Sejarah Gereja Katolik Bade (Keuskupan Agung Merauke) – 2

DomaiNesia
Gereja Katolik di Bade - Merauke

Pengintegrasian di kebun itu memperkuat pengintegrasian di kampung. Satu unsur lain lagi dari strategi pastoral Pater Verschueren terdiri atas perhatiannya terhadap anasir adat yang mengindahkan dan memuliakan kehidupan harian orang.

Sebab itu amat dihargai keramaian mereka dalam tarian dan nyanyian bersama, dalam perhiasan badan dengan cat dan perhiasan perabot serta pelbagai alat lainnya dengan ukiran. Keramaian asli digabungkan dengan pesta-pesta kebun waktu tempat diresmikan dengan penanaman bibit kelapa. Peresmian itu menekankan aspek kerohanian justru pada waktu aspek jasmani ditingkatkan.

Kabar yang baik tentang rencana kesejahteraan rakyat di daerah Mappi terdengar pula oleh pusat pemerintah di Hollandia. Dari situ datang ahli-ahli pertanian dan Gubernur J. van Baal sendiri datang.

Kepala setempat, Bapak Fr. Cappetti, berunding tentang situasi dengan bosnya itu. Hasilnya ialah proyek pertanian untuk wilayah Mappi resmi diakui pemerintah. Isi proyek ialah menanam bibit cokelat. Hasilnya dimasukkan untuk menjadi produk ekspor.

Dari kampung yang mempersiapkan lahan, lima orang dipilih dan dikirim ke Kepi untuk mengikuti kursus dan menjalankan praktek pertanian. Pusat latihan itu menerima pria-pria bersama dengan rumah tangga mereka. Para istri belajar dari suster-suster PBHK (Putri Bunda Hati Kudus) di Kepi menjahit, cuci pakaian, membersihkan lingkungan hidup secara higienis.

Di kampung-kampung haruslah disediakan keranjang-keranjang kecil sebagai tempat pesemaian bibit cokelat sebelum dapat ditanam di ladang. Ribuan keranjang musti dibuat oleh orang dewasa dan anak-anak pria dan wanita. Akhirnya bibit tiba, pada tahun 1957 sudah 90 hektare ditanami bibit cokelat. Instansi-instansi pemerintah dengan suka hati menerima bantuan Pater Vriens dalam menentukan calon-calon untuk Kepi dan pembagian ladang di kampung-kampung.

Perkembangan pedalaman yaitu perkembangan di wilayah Muyu dan Mappi menuntut adanya pelabuhan yang baik di sungai Digul. Untuk itu dipilih tempat yaitu Bade di mana di sana didirikan dermaga yang besar. Akan tetapi, kedatangan dan keberangkatan kapal-kapal begitu saja belum mendobrak kesunyian daerah Awyu.

Tiba-tiba, tahun 1956, masuklah di pelabuhan Bade tiga kapal besar, lima kapal bermotor sedang dan banyak Kapal dengan motor gandengan, semuanya milik perusahan minyak NNGPM di Sorong. Maksudnya yaitu menjalankan suatu penelitian daerah mencari cadangan-cadangan minyak dan Bade menjadi pusat kegiatan.

Pater Vriens berangkat cuti pada pertengahan tahun 1958. Pater Marianus Bennenbroek MSC (disingkat Pater Bennenbroek) mengambil alih tugasnya. Laporan-laporan tahunan hanya menceriterakan nama pastor yang datang silih berganti, yaitu pater-pater: Vriens, Bernnenbroek, Geuskens, Ben van Oers (Pater van Oers) dan Cornell (Pater van Oers) dan Cornelis Schipperin (Pater Schipperijn). Tiap-tiap pastor hanya melaporkan apa yang paling berkesan baginya.

Pater Bennenbroek berkata:

“la merasa amat kecewa melihat keadaan daerah Edera. Kampung-kampung bagaikan kandang besar untuk babi-babi; manusia berkelakuan takut-takut: wanita dan anak-anak tidak dapat ditemukan; kembali ada rumah-rumah tinggi dan ada satu kampung yang kembali dikelilingi dengan pagar yang tebal. Jelaslah bahwa dibeberapa tempat penolong sudah alpa berbulan-bulan lamanya. Situasi menyedihkan terutama kalau diingat sesudah lima tahun guru-guru agama masuk daerah itu. Ia mengumpulkan penolong-penolong dan memberikan instruksi kepada mereka. Sabaiknya katanya: “mulai kembali seperti dulu. Juga dibagian Bamgi-Ia pengecekan tentang pengetahuan agama mengecewakan. Pastor berhasil menyakinkan orang kembali masuk sekolah agama satu kali satu Minggu. Pria dan wanita tersendiri tanpa anak-anak”.

