Sejarah Gereja Katolik di Pulau Kimaam (Keuskupan Agung Merauke) – 4

0
83
kimaam
Salah satu atraksi saat pesta Ndambu Pulau Kimaam – foto:Agapitus Batbual/mongabay.co.id

Pater van Kampen dan Pater Mensvoort pindah ke daerah Muyu (1966) dan Pater Verhage kembali ke Kimaam melayani bagian atas, sedangkan bagian bawah dilayani oleh Pater van Halen.

Pater Verhage yang pada tahun 1957 berangkat cuti dan tidak pernah mengalami gerakan “cargo cult” ini selama dua periode bekerja di sini dan peralihan pemerintah, merasa kecewa dan terkejut melihat kemelaratan rakyat, kerusakan gedung-gedung misi dan kekurangan di bidang administrasi.

Namun di bagian atas masih hidup satu dua pewarta agama tanpa banyak soal. Di situ kemungkinan bisa dimulai dengan pembentukan dewan gereja.

Menggembirakan lagi bahwa di kota Kimaam sekolah lanjutan dan asrama-asrama masih berjalan lancar dengan bantuan guru-guru jawa bersama bapak asrama , bapak Layanan dan suster-suster.

Selama waktu liburannya di Belanda, ia berhasil menyemangati salah satu paroki yang bersedia mengirim banyak bungkusan besar penuh dengan pakaian bekas.

Dengan hasil penjualannya itu makanan untuk anak-anak asrama dapat diperoleh dan gaji tenaga-tenaga yang bekerja untuk pemugaran gedung-gedung misi dapat dibayar. Kekhawatiran yang dirasakannya ialah masa depan SMP, justru karena mutu sekolah di desa terlalu rendah. Isi pengajaran agama diperbaharuinya.

Dalam gereja diputar slides yang bukan hanya menggambarkan hal rohani melainkan juga memperlihatkan perusahaan dan teknik industri di barat yang memproduksi barang baru yang dengan kapal dibawa ke dunia timur. la mengaku bahwa ia sendiri mengalami suatu proses pertobatan.

Katanya, “Pada babak pertama pekerjaannya di Pulau Kimaam, ia mengarahkan segala perhatiannya kepada sekolah agama dan pembagian sakramen-sakramen.

Perhatian itu bertitik tolak dari gagasan bahwa kehidupan rohani umat terletak dalam kehidupan harian dalam penghayatan suka dan duka keluarga dan desa.

Justru dalam pola hidup sejahtera dan adil, yang disemangati oleh cinta kepada Allah dan sesama, terletak “balasan” manusia atas kebaikan Tuhan. Upacara di gereja merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan kehidupan kristen sehari-hari itu. Sering dikutipnya kata-kata Yesus:

“Manusia tidak hidup untuk Sabat, melainkan Sabat adalah untuk manusia.”

Pola hidup harian itu berdasarkan ekonomi setempat, memang sumber-sumber lokal digunakan, tetapi sebaiknya penduduk rawa berpindah ke tempat tinggi, karena impor tidak mungkin tanpa ekspor dan hanya mungkin di daratan tinggi.

Bapak Uskup, yang mengunjungi umat di Kimaam beberapa kali, memuji pekerjaan Pater van Halen di bagian selatan. Akan tetapi Pater van Halen sendiri memperhatikan bahwa di bawah kedok penghayatan agama yang setia berkembanglah kepercayaan “sia-sia”.

Dipercaya bahwa barang modern akan muncul dari dunia nenek moyang (tempat yang dinamakan Marindi). Kepercayaan ini mencuat kembali dalam kurun waktu tahun 1967 1969 dalam suatu bentuk yang jauh lebih lihai dan teratur dari pada sewaktu muncul pada tahun 1959-1964.

Penganut kepercayaan ini sendiri berkata:  “Dulu roh itu kasar tetapi sekarang roh itu halus”.

