Ruang maya dan nurani kita

hoaks

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui. Lebih pada pergulatan ide dan refleksi atas realitas jagat maya. Realitas yang nyaris menggelikan kalau tidak mau disebut jijik.

Tak bisa dipungkiri dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya, ruang maya menjadi kamar untuk menumpahkan segala tetek-bengek kehidupan di alam nyata. Rasa sedih, suka, dan aneka macam kejadian berseliweran di sana. Ada tulisan, gambar, suara, video dan grafis. Dari yang sadis, biasa, sampai pada yang di luar biasa.

Menariknya dengan gagah oknum-oknum tertentu mem-posting tanpa menyadari konsekuensi logis dari perbuatannya. Lepas bebas. Tak terkendali.

Bisa dipahami jika hal-hal yang dipublikasikan itu menyangkut ikatan batin—menyangkut relasi psikologis antaroknum. Dengan demikian, kita dengan bebas melakukan apa saja, termasuk menebarkan informasi, foto, video, grafis, suara, dan lain-lain.

Ini memang konsekuensi logis dari kebebasan berekspresi di ruang publik. Kita bebas dan sebebas-bebasnya menulis dan membagikan informasi tanpa memverifikasi dan mengklarifikasi kebenarannya.

Persoalannya, kita lupa bahwa dunia siber bukan padang gurun atau ruang kosong. Ia juga dunia tidak tanpa aturan.

Etika dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sewaktu-waktu bisa menjadi jerat yang bikin kita “matu kutu”. Selain itu, standar pemahaman dan bobot pembaca menganalisis sesuatu berbeda-beda. Tingkat pengetahuan dan kultur juga berbeda. Apa yang saya sebut baik belum tentu baik bagi pembaca. Subjektif.

Suatu kesempatan saya ditanya seorang kawan ihwal membagikan sesuatu di media sosial atau internet pada umumnya. Saya bilang, media sosial adalah media terbuka.

Siapa pun dapat mengakses internet dan mendaftarkan akunnya pada fasilitas yang tersedia, seperti facebook, instagram dan lain-lain. Let’s do it.

Namun lebih dari itu, kita dituntut untuk lebih bijak dan hati-hati. Jangan sampai salah tafsir, salah jalan dan salah jalur. Mendingan kita mem-posting yang netral kalau tidak mau membagikan berita dari sumber-sumber kredibel.

Saya punya status itu ada beberapa jenis: bagi berita atau artikel, puisi, potongan lirik lagu, orang punya kata bijak, dan status lainnya yang bersifat menghibur dan informatif. Jika ditimbang-timbang, agaknya soal kopi lebih mendominasi postingan laman ini.

Alasannya sederhana; saya pencinta kopi, anak petani kopi dan jenis minuman ini diminati semua kalangan, baik kalangan menengah ke atas, maupun kalangan menengah ke bawah. Jadi, kopi netral.

Sejak kecil saya dekat dengan kelelawar (niki), merah, hijau, cokelat, kuning dan hitamnya biji kopi. Bahkan saya dan saya punya bapa nyaris baku rebut dengan kelelawar dan musang jika kopi memerah. Padahal itu kami punya kopi.

Saya diperkenalkan dengan facebook tahun 2009. Ketika itu masih menggunakan jasa warnet. Kami jalan kaki—sekitar 100 meter ke warung internet—hanya untuk online. Jika dhitung berarti saya sudah sepuluh tahun menjadi “warga negara facebook”, dan akun terakhir ini sudah tujuh tahun, karena didaftar tahun 2012.

Merunut usia tersebut, maka sangat naif jika memfitnah, merendahkan dan mengeksploitasi kekurangan diri diekspresikan di sini. Dalam hal merespons kubu yang berkonflik, Iswandi Syahputra (2006) dalam bukunya Jurnalisme Damai menyebutkan bagaimana jurnalisme damai berusaha meminimalisasi celah antara pihak yang berlawanan dengan tidak mengulangi “fakta” yang memperparah atau menimbulkan konflik.

Jurnalisme damai menekankan dan mempromosikan perdamaian. Memberikan ketenangan dan kedamaian bagi masyarakat. Memberikan ruang kepada masyarakat tanpa kecuali. Dari kelas bawah sampai elite. Semua kelompok, individu dan siapa saja diberi ruang.

Lalu apa kaitannya dengan bermedia sosial? Di jagat maya semisal media sosial, kita bebas memproduksi dan menyebarkan sesuatu. Tapi tentu memperhatikan dampaknya.

Ber-medsos yang damai mengandaikan tiadanya niat dan cara yang menimbulkan kesan dan reaksi negatif masyarakat. Lebih baik bermedia sosial dengan damai seperti dalam genre jurnalisme tadi. Lagian, media sosial rentan terhadap hoaks. Dalam bahasa daerah saya adalah joak (tipu-tipu). Dibutuhkan kesadaran, kebijaksanaan dan kerja sama semua elemen masyarakat, tak terkecuali generasi milenial untuk menolak joak ini.

Baca juga

Penyebar hoaks: Cerminan jati diri palsu

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat 132, 7 juta pengguna internet atau media sosial dan 800 ribu situs yang terindikasi penyebar hoaks. Jumlah sebesar ini tidak mengherankan di era banjir informasi dan kemajuan teknologi siber. Menteri Kominfo Rudiantara menyebut sebanyak 353 hoaks per Februari 2019. Sekitar 181 dari sekitar 700 hoaks adalah berita politik.

Kecuali itu, korban hoaks juga banyak. Tengoklah di sekitar kita. Jika sedang menonton televisi juga kita menonton bagaimana sidang hoaks yang alot. Kita—sebagai pembaca dan pengguna media—membutuhkan pemahaman, pengetahuan dan kebijaksanaan. Menyebarkan informasi dari sumber yang jelas dan dapat dipercaya adalah sebuah keniscayaan. Sikap skeptis sangat dibutuhkan.

Ihwal membagikan informasi, tentu melalui proses saring, cek silang, analisis konteks dan teks, serta lulus dari “sensor” nurani. Saya kira, nurani adalah “etape” terakhir dari proses saring. []

foto: Ilustrasi – pixabay.com

JPR, spjul19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *