Sejarah Gereja Katolik di Pulau Kimaam (Keuskupan Agung Merauke) – 3

0
125
kimaam
Hasil anyaman masyarakat Pulau Kimaam saat Festival Ndambu - foto/Agapitus Batbual/ mongabay.co.id

Pater Joop yang kebetulan berada di Merauke kembali ke Kimaam dan atas nama Bapak Uskup menyampaikan bahwa kepala agama dengan sedih hati harus mengeluarkan hukumannya yaitu larangan untuk menerimakan sakramen-sakramen selama bukti pertobatan belum menjadi kenyataan.

Diminta juga suatu penolakan resmi dan diwajibkan melaksanakan kerja bakti untuk pemugaran gedung-gedung sekolah dan gereja serta rumah-rumah kampung.

Lama kelamaan orang beriman bertobat dan diijinkan menerima lagi sakramen-sakramen. Namun mereka mengaku tidak merasa bersalah karena mereka berbuat demikian atas “wahyu” dari surga.

Laporan lengkap dari Pater Joop dan Pater van der Wouw menerangkan bahwa kemerosotan kewibawaan dari pihak pemerintah dan kurangnya kunjungan umat dari pihak Misi merupakan faktor yang menguntungkan perkembangan gerakan ini.

Dicatat juga, bahwa jenis kehausan akan barang ini yang menggunakan alat-alat keselamatan dari agama membuktikan bahwa agama itu sudah mendarah-daging dalam kebudayaan setempat.

Kemudian gerakan ini didiamkan dan kehidupan gerejani berlangsung seperti biasa, malahan sering dengan suatu penghayatan lebih baik dari pada sebelumnya.

Di bagian utara Pater van Kampen melayani umatnya. Jumlah hari patrol meningkat sampai 171 hari di antara bulan april sampai desember 1961.

Jumlah orang beriman naik dari 1.000 pada tahun 1959 menjadi 18.000 pada tahun 1961. Pastor mengamati bahwa kampung-kampung di bagian atas (Suam, Iromoro, Yamuka) memperlihatkan kemajuan yang lebih besar dibandingkan dengan bagian bawah (Bamol dan Kalwa).

Di bagian atas tidak ada yang tidak sambut pada paskah, sedangkan di bagian bawah dihitung ada 104 orang yang tidak sambut pada paskah. Di bagian atas adat perkabungan mulai dilepaskan sedangkan di bagian bawah masih dipraktekkan dengan ketat.

Di bagian atas gedung-gedung gereja dipelihara, sedangkan di bagian bawah sama sekali tidak diperhatikan. Memang situasi ekonomis di mana-mana sangat menyedihkan.

Pemuda-pemuda dapat diajak membuka sawah, menanam bibit tanaman baru, tetapi orang tua tidak dapat diyakinkan.

Pemburu-pemburu buaya berhasil tetapi tidak tahu menggunakan uangnya. Mereka membiarkan diri diisap oleh kampung dan mereka sendiri menjadi miskin.

Tambah lagi pastor mengalami ketertutupan daerahnya yang mengandung suatu suasana, di mana tukang-tukang sihir mengembangkan kuasa mereka.

Mereka dipercaya mampu menyembuhkan sekaligus ditakuti sebagai pembunuh. Baik penghasilan kebun maupun kesakitan dan kematian menentukan nasib harian orang.

Baca juga:

Sikap apatis dan gengsi silih berganti. Kuasa gaib merupakan jawaban terakhir. Justru generasi tua kurang mengerti isi dan kabar gembira yang disampaikan dalam bahasa “Melayu” yang belum mereka kuasai.

Ahli-ahli sihir melawan penghayatan agama yang mengancam kedudukan mereka. Memang anak-anak sekolah belajar melalui suatu pendekatan alamiah secara lebih rasional, pemerintah dan Misi membantu dengan obat moderen, akan tetapi situasi tidak berubah dengan jelas.

Pater van Kampen berusaha mendobrak isolasi di kampung dengan propaganda:

“Sambungkanlah pulau-pulau kecil itu satu sama lain untuk membentuk suatu lapangan umum”, dan dengan propaganda: “Pindahlah ke daerah yang lebih tinggi”.

Meskipun percobaannya berhasil di satu dua tempat namun pada umumunya gagal, karena dari pihak pemerintah tidak memberi bantuan apa-apa sedangkan dari pihak lain, para penghuni kampung tidak berani menggugat dan memberi kesaksian melawan kejahatan tukang sihir di pengadilan negeri.

Pastor menempuh jalan yang lain dengan memperbaiki pewartaan dan katekese. Bersama dengan Sr. Jeanne dikarang suatu katekismus baru yang bertitik tolak dari kata-kata Injil, yang diterapkan atas pola hidup adat setempat.

Untuk ibadat hari minggu ia mempersiapkan naskah-naskah yang dapat digunakan oleh guru-guru. Dengan bekerja sama ia membangun gedung gereja yang lebih indah dan lebih permanen.

Namun sikap konservatif penduduk menghinakan suatu sukses dalam waktu yang singkat. Pater van der Wouw memperlihatkan di daerahnya, Kimaam kota dan sekitarnya, tidak kurang inisiatif.

la membuka kursus kepemimpinan bagi pemuka-pemuka agama dan kepala-kepala desa; ia berusaha memperbaiki keadaan finansial, misalnya dengan mengadakan suatu lotre; ia memikirkan untuk membuka toko misi untuk melawan pengisapan terhadap masyarakat oleh pendatang, ia melihat kemungkinan untuk membuka jalan raya yang dibiayai dari hasil penangkapan buaya, tetapi Uskup Merauke kurang setuju dengan kegiatan-kegiatan di bidang material.

Tambah lagi, bahwa kegiatan sedemikian itu membutuhkan suatu kapal bermotor dan Merauke berpendapat bahwa apa yang hingga sekarang dibuat dengan perahu masih tetap dapat dilakukan dengan perahu, juga di masa depan. Demikian pula untuk suatu motor tempel tidak dapat diperoleh bahan bakar di Kimaam.

Pater Kees van der Linden MSC (Pater van der Linden) tiba di Kimaam mengganti Pater van der Wouw yang berangkai ke Pantai Kasuari (Asmat) untuk membuka daerah baru demi penyebaran agama.

Ia heran melihat keadaan “kota” kampung Kimaam, hasil pekerjaan dari Br. Fleskens. Pada waktu itu WS Kimaam sanggup mengirim tamatan-tamatan ke Merauke untuk pertama kali (21 pemuda dan 6 pemudi), sedangkan SKP di bawah pimpinan Sr. Marselina sudah mendidik 40 siswi, suatu kenyataan yang amat dikagumi penduduk Kimaam.

Pastor Utara dan Timur berganti-ganti melayani daerah seberang Selat Muli, daerah yang sebelumnya dilayani oleh Pastor Wamal.

Bagian selatan adalah bagian Marind. Walaupun orang Marind mengaku bahwa mereka Katolik namum kelakuan mereka tidak cocok dengan ucapan itu. Generasi muda tidak peduli akan perkawinan gereja dan pada umumnya minum wati dipandang sebagai adat kebiasaan.

Kampung Dokib dekat Wamal dipengaruhi oleh kebudayaan pantai itu. Lain adanya situasi di kampung kampung di pedalaman. Para penghuni di situ bukan orang Marind melainkan dari suku tersendiri, yang diantara tahun 1934-1954, membeli banyak anak yang ditawarkan oleh suku Yahray yang memerlukan barang besi.

Bibikem dipuji karena kerajinan agama. Galum punya nama baik karena guru F.J. Mitakda, Jowid yang setia menerima sakramen-sakramen, llwayak baik akan tetapi terlalu berhutang kepada baba (panggilan untuk pedagang Cina) tertentu.

Sesudah masa peralihan, dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia, pihak Misi menghendaki secepat mungkin mengundang imam-imam Indonesia datang ke Irian.

Pater Resubun dari Keuskupan Amboina datang ke Merauke dan Pater van der Linden pindah ke Ambon. Pada waktu yang sama Pater Piet van Mensvoort MSC (Pater Mensvoort), yang studi Hukum Gereja di Roma masuk Merauke dan ditugaskan melayani paroki Wamal dan bagian selatan Kimaam.

Dua tahun kemudian (1964) Pater Cor van Halen (Pater van Halen) mengambil alih bagian selatan ini. Tiga pastor, yaitu Joop, Mensvoort dan van Halen bekerjasama sebagai satu tim.

Berganti-ganti mereka mengepalai paroki Kimaam dan menjalankan turne ke daerah-daerah. Pulau Kimaam tetaplah medan yang berat. Jika air tinggi, rakyat lapar; jika air kering, berjalan di lumpur terlalu berat.

Laporan tahunan (1964-1965) dari tangan Pater van Kampen melukiskan aspek positif dan negatif dari proses peralihan pemerintahan. Katanya:

“Walaupun rakyat jatuh kembali dalam kemiskinan, pemerintah baru menyadarkan mereka bahwa karena merdeka, mereka sanggup dan wajib memecahkan persoalan sendiri. Tidak mungkin lagi mengharapkan bantuan orang asing”.

Pengadaan OPR (Organisasi Pengamanan Rakyat) berarti bukan pertama-tama angkatan polisi yang mengatur perkara-perkara melainkan mereka sendiri. Pembangunan koperasi-koperasi dapat membebaskan rakyat dari pertokoan baba-baba. Harga diri ditingkatkan. Dengan sendirinya orang bertanggung jawab sendiri atas nasibnya.

Namun kenyataan bahwa pemerintah baru belum mengetahui dan menguasai daerah-daerah pedalaman membawa akibat bahwa ketua-ketua keluarga mengatur persoalan-persoalan sesuai dengan selera sendiri dan terutama memperhatikan kesempatan untuk membalas dendam.

Kebiasaan-kebiasaan yang jelek dari adat asli (kuasa tukang sihir dan pergaulan seksual) dihidupkan kembali. Pengalaman bahwa pendidikan sekolah tidak menjamin naik pangkat dan tambah kaya menyebabkan sekolah tidak dipelihara lagi dan anak-anak tidak didorong masuk sekolah lagi.

Dari pihak lain, kenyataan bahwa pastor Belanda tidak berangkat bersama pemerintah Belanda, tetapi sebaliknya tetap tinggal, amat dihargai rakyat. Mungkin pastor masih mampu menyelamatkan mereka, baik di bidang rohani, maupun di bidang jasmani.  Bersambung. []

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Refrensi:


Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995


Ikhisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II


Karel Steenbrink, Orang-orang katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here