Kembali pemimpin pemimpin mengalami penampakan Kristus dan Bunda yang putih; kembali diadakan kumpulan-kumpulan rahasia di mana suara Tuhan berbunyi (di malam gelap seorang di belakang pagar berbicara dalam kaleng supaya suaranya tidak dikenal).

Kembali tiruan pembagian sakramen dan persembahan ekaristi berlangsung. Hanya dari isteri orang lain dapat lahir anak yang sungguh serani. Bendera kedaulatan dibuat dan latihan diadakan. Sebutir peluru membuktikan perlengkapan senjata dan botol tertentu diisi dengan bom atom.

Pater van Halen berjalan dengan berani dan tekun dari kampung ke kampung dan mengintai perkembangan gerakan ini dibantu oleh beberapa orang yang setia, antara lain: Albert Pandi.

Penganut menyangkal arti kata dan gejala, berbohong dengan jawaban yang kasar, seakan-akan tersinggung karena dugaan pastor.

Akhirnya pastor menawarkan suatu pilihan sesuai dengan hati nurani mereka sendiri: “Hanya mereka yang tidak menganut gerakan sia-sia ini, silahkan datang menerima sakramen pengakuan dosa dan ekaristi. Banyak orang tidak berani menyambut”.

Nama gerakan kali ini ialah “Siden sigo”, kata yang dijabarkan dari nama salah satu tempat keramat dekat desa Kladar.

Satu-surat dari seorang guru kepada penilik sekolah menbuktikan tujuan gerakan ini dengan jelas dan seorang guru lain mengirim berita yang didengarnya bahwa dunia akan menjadi gelap, gempa bumi akan terjadi selama enam hari lamanya; orang mati akan bangkit dan bersama dengan orang hidup akan memerangi pemerintah.

Berita ini diteruskan ke Merauke. Dengan mendadak Merauke mengirimkan camat baru bersama dengan beberapa anggota Brimob. Pemimpin-pemimpin ditangkap dan dipenjarakan di Merauke sedangkan pengikut-pengikut lain diperiksa di Kimaam. Kemudian satu kelompok pemeriksa dan pengatur pergi ke bagian pantai.

Orang-orang yang bersalah dihukum. Di antara mereka ada yang dipukul sampai mati, yang lain membutuhkan perawatan lama sebelum sembuh.

Baca juga:

Pada waktu yang sama Pater van Halen berjalan dari kampung ke kampung mencari siapa diantara orang yang bersalah itu bersedia bertobat dan bagaiamana mereka yang masih setia dapat disemangati kembali.

Usaha ini menuntut suatu kebijaksanaan yang bermutu tinggi dan meminta waktu yang lama. Ketika giliran cutinya sudah mendekat. Pater Ramaaker, yang menggantikannya menerima suatu daftar berisi nama nama orang yang dapat dipercaya dan nama orang yang tidak dapat dipercaya.

Laut selatan kembali mengamuk dan menggenangi desa dan kebun penduduk yang hidup di pantai (1970). Pemerintah mengatur agar penduduk pindah ke tanah tinggi dekat desa Kumbis dan Batu Merah.

Kumbis tidak cukup menampung para pengungsi karena itu penduduk dengan segera kembali ke kampung lama.

Penduduk yang ditampung di Batu Merah sedikit berhasil. Pemerintah membagi beras di situ. Pater Pamaaker dan Br. Liborius (dari Tarekat Tujuh Kedukaan) tinggal di situ. Bruder membantu orang membuka hutan dan membuat kebun-kebun baru. Namun akhirnya hanya sekelompok kecil yang bertahan tinggal di situ.

Kebanyakan kembali ke kampung halamannya di bagian barat dari pulau. Perpindahan di daerah utara berlangsung atas dorongan Misi.

Dekat desa Suam ada tanah kering, namanya Tjekra. Penduduk Suam pindah ke sana tetapi di sana tidak ada satu pohon pun yang melindungi mereka dari tiupan angin keras dan terlalu banyak orang meninggal. Kematian melebihi kelahiran.

