Sejarah Gereja Katolik Kepi-Mappi (Keuskupan Agung Merauke)

0
230
Gereja Mappi
Paroki S. Yakobus Rasul Keppi-Mappi, Keuskupan Agung Merauke - Dokpri

Bagian I :

Daerah Kepi-Mappi didiami oleh suku Yahray. Benih iman Kristiani ditaburkan di situ oleh Pater Meuwese, MSC pada tahun 1937. Sesudah Perang Dunia II, ia melaporkan bahwa di wilayah Awyu (Bade) sembilan kampung dinyatakan sudah dibuka dan empat kampung diantaranya telah dirayakan pesta permandian.

Di daerah Yahray dijumpai banyak orang Katolik, khususnya di lima kampung sekitar Sungai Nambeoman, sedangkan di sekitar Sungai Obaa empat belas kampung sudah dibuka dan tujuh diantaranya sudah ada banyak orang yang dipermandikan, serta di tiga kampung lain pesta permandian segera akan dirayakan.

Pada tahun 1947, Pemerintah Belanda menempatkan Bapak Felix Maturbongs di daerah Mappi. Dia adalah seorang pegawai yang sebelumnya berkarya di daerah Mimika dan Asmat. Sebagai asisten bestir, ia pandai mengambil hati suku bangsa Yahray. Ia meyakinkan kaum pria bahwa mereka dapat menjadi kaya seperti orang asing jika mereka mau menyesuaikan diri dengan peraturan pemerintah, berhenti mengayau (memburu kepala manusia, dalam suatu peperangan), menerima guru dan mulai berkebun.

Sesudah satu tahun ia berani mengumpulkan 2.000 orang dan kepala-kepala kampung di posnya di Masin pada perayaan Pesta Ratu Juliana (ratu Kerajaan Belanda). Musuh-musuh bebuyutan dalam perang, mulai bertemu dan berdamai.

Dari pantai, Pater Verschueren, MSC bersama Pater Meuwese, MSC datang ke Kepi dan menjelajahi daerah Masin Atas. Mereka menemukan satu sungai yang belum dikenal dan bertemu dengan suku yang berdiam di wilayah sungai baru itu, yaitu Sungai Gondu. Pater Meuwese berangkat cuti dan Pater Verschueren menjadi pastor kepala Kepi.

Suku bangsa Yahray suka akan keramaian. Sesudah pengayauan selalu pesta besar dirayakan. Agama yang baru itu melarang pengayauan akibatnya kegembiraan kolektif  yang macet. Oleh karena itu, Pater Verschueren memikirkan bagaimana suatu pesta agama yang besar dapat meyakinkan mereka bahwa masa depan tidak kurang membahagiakan atau tidak kurang ramai dari pada masa lampau.

Di Kepi berkumpul 5.000 orang Yahray dan 1.000 orang Awyu. Di kota kecil itu didirikan bevak-bevak (tempat tinggal) panjang dan makanan disediakan secara berlimpah-limpah. Pada hari pertama pesta itu, orang Yahray dan orang Awyu saling berjanji untuk berdamai, perdamaian bersifat sejati.

Di bawah pimpinan kepala-kepala kampung orang Yahray, mereka memperagakan serangan terhadap orang Awyu, akan tetapi pada saat serangan harus jadi, orang Yahray mematahkan tombak-tombak mereka. Tombak patah dan perisai rusak itu, menandakan/membuktikan kehendak baru yang baik.

Kepala-kepala kampung duduk di tengah sambil mengisap pipa damai dan orang Yahray dan orang Awyu tukar-menukar gumpalan-gumpalan sagu dari mulut ke mulut.

Pada hari berikutnya 1.200 anak sekolah dipermandikan di lapangan. Altar didirikan dengan latar belakang (dekorasi) seperti matahari terbit yang sangat besar. Dekorasi itu dibuat dari bahan perisai-perisai dan disusun setengah lingkaran (seperti matahari terbit).

Sakramen krisma diterimakan kepada 2.000 orang, selain itu juga perkawinan secara massal. Pesta itu diakhiri dengan perarakan sakramen mahakudus keliling kampung. Anak-anak berjalan sambil bernyanyi, orang-orang dewasa banyak yang menonton di tepi jalan.

Keramaian yang sedemikian diprakarsai oleh kaum muda dan sangat memukau dan mengagumkan generasi tua. Agama yang baru ini rupanya dapat memberikan kegembiraan dalam hidup sehari-hari.

Pada malam terakhir pesta ini, Pater Meuwese kembali dari cuti dan bersama dengan Pater Verschueren ia berangkat ke Bade. Dari Bade bersama dengan Pater Vriens berpatroli di sekitar Sungai Edera yang belum pernah dikunjungi oleh orang asing.

Misi menyebarkan agama Katolik kepada penduduk di sekitar hutan itu. Demikianlah para pastor Kepi mencari jalan di daerah Sungai Cook dan Kronkel dan berhasil mencapai Pantai Kasuari. Namun perjalanan yang sangat jauh itu tidak dianggap lebih penting daripada pelayanan kepada bangsa Yahray.

