Ritual tolak bala dan buang sial

0
47
Kampung Lentang
Ilustrasi - Dokpri/FB

Dalam budaya kami, ketika ada kematian tidak wajar; mati karena kecelakaan, disambar petir, mati di medan perang, dan kematian tidak wajar lainnya, maka itu disebut kematian karena dara ta’a.

Korban dari dara ta’a tadi, mayatnya tidak ditaruh di dalam rumah seperti layaknya jenazah pada umumnya, tetapi ditaruh di depan rumah (loling be pe’ang  ko bolo mai mbaruy).

Peristiwa dara ta’a biasanya, entah disadari atau tidak, terjadi lagi atau menimpa keturunan yang pernah mengalami sebelumnya apabila tidak dibuat ritual. Maka diyakini bahwa dara ta’a itu tak akan putus, entah sampai kepada generasi ke berapa.   

Oleh sebab itu, dibuatlah ritual oke dara ta’a. Masyarakat Kampung Lentang, Desa Lentang, Kecamatan Lelak, Manggarai, Flores menggelar ritual oke saki agu oke dara ta’a pada Jumat, 6 Desember 2019. Korban persembahannya berupa babi, ayam, dan beberapa lainnya.

Secara sederhana oke saki artinya membuang kotoran, dosa dan salah, sedangkan oke dara ta’a secara sederhana dimengerti sebagai ritual membuang sial, tolak bala, kutukan, dll. 

Ritual ini dihelat oleh orang Lentang dalam rangka menghormati leluhur Kampung Lentang dan Lamba, bernama Empo Benggar. 

Menurut cerita dari generasi ke generasi, pada zaman dahulu kala empo ini mati karena jatuh ke jurang. Namun spekulasi lain menyebutkan bahwa dia dibawa lari oleh “makhluk halus”.

Baca juga:

Mencari jejak leluhur yang hilang

Ada yang pasti bahwa dia sudah mati dan jasadnya entah dimana. Beruntung sang istri sedang hamil saat dia “hilang” sehingga berkembanglah generasi atau keturunannya dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Leluhur itu diyakini hilang atau mati karena dara ta’a. Itulah hal ihwal pembuatan ritual “oke saki agu oke dara ta’a” tadi.

Harapannya “kudut dia diang agu jari tai” (agar esok hari mendapatkan kesuksesan) dan “rantang itang agu nangki” (agar tidak mendapatkan kutukan dan karma) seperti dalam tudak atau doa permohonan.

Ritual ini dihadiri semua warga keturunan Kampung Lentang dan Lamba. Dibuat di Cunga Ndaring, Lentang.

Cunga dalam bahasa kami adalah pertemuan dua aliran sungai. Bukan pertemuan dua air berbeda warna seperti encontro das aquas di Manaus, Brasil. Bukan itu. 

Tapi semacam pertigaan. Air dari dua sungai dipertemukan dan membentuk satu aliran sungai baru.  

Di tempat lain dalam bahasa Indonesia disebut tempuran, kuala, atau konfluens. Dan cunga dalam bahasa daerah kami.

Cunga dalam tradisi kami diyakini sebagai tempat magis, angker, dan mungkin sakral.

Oleh karena itu, ritual ini dibuat di cunga. Namanya Cunga Ndaring, pertemuan Wae Gulung dan Wae Ndaring. Wae artinya sungai atau air.

Dua sungai ini nanti bermuara ke barat daya di Nangalili, Lembor, Manggarai Barat.

Setelah upacara atau ritual oke saki agu podo dara ta’a, selanjutnya dilakukan upacara kelas dan perayaan ekaristi atau misa keesokan harinya, Sabtu, 7 Desember 2019. 

Baca juga:

Makna upacara kelas orang Manggarai

Bagi generasi abad 21 ini, ritual seperti di atas kelihatannya baru meski sering terdengar sebutan “saki” dan “dara ta’a“.  Ritual ini pun baru dibuat setelah beberapa generasi, sejak ratusan tahun lalu, leluhur ini seolah “dilupakan” oleh keturunannya. 

Kelihatannya sederhana, tapi dalam tradisi kami ada yang disebut “itang agu nangki“, sehingga dibuatlah ritual adat, sebagai jembatan komunikasi antara manusia, leluhur dan Mori Jari Agu Dedek (Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik Kehidupan).

Kami meyakini bahwa “itang agu nangki” adalah sebuah hukuman atau ganjaran dari setiap perbuatan atau aktivitas yang melenceng dari adat dan budaya, yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat kampung. 

Dalam konteks agama, kita mengenal apa yang disebut dosa–sebagai pikiran dan perbuatan atau tindakan yang jauh dari Allah.

Saya kira, siapa pun yang membaca tulisan sederhana ini mengamini, bahwa adat dan budaya adalah warisan leluhur yang tidak boleh dilupakan. Manusia tanpa budaya hanyalah ruang kosong atau ibarat pohon yang ditiup angin kencang. 

Budaya harus dilestarikan. Dia tidak bisa disepelekan, sebab itulah warisan dan kearifan-kearifan lokal yang terkandung di dalamnya adalah kekayaan dan pedoman kehidupan.

Tidak ada seorang pun yang berani menghapuskan budaya atau adat masyarakat setempat dengan dalih macam-macam. Dalam bahasa kami ada ungkapan “lawo cai bao tekur cai entuk” untuk orang-orang seperti ini. 

Semoga rangkaian ritual adat di Lentang membuahkan hasil, dari adak boak, oke saki podo dara ta’a sampai kelas dan misa. Kepok. []

Kredit foto: Kaka Gregorius Ambon/FB

#JPR6D19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here