Sejarah Gereja Katolik Kepi – Mappi (Keuskupan Agung Merauke) – 2

0
89
Gereja Mappi
Paroki S. Yakobus Rasul Keppi-Mappi, Keuskupan Agung Merauke - Dokpri

Bagian II :

Pada akhirJuli 1959, sekelompok orang (lebih dari seratus orang) yang berasal dari suku bangsa Tjitah turun dari daerah mereka melalui Sungai Miwamon dengan maksud memperkenalkan diri kepada pemerintah di Kepi dan memperoleh barang yang mereka perlukan. Tiga hari kemudian mereka naik perahu kembali ke daerah mereka melalui sungai yang sama.

Mula-mula tiga kampung pertama membiarkan mereka lewat dengan aman tetapi kemudian dua kampung berikut menutup perjalanan mereka. Ternyata tiga kampung pertama tadi mengejar dari belakang. Mereka diserang, dibunuh dan dipenggal kepalanya. Ada satu dua orang yang dapat meloloskan diri dan lari melalui rawa-rawa. Sesudah pembantaian itu, orang Yahray (semua sudah serani) hadir dalam sembahyang sore. Guru-guru tidak tahu apa yang telah terjadi pada hari minggu itu. 

Satu anak bisa menyelamatkan diri dengan berenang di bawah permukaan air. Ia ditemukan seorang wanita Kepi yang sedang mencari ikan pada hari berikutnya. Anak yang luka itu dihantar ke kantor polisi, dirawat dan ditanyai oleh seorang juru bahasa: dari mana dia, mengapa terluka dan bagaimana hal itu terjadi. Anak itu berceritera bahwa telah terjadi serangan dan pembunuhan. Maka polisi segera bertindak, menangkap lebih dari 200 orang dari kampung-kampung Miwamon.

Penghasut ternyata seorang kepala suku dan 10 orang anak buahnya, mereka semua akhirnya dipenjarakan di Merauke, ratusan pengikutnya dipenjarakan di Tanah Merah. Orang-orang kampung dihukum dan dipaksa membuat lapangan terbang.

Oleh pihak Misi KPS dipersalahkan dan diminta untuk dipindahkan. Orang-orang serani di seluruh daerah Yahray dilarang oleh uskup untuk menerima sakramen-sakramen dan diwajibkan mengikuti pelajaran agama lagi.

Pertanyaan yang patut dikemukakan: Mengapa peristiwa ini tiba-tiba terjadi, pada hal mereka sudah beragama? Jawabannya cukup sederhana: kepemimpinan Bestir dan Misi yang intensif membuat perubahan yang mendadak (masyarakat setempat belum mampu menerima perubahan itu).

Dalam waktu sepuluh tahun, kehidupan harian menjadi aman, perumahan makin teratur, persekolahan diarahkan kepada kesejahteraan dan kemakmuran dalam bimbingan Tuhan. Situasi umum ditingkatkan pemerintah dengan munculnya proyek daerah (kebun cokelat dan karet) dan dengan kunjungan KPS ke kampung-kampung dilaksanakan secara teratur.

Baca juga:

Sejarah Gereja Katolik Kepi-Mappi (Keuskupan Agung Merauke)

Benarlah bahwa orang Yahray dipermandikan secara meriah, belajar memajukan diri; mereka mengalami bahwa adat mereka yang baik patut dihargai, tetapi pandangan tentang dunia baru ini diberikan kepada kaum pria yang makin lama makin mengenal bahasa Indonesia, sedangkan kaum wanita tidak, sehingga mereka tidak terdidik dan mempertahankan pandangan hidup lama.

Para wanita menghina kaum muda karena pemuda yang menikahinya tidak menggantungkan tengkorak-tengkorak musuh di tangan mereka. Tidak mengherankan ketika pemerintah memberi kebebasan dan tanggung jawab kepada orang yang biasa dipimpin maka pola kehidupan baru yang sebelumnya didukung pemerintah runtuh.

Tahun 1951, Pater Boelaars, MSC ahli ilmu kebudayaan (antropolog), mulai mengadakan penelitian adat di suku Yahray dengan bantuan seorang pemuda Kepi bernama Yakobus Yabaimu. Pemuda ini masih bersaudara dengan kepala-kepala perang dan bapaknya adalah seorang penasehat kampung.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa tatanan sosial dan ekonomi suku bangsa ini dipengaruhi oleh nasihat-nasihat orang tua, dongeng-dongeng, sehingga dapat mengungkapkan latar belakang dari gejala utama yaitu pengayauan.