Baik bapak Maturbongs maupun Pater Verschueren berpendapat bahwa pesta-pesta agama tidak mencukupi kebutuhan baru bagi penghuni desa-desa itu. Mereka dilarang mengayau, rumah-rumah laki-laki dibongkar, rumah-rumah keluarga dibangun (terpaksa), urusan hukum pidana dicabut dari tangan kepala-kepala perang agar diserahkan kepada pengadilan pemerintah. 

Pendidikan anak-anak dialihkan dari orang tua kepada guru-guru; tambah lagi semua orang ingin memiliki barang-barang besi, kapak, parang dan suka akan pakaian. Sebab itu baik pemerintah maupun pemimpin agama mencari jalan keluar untuk membantu mereka memperoleh apa yang mereka inginkan. Yang diperlukan ialah suatu hasil pertanian yang dapat dijual atau diekspor agar menghasilkan uang. Direncanakan untuk menamam pohon kelapa dalam jumlah yang sangat besar.

Tiap kampung akan membuat suatu kebun umum, di mana orang-orang dewasa bekerja sama dengan anak-anak sekolah pada hari Senin. Kebun itu dibagi sesuai dengan perlengkapan adat orang Yahray sendiri.

Hari penanaman kelapa dirayakan sebagai hari pesta besar, tamu-tamu diundang, tifa ditabuh dan dilakukan tari-tarian secara massal. Kurban misa dirayakan di kebun, bibit kelapa diberkati. Setiap tahun kebun kelapa itu diperluas dan akhirnya ada 116.000 bibit pohon kelapa sudah ditanam. 

Memang kebutuhan jasmani diperhatikan. Akan tetapi, kebutuhan rohani tidak dilalaikan.

Benarlah bahwa sekolah kampung berjalan sebagai sekolah peradaban; belajar bernyanyi, meniup suling, bekerja kebun diutamakan di atas belajar membaca, menulis dan menghitung. Dipikirkan juga bahwa anak-anak yang paling pandai diberi kesempatan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi.

Di Kepi dibuka sekolah pendidikan pra-menengah dan didirikan sebuah asrama, baik untuk laki-laki, maupun untuk wanita. Pada tahun 1952, tiba tiga suster pertama, yaitu Sr. Gaudia, Sr. Jeanne dan Sr. Yustine, yang membantu sekolah dan asrama. Satu suster membantu membuka poliklinik yang pertama. 

Di daerah Misi sudah banyak katekis dan keluarganya. Mereka hidup di kampungkampung yang dibuka karena kedatangan mereka.

Kesulitan yang dialami di mana-mana adalah katekiskatekis itu kurang berpendidikan; sering pastor-pastor mengimbau agar diadakan kursus-kursus penataran bagi mereka.

Pater Verschueren bersama pastor-pastor lain di Kepi merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan untuk mempersiapkan para calon katekis, baik teori maupun praktek. Baru pada tahun 1955 sekolah katekis dibuka di Kepi dipimpin bapak Renyaan dibantu Sr. Caroline.

Para calon semua sudah berkeluarga sehingga jika para bapak sedang mengikuti pelajaran kelas, para ibu mengikuti kursus mengatur rumah tangga. Sesudah Pater Verschueren berangkat, Pater Verhoeven menjadi pastor kepala.

Kerja sama antara Misi dan Pemerintah menekankan: pendidikan bagi orang Mappi sesuai dengan adat-istiadat mereka. Pembaharuan sistem penelitian tidak boleh dilepaskan dari struktur sosialnya.

Dalam suatu penelitian bisa disimpulkan bahwa di samping kepalakepala perang juga ada penasehat penasehat adat; dan perlunya menghidupkan kembali pestapesta adat sehingga perhiasan badan, nyanyian dan tari-tarian bisa mengantar suasana gembira orang-orang kampung tersebut.

KPS Cappetti sendiri pergi ke kampungkampung bersama dengan ketuaketua adat mengadili orang-orang yang bersalah. Bersama dengan kepala-kepala adat itu ia mengatur rencana kerja untuk bulanbulan yang akan datang.

Namun atasan pendidikan di Merauke tidak setuju dengan arah pendidikan di Mappi. Guruguru sudah menjadi pembantu rencana makmur dan proyek cokelat. Mereka lebih mengutamakan kerja di kebun-kebun daripada mengajar di sekolah-sekolah.

Merauke berpendapat bahwa guruguru harus menjadi kepala sekolah dan harus mementingkan pelajaran di sekolah. Pater Huiskamp (dari Merauke) menjadi pengurus sekolah, ia melarang kerja di kebun pada hari Senin dan memaksa para guru untuk mengajar sesuai dengan tuntutan zaman modern seperti yang dituntut di Merauke

Misi bukan hanya berusaha membicarakan dengan KPS tetapi juga para pastor muda mengambil tindakan tegas. Khusus di bagian Sungai Miwamon, baik bapak Maturbongs maupun Pater Huiskamp melaporkan bahwa tombak baru dibuat dalam jumlah besar dan bahwa ada kehausan untuk pergi mengayau seperti pada zaman dahulu. Bersambung…[]

 

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Referensi:

Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995

Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II

Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here