Saya cinta noken, lestarikan!

noken papua

Dinding laman media sosial atau medsos milik saya, Senin pekan ini dipenuhi frasa ucapan, ajakan dan imbauan tentang noken.

Ada juga yang mengunggah foto beserta keterangannya (caption). Tentu soal ajakan dan imbauan untuk menghormati dan menjaga noken.

Meski demikian, tak bisa ditampik juga ada yang sekadar “rame-rame” biar terlihat “wah”.

Beberapan ucapan itu, di antaranya;

Ini sa pu noken, mana ko punya? I love noken, save mama. Selamat hari noken sedunia.

Ucapan Selamat Hari Noken ke-5 merujuk pada tanggal pengakuan, dan penetapan karya kreatif mama-mama Papua ini oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB atau United Nations Educational, Scientific and Culture Organization (UNESCO), 4 Desember 2012 di Prancis.

Ketika itu dunia melalui badan ini mencatat noken sebagai warisan budaya takbenda dari Papua.

Pengakuan tersebut terwujud setelah empat tahun Titus Christ Pekey dari Lembaga Ekologi Papua berjuang ekstra keras mendaftarkannya.

Perjuangan yang tidak mudah berbuah kepuasan batin dan kebanggaan, serta semangat dan rasa memiliki (sense of belonging).

Bahwasannya karya-karya tangan terampil dan ide-ide cemerlang yang tercipta melalui noken diakui dunia melalui UNESCO.

Noken itu semacam tas tradisional. Ada juga tangan-tangan terampil yang memodifikasinya menjadi gelang, sepatu noken, dan penutup kepala.

Bahan baku pembuatannya berasal dari serat kulit kayu atau anggrek hutan. Setelah dikeringkan dan menjadi semacam benang, mama-mama membuat noken dengan berbagai bentuk.

Sebagai semacam tas tradisional, fungsinya bermacam-macam. Sesuai kebutuhan. Masyarakat adat Papua di tiap wilayah adat juga mengggunakannya sesuai kondisi dan filosofi setempat.

Ada yang menggunakannya untuk menyimpan hasil buruan, hasil-hasil kebun, menggendong bayi, dan sirih-pinang.

Saya senang menggunakan noken. Saat ke kampus sewaktu kuliah di Jayapura, kami biasa menyimpan buku, balpoin, rokok, pinang, ponsel, bahkan laptop di noken. Itu tadi, lebih praktis. Jadi, tas kami adalah noken.

Ketika melakukan kerja jurnalistik, perjalanan keluar rumah, dan momen-momen lainnya noken bahkan menjadi teman perjalanan.

Kawan-kawan saya–di luar Papua, kerap meminta oleh-oleh atau cenderamata dari Papua yang khas dan unik. Saya menyarankan noken sebab mudah saya jelaskan. Lebih praktis lagi.

Selain sudah didaftar UNESCO, juga sering dicatat dan masuk Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

Bulan Oktober 2013 sebanyak 652 noken dibuat oleh 350 mama Papua berhasil menyabet rekor MURI. Manajer MURI ketika itu menyebutkan, noken memenuhi empat kriteria–unik, paling atau ter dan langka.

Lalu pada peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan RI tahun 2016, noken sepanjang 15 meter dan lebar 10 meter yang dibuat mama-mama di Kampung Homfolo, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura dicatat MURI. Konon noken sebesar itu dibuat selama sebulan.

Dilaporkan tribunnews.com, 13 Juni 2015, pengunjung pameran Papua Week di ASEAN-Japan Center, Tokyo, Jepang tertarik pada noken ini. Mereka bertanya-tanya tentang proses pembuatan dan bahan bakunya.

Tidak mudah memang membawa harta-budaya semacam noken ke meja dunia, dan mengakuinya sebagai warisan dunia. Tentu melalui kajian-kajian, penelitian dan segala tetek-bengeknya yang bersifat ilmiah, rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kembali ke muka, menyambut Hari Noken, tak hanya sebatas ucapan dan euforia tiap 4 Desember di laman medsos, diskusi, pergelaran atau pameran. Lebih dari itu, ini adalah sebuah ajakan untuk berbuat.

Berbuat suatu untuk kelestariannya dilakukan dengan aneka macam cara, misalnya, memakai noken tiap hari, menanam pohon yang bakal jadi bahan baku pembuatan noken, dan lain-lain.

Pemerintah daerah juga harus peka terhadap hal ini meski sudah ada aturan untuk memakai noken bagi Aparat Sipil Negara (ASN).

Kita juga–terutama perempuan muda Papua–mesti belajar bagaimana merajut atau menganyam noken, dan jika sudah mengetahuinya, pengetahuan itu harus ditransfer kepada mereka–anak cucu dan generasi selanjutnya. Jika tidak demikian, siapa yang mewariskannya nanti jika kitorang su mati?

Mari, kitorang jaga sama-sama harta pusaka ini. Kalo ko tra pake dan jaga noken, mulailah sekarang. Tidak ada kata terlambat selama kitorang masih bernafas bebas di dunia ini. Ko tra kosong kalo ko jaga ko pu nenek moyang pu warisan. (*)

Foto 1 : Tulisan di sa pu noken (Dok. Pribadi)

Port Numbay, 5 Desember 2017

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *