedangkan tradisi minum sopi di beberapa daerah di Nusantara, sudah dipraktikkan sejak berabad-abad lamanya sebelum ada negara Indonesia. [] 

#Ltg 4321

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here