SDM Indonesia yang andal dan andil: Bagaimana?

Beberapa waktu lalu saya menerima postingan atau tulisan dari para penulis hebat, yaitu Yanuar Nugroho tentang visi membangun SDM, Prof. Reinald Kasali tentang paspor dan Prof. Agus tentang mematahkan mitos nem, rangking dan IPK (indeks prestasi kumulatif).

Terima kasih untuk para sahabat yang sudah berbaik hati dengan membagikannya kepada saya. Para penulis tersebut sudah berbagi kebaikan kepada semua orang yang gemar membaca.

Ada yang menarik dari tiga tulisan tersebut. Indonesia harus unggul sumber daya manusianya. Sudah tentu dengan usaha yang giat dan serius dalam melayani, entah dengan digital atau manual.

Di dalamnya ada kerja keras, disiplin, jujur, menghargai sesama, toleran, suka belajar dari orang lain atau negara lain, suka berbagi kebaikan dan bersikap inklusif dengan semua orang.

Egoisme, eksklusifisme, suka memonopoli kebenaran, arogan dengan kepintaran sendiri, suka berbangga dengan kebaikan diri sendiri, dan eksklusif dengan kelompok sendiri sudah bukan zamannya lagi.

Zaman now, zaman milenial ukurannya sudah bergeser. Tidak lagi diukur dengan ego, kehebatan sendiri, tetapi sudah diukur manfaatnya untuk kehidupan orang lain, publik.

Dunia sudah terbuka dan tidak tertutup lagi, semua sudah bermental maju, progresif, tidak lagi terbelakang dan isolasi diri.

Pergaulan sudah menjadi nasional, global tidak lagi lokal, apalagi berbasis etnis. Semua orang sedang bergiat mewujudnyatakan konsep think globally, act locally. Berpikir global, bertindak lokal.

Belajar dengan tekun tentang semua hal dan bekerja keras sampai mencapai hasil yang maksimal untuk kemudian diteruskan dan membagikan pengalaman positif itu kepada sesama adalah usaha tanpa henti.

Semua orang menjadi sukses karena kerja seperti ini sudah pasti membanggakan siapapun. Berbangga dengan kesuksesan sendiri, sering, bahkan belum tentu bermanfaat bagi orang lain atau bahkan malah orang lain yang dirugikan.

SDM Indonesia yang handal, andal dan andil sudah pasti lahir dari proses panjang dan usaha kontinu bukan instan dan karbitan.

Usaha ini butuh jejaring kerja yang berkorelasi dengan semua sistem positif yang dikehendaki publik, yaitu transparan, akuntabel dan bertanggung jawab.

Kerja hebat seperti ini mengandaikan adanya tim kerja, tim sukses yang solid, permanen dan selalu ada rasa saling percaya.

Sikap seperti ini yakin bisa terwujud ketika masih ada kata jujur dan terbuka, untuk saling berbagi suka-duka kehidupan.

Belajar dan terus belajar mengakui keberadaan diri kepada siapapun akan memudahkan terjadinya dialog batin, mudah menghadirkan simpati dan empati kehidupan.

Jika demikian, sikap eksklusif, bermegah diri, dan suka menang sendiri akan terkikis habis oleh adanya tim sukses yang kuat, solid dan berpadu satu dalam menumbuhkembangkan SDM Indonesia yang handal, andal, dan andil berbasis kejujuran dan penuh tanggung jawab terhadap usaha yang dipenuhi dengan optimisme memenangkan Indonesia. Semoga![]

Penulis: Geradus Wen, PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi, Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *