Sejarah Gereja Katolik di Pulau Kimaam (Keuskupan Agung Merauke)

1
414
Gereja Katolik Kimaam
Gereja Paroki Kristus Raja Kimaam - Foto/Dok. Fr. Steven Mahuze

Bagian I:

Pater Thieman, MSC membangun rumah pastorannya di Kimaam tahun 1935. la mulai berjalan dengan perahu dalam rawa-rawa raksasa di daerah itu. 

Pada waktu musim panas ia berjalan kaki dalam lumpur di antara dua dinding rumput tinggi. Terik matahari dan nyamuk yang begitu banyak tidak dapat menghentikan sang pionir itu, untuk melaksanakan tugasnya. Kemudian guru-guru dengan nyora-nyoranya, mereka ini berasal dari kepulauan Kei (Maluku Tenggara), menyusul.

Mereka mendiami pulau-pulau “buatan” di tengah rawa-rawa itu, membuka sekolah dan menyebarkan agama Katolik. Langkah demi langkah manusia Kimaam menerima agama, melepaskan kebiasaan adat yang jelek, mengembangkan kebiasaan yang baik dan selanjutnya dipermandikan dan tiap hari minggu berkumpul untuk beribadat. 

Manusia Kimaam tampil ke depan sebagai seorang yang baik hati, ramah-tamah, cenderung hidup santai, bergembira bilamana sagu, ubi, ikan daging berlimpah-limpah dan menderita lapar bilamana makanan sulit diperoleh karena kebun-kebun digenangi air tinggi. 

Tanpa sikap”ambil enteng” itu mereka tidak dapat mempertahankan dan melanjutkan kehidupan harian yang sering berlangsung dalam situasi darurat. Angka kematian anak-anak balita amat tinggi sampai 50%. 

Kepercayaan akan roh-roh alam setempat demikian kuat, sehingga dampak kekuatan roh-roh itu dipercaya lebih menentukan penghasilan kebun daripada kegiatan di bidang pertanian mereka sendiri.

Kepekaan terhadap penampakan dunia tak kelihatan (gaib) dalam kehidupan harian mengakibatkan suatu gerakan sia-sia justru sesudah suku bangsa ini menjadi serani. Satu tujuan selalu akan ditemukan, yaitu tujuan dasariah meyakinkan orang-orang rawa itu, bahwa perpindahan dari tanah rendah rawa-rawa ke tanah tinggi di pinggir timur pulau merupakan syarat mutlak demi kehidupan yang terjamin dan menyelamatkan. 

Sejarah perkembangan agama diceritakan di bawah ini. 

Pada tahun 1948, Pater Thieman berangkat cuti ke negeri Belanda sesudah 14 tahun lamanya bekerja di pulau ini. Seorang pastor lain yang baru tiba di Irian Jaya, yaitu Pater Anton Verhage MSC (Pater Verhage) datang ke Kimaam. Dengan hati gembira ia mencatat bahwa jumlah orang serani sudah mencapai 3.234 orang yang tersebar di 32 kampung di seluruh pulau itu. 

Dengan semangat segar ia merayakan secepat mungkin suatu pesta permandian untuk orang dewasa. 

Pater muda ini mulai belajar apakah itu “berturne” di pulau Kimaam. Pesta permandian ditentukan akan dirayakan tepat pada pesta St. Theresia dari Lisieux. Pastor berjanji akan hadir pada tanggal tersebut. Naik perahu dari Kimaam, melalui Jeobi, Kiworo dan tiba di Woner. 

Musim kering sudah mulai, perahu kandas. Bagi pastor tidak apa-apa, berjalan kaki saja melalui sungai-sungai kering. Tujuan yang ingin dicapai adalah kampung Wanggambi. Jaraknya lima puluh kilometer. 

Berjalan di sungai kering berarti siap berjalan di pinggir daratan dan “diganggu” rumput atau berjalan di tengah dan masuk lumpur yang masih lembek. 

Pastor mau cepat, tanggal pesta sudah pasti. Lima puluh kilometer, dua hari perjalanan, suatu perjalanan yang tidak mudah. Tidur direncanakan di tempat yang diketahui lebih tinggi di tengah jalan. Akan tetapi, lumpur masih dalam, sering masih ditemukan kolam-kolam air. Apa boleh buat! 

Matahari terbenam, tempat istirahat itu masih jauh. Sudahlah, di pinggir rumput disediakan tempat dan tidurlah.