Pada waktu itu musim panas berlangsung dengan panas terik luar biasa hebat. Tiba-tiba menjadi nyata bahwa akar-akar dari coklat dimakan ulat-ulat jahat. Tumbuhan muda itu mati.

Celaka! Dinas pertanian tidak mampu menyelamatkan proyek cokelat itu kemudian memperkenalkan tanaman karet sebagai tanaman pengganti. Karet itu berkembang baik dan orang Awyu belajar menyadap dan menggunakan kesemapatan baru yang diberikan.

Amat menarik gambaran yang dilukiskan Pater Van Oers tentang parokinya. la mulai tugasnya di Irian, namun bukan di Bade, melainkan di Arare (salah satu paroki di Keuskupan Agung Merauke).

Sesudah pindah ke Bade suatu perbandingan menghasilkan pendapatnya sebagai berikut: “Wanita Awyu sedang menangkap ikan sekaligus mencuci pakaian. Pakaiannya pada umumnya bersih. Bayi-bayi tidak kotor, anak-anak tidak kurus, anak kembar kedua-duanya hidup karena diberi susu yang dibeli dari toko. Hal ini belum mungkin di Arare. Tambah lagi suasana kampung di sini lain adanya. Orang dewasa tidak lagi mengalami bahwa mereka berada dalam suatu dunia tertutup. Mereka sudah mempunyai anggota keluarga di kota-kota dan sudah ada yang memegang jabatan tertentu bahkan jabatan tinggi. Sebab itu anak-anak tidak khawatir lagi kalau-kalau mereka terpaksa hidup di kampung asal. Dunia sudah terbuka untuk mereka. Kemajuan memang mencolok”.

Pater Johanes Ramaaker MSC (Pater Ramaaker) pada tahun 1963, memberitahukan bahwa di daerahnya ada 13 sekolah bersubsidi dengan 23 guru untuk 1071 murid. Hal baru ialah bahwa dalam sepuluh kampung hidup salah satu rumah tangga teladan yang dipersiapkan di Kepi, di bekas sekolah katekis. Hal baru juga dikemukakan yaitu: dalam enam sekolah sudah diangkat seorang pemuda sebagi penjaga anak-anak.

Tanda-tanda terang dari perubahan zaman ditemukan dalam surat Pater Schipperijn (1966) kepada Uskup. Sehubungan dengan rencana penerimaan sakramen krisma maka Bapak Uskup akan diterimah juga oleh kepala-kepala dinas pemerintah.

Akan diadakan suatu resepsi dan suatu perjamuan bersama. Posisi gereja dalam republik Indonesia diakui dengan segala hormat dan ditempatkan kepada pemerintah sebagai swasta terhadap negara.

Sudah bertahun-tahun lamanya Paulus Fofid dengan isterinya Irma Resubun dipuji dalam korespondensi. Bantuan mereka tetap dan cocok untuk memperlancar perkembangan Bade. Bade melihat pembangunan gereja definitif, pembukaan gedung sosial sesuai dengan kebutuhan penghuni yang beraneka ragam, penghuni kota.

Demikianlah paroki Bade memiliki suatu kehidupan aman dan stabil menurut tingkat kemajuan orang setempat. Angkatan dewasa sibuk dengan “menanam” dan angkatan muda rajin mencari ijazah. Pater Schipperiin menulis: “Saya merasa amat bahagia melihat situasi daerah ini saat ini” (1970).

Bagian IV :

Awal kehadiran Fransiskan di Keuskupan Merauke, secara khusus di Tanah Auyu-Bade membawa warna baru bagi perkembangan Gereja setempat. Sebelum Fransiskan berkarya di tanah ini, sudah lebih dulu MSC berkarya, Fransiskan tinggal meneruskannya.

Banyak pula peninggalan MSC yang ditinggalkan dan diserakan kepada keuskupan, lalu keuskupan menyerahkannya kepada Fransiskan. Bade merupakan paroki yang strategis karena terletak persis di pinggiran Sungai Digul yang menghubungkan Kevikepan Kepi dan Dekenat Tanah Merah.

Dua saudara Fransiskan yang pertama melayani di Tanah Auyu ialah Pater Paul Tumayang dan Pater Hendro Nahak. Mereka tiba pada Oktober 2003. Saat itu, paroki Bade masih dilayani oleh Pastor Donatus Wea Pr. (akrab dipanggil Romo Don, salah satu imam diosesan Keuskupan Agung Merauke).

Jabatan pastor paroki baru diserahkan pada awal tahun 2004 dari Pastor Don Wea Pr kepada Pater Paul Tumayang OFM, sementara Pater Hendro Nahak menjadi pastor rekan. Inilah awal karya fransiskan di Tanah Auyu, di Paroki Bade yang merupakan salah satu paroki terbesar di Keuskupan Agung Merauke. Wilayahnya meliputi Digul Bawah, Digul Atas dan Kali Ia-bamgi.

Selain itu saudara-saudara Fransiskan (OFM) yang pernah bertugas di Bade sampai saat ini, antara lain: Pater Amatus Mil, Pater Andreas Satur, Pater Norbertus Renyaan, Bruder Elias Logo, Pater Dominikus Djawa, Pater Ambrosius Sala, Pater Stevanus Sabinus, Bruder Klemnes Pigai, Pater Andika Rumwarin dan Pater Laurensius Purek.

“Penginjilan Fransiskan di Tanah Papua” merupakan kristalisasi beberapa pokok. Penginjilan lahir dari jati diri Fransiskan dan sekaligus merupakan tindakan kesaksian fundamental Fransiskan. Disebut “lahir dari jati diri Fransiskan” karena jati diri Fransiskan pertama-tama terbentuk dari Injil dan ia pada gilirannya menopang aktifitas penginjilan. Selain itu, penginjilan disebut juga sebagai kesaksian fundamental Fransiskan karena Injil yang telah diterima persaudaraan itu harus – suatu keharusan yang lahir dari hakikat Injil sebagai anugerah dibagikan kepada yang lain (Sidang Kapitel Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua 2011).

Perubahan dan perkembangan umum dalam kehidupan masyarakat yang sangat pesat dan lengkap dengan segala macam kompleksitas permasalahannya, disadari atau tidak pasti akan membawa pula dampak dalam kehidupan menggereja. Kurang lebih hal yang serupa dialami oleh umat di Bade.

Berbagai perubahan yang terjadi di berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat, sangat menantang dan membawa pengaruh besar dalam Gereja, yang harus terus-menerus menghayati panggilannya untuk menjadi garam, ragi dan terang dunia. Tuntutan membaca tanda-tanda zaman, peka dan peduli terhadap semua perubahan dan perkembangan menjadi mutlak dan wajib bagi petugas pastoral di Papua (khususnya di Bade) kalau masih mau berarti, bermakna bagi dunia dan masyarakat, khususnya agar Gereja tetap menjadi relevan dan efektif dan efisien sebagai Sakramen Keselamatan bagi dunia.

Perlu diakui sebagai paroki dengan luas wilayah yang begitu besar menuntut kerja ekstra dari setiap mereka yang bertugas di sana, sebagai petugas pastoral. Setiap masa mempunyai tantangan sendiri. Di zaman ini patugas pastoral dituntut untuk bekerja dengan setia membawa kawanannya kepada keselematan. Keselamatan itu tidak hanya terjadi di akhirat, melainkan terjadi juga di atas dunia ini. “Tuhan jadikanlah daku pembawa damai-Mu – Santo Fransiskus dari Asisi”

Untuk dapat mewujudkan panggilan-Nya, Gereja perlu senantiasa “menganalisis secara objektif” situasi yang khas bagi negeri sendiri, menyinarinya dengan terang Injil yang tidak dapat diubah, dan dengan ajaran sosial Gereja menggali asas-asas untuk refleksi, norma-norma untuk penilaian serta pedoman-pedoman untuk bertindak.” (Octogesima Adveniens 4) Ajaran tersebut ditegaskan lagi oleh Konsili Vatikan II dengan rumusan, agar umat semakin mampu menangkap tanda-tanda zaman, dan meneranginya dalam cahaya Injil (bdk. Gaudium et Spes 4).

Bagaimana realita ini dapat diolah agar menjadi bermakna dan hidup terus agar dapat digumuli dalam karya pastoral di tengah-tengah umat agar dapat mewujudkan “communio” yang akrab. Pengolahan ini nampaknya bukanlah soal realita bukan pula soal manusia yang tidak memahami melainkan orang dihadapkan pada putusan-putusan yang harus diambil dalam waktu singkat pada hal mereka belum siap untuk hal tersebut. []

Foto: Gereja di Bade – Dok. Penulis

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando E. Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua


Refrensi:
Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995
Ikhisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II
Karel Steenbrink, Orang-orang katolik di Indonesia, Sebuah Profil Sejarah, Maumere; Ledalero 2006.
Dokumen Konsili Vatican II
Juru yang lebih tua Tarapkan

0Shares

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.