Saya dan guru-guru itu

Saya toki kepala di bangku. Tiga kali. Lebih malah. Itu yang saya ingat. Tepatnya pas kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Ruang kelas terakhir. Sebab siswa dibagi dalam kelas sesuai abjad. Tentu huruf “T” hingga “Z” di kelas terakhir ini.

Mengapa kepala ditoki ke bangku?

Itu semacam hukuman. Hitung-hitung biar “wekar” atau tidak “lelet“. Begitulah pelajaran Matematika Guru Martinus.

Praktis nilai saya ketika itu pada level bawah. Syukur kalau naik sedikit jadi menengah. Saat terima rapor memang begitu. Hmmm semester satu kelas dua.

Saya berpikir bahwa saya tidak boleh duduk di tempat. Saya harus pindah. Merangkak sedikit. Seperti gerakan menari yang harus variatif.

Lantas saya satukan kertas-kertas HVS sisa print. Jadi notes. Seukuran dos rokok surya atau marlboro. Kadang juga seukuran saku celana. Lebih praktis. Kecil itu simpel. Tapi bikin pantat “tepos” berisi, sebab itu juga semacam dompet. Penebal pantat.

Pada notes ini dicatat rumus-rumus. Dari rumus gampang, hingga yang paling rumit tingkat langit.

Konsekuensinya, kemana-mana harus bawa notes. Isinya harus hafal. Di dalam kepala. Komat-kamit bagai baca mantra.

Saat BAB di toilet, antre mandi, pesiar ke pantai pun di bawa. Duduk di “oto kota” juga sambil tunduk. Tunduk pada notes berisi dalil-dalil.

Alhasil, rumus-rumus terisi di dalam kepala, di luar otak. Pada gilirannya nilai ujian pecah telur. Sepuluh tepatnya. Saya dapat pujian.

Pak Guru ini pun menjadikan saya omongan di kelas tetangga. Teladan tepatnya.

Tentu saya bangga. Tapi ketika itu biasa-biasa saja. Mendapat nilai 10 Matematika di rapor tidak mudah. Butuh perjuangan. Seperti pepatah yang kami hafal ketika itu: Vivere est Militare–hidup itu berjuang.

Nilai itu tidak membuat saya memilih jurusan eksata pada kelas tiga. Anggap saja “pecah telur” itu kenangan. Bahwa saya juga punya kemampuan matematis, selain kinestetik. Setidaknya kala itu, kala tulang masih lentur.

Itulah tentang matematika–saat mana nama Pythagoras (570-495 SM), dengan Teorema Pythagoras dalam trigonometrinya, begitu akrab bagi Usu remaja dan kawan-kawannya. Yang dengan santai menghitung tinggi menara kapel dari gerbang masuk komples sekolah.

Kembali ke pelajaran lain. Ya, apa lagi kalau bukan fisika? Pelajaran yang diampu Guru Thomas. Mendapat nilai 6 atau 7 dari beliau kala itu adalah “prestasi” luar biasa.

Banyak yang cedok karena pelajaran yang satu ini. Tapi ada juga yang bangkit dan duduk lantas berusaha. Terus dan terus berusaha.

Guru yang satu ini memang killer tapi cerdas. Setidaknya untuk ukuran kami ketika itu. Dia pernah mengajar di Kupang.

Baginya Kupang menjadi barometer. Bukan karena “Kota Karang” ini menjadi mama dari provinsi yang mengandung ratusan pulau. Tapi ada yang lebih spesifik. Beliau pernah mengajar di sana.

Setidaknya “perbandingan” tersebut menjadi pemicu bagi kami, untuk terus belajar. Seperti halnya dalam “teori penjualan“. Kenapa mereka bisa dan saya tidak bisa? Maka saya harus bisa. Kira-kira begitu dalam hati kecil. Oh, sorry, ini cuma teori saya yang tidak ilmiah.

Perbandingan dan usaha tadi menjadikan nilai, sedikit demi sedikit naik. Bangkit dari jatuh. Kalau jatuh dan tidak bangkit lagi, itu Rumors–butiran debu. Kata kawan Abdur dalam materi stand up-nya.

Kembali ke fisika. Ya, fisika. Praktis ketika itu, Fisikawan Inggris Sir Isaac Newton (1643-1727) kala itu jadi kawan hari-hari kami. Ada F1=F2 atau yang lainnya. Hukum aksi-reaksi. Gerak. Gravitasi.

Ada juga Albert Einstein (1879-1955) dengan teori relativitasnya. Yang berkat jasa ilmuwan Jerman ini, kita mengenal Global Positioning System atau GPS.

Berkat dia juga menjadi tahu mengapa duduk satu jam di bawah pohon sawo (Manilkara zapota) di depan kapela bersama ade nona dari Santa Arnolda begitu singkat, dibandingkan dengan satu jam ibadah pukul enam pagi di dalam kapela, plus menahan kantuk, sisa menghafal rumus semalam suntuk.

Sedang ramai-ramai komat-kamit baca mantra F1=F2 atau E=MC2 hingga berkeringat, terdengar bunyi burung besi di atas atap sekolah kami.

Satu per satu keluar ruang kelas. Menumpuk di halaman tengah. Menengadah ke langit. Ooo, ini dia namanya pesawat. Di atas pohon asam (tamarindus indica) dan sawo, lalu dijemput komodo dan kawanan sapi di sisi tenggara.

