Sejarah Gereja Katolik Bade (Keuskupan Agung Merauke)

DomaiNesia
gereja katolik

Bagian I :

Bade adalah sebuah desa dan menjadi pusat paroki Digul Bawah, Pater Grent dan Pater Rievers menyeberangi Sungai Digul dengan bantuan bapak Kadmaerubun. Mereka mengunjungi untuk pertama kali dua suku bangsa yang hidup di situ, yaitu orang Yahray di Sungai Nambeomon dan orang Awyu di Sungai Bamgi-la (1936).

Pemerintah Belanda membuka Mappi-pos (markas militer) tahun 1937 dan Pater Meuwese tiba di situ. Memang ia diangkat menjadi pastor Tanah Merah, tetapi dari sana juga ia berangkat untuk membuka daerah dua suku tersebut dengan bantuan ketabahan dan keberanian guru-guru Kei dan Tanimbar. Beberapa guru agama, orang asli Irian mengambil peran juga (Yohanes Yatagai, David Yas dan Hendrikus).

Pekerjaan berhasil dan buktinya di kemudian hari di Kepi dibuka sebuah sekolah persiapan SMP, di mana sekolah ini lebih banyak diminati oleh anak-anak Awyu dari Bade dari pada anak-anak Yahray.

Pater Meuwese berangkat cuti (1948) dan Pater Verschueren mengambil alih kepemimpinan misi di Mappi. Untunglah pada waktu yang sama pemerintah menempatkan satu asisten bestir yang membuka posnya di Masin, yaitu Bapak Felix Maturbongs.

Ia betul-betul menjadi bapak bagi orang Yahray dan Awyu. Akhirnya datang serorang pastor muda dari Belanda, yaitu Pater Arie Vriens MSC (Pater Vriens), yang mulai melayani Awyu dengan Bade sebagai pusat pelayanan.

Di sana ia menemukan 333 anak yang sudah dipermandikan dan 199 sudah menerima sakramen krisma. Persiapan permandian orang dewasa sedang berlangsung di kampung-kampung wilayah Bamgi-la. Jumlah mereka 1.800 orang.

Bade terletak di pinggir Sungai Digul dan penting untuk [ber]hubungan dengan dunia luar. Akan tetapi, kampung Homilikia tempatnya di pedalaman, lebih sentral terhadap pedalaman itu. Pastor baru membangun rumahnya sana. Posisinya sebagai pastor muda rupanya tidak selalu enak. Kegiaatan kerasulannya membutuhkan sejumlah barang duniawi. Makanan harus dibeli, pengantar, pendayung harus dibayar. Untuk tujuan itu Merauke mengirim barang, tetapi barang tersebut dikirim ke Kepi dan dibagi oleh pastor kepala di sana.

Yang lebih makan hatinya ialah masalah bahwa guru-guru yang lebih tua dan jauh lebih lama bertugas di daerah tersebut mengharapkan agar pastor muda ini ikut kebijaksanaan mereka dan tidak usah mengubah cara tradisional pekerjaan mereka.

Justru pastor muda ini sudah mempelajari sejarah Misi Merauke sewaktu ia sendiri masih sebagai mahasiswa calon imam. la sudah sampai pada kesimpulan bahwa pekerjaan guru-guru harus berubah coraknya. Meskipun kerasulan guru guru Kei/Tanimbar amat dihargainya, ia menyesali kebiasaan rasul-rasul itu untuk bersama dengan agama membawa kebiasaan atau adat-istiadat Maluku.

Rupanya kebiasaan ini menjadi hambatan bagi perkembangan gereja sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi suku-suku bangsa Irian. Pekerjaan guru-guru sebagai pendamai daerah dan pembawa peradaban memantapkan posisi mereka sebagai penguasa tunggal.

Meskipun kewibawaan mereka masih amat berguna pada persiapan permandian orang dewasa, Pater Vriens melihat juga bahwa sesudah permandian itu umat harus dikembangkan bukan lagi dengan berpola pada dan tergantung kepada kepemimpinan guru, melainkan atas dasar kesadaran dan partisipasi umat beriman sendiri. Baik di Gereja maupun di sekolah, dan  di kebun-kebun, selalu para gurulah yang menangani pendidikan anak-anak.

Kenyataan ini terlalu mengurangi bahkan condong untuk menghilangkan hak dan kewajiban orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka. Sudah kelihatan bahwa tamatan-tamatan sekolah yang sering sudah berusia 18 tahun merasa diri bebas dan tidak ditampung dengan sendirinya dalam pekerjaan kampung oleh orang tua mereka. Generasi muda sudah belajar mencita-citakan hidup dalam dunia yang tidak dapat diperoleh dengan cara hidup seperti pada generasi tua.

Di Homilikya sudah dibangun gedung gereja yang besar. Pada pesta natal semua kampung berkumpul dan guru-guru bersaing membawakan nyanyian dan tarian dalam gereja dan resepsi. Orang tua menonton saja. Pastor senang dengan prestasi guru-guru tetapi tidak puas. Sebetulnya suatu pesta tertentu baru dirayakan sungguh-sungguh jika peristiwanya diterima orang dan diwujudkan dalam keramaian dari adat orang Awyu sendiri.

Wilayah Bamgi-la merupakan bagian barat dari Paroki Bade. Di bagian timur sebelah-menyebelah ada Sungai Edera. Wilayah ini belum dibuka. Namun kabar bisik-bisik bahwa Zending bermaksud masuk daerah ini. Antara Okaba dan Sungai Digul beberapa kampung sejak dulu sudah menerima agama protestan. Sekarang dikatakan bahwa orang Awyu itu akan kembali ke kampung asal mereka dan membawa agama protestan di daerah orang Awyu sendiri.

Uskup meminta pastor-pastor Kepi dan Bade agar mulai menjelajahi daerah Edera dan Kia untuk menemukan orang Awyu di sana dan membawa agama Katolik. Dua kali Pater Verschueren dan Pater Vriens berjalan bersama dan perjalanan itu menghasilkan sebuah peta yang dapat menjadi petunjuk tempat tinggal kelompok-kelompok masyarakat dengan nama tempat dan suatu tafsiran tentang jumlah penduduk yang ada.

Jelaslah bahwa kenyataan bahwa pertama orang Marind, selanjutnya orang Yahray membunuh, mengayau penghuni-penghuni dari kelompok-kelompok kecil di situ, sekarang menghasilkan hanya sisa-sisa penghuni zaman dulu yang dapat ditemukan tersebar di hutan-hutan atau tergabung dalam suatu kampung baru yang kecil juga.

Di wilayah Edera, Pater Vriens melihat suatu contoh bagaimana pola hidup orang Awyu. Pusat kampung ialah rumah laki-laki yang dikelilingi rumah-rumahan perempuan. Semua bangunan berdiri di atas tiang-tiang tinggi dan kediaman itu dikelilingi semacam pagar berduri yang tebal.

Model kampung seperti itu tidak lagi ditemukan di bagian Bamgi-la. Di sana rumah sudah berdiri di atas kaki pendek. Tambah lagi di bagian barat sudah dipecahkan suatu problem, tetapi problem ini akan dialami juga oleh orang yang tinggal di bagian timur bahkan lebih besar lagi.

Problem tersebut ialah menurut adat asli Awyu pria dan wanita, pemuda dan pemudi tidak bersama dalam rumah yang satu dan sama. Sekarang rumah-rumah tinggi mulai dibongkar, wanita masuk rumah rendah, pria diberi di tempat pendopo rumah itu, tetapi untuk pemuda tidak ada tempat. Mereka membangun sebuah rumah bujang dan hal ini dulu tidak diterima baik oleh Pater Meuwese di bagian Bamgi-la.

Problem dipecahkan dengan mendirikan suatu dinding pemisah di tengah rumah wanita yang memungkinkan pria dewasa dan pemuda tinggal di bagian depan rumah, sedangkan wanita dengan anak perempuan dan anak kecil tinggal di bagian belakang. Model itu diambil alih oleh penduduk di bagian Edera dan di sana dinding pemisah itu digunakan juga dalam gereja antara sayap pria dan sayap wanita.

Namun adat asli Awyu itu mulai ditentang dalam zaman baru waktu guru menempatkan anak-anak sekolah baik pria maupun wanita dalam satu ruang kelas yang sama dan membiarkan mereka bekerja di sekolah. Akibatnya terpaksa perkawinan diatur menurut kehendak pemuda dan pemudi dan tidak sesuai dengan kehendak orang tuanya.

Bagian II :

Melihat problem-problem ini dengan jelas, pastor merasa terdorong untuk langkah demi langkah bertindak. Pastor mengumpulkan orang muda, yang tamat sekolah dan mereka bersama-sama membentuk suatu kelompok yang mendukung “peraturan kemajuan”.

Justru orang muda ini merupakan angkatan pertama yang sudah bersekolah, sudah beragama dan sudah terarah ke masa depan. Walaupun maksudnya membimbing mereka untuk kepentingan mereka sendiri di kemudian hari, kunjungan Bapak Uskup mengubah haluan aksi ini menjadi suatu aksi persiapan bagi bantuan perambatan agama-agama di daerah-daerah yang belum kristen.

Tiap kali bila pastor datang ke daerah Edera satu (sampai) dua orang dari pemuda itu ikut serta. Tindakan konkret lain ialah pengedaran surat berkala khusus untuk guru-guru. Surat itu diberi nama “Kemudi”.

Jelaslah siapa yang memegang alat kemudi itu. Dengan bantuan bahan bacaan ini perubahan mentalitas dipersiapkan dan bahan itu kemudian didiskusikan dalam pertemuan-pertemuan guru-guru.

Ditambah pula tindakan bahwa pastor dalam semua kampung mengangkat seseorang menjadi “tua-agama” berarti seorang asli Awyu mewakili umat pada pastor dan mewakili pastor pada umat. Ada juga guru-guru yang merasa posisinya terancam jika seorang bawahan memberi informasi kepada pastor. Malahan sudah diperhatikan bahwa pastor lebih suka berbicara dengan orang dewasa yang belum serani dari pada dengan generasi yang sudah serani.

Penduduk dari kampung Lau-Lau dan dari kampung Amk adalah orang orang yang berasal dari wilayah Edera. Pendeta mereka mengirim orang muda pulang ke daerah asalnya dan mengangkat mereka menjadi kepala dan mandor dari suatu kampung di situ.

Juga pemburu buaya dari Amk mencari pergaulan dengan penghuni desa Yeme, yang terletak di muara Sungai Edera. Kegiatan tersembunyi dari Zending merangsang pastor Bade untuk menempatkan guru-guru agama di kampung-kampung Edera dan Kia.

Pater Verschueren datang lagi dari Kepi dan bersama dengan pater Vriens menentukan tempat-tempat di mana seorang katekis tetap tinggal. Berangkat dari Busuma mereka mencapai kampung Biget dekat sungai Edera (jumlah penghuni 67) di mana Januarius di tempatkan dan Kampung Dogo (penghuni 50 orang) di mana Gregorius masuk.

Berjalan terus, mereka sampai kepada kelompok Kewi. Di situ, yakni di Midifi (penghuni 57). Pater Vriens telah mengirim Gabriel. Di kampung Syan (57) Bonefasius menjadi guru. Melalui Sungai Edera mereka datang ke Kofiah (penghuni 89) di mana Barnabas sudah diangkat oleh Pater Vriens.

Dari situ mereka tiba di Yeme. Dua guru Ambon sudah mengunjungi desa itu dan sudah mencoba menghasut penghuni untuk membagi diri dalam dua kelompok, satu untuk Misi dan satu untuk Zending. Pater Vriens sudah memberi dua guru agama, Karel dan Selvius. Untunglah Pater Verschueren telah memperoleh janji seorang guru Kei, Eusebius Rahaten, yang menyatakan diri bersedia membantu dan yang tepat pada waktu kunjungan pastor-pastor tiba di Yeme. Dari situ perjalanan dilanjutkan ke daerah Mogai. Josef tinggal di Tatade (penghuni 19) sedangkan Thomas ditempatkan di Mogerai (penghuni 106); Urbanus tinggal di Ngafi (penghuni 69).

Keadaan daerah Edera tidak langsung dilukiskan melihat tugas-tugas berat yang diberikan kepada guru-guru agama tersebut. Diharapkan agar mereka meyakinkan orang akan kepentingan kunjungan antarkampung: mempersatukan penduduk dewasa dan anak-anak sekolah. Sudah bagus, apabila generasi muda belajar berdoa dalam bahasa Awyu dan kata-kata harian dalam bahasa Indonesia. Jelaslah tugas pastor membimbing mereka tiap kali ketika ber-turne, menerangkan salah satu pokok agama, melatih nyanyian tertentu untuk bahan tugas satu-dua bulan kemudian.

Pater Vriens menghendaki agar pola hidup baru berkembang bukan guru melainkan karena kesadaran beragama dari orang kampung sendiri. Pater Verschueren memang lebih cenderung untuk mempertahankan guru-guru dalam posisi mereka, tetapi beliau pun meminta mereka mengalihkan perhatian dari sekolah agama dan ibadat hari Minggu kepada kehidupan sejahtera sehari-hari. Hanya memuji Tuhan saja belum cukup untuk membahagiakan orang.

Rencana kesejahteraan rakyat itu ditawarkan juga kepada orang Awyu di bagian Bamgi-la dan justru di daerah itu rencana itu berhasil dengan baik. rencana ini cocok dengan bakat orang Awyu yaitu bakat menanam. Menanam berarti menjadi pemilik tanan bersama.

Pater Vriens sudah mengerti bahwa pembagian tanah kebun berjalan sesuai dengan pembagian kelompok-kelompok kecil yang bersama-sama membentuk penduduk kampung. Untuk dilaksanakan suatu penelitian adat-istiadat bersama dengan konfraternya, Pater Boelaars. Baik tatanan sosial maupun tatanan ekonomi dipelajari.

Hasil penelitian ini memungkinkan Pater Vriens membantu guru-guru dan dinas-dinas pemerintah agar bekerja sama dengan kepala-kepala kampung setempat. []

Foto: Ilustrasi – Pixabay.com

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando E. Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Refrensi:
Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995
Ikhisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II
Karel Steenbrink, Orang-orang katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006.

0Shares

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.