Menurut para informan pengayauan merupakan syarat dan tanda bukti kewibawaan tertinggi. Keutamaan dan kewibawaan yang dimilikinya itu menyamakan dia dengan oknum yang tertinggi yang dilambangkan dengan matahari.

Oknum yang tertinggi itu memberikan kehidupan abadi (Magati) kepada si pemberani itu, dan masyarakat juga memberikan pangkat-pangkat sesuai dengan jumlah tengkorak yang diperoleh dari seorang pengayau pada suatu kesempatan pesta besar (Yame) sesudah serangan pengayauan dilakukan. Oleh sebab itu, motivasi pengayauan dirumuskan oleh orang Yahray sendiri dengan dua kata yaitu “Maga-tier” (karena hidup abadi) dan “Yame-er” (karena pesta besar).

Di pihak lain harus dikatakan bahwa orang Yahray meskipun demikian agresif terhadap kampung-kampung lain, toh mengenal kehidupan yang ramah-tamah di kampungnya sendiri. Hal ini nyata dalam pelaksanaan gotong-royong, artinya saling melengkapi, saling membantu dan membagi hasil.

Hal-hal demikian ini dipandang mempunyai nilai yang tertinggi. Ketika mereka menjadi serani mereka memberi nama kepada Kristus dalam bahasa Yahray. Nama itu ialah “EROGAMBO”, yang berarti Dialah orang yang punya sikap membagi.

Irian Jaya bergabung dengan Indonesia. Sekitar tahun itu seorang pastor MSC Indonesia, yaitu Pater Resubun datang. Ia mengurus persekolahan di Kepi. Guru-guru dari Jawa datang juga. Hanya satu dua orang saja yang bekerja di pedalaman bisa dijadikan teladan.

Pendidikan kursus katekis dihentikan tetapi team pembimbing bersedia memberi kursus-kursus baru, baik kepada umat di kampung yang merayakan ibadat hari minggu tanpa guru maupun kepada pasutri-pasutri yang ikut penataran agar menjadi orang tua, keluarga teladan di kampung- kampung mereka. Ada dua orang awam yang sangat berjasa bagi perkembangan gereja setempat.

Guru Cel Letsoin berjalan dari pos ke pos dan memberikan penataran kepada para katekis. Guru Tawurutubun mengambil alih pengurus persekolahan dan Pater Resubun menjalankan tugas ini sebagai ahli dan ia sangat rajin.

Bruder Robertus (dari Tarekat Tujuh Kedukaan) datang dan membantu. Secara khusus bruder bersama dengan orang-orang kampung membangun gedung-gedung baru. Tambah lagi bahwa sekolah teknik Merauke menghasilkan tukang-tukang yang baik dan menunjukkan keterampilan mereka ketika membangun gedung-gedung itu.

Di samping melayani paroki-paroki di wilayah Yahray, pastor-pastor memperhatikan perkembangan perambatan agama pada suku-suku lain yang tersebar di sekitar daerah Mappi. Pater Lommertzen membuka wilayah sungai Gondu.

Ia telah mengunjungi kampung-kampung dan menempatkan 17 katekis. Tempat tinggalnya di Arare. Sekalipun rumahnya itu sangat sederhana namun kerajinannya luar biasa. Sesudah dua belas tahun bekerja ia cuti dan menyerahkan parokinya kepada Pater van Oers, MSC.

Sekembalinya dari cuti ia bertugas di Pirimapun di Pantai Kasuari (sekarang masuk wilayah Keuskupan Agats). Kegiatan Misi sesudah Perang Dunia II berjalan terus. Para pastor, para petugas pastoral lainnya silih berganti dan penduduk kampung-kampung semakin berkembang.

Pada kesempatan yang sama para uskup di seluruh dunia mengadakan Konsili Vatikan ll dan hasilnya merembet juga sampai di Keuskupan Merauke. Khususnya pastor-pastor muda sangat mendukung pembaharuan dalam tubuh Gereja. Perhatian Gereja dan agama lebih diarahkan kepada pembaharuan kehidupan harian dan konsili ini juga menekankan peranan kaum awam. Hal ini memang sesuai dengan ungkapan: “Kita adalah Gereja”. []

 

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Referensi:

Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995

Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II

Karel Steenbrink, Orang-orang katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here