Matahari terbit, berjalan lagi. Botol air minum sudah kosong, diisi kembali dengan air hitam dari rawa. Akan tetapi, tidak lama kemudian pastor mengalami sakit perut, menceret hebat. Memaksa diri berjalan terus, di tempat istirahat dipasang kelambu dan satu hari lamanya ia menderita, merasa sakit keras. 

Untunglah seorang pengantar lari kepada guru di Wanggambi dan kembali pada hari yang sama membawa botol diisi susu dengan air. Baru pada hari keempat ia tiba di kampung, capai dan lemah. 

Karena ia tidak rela pulang melalui jalan yang sama, ia meneruskan patrolinya ke arah selatan. Bagian selatan, bagian pantai terkenal karena banyaknya nyamuk. 

Di beberapa tempat ia mempersembahkan misa di mana di empat sudut altar diletakkan api yang berasap dan sebelumnya tempat itu sudah dibersihkan dari nyamuk-nyamuk yang berkeliaran. 

Air minum di situ sudah tercemar atau tercampur dengan air laut. Dua minggu lamanya terpaksa minum air seperti itu. Melalui laut ia kembali ke Kimaam dan berkata: 

“Betapa baik air minum di kamar mandi, di mana bak air penuh dengan air hujan untuk dinikmati sepuas-puasnya”. 

Pengalaman lain memang jauh lebih berat yaitu pengalaman yang berhubungan dengan adat-istiadat bangsa ini. Adat ini dipengaruhi oleh kebudayaan orang Marind dan mengenal berbagai unsur yang mengerikan hati pastor. 

Bila orang membuat pulau kecil dalam rawa dengan menimbun lumpur dan rumput terus-menerus, bantuan teman dibayar dengan meminjamkan isteri kepadanya. 

Bilamana seseorang meninggal, keluarga dekat mengenakan pakaian perkabungan dan menyendiri ke tempat yang sunyi. Kemudian deretan pesta-pesta kecil, selama satu tahun, harus mempersiapkan suatu perayaan terakhir. Kubur dibuka, tulang-tulang dikeluarkan dan dibersihkan dan dikubur kembali. 

Di atas kubur itu makanan dikumpulkan dan di atas tumpukan itu anak-anak kecil diinisiasikan, tiap-tiap kali dalam tingkat umur yang lebih tinggi. 

Perayaan itu sudah menjadi ajang atau tempat perebutan gengsi dengan menawarkan suatu timbunan hasil kebun. Lawan ditantang membalas dengan imbalan yang sekurang-kurangnya seimbang. 

Semua perayaan itu dimeriahkan dengan sejenis minuman keras, yaitu ‘wati’, sedangkan tari-tarian dibarengi dengan pergaulan seks bebas yang tidak mengenal batas lagi. Angkatan muda menjalankan upacara-upacara inisiasi lagi dan pada waktu seorang pemuda telah mendapatkan pacar, haruslah ia mengizinkan bahwa pemimpin-pemimpin upacara menggauli perempuan itu. 

Baru dalam sebuah laporan yang dibuat sesudah sepuluh tahun kemudian, Pater Verhage menulis: 

“Pesta perkabungan diperpendek menjadi tiga perayaan kecil saja: tarian dikendalikan oleh kontrol pemerintah, rumah-rumah bujang, tempat inisiasi tidak ditemukan lagi dan upacara inisiasi anak kecil dirohanikan dengan kehadiran imam yang memberkati anak itu”. 

Justru pada pemurnian adat asli dan penyebaran agama, pekerjaan itu menentukan keberhasilan. Namun pekerjaan mereka mengalami kesulitan, yang di daerah-daerah lain tidak ada, yaitu kenyataan bahwa segala komunikasi harus berlangsung melalui penggunaan perahu (misalnya, anak ke sekolah, orang ke gereja, guru ke rumah orang). Orang Kimaam sendiri mengaku kagum akan orang-orang asing yang banting tulang untuk “sesamanya dari suku bangsa lain”.

Pastor Kimaam merangkap fungsi sebagai Beherder Sekolah Resort (RSB). Tugas sampingan ini meminta suatu perhatian besar. Pertama-tama kehidupan rohani dari tenaga-tenaga pengajar sendiri harus dipertahankan dan ditingkatkan, diperdalam dan dipupuk. 

Dalam kunjungan ke kampung kesulitan keluarga dibicarakan. Kemudian inspeksi sekolah diadakan, khususnya untuk mata pelajaran agama. Untuk umat disiapkan bahan kotbah, doa-doa dan nyanyian. 

Guru mengetahui bahwa hasil inspeksi mempengaruhi penempatan, kenaikan gaji atau pemotongan denda. Administrasi yang harus dikirim ke Merauke dikontrol oleh pastor terlebih dahulu. 