Pater Verhage mencari suatu tempat baru, namanya Kandembum, yang cukup luas untuk perumahan tetapi tidak cocok untuk perkebunan. Namun penggantinya Pater van Kampen menerima perpindahan ke situ.

Sesudah Pater Verhage pulang dan melihat situasi setempat, ia berhasil mendorong kembali penduduk untuk pindah ke Tabonji, di sebelah timur dekat Sungai Muli.

Sukses ini menyemangati kampung-kampung lain. Penghuni dari beberapa desa di sebelah utara kota Kimaam membuka bersama tempat di Padua di daerah tinggi yang sama.

Lain ceritanya perpindahan orang Lomoro dan Yamuka. Sudah pada tahun 1950, Pater Verhage berhasil meyakinkan mereka agar pindah ke Uwata, dekat laut utara, tetapi ia menyesal dengan nasihat itu sebab kapal-kapal yang datang melalui Sungai Digul dan masuk Selat Muli tidak singgah di Uwata, yang berada di luar jalur rutin mereka. Dengan akibat bahwa impor dan ekspor di Uwata tidak dapat dikembangkan.

Ia menasihati mereka lagi agar pindah lagi dan dua tahun lamanya tidak mengunjungi tempat itu. Akhirnya mereka mengaku: “Kami jadi sadar” dan mulai pindah ke Tabonji, walaupun penerimaan mereka itu menuntut seratus jam berbicara berhubung dengan urusan tanah.

Di daerah tinggi itu kemudian diperkenalkan jenis-jenis tumbuhan baru (jambu mete), yang akan menjamin ekspor. Kesehatan dengan cepat diperbaiki; sawah-sawah dibuat.

Pada tahun 1971, suatu penelitian terhadap hasil persekolahan di Kimaam mebuktikan bahwa VVV/SMP, mempersiapkan tamatan-tamatan dalam jumlah berikut ini: dari 281 siswa, 144 tamat; 105 di antara mereka mengikuti sekolah teknik dari bruder-bruder di Kelapa Lima Merauke; 69 orang berhasil memperoleh ijazah dari sekolah itu. Dari 116 siswi, 97 tamat.

Di samping hasil ini dicatat bahwa 81 guru SGB dan 8 guru SGA berasal dari Kimaam, dan dinas-dinas lain pun menampung 58 pegawai orang Kimaam.

Sejarah perkembangan agama di Kimaam memperlihatkan hambatan jasmani (rawa-rawa) dan hambatan rohani (gerakan siden sigo) yang luar biasa berat

Namun kesulitan terdalam terletak dalam kepercayaan orang akan kemahakuasaan “aka-aka”, ialah roh-roh tanah dan nenek moyang.

Penduduk berusaha mencari bantuan mereka, khususnya cara-cara magis, kemudian dengan upacara-upacara agama yang diselewengkan dari arti sejati.

Akibatnya ialah penduduk asli Kimaam menerima nasib mereka secara pasif karena mereka takut akan disiksa penyakit atau kematian yang mendadak jika melawan adat asli.

Pater Verhage mencari jawaban yang definitif dalam sejenis pewartaan, corak baru, yang memindahkan konsep mahakuasa dalam arti “mahakuasa sewenang-wenang” kepada “mahakuasa mencintai”.

Bapa yang baik hanya memberi yang baik dan membantu manusia membalas kebaikan Bapa dalam suka dan duka dengan mencintai Tuhan dan sesama dalam pola hidup harian, insyaf bahwa Bapa selalu bersedia mengampuni kelemahan manusia.

Demikianlah manusia Kimaam akan menjadi berbahagia di dunia dan di akhirat sebagai anak-anak Allah dalam Kerajaan Putera-Nya. []

 

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Refrensi:

Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995

Ikhisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II

Karel Steenbrink, Orang-orang katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here