Sekeping cerita di Labuan Bajo

0
125
Senja di Labuan Bajo

Anda punya pengalaman unik, beda, dan mungkin lucu dan lugu? Saya yakin tiap pembaca tulisan ini punya pengalamannya masing-masing dan mau menulisnya.

Atau bahkan memendamnya saja. Bisa saja. Tulisan ini pun hanya sekeping cerita, sepotong percakapan, dan sekilas jejak langkah.

Berhubung sebentar lagi saat liburan, pulang, saya hanya menulis dengan lokus Labuan Bajo.

Tahun 2002 – 2006 Labuan Bajo masih terpencil. Kotanya kecil. Ketika itu hanya sebagai ibu kota kecamatan Komodo—salah satu kecamatan di Kabupaten Manggarai.

Di Labuan Bajo, terutama sekitar pelabuhan dan bandar udara hanya beberapa kampung, seperti Wae Mata, Wae Kelambu, Lancang, Sernaru, Wae Kesambi, Kampung Ujung, Kampung Kemiri, Kampung Tengah, dan Wae Bo.

Lalu pada 2003, Manggarai Barat menjadi kabupaten pemekaran dengan ibu kotanya Labuan Bajo.

Meski begitu kota kecil ini tidak serentak menjadi ramai seperti sekarang. Pohon to’e, bidara dan asam serta jati mungkin bisa dihitung dengan jari tangan.

Sebagai kota di pesisir, pusat perdagangan, punya pelabuhan Feri, kota ini panas dan banyak pohon meranggas saat musim kemarau. Keringnya minta ampun. Debu-debu dan kapur pun beterbangan kala siang. Seakan berlomba dengan para turis.

Saya tidak tahu persis jumlah wisatawan ketika itu. Tapi kami bisa hitung dengan jari tangan, barangkali.

Saking sedikitnya turis, komodo juga bisa diajak untuk menyeberangi Batu Tiga. Tapi bukan Komodo jablai. Toh dari pulau Komodo hanya ditempuh empat jam, dua jam dari Rinca atau kurang dari dua jam dari Padar dengan perahu motor dua mesin ke Labuan Bajo.

Tiga pulau ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) sejak tahun 1980 dengan luas 1.700-an kilometer persegi. Menurut berbagai referensi dan cerita orang-orang tua, TNK dibuat untuk melindungi binatang komodo (Varanus Komodoensis), dan habitat lainnya di kawasan darat dan perairan.

Diakui UNESCO tahun 1991 sebagai warisan dunia untuk konservasi alam.

Untuk menuju kawasan TNK dan objek wisata lainnya, turis-turis terlebih dahulu menyinggahi Labuan Bajo sebagai kota transit via udara dan pelabuhan laut. Kini sudah ada pelabuhan besar.

Sama seperti Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, yang mana wisatawan menyinggahi kota ini sebelum ke Raja Ampat. Begitu.

Kembali soal kami dan turis. Suatu ketika pada hari minggu pertama dalam sebulan, kami hendak pergi pesiar (loking around).

Dalam sebulan kami ada yang namanya ‘minggu keluar’. Looking around itu tadi. Ada yang ke pantai atau rumah-rumah warga sekitar seminari.

Pokoknya pesiar itu ‘mati gaya punya’. Jalan kaki dari seminari ke pante Pede, Gorontalo dan pelabuhan, bahkan ke Batu Cermin dan Wae Cecu atau Batu Gosok dan Kelumpang–di belakangnya Batu Cermin—tempat perusahaan mutiara milik Jepang beroperasi.

Jalan kaki? Iya, karena tidak ada uang lebih untuk naik bemo. Barangkali memang sengaja jalan-jalan biar bisa cuci mata? Melirik nona-nona Bajo di pinggir jalan, yang rumahnya menghadap ke jalan atau lautan.

Saat-saat seperti ini juga syukur-syukur kalau bertemu turis. Setidaknya bisa bilang:

“Hallo Mister! What is your name?”

Atau

“Hi, nice to meet you!”
“My name is Marselinus Rancu!”

“Oh nice to meet you too!”

Bla, blaaaa.

Kalau bertemu dan bicara dengan turis, kami yang masih labil PD-nya, PD tingkat langit Flobamora, bahasa Inggris “patah-patah”. Tapi turis dorang maklum karena itu bukan kita punya bahasa juga.

Suatu sore yang cerah, di acara ulang tahun, matahari turun dari balik bukit. Kami main gitar, nyanyi-nyanyi. Tiba-tiba seorang turis lewat di depan kami.

Hallo Mister!” Kami kompak menyalami bule perempuan yang lewat. Barangkali karena terlalu bersemangat.

Bule ini memang hidungnya mancung, mata biru, kulit merah-merah putih dan rambut bergelombang. Lalu dia mendekat dan percakapan ringan dimulai.

Hi, nice to meet you!” ujarnya.

Nice to meet you!” jawab seorang kawan kami, namanya Marcello.

What is your name?”

Upsss, sorry sa lupa namanya ee. Lalu dia balik bertanya, “And you, what is your name?”

Seorang kawan menjawab, “My name is your name!”

Di situ kami tertawa, senyam-senyum. Memang namanya Urnim. Dari nama baptis Saturnimus. Begitu sudah!

Sekolah di kota pariwisata ini memang dituntut agar bisa berbahasa Inggris. Minimal bisa menghafal sepuluh kosakata bahasa Inggris sehari. Itu saja sudah cukup. Apalagi jika berani speaking, listening dan writing. Ini harus, sebab Labuan Bajo adalah pintu gerbang bagian barat pulau Flores.

Setidaknya kesadaran itu dimiliki tiap siapapun atau siswa yang belajar di sini. Mutlak itu. Ketika turis datang, minimal kita bisa berbicara bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar dan pemersatu dunia.

Kini, setelah satu dekade, turis-turis itu ramai-ramai datang. Mereka melihat Putri Naga Komodo atau Inuk Ora, mandi-mandi di Pede, Wae Cecu, trekking ke Komodo, Padar dan sekitarnya.

Labuan Bajo, 2016, menjadi destinasi wisata terfavorit dunia setelah adanya survei Kementerian Pariwisata RI. Survei CNN juga menyatakan Labuan Bajo sebagai tempat snorkling terbaik kedua dunia setelah Raja Ampat, Papua Barat.

Kunjungan wisatawan periode Januari – Oktober 2016 seperti dilaporkan BBC Indonesia 31 Desember 2016 saja sebanyak 70.237 orang. Tahun sebelumnnya ada 61.247 orang. Sebagian besar, atau 70 persennya turis asing.

Dan tahun 2017 kota ini barangkali menjadi tujuan favorit liburan banyak orang di kolong langit. Beberapa sumber menyebutkan sekira seratus ribu lebih wisatawan tahun ini.

Mereka ke TNK, pantai Pede, Wae Cecu, pink beach di pulau Bidadari, batu cermin, pulau padar, sunset di bukit cinta, yang dulu kami hanya mengenal puncak waringin di sekitar rumah sakit situ.

Situasi ini sedianya menjadi peluang bagi masyarakat lokal dan Pemerintah Kabupaten Mangarai Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperhatikan infrastruktur jalan, pemberdayaan masyarakat lokal, dan lain-lain. Tabe! (*)

Foto: Sunset di Labuan Bajo (Foto: Jalan2.com)

Jayapura, 14 Desember 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here