Kesibukan besar ini berhasil. Pada tahun 1955, RSB dengan bangga mencatat bahwa dari 18 sekolah bersubsidi sudah 60% melebihi sekolah peradaban.

Dikatakannya: 

“Sungguh ada alasan untuk merasa puas terhadap pekerjaan dari kebanyakan guru di wilayah Kimaam ini. Buktinya bahwa tahun berikutnya 80 tamatan sekolah SD dapat dikirim ke Merauke sanggup meneruskan pelajaran di sekolah lanjutan. 

Memang bagus, akan tetapi transport murid-murid itu membawa serta suatu kesulitan besar. Pada waktu itu (1955) belum ada hubungan radio antara Merauke dan Kimaam, dengan akibat bahwa kedatangan kapal-kapal tidak pernah diketahui. Bila tiba-tiba sebuah kapal masuk sungai Ndambu selalu dengan secepat mungkin barang harus dibongkar, penumpang dikumpulkan karena kapal harus berangkat selama air masih cukup tinggi. Sering sudah terjadi bahwa pastor duduk dengan murid-murid beberapa hari lamanya di dermaga di tengah nyamuk-nyamuk sambil menunggu kapal yang mungkin lewat tetapi tidak mampir. 

Pemeliharaan kesehatan rakyat merupakan juga pokok perhatian pastor. Kesehatan di dunia rawa-rawa sering diganggu oleh kelaparan atau kekurangan gizi. Apabila kelahiran anak mengalami kesulitan seringkali ibu dan anak mati bersama-sama. Ada rumah sakit kecil di desa kimaam dengan seorang bapak mantri, akan tetapi jaraknya jauh dan tabu-tabu adat menghindarkan bantuan dicari di situ. Tambah lagi, pada tahun 1955 suatu epidemi influensa mengamuk di seluruh pulau. Diceriterakan bahwa setiap dua hari satu jenazah dikuburkan.

Bagaimana situasi makanan dapat diperbaiki? Pastor dengan beberapa pemuda membuat sawah. Ia sudah bermimpi bahwa rawa-rawa Kimaam ini akan menjadi gudang beras untuk seluruh Irian. Percobaan mengalami kegagalan karena angkatan muda masih terlalu tergantung dari generasi tua yang berkuasa dan masih mempertahankan tradisi lama.

Harapan pastor ialah kewibawaan pemerintah Belanda yang mempunyai kantornya dan asisten bestir. Pegawainya waktu itu seorang Kei dan beragama katolik. Pater Verhage menyampaikan keinginannya kepadanya misalnya, pembangunan rumah-rumah yang lebih sehat, pemindahan kampung-kampung ke tanah yang lebih tinggi, membersihkan sungai sungai secara kontinyu dan urusan bantuan makanan yang teratur untuk anak-anak di asrama. Akan tetapi Merauke tidak mengirim polisi atau tenaga-tenaga dari dinas lain dalam jumlah yang cukup dengan kepandaian yang memadai. 

Tidak heran bahwa Pater Verhage mengirimkan surat kepada Misi Merauke kadang-kadang dengan nada pahit dan keras. Saya terus menerus mempropagandakan perbaikan pertanian tetapi parang, kampak, cangkul, sekop tidak dikirim. Tidak ada sebuah toko di sini namun Merauke tidak memperhatikan barang yang diperlukan di sini.

Gedung-gedung Misi membutuhkan pemugaran dan perluasan akan tetapi tidak diperoleh daun-daun seng, karung-karung semen dan tidak ada seorang bruder tukang kayu untuk melaksanakannya. Ia bertanya: “Merauke masih ada, bilamana Uskup berangkat ke Belanda?” la mengeluh: “Sudah satu setengah tahun saya tinggal di sini sendirian saja!” 

Pater ini menjalankan suatu penelitian seksama terhadap adat-istiadat masyarakat Kimaam. Laporannya (1955) membentuk sumber asli pengetahuan tentang pola hidup adat manusia di situ. 

Sering ia membantu atau mengoreksi penelitian resmi dari pemerintah. Bersama dengan guru-guru ia mengadakan sensus penduduk dan mengumpulkan semua data tentang jumlah penduduk baik pria maupun wanita, anak-anak sesuai dengan jenis kelamin dan umur. 

Statistik yang berdasarkan penelitian itu digunakannya untuk menarik perhatian dari instansi-instansi terhadap kebutuhan orang di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Dengan sendirinya dapat diharapkan bahwa administrasi gerejani pastor ini paling teliti. 

