Sebelum punah

“Ini kawasan wajib berbahasa daerah. Kalo tida mau, mati saja!”

Siapa yang pernah melihat tulisan seperti ini? Jika pernah, itu dimana? Sa juga tidak pernah melihatnya karena itu cuma ada dalam angan-angan saya. Siapa tau yaro bisa dipraktikkan, to?

Sebelum menuju belantara kata-kata dan kalimat, yang barangkali tidak penting ini, sa teringat sebuah cerita kawan saya suatu kesempatan.

Ceritanya begini:

Usai tamat Sekolah Dasar (SD), seorang anak melanjutkan pendidikan menengah di sebuah kota kecil di daerahnya. Sebut saja namanya Kundus.

Suatu ketika Kundus ditelepon mamanya dari kampung. Menanyakan kabarnya. Berbahasa daerah. Layaknya bahasa di kampung tempo dulu saat Kundus kecil bermain.

Di luar dugaan, mama mendapat jawaban “kurang ajar” dari buah hatinya. Kundus berkomunukasi dengan bahasa Indonesia. Sedikit bercampur aksen English.

Sang mama terus menanyakan keadaan, dan segala hal tentang si Kundus, yang baru setahun sekolah di kota.

Kundus tetap tak bergeming meski sang mama memberondongnya dengan pertanyaan.

Entahlah. Apakah si anak mau cari gara-gara atau memang sengaja berbahasa “wah” biar terlihat berintelek. Yang pasti setelah itu sambungan telepon putus.

Ada lagi cerita lain. Seorang pemuda kampung melanglang buana lintas pulau. Dia mencari ilmu.

Seperti pepatah lama “gapailah ilmu setinggi bintang”. Hingga akhirnya dia menetap di benua biru. Mendapat tulang rusuk. Lengkaplah tulang punggungnya.

Singkat cerita dua sejoli menikah. Puji Tuhan keduanya dikaruniai buah hati. Ganteng dan cantik. Baik dan dikasihi. Bertumbuh dalam iman dan moral yang baik.

Di dalam rumah, mereka hanya berkomunikasi dua bahasa: bahasa daerahnya dan bahasa nasional negara itu. Sebut saja bahasa Jerman. Deutschprache.

Peraturan berkomunikasi dua bahasa wajib hukumnya bagi semua anggota keluarga. Di luar rumah mereka berbahasa Jerman. Di dalam rumah berbahasa daerah atau bahasa ibu (mother tongue) si bapak. Tempat mana dia berasal.

Itu berarti dia harus menjadi guru yang baik, dengan sabar dan rendah hati mengajarkan istri dan anaknya berbahasa daerah. Bahasa yang membesarkan dia hingga bisa melintasi samudra dan pulau.

Gayung bersambut. Jadilah komunikasi yang lancar. Saya harus angkat dua jempol dengan praktik seperti ini. Angkat dua tangan, angkat dua kaki dan perkusi. Lalu bilang uyeeee… Ups.

Bila perlu saya harus bikin kopi untuk mereka. Dan copy paste cara demikian.

Begitulah dua perumpaan di atas. Bagaimana pun bahasa adalah salah satu faktor penting dalam berkomunikasi.

Pesan mendapatkan respons jika mediumnya baik. Trada noise. Trada “no respon”. Dalam hal ini mediumnya adalah bahasa.

Dimana pun kita berada, bahasa ibu merupakan bahasa yang mengingatkan kita pada identitas, hakikat, dan asal-usul kita. Bahasa pertama yang didengar, dieja, ditulis dan diucapkan anak manusia.

Dari bahasa ibu, ia belajar tentang bahasa nasional dan internasional. Bila perlu menyosialisasikannya dengan bangga bilang: this is my languange!

Ironisnya, di era perkembangan teknologi dan informasi, penggunaan bahasa daerah dianggap kuno. Saya tidak punya data sahih, tapi cerita pembuka di atas setidaknya menjadi gambaran.

Banyak oknum yang lebih memilih bahasa alay. Sok kebarat-baratan. Biar terlihat “wah”. Padahal mungkin trada isi.

Itu baru satu faktor. Ada juga faktor lain, yang barangkali karena “penjajahan” dan represi, hingga akhirnya meninggalkan bahasa daerahnya. Sioooo saja kaapa e?

Jika demikian, dimanakah jati dirinya sebagai manusia yang lahir dari manusia berbudaya?

Organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional sejak 17 November 1999 untuk melindungi dan menghargai bahasa-bahasa daerah di dunia, terutama anggota-anggota PBB.

Bahasa daerah mesti dilestarikan sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan

Bahasa ibu atau dalam hal ini bahasa daerah, tetap harus dibanggakan, dijaga, dan dipake, apalagi diakui dunia dan dilindungi undang-undang.

Masih merasa inferior dengan bahasa daerah? Rendah diri dan tidak PD bila dibilang “kampung”?

Rasa itu, cieh rasa e, ya rasa itu, harus dibuang jauh-jauh ke laut lepas. Oke one waes saled, one lesos laud (buang di kali, buang di bawah matahari sehingga terbakar).

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, Rabu, 21 Februari 2018, pukul 19.19 waktu ponsel saya, melalui laman facebook-nya menyapa seluruh rakyat Indonesia dengan beberapa bahasa.

Dia menyapa Assalamu’alaikum, Kruen Semangatuntuk sama saudara di Sabang, Provinsi Aceh, dan Namek-Namuk, Izakod Bekai Izakod Kai untuk saudara di Merauke, Papua.

Begitu pun untuk saudara-saudari di Miangas, Sulawesi Utara dengan sebutan Tabea, Sansiote Sang Patepate Salam. Tak ketinggalan juga untuk sanak keluarga saya di Rote, Nusa Tenggara Timur dengan sapaan Ita Esa!

Bahwasannya dia memimpin sebuah negara dengan 714-an suku bangsa dan 1.100-an bahasa daerah.

Saya sendiri berbicara bahasa Manggarai. Sebuah daerah di ujung barat Pulau Flores, yang luasnya kira-kira dua atau tiga kali Pulau Bali.

Bahasa itu dituturkan penduduk Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Tiga daerah yang disebut Nuca Lale, Congkasae, dan terkenal dengan kopi, komodo, dan wisata alam serta budayanya.

Bahasa Manggarai, sebagaimana bahasa daerah lainnya di Nusantara mempunyai ciri khas, ragam dan dialek serta sub dialek. Tapi tiga kabupaten itu hanya menyebutnya bahasa Manggarai–satu dari puluhan bahasa di Nusa Tuak.

Bahasa Manggarai menjadi bahasa dalam liturgi gereja Katolik (inkulturasi) berkat jasa Uskup Wilhelm van Bekkum SVD, yang kemudian disetujui Vatikan dalam Konsili Vatikan II 1960-1965.

Manggarai dengan bahasa Manggarainya, tentu berbeda dengan Kabupaten Alor, yang punya 17 kecamatan, tetapi memiliki 42 bahasa daerah.

Dari 42 bahasa daerah ini, 12 di antaranya, sebagaimana dikatakan Bupati Alor Amon Djobo (Kompas.com, 2 Agustus 2016), memiliki logat atau dialek hampir sama. Sementara 30 lainnya berbeda.

Jumlah bahasa di Alor lebih banyak dan jauh sekali perbedaannya bila merujuk penelitian Summer Institute of Linguistics (SIL) tahun 1997, yang dimuat majalah Ethnology Language of the World (pdf), edisi ke-15 (Grimes, 2000), seperti ditulis Inyo Yoz Fernandez, Staf Pengajar Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta dalam majalah Humaniora Volume 19 No. 3 Oktober 2007.

Dalam survei SIL tersebut terdapat 61 bahasa yang tersebar di NTT, yakni, 28 bahasa di Flores dan Lembata, 17 bahasa di Alor, 9 bahasa di Sumba (termasuk Sawu), dan 7 bahasa di Timor (tidak termasuk Timor Leste).

Survei ini membuat Fernandez prihatin dan meragukan inventarisasi bahasa-bahasa di NTT oleh SIL, sebab dianggap tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Saya tidak berpretensi untuk meneliti bahasa-bahasa di Flobamora. Terlalu banyak, misalnya, bahasa Manggarai, Bajawa, Ende, Palue, Sikka, Nagi, Alor, Lamaholot, Kedang, Melayu Kupang, Dawan, dan bahasa Tetun.

Kesemua itu akan ditelaah para pakar linguistik, dan bukan domain saya. Hehhe.

Jumlah bahasa yang saya sebut, hanya semacam perbandingan atau pengantar, untuk memperkenalkan bahasa-bahasa di tanah air beta, selain bahasa saya; Manggarai.

Kantor berita Antara, Rabu, 21 Februari 2018 melaporkan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa baru mengidentifikasi dan mendokumentasikan 652 bahasa daerah dari 2.452 daerah pengamatan di Indonesia. Sebanyak 71 bahasa direvitalisasi sejak tahun 2011 hingga 2017.

Pasalnya, 19 bahasa daerah di Indonesia berstatus aman, 16 stabil, dua bahasa mengalami kemunduran, 19 terancam punah, empat kritis dan 11 bahasa telah punah. Bahasa yang punah berasal dari Maluku (bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila, serta bahasa Papua, Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang berstatus kritis meliputi bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua serta bahasa daerah Ibo dan Meher dari Maluku. Sedangkan di Papua, baru 380 bahasa yang teridentifikasi.

Lalu bagaimana bahasa daerah di ibu kota Provinsi Papua? Oh, sabar kawan. Nanti di tulisan selanjutnya ee.

Kembali ke muka, soal penggunaan bahasa daerah. Saya kira, ada baiknya kita—saya dan Anda, mulai membudayakan atau membiasakan bahasa daerah.

Pemerintah, adat, dan pihak-pihak lainnya, harus bahu-membahu menerapkan bahasa daerah di sekolah-sekolah dan masyarakat.

Masih mau seperti Kundus atau pemuda dalam cerita pembuka tulisan ringan ini? Ya, sebelum cahaya, ups itu lagu aleee, maksudnya sebelum sa lupa dan sebelum punah kita pu bahasa, sa jadi teringat tulisan ini: “Ini kawasan wajib berbahasa daerah. Kalo tida mau, mati saja!”

Selamat merayakan hari masyarakat adat sedunia 9 Agustus, kawan! Di dalam masyarakat adat, terdapat bahasa daerah to. Tabea, foi, kinaonak, dormon, wa wa wa. Dan sa bilang: Kepok Mori! []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

#JPR, Aags19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *