Sambil berjalan tanam jahe

0
528

Lelaki itu berdiri setengah membungkuk. Lama-kelamaan kepalanya yang cepak menyentuh hamparan koker atau polybag berwarna hitam, yang ditindih ranting-ranting.

Tangannya tak jemu-jemu merapikan polybag. Kaus oblong abu-abu dan celana bola kuning dengan bis biru-merah membungkus tubuh jangkungnya, sedangkan kakinya tak bersandal.

Pada sebuah sudut lain, dia mengayun-ayun sekop pada gundukan tanah hitam, persis bersebelahan dengan sejumlah karung dan hamparan tanaman jahe.

Setelah saya menge-zoom tangkapan layar foto-foto itu, semakin jelas terbaca, bahwa nama pria itu adalah Laurensius Marselinus Gerak. Biasa dipanggil Lorens atau Loge.

Setahun belakangan ia mulai menekuni usaha tanam jahe pada lahan satu hektare di Desa Ngancar, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.

Sebelumnya Lorens berkeliling di tiga kabupaten di ujung barat Pulau Flores (Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur), untuk membeli jahe dari para petani, dengan kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu sekilo.

Setelah didapat, Lorens langsung mengirim ke Surabaya dengan ongkos seribu rupiah per kilogram melalui jasa ekspedisi. Di sana jahe dijual Rp 23 ribu sekilonya. Pekerjaan ini digeluti bapak dua anak ini selama enam tahun.

“Tapi lumayan untuk kehidupan sehari-hari, menghidupkan istri dan anak,” katanya kepada saya dalam percakapan via ponsel pada Rabu, 9 September 2020.

Awalnya pekerjaan itu dilakukan setelah ia berkenalan dengan salah seorang perempuan bernama Yanti asal Kediri, Jawa Timur, lewat facebook.

Yanti pun bersedia mendanai Lorens setelah mengirim berkas persyaratan berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan persyaratan lainnya.

“Ini modal kepercayaan saja,” kata Loge.

Sebenarnya Lorens Gerak adalah tenaga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Wae Kanta, Kecamatan Lembor. Namun, dia mengisi waktu luang untuk berbisnis dan tanam jahe. Dia menyebutnya “sambil jalan tanam jahe”.

Tahun berlalu dan musim berganti. Perubahan selalu terjadi dari waktu ke waktu. Begitu pula manusia.

Seiring perjalanan waktu, anak bungsu dari delapan bersaudara, dari pasangan alm Melkias Juragan dan alm Maria Melos ini memutuskan untuk berhenti membeli jahe dari petani setelah digelutinya enam tahun.

“Memang beli di petani untungnya sedilkit saja e, sehingga saya putuskan untuk tanam sendiri sekarang,” katanya.

Tak hanya soal untung/laba, Lorens mulai mengkhawatirkan dampak penggunaan pupuk kimia bagi tanaman jahe. Sebagian besar jahe yang dibeli dari petani menggunakan pupuk kimia.

Di satu sisi panen jahe sangat cepat bila menggunakan pupuk kimia. Petani hanya butuh waktu sepuluh sampai dua belas bulan.

Tapi di sisi lain, jahe rentan membusuk dalam perjalanan darat (ekspedisi) selama dua hari dua malam, dari Flores via jalur lintas provinsi NTT-NTB-Bali hingga Surabaya. Lorens tak mau mengambil risiko itu.

Lulusan jurusan kesehatan lingkungan (kesling) Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang beberapa tahun silam ini, terpaksa memutar otak, untuk membudidaya tanaman jahe, yang ramah lingkungan dan tidak mudah busuk.

Pupuk kompos adalah pilihannya. Kotoran sapi, kerbau, babi, dan kayu-kayu kering, serta gabah padi (ba’o) dibakarnya untuk menjadi kompos.

Pupuk kompos dapat meningkatkan unsur hara, kesuburan tanah, dan memperbaiki struktur dan karakteristik tanah. Pupuk kompos juga dianggap dapat membuat tanaman lebih segar dan berkualitas.

Pada lahan satu hektare yang dipinjam dari warga setempat, ia lantas menanam jahe gajah dan jahe emprit (lia mentik). Terhitung sejak pengolahan lahan, pengadaan bibit hingga penyiangan, Lorens sudah menghabiskan dana Rp 23 juta.

Usia tanaman hingga panen dengan menggunakan pupuk kimia tentu lebih cepat daripada pupuk kompos. Lorens menunggu panen selama 1,5 tahun karena menggunakan kompos.

Pembuatan dan pengolahan kompos membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk lahan 1 hektare.

“Meski demikian, saya optimistis segera memanen jahe pada April atau Mei 2021,” katanya disertai gelak tawa, sehingga ponsel saya dapat menangkap dengan jelas bunyi gigi palsunya yang jatuh.

Pria yang dikenal humoris dan beraksen seperti pelawak Aziz Gagap ini berpesan, agar anak-anak muda tidak pernah takut untuk melangkah, baik sebagai petani, maupun dalam pekerjaan lainnya.

Dia punya prinsip, bahwa usaha apapun harus fokus, tekun dan sabar. “Kalau tanam 10 kilo sampai 20 kilo saja, itu terkesan main-main saja. Jadi, harus serius. Tanam (jahe) yang banyak,” katanya.

Dengan harga yang bisa dijangkau dia mengajak petani di daerahnya, untuk membeli bibit padanya bila kelak dipanen. Dia menjamin bahwa bibit jahenya berkualitas karena hanya menggunakan pupuk kompos.

“Harganya terjangkau. Sekitar Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu sekilo. Kenapa saya kasih harga begitu? Karena saya tidak pakai pupuk kimia,” katanya.

Tak hanya di tempat tinggalnya di Lembor, Lorens bersama saudara-saudaranya mengolah lahan untuk menanam jahe di kampung halamannya di Rejeng, Kecamatan Lelak, Manggarai. Bersama beberapa saudaranya, ia sedang mempersiapkan panen jahe dari lahan 4 hektare.

Dia juga mengharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai, untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat, dengan menyumbangkan bibit jahe kepada petani. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here