Anak misioner Kimaam
Ulang tahun Sekami 2017 – Foto/Dok. Fr. Steven Mahuze

Tentang adat perkawinan, pastor sering membantu memecahkan persoalan. Ia menulis: 

“Bukan si pemuda sendiri melainkan orang tua dari pihak wanita sendiri mengambil inisiatif untuk mencari calon suami untuk anak perempuannya. Jika lamaran mereka diterima maka pertukaran makanan di antara dua keluarga menyatakan kepada pemuda siapakah yang akan menjadi isterinya. Bilamana seorang pemuda lain mencalonkan diri, kedua pemuda bergaul dan yang terkuat mendapat wanita itu. Jika calon resmi kalah maka harus dibayar denda kepadanya oleh yang menang.

Kemudian bilamana kedua belah pihak puas maka pernikahan berlangsung. Bakal suami isteri duduk di atas satu tikar bersama dan makan dari piring yang berbentuk perahu kecil. Anak pertama diserahkan kepada orang tua wanita.

Adopsi adalah suatu kebiasaan umum pada suku bangsa ini. Akibat jeleknya ialah sering ibu kandungnya dan ibu piara yang diandaikan berganti-ganti memberi makan kepada anak itu kedua-duanya melalaikan tugasnya sehingga anak itu mati. Kadang-kadang adopsi berlangsung dengan merahasiakan kejadiannya (takut akan roh atau tukang sihir) sehingga anak sendiri tidak mengetahui siapakah orang tuanya yang sebenarnya.

Laporan tersebut menerangkan suatu kejadian umum yang lain lagi yaitu pesta ‘ndambu”. Walaupun beberapa variasi dapat dibedakan, namun inti perayaannya berupa pertandingan antar orang tertentu, keluarga atau suatu kampung dengan pihak pihak lawan. Ditawarkan sejumlah bahan makanan yang banyak sekali, misalnya 1000 buah ubi, yang seharusnya mesti diimbangi oleh pihak lawan tersebut. Tambah lagi selalu berlangsung suatu pengukuran resmi yang membuktikan buah keladi siapa yang terbesar.

Perayaan demikian membawa keramaian dan mendorong kegiatan perkebunan. Akan tetapi persiapan hasil kebun diiringi dengan berbagai upacara penghormatan terhadap roh tanah setempat. Bukan keahlian petani melainkan kerahiman roh menjamin kemenangan.

Kerjasama orang Kimaam bukan dengan sendirinya berdasarkan keluarga atau kerabat. Pekerjaan bersama adalah hasil dari suatu pilihan pribadi terhadap pribadi yang lain dan hanya merupakan suatu solidaritas persahabatan selama pekerjaan bersama itu berguna. Sikap individualistis ini menerangkan kenyataan bahwa baik pemerintah maupun Misi tidak dapat mengangkat kepala desa atau ketua umat yang diakui kewibawaannya secara umum.

Wewenang hanya diberikan kepada oknum-oknum tertentu yang membuktikan keberanian mereka untuk mengatur perkara-perkara atau memamerkan kekuatan gaib sebagai tukang sihir. Penelitian adat ini membantu pastor-pastor di kemudian hari untuk mengerti sikon dari suku bangsa ini yang bersedia dilayani. Akhir tahun 1953 pastor yang kedua tiba di Kimaam, yaitu Pater Joop Nuij MSC (Pater Joop).

Pastor ini bertugas di bagian selatan pulau Kimaam. Sudah bertahun-tahun lamanya pantai selatan ini dikunjungi oleh Pater Kowatzki, pastor Wamal. Dua kali setahun guru Philipus Ulukyanan mengirim orang muda dengan perahu besar dari Kladar ke Wamal melalui laut untuk menjemput dan mengantar pulang pastor itu. Namun perjalanan itu menjadi suatu beban yang terlalu berat untuk pastor tua itu. Maka sebaiknya seorang muda mengambil alih tugasnya itu.

Waktu berkunjung ke sana Pater Joop merasa heran menemukan suatu umat di tempat yang begitu terpelajar dan setia dalam agama. Sungguh selayaknya umat itu sekarang mendapat perhatian yang lebih intensif. Namun pantaslah dilihat juga apa yang menjadi tuntutan pelayanan dari pastor muda ini.

Hanya selama dua bulan dalam setahun ada kemungkinan untuk berlayar melalui laut karena laut tenang sedangkan kesempatan yang lain harus berdayung melalui rawa-rawa atau berjalan kaki di dalam rawa dan berlumpur. Satu turne memakan waktu dua bulan lamanya atau lebih.

Kunjungan ke bagian selatan tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan kehendak pastor sendiri karena kota Kimaam membutuhkan bantuannya juga. Uskup yang memperhatikan kerajinan dan kepandaian pastor muda di bidang pembangunan gereja dan sekolah. Dengan surat pendek, Uskup menugaskannya menjadi “bouw pastoor”(pastor pembangunan) di Kimaam kota yang menjadi pusat misi di sana. 

Keputusan ini diambil di Merauke dengan gampang akan tetapi sulit dalam pelaksanaannya di Kimaam. Menyiapkan tempat, menebang pohon, mencincang, mengetam kayu dengan alat-alat, yang jumlahnya kurang dan dengan orang yang sanggup melaksanakan pekerjaan itu bukanlah hal yang gampang. 

Amat dibutuhkan suatu rumah tempat singgah untuk guru-guru yang datang untuk bertemu dengan RSB dan berbelanja di gudang Misi. Sekaligus Pater Verhage memerlukan tempat itu untuk meningkatkan mutu kerohanian dan pendidikan mereka. Kemudian pada tahun 1956 ada kabar gembira bahwa suster-suster dari Merauke bersedia datang ke Kimaam, dengan jaminan dibangun dulu sebuah rumah untuk mereka dan satu asrama untuk puteri-puteri yang hendak mereka didik. 

Jawaban Kimaam berbunyi: 

“Selamat datang, asal sabar dulu”.

Pada waktu yang sama pemerintah membangun suatu pusat untuk angkatan laut dekat Kimaam. Pusat itu memegang kapal-kapal, memiliki sebuah generator listrik dan hubungan radio dengan Merauke. Hal ini merupakan bantuan yang meringankan beban pastor-pastor.

Hubungan yang teratur dimungkinkan dan yang lebih penting lagi karena Uskup meminta Kimaam mempersiapkan tenaga-tenaga katekis untuk daerah daerah misi yang baru dibuka (Asmat) atau yang amat berkembang (Muyu). Sebelumnya Pater Joop satu kali menduduki dermaga selama sebelas hari lamanya bersama dengan katekis menunggu kapal.

Perkembangan persekolahan maju terus. Pater Verhage mengedarkan surat berkala, Bob namanya, yang memberi informasi dan advis kepada guru-guru. Juga inspeksi berlangsung tiap tahun di seluruh wilayah Kimaam.

Kimaam mempunyai dua sekolah A, delapan sekolah B dan sembilan sekolah C, yang siap menjadi sekolah B juga. Sudah 20% dari jumlah murid sanggup melanjutkan pendidikannya di Merauke. Sebaiknya Kimaam sendiri membuka sekolah lanjutan sendiri, yaitu WS; akan tetapi pemerintah tidak mengijinkannya.

Lagi harus ditunggu sampai sekolah itu mulai berjalan. Akhirnya Pater Verhage membutuhkan istirahat dan ia berangkat cuti ke tanah airnya, Pater Verhoeven sudah tiba sehingga serah terima tugas dimungkinkan. Ia melepaskan tugasnya di Kimaam dan berangkat pada tahun 1957.

Penduduk pulau Kimaam belum bersedia pindah dari rawa ke daerah tinggi. Kesehatan terganggu, angka kematian balita tinggi. Untunglah di Merauke dr. L. Veeger, seorang dokter pegawai pemerintah dan sekaligus seorang katolik berhati misioner, sudah mengadakan suatu “opleiding” untuk perawat-perawat kampung. Beberapa wanita muda yang sudah tamat bekerja di desa-desa di Sungai Maro. Sekarang situasi Kimaam memanggil. 

Pada tahun 1958 ia tiba di Kimaam dan mengantar Suster Roovers, perawat Belanda, bersama dengan lima perawat kampung orang Kimaam asli. Sedang berpatroli di situ dokter terkejut, katanya: “Pulau ini merupakan pulau di daerah pemerintah. Orang-orangnya terlantar, perumahan jelak, kesehatan menyedihkan”. Lima perawat ini diterima penduduk dengan senang hati dan Suster Roovers berjalan keliling untuk membantu mereka. Secara khusus diperhatikan kesehatan dan makanan bergizi untuk ibu dan anak”. Bersambung. (*)

 

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Referensi:

Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995

Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II

Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero, 2006

1 KOMENTAR

  1. mantap pastor, bila ada waktu kita bisa diskusi terkait sejarah dan juga perkembangan masyarakat pulau kimaam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here