Itu secuilnya. Ada juga fisikawan Michael Faraday (1791-1867), yang bicara soal listrik dan prinsip dasar induksi magnetik.

Yang karenanya, saya memakai teori magnetnya untuk merayu ade nona tepat di bawah pohon asam dan sawo. Kutub Utara dan Selatan–yang kebetulan secara geografis beliau berasal dari daerah selatan Flores dan saya dari utara. Hmmm begitu.

Menengok ke putih biru. Masih soal matematika. Di sebuah kampung yang dikelilingi bukit, gunung, sawah, dan berlangit berkabut sepanjang hari. Tepatnya Ketang.

“Kalau Engkau Tertawa Akan Nampak Gagah,” kata ade nona adik kelas mengombal suatu kesempatan.

Ya, akronim dari Ketang itu, meski Guru Felix yang belajar di Kota Dili, Lorosae, kala itu, membuatnya menjadi “Kalau Engkau Tabah Akan Naik Gaji.” Tapi memang Ketang itu tenang. Setenang masyarakat Hamente Lelak saat bercanda.

O ya, di situ sekolah swasta. Memakai nama pelindung Raja Hungaria dari Eropa tengah, yang sangat bijaksana. Namanya Santu Stefanus.

Santu Stefanus lahir tahun 969 dan meninggal pada 15 Agustus 1038. Beliau berjasa pada gereja-gereja dan biara-biara, yang hingga kelak menjadi pusat kebudayaan Hungaria.

Santu Stefanus begitu nama sekolah itu. Diambil dari nama tempat asal Sang Penerang dan Gembala di paroki, Pater Thomas Krump SVD–Hungaria.

Hungaria dan Ketang jadi satu: dipersembahkan pada perlindungan dan doa Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

“Ini seperti di Texas,” kata salah satu keluarga Pater Thomas, saat memuji Ketang.

Di dalam sebuah ruangan kelas, di sekolah ini, seorang guru berdiri. Rambutnya tidak beruban meski usianya menuju 60 tahun. Guru Paul. Begitu kami sebut

“Saya tidak pernah marah,” begitu kata Guru Paul, saat menjelaskan alasan rambutnya tetap hitam berkilau di usia senja.

Saya masih mengenal sebutan awalnya. “Saya mengajar matematika.”

Dulu disebut Paspal. Singkatan dari pasti dan pasti alam, berubah jadi Aljabar. Lalu Matematika atau Matek saat dia berdiri di depan dua puluhan remaja pembelajar itu.

Pengalaman bersama beliau tentu sama dengan cerita saya di pembuka catatan ini. Tak jauh berbeda.

Bicara tentang matematika, bahkan hingga kini, pelajaran ini menjadi momok bagian sebagian besar pelajar. Tidak bisa tidak. Tapi mereka punya metode yang asyik.

Sampai saya selesai memakai putih-biru pun, masih tergores di kepala rumus-rumus khasnya. Soal Sinus, Cosinus, Tangen, Secan.

Sinus Cosinus Tangen Cotangen Secan Cosecan, mai ce’e hau enu,” katanya.

Suasana jadi cair. Rileks. Kami semua tertawa. “Itu mantra menggaet ade nona,” katanya berkelakar. Kami semua terhibur. Lalu les dilanjutan. Siang terik tetap dingin pada daerah kami.

Nasihatnya tak pernah dilupakan. Dia bilang, mengambil filosofi orang Cina–kini Tiongkok jika belajar matematika.

Saya mendengar saya mengetahui. Saya melihat saya ingat, saya ingat saya melakukan. Saya melakukan saya mengerti.

Belakangan saya mengetahui bahwa itu adalah sebuah tukilan filsuf Konfusius. Memang harus demikian.

Lalu mengapa saya menulis soal guru-guru itu? Mengapa tidak semua guru saya tulis?

Jika saya menulis semuanya, maka satu hari belum kelar. Maka akan menjadi bab-bab, lembar-lembar dan bertumpukan. Lalu terhenti.

Yang pasti, tiap guru punya cara tersendiri dalam mendidik murid-muridnya. Tak terkecuali Guru Erin Gruwell yang memgajar muridnya dalam film Freedom Writers (2007), yang dibintangi Hilary Swank.

Bahwasannya tiap murid punya cerita unik tentang pengalamannya semasa sekolah. Guru-guru itu tak bisa disebut satu per satu. Nama mereka terpatri di sanubari.

Jasa mereka juga harus diperhitungkan. Jangan diabaikan. Dihargai selayaknya dan sepantasnya. Bahkan jika bertahun-tahun mengabdi, biarkan mereka diapresiasi.

Jikalau boleh, jadikan mereka sebagai civil servant sepanjang masa, tanpa memandang lokasi atau tempatnya mengajar. Begitu.

Hingga refleksi ini berakhir, matahari mulai muncul dari kaki langit Port Numbay. Di timur Jayapura, dari negara Papua Nugini. Terbaca sebuah lukisan nan indah: Selamat Hari Guru. Hari ini, 25 November 2018. []

Sumber foto : https://pixabay.com/photos/document-education-hand-knowledge-2178656/

#JPR, DEN0V18

Ilustrasi –
https://pixabay.com
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *