Sejarah Gereja Katolik di Pulau Kimaam (Keuskupan Agung Merauke) – 2

0
57
orang kimaam merauke
Orang Kimaam, Merauke, memperagakan tarikan busur panah suatu ketika – foto/Agapitus Batbual/ mongabay.co.id

Akhirnya pada bulan Januari 1959 suster-suster PBHK tiba di Kimaam. Suster Adela mengambil alih tugas dari Suster Roovers dan Sr. Germana ditugaskan mengatur asrama puteri untuk anak-anak puteri Kimaam.

Salah satu rumah amat sederhana menjadi tempat tinggal anak-anak. Satu kamar sempit menjadi biara untuk suster-suster.

Suster Adela, seorang wanita berbadan tinggi dan kuat, energik, memperpendek roknya, menggunakan sepatu karet dan berangkat berturne, sering selama enam minggu. Naik perahu dengan pendayung pria, berjalan di lumpur, tidak perduli terik matahari atau hujan yang hebat, berjalan tidak kenal lelah.

Perawat kampung dibantu untuk membuat diagnosa yang tepat; wanita yang diduga akan melahirkan anak dengan bahaya bagi kehidupannya dikirim ke rumah sakit di kota Kimaam. Penghuni-penghuni desa bergembira. Mencari pendayung atau pemikul barang tidak mengalami kesulitan kalau ada kabar bahwa suster akan datang dan mereka sendiri menjemput.

Nama-nama pembantunya juga tidak dapat dilupakan begitu saja, misalnya Apolonia, yang selalu bersedia melayani si sakit, juga sesudah ia sendiri mempunyai anak banyak; Melania, Ursula, Juliana, Maria, dsb.

Suster Germana heran melihat bagaimana Pater Joop dalam waktu singkat, hanya dua minggu, telah mendirikan sebuah asrama darurat. Tiang dari pohon hutan, atap dari daun rumbia, dinding dari gaba-gaba dan lantai dari tanah timbun.

Puteri-puteri pertama datang dari kampung, 15 orang, yang belum biasa makan secara teratur, menggunakan pakaian yang bersih, belum pernah melihat mesin jahit dan belum juga mengalami disiplin harian yang ketat atau berdoa bersama suster dalam suasana hikmat.

Tahap demi tahap pergaulan mereka berkembang dan akhirnya menjadi mungkin untuk memulai SKP (Sekolah Kepandaian Puteri). Murid-murid belajar memasak, mencuci pakaian, menjahit (ribuan potong kain dibagi dan dijual) dan menganyam tikar-tikar, yang sangat laku di seluruh tempat Misi Selatan.

Tamatan-tamatan sekolah ini sering dinikahi guru atau pegawai lain dan di kemudian hari menjadi keluarga-keluarga teladan.

Tidak lama kemudian Br. Piet Fleskens MSC (Br. Fleskens) tiba di Kimaam dengan tugas membangun sekolah VVS beserta asramanya dan asrama SKP. Bruder membawa alat-alat, termasuk gerobak, tetapi dengan cepat dimengertinya taraf kepandaian tukang-tukang pembantunya, sebab mereka mengisi gerobak dengan pasir dan menjalankannya bukan dengan rodanya, melainkan empat orang mengangkatnya.

Satu demi satu semua gedung diselesaikan dalam kurun waktu setengah tahun. Pandailah ia sebagai arsitek dan pemborong sekaligus. Pandai mengatur keperluan lain (menggali sumur-sumur dan membangun rumah-rumah yang memuaskan para tenaga pendidik asal Belanda).

Baca juga:

Sejarah Gereja Katolik di Pulau Kimaam (Keuskupan Agung Merauke)

Tenaga pendidikan lain juga tiba di Kimaam, yaitu Sr. Jeanne, yang dipindahkan dari daerah Mappi untuk mendirikan VVS di Kimaam. Dalam satu jam ia insyaf bahwa tidak ada persiapan apapun untuk membuka sekolah tersebut.

Sesudah Pater Verhage berangkat, maka Pater Verhoeven menjadi pastor di bagian Kimaam utara. Di sana muncul suatu gerakan baru yaitu suatu kepercayaan yang menjanjikan suatu dunia baru, dunia modern, dunia yang kaya yang pemerintahannya dilaksanakan oleh penduduk asli Kimaam.

Dunia itu akan muncul dari kediaman nenek moyang yang hidup di bawah permukaan tanah. Dekat kampung Kawe ditemukan sebuah lubang tanah yang luas dan dalam.

Tiba-tiba tersebarlah kabar bahwa lubang itu penuh dengan segala barang yang dikehendaki orang, lengkap dengan senjata sampai dengan tank-tank.

Haruslah sabar sampai dunia ini naik. Pada waktu itu semua orang berambut panjang harus dibunuh. Pulau Kimaam akan berdaulat. Penganut-penganut gerakan ini ada di semua kampung, baik di utara maupun barat. Bibit tanaman di kebun kebun harus dicabut karena makanan lebih baik akan keluar dari lubang itu.

Tari-tarian dilaksanakan tanpa izin pemerintah, perkara-perkara wanita terjadi di mana-mana.

Kebanyakan penduduk kampung pergi ke hutan dan sekolah-sekolah kosong; guru-guru yang diancam melarikan diri ke kota Kimaam.

Dari manakah asalnya gerakan ini? Baik diingat bahwa dengan pekerjaan Misi pulau Kimaam terbuka. Banyak anak dikirim ke Merauke dan banyak orang muda berangkat ke Sorong dan Hollandia (kini Jayapura).

Mereka mencari pendidikan atau pekerjaan dan sesudah itu kembali ke Kimaam sebagai manusia yang terpelajar dan kaya, di mana teman-teman mereka di kampung sangat menghargai dan mempercayai mereka.

Mereka melihat dunia modern dan sok tahu. Akan tetapi, angkatan ini menangkap di kota-kota itu aliran kepercayaan yang sejak abad yang lalu sudah berkembang di Pulau Biak.

Aliran itu mewahyukan bahwa nenek moyang dahulu kala sudah berangkat ke dunia barat dan akan pulang dengan kapal-kapal yang penuh dengan barang (cargo) moderen itu.

Di Kimaam aliran ini diwujudkan dalam kepercayaan bahwa barang itu akan muncul ke pemukaan dari dalam lubang tersebut.

Pater Verhoeven menjalankan patroli bersama tuan bestir.

Pemerintah mencoba memperbaharui kesetiaan rakyat terhadap pemerintah Belanda dan pastor mencoba meyakinkan orang bahwa kepercayaan baru itu adalah kepercayaan sia-sia yang melawan agama.

Patroli ini kurang berhasil tapi lama kelamaan praktek kepercayaan ini tidak terdengar lagi. Dibuat suatu laporan, diadakan suatu perencanaan bersama antara pemerintah dan Misi yang usulannya sebagai berikut:

“Kewibawaan pemerintah harus ditingkatkan, kampung-kampung dan sungai-sungai harus dibersihkan, anak-anak harus masuk sekolah dan sebaiknya penduduk pindah ke daerah yang lebih tinggi”.

Akan tetapi gerakan “cargo-cult” ini tidak mati. Dalam situasi peralihan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia keamanan rakyat dipandang tak terjamin dan orang merasa diri sudah terlantar. Dari Merauke barang tidak dikirim lagi.

Sumber tradisional, yaitu menangkap buaya dan menjual kulitnya harganya jatuh. Situasi kemiskinan terjadi kembali. Tidak ada harapan lain dari pada menghentikan kepercayaan mereka ini.

Dari Wamal datang Wenceslaus Kaize yang menyebarkan kepercayaan cargo cult ini. Di kampung-kampung di Pantai Selatan dengan bantuan beberapa tokoh setempat dihidupkan kembali gerakan ini.

Hal yang baru ialah bahwa sekarang perlu memperoleh anak kunci yang secara langsung akan diserahkan kepada pemimpin oleh “Kakak Yesus” sendiri.

Syaratnya ialah bahwa orang beriman mempersiapkan diri agar layak menerima alat pembuka pintu gerbang dari dunia baru itu. Persiapan itu adalah berdoa rosari sebanyak mungkin dan berpuasa sehebat-hebatnya.

Kakak Yesus sudah mengirim para wakilnya yang disebut radio-radio dan mereka menangkap warta berita dari surga secara langsung. Warta berita itu membawa agama yang benar yang oleh pastor-pastor Belanda disembunyikan.

Pemimpinnya Yakobus sudah menerima suatu penampakan pribadi dari Tuhan Yesus dan membagi semua sakramen, mengubah naskah doa dan nyanyian gereja.

Seorang gubernur dan seorang kepala pemerintahan setempat diangkat dan sebuah bendera baru disulam (Hati Yesus dikelilingi mahkota duri, di bawah burung Roh Kudus).

Guru Ngarbingan dan Fidelis Dahawi yang melawan gerakan itu dipukul dan rumah mereka dibakar. Sesudah latihan rohani selama tiga hari anak-anak tidak diterima, ditemukan kambing hitam dalam seorang pria dan wanita, yang dilihat bersama dalam satu rumah dan dianggap bersetubuh padahal hal itu dilarang.

Mereka dihantam, si pria melarikan diri dan si wanita dibunuh dengan kapak. Seorang gadis, yang menangis karena temannya dibunuh, dibunuh juga. Melalui radio Kimaam sebuah laporan akhirnya sampai ke Merauke.

Kapal Kolff membawa asisten bestir yang baru yang mengangkap satu dua orang pemimpin gerakan itu dan perdamaian diadakan. Bersambung. []

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Refrensi:

Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995

Ikhisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II

Karel Steenbrink, Orang-orang katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here