Respondeo ergo sum: “New normal” ala Levinas

0
124
Covid-19 baca koran
Ilustrasi - Foto/unsplash.com

Sejak resmi diberitakan oleh WHO bahwa kemungkinan besar covid-19 tidak akan hilang dari muka bumi ini (Kompas.com, 14/5/2020), maka pemerintah mulai memikirkan solusi yang tepat hidup berdampingan dengan virus ini. 

Peristiwa demikian bukan baru pertama kali terjadi di dunia ini. Sebut saja wabah yang pernah terjadi, seperti, ebola, flu, HIV dan lain-lain telah membuat perubahan dalam pola hidup manusia. 

Meskipun tetap ada (wabah), eksistensi manusia dalam menjalankan hidupnya terus berlangsung. 

Dalam arti ini manusia akan terus hidup berdampingan dengan virus-virus mematikan ini, hanya saja muncul argumen lain yang mengatakan bahwa siapa kuat dia akan bertahan. 

Ini mengenai persoalan ‘herd immunity’ (kondisi ketika sebagian besar kelompok atau populasi manusia kebal terhadap suatu penyakit karena sudah pernah terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut).

Baru-baru ini di Indonesia tagar ‘Indonesia terserah’ begitu mencuat di berbagai platform media sosial (Kompas.com, 16/5/2020). Hal ini menjadi pertanda bahwa kebosanan manusia di negara ini sudah mencapai klimaksnya. 

Orang terus-menerus tinggal dalam situasi yang stagnan membuat mereka jenuh, sehingga ketika menjelang hari raya semua orang keluar-masuk, berkerumun, mencari aneka perlengkapan dengan memberondong mal-mal dan pasar sekitar kota-kota besar (Merdeka.com, 20/5/2020). 

Masyarakat sudah tidak lagi peduli dengan protokol kesehatan dan imbauan pemerintah. Sejak saat itu pula kasus covid-19 dalam sehari hampir menembus angka ribuan (Kompas TV,  24/5/2020).

Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa mental masyarakat untuk hidup sehat sangatlah miris di negeri ini. 

Dengan mental kepekaan hidup sehat yang masih sangat kurang, mau tidak mau atau suka tidak suka pemerintah tetap akan memberlakukan ‘new normal’ (kenormalan baru). 

New normal menurut pemerintah Indonesia adalah tatanan baru untuk beradaptasi dengan covid-19. Hal ini disampaikan melalui Achmad Yurianto, juru bicara penanganan covid-19. 

Menurutnya tatanan baru ini harus diberlakukan mengingat hingga kini belum ditemukan vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan virus corona. 

Para ahli masih bekerja keras untuk mengembangkan dan menemukan vaksin, agar segera digunakan untuk pengendalian pandemi covid-19. 

Yuri dalam keterangannya di Graha BNPB Kamis (28/5/2020) menegaskan ‘sekarang satu-satunya  cara yang kita lakukan bukan dengan menyerah tidak melakukan apapun, melainkan kita harus jaga produktivitas kita agar dalam situasi ini kita produktif dan tetap terhindar dari covid-19. Oleh sebab itu diperlukan tatanan yang baru” (tirto.id, 29/5/2020).

Berdasarkan wacana ‘new normal’ yang berkembang pemerintah kemudian mengembangkannya dengan melihat sejumlah daerah yang menjadi potensi bisa diterapkannya ‘kenormalan baru’ ini. 

Menurut pemerintah ada 4 provinsi dan 25 kota di Indonesia yang sedang mempersiapkan diri, untuk memasuki babak baru dalam kehidupan yang berdampingan dengan covid-19 (Liputan6.com, 28/5/2020). 

Tentunya ‘kenormalan baru’ ini akan diterapkan dengan memberlakukan protokol kesehatan yang ketat, seperti menjaga jarak, pengadaan tempat cuci tangan di kawasan umum, penggunaan wajib masker bagi mereka yang keluar rumah, dan menghindari kerumunan. 

Mentalitas masyarakat juga akan diperketat dengan adanya setiap aparat keamanan yang berjaga di setiap tempat-tempat umum. 

Untuk merealisasikan skenario ‘new  normal’ ini pemerintah telah menggandeng seluruh pihak terkait termasuk tokoh masyarakat, para ahli dan para pakar untuk merumuskan protokol atau SOP yang dapat memastikan kembali serta aman dari covid-19. 

Protokol ini akan berlaku bagi semua aspek kehidupan termasuk agama dan pendidikan. Tentu hal ini bergantung pada aspek epidemiologi dari daerah masing-masing sehingga penambahan kasus positif bisa ditekan. 

Dengan demikian, ‘new normal’ secara umum adalah pemberlakuan kembali aktivitas keseharian oleh pemerintah dengan mempertegas protokol kesehatan yang ketat. 

Jika kemudian ‘new normal’ akan diterapkan di seluruh daerah di Indonesia maka tidak menutup kemungkinan ‘herd immunity’ juga berlaku artinya siapa yang memiliki imun yang kuat dia akan terus bertahan. 

Bahasa sederhananya adalah seleksi alam. Proses ini merupakan akibat dari mental masyarakat yang terlihat masih jauh dari yang diharapkan untuk sadar, bahwa kesehatan adalah keutamaan yang wajib menjadi prioritas dalam kehidupan ini. 

Sejalan dengan pemahaman akan ‘new normal’ manusia diperhadapkan dengan situasi baru untuk mempertahankan eksistensinya. 

Dalam hal ini fenomena mental masyarakat Indonesia menjadi perhatian khusus karena kehidupan sosial yang jauh dari idealnya. 

Negara-negara berkembang bisa saja menjadi ladang subur bagi tumbuhnya virus ini. 

Hal ini dikarenakan mental masyarakat yang belum terdidik dengan baik. Persoalan kesehatan menjadi hal yang fundamental dalam mempertahankan eksistensi manusia di bumi ini. 

Oleh sebab itu, manusia harus bertanggung jawab bagi sesamanya. Menjaga kesehatan diri berarti menjaga kesehatan orang lain juga. 

Demi menjaga eksistensi itu manusia harus bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. 

Sejalan dengan tanggung jawab terhadap ‘yang lain’, Levinas memberikan pemikirannya dengan menelisik fenomenologi Husserl, untuk mengarahkan eksistensi manusia pada ‘wajah’ yang lain. 

Dengan bertanggung jawab terhadap yang lain manusia turut membentuk eksistensi yang lain dalam hak dan martabatnya sebagai manusia. 

Oleh sebab itu, tawaran Levinas tentang ‘keberlainan’ bisa menjadi ‘new normal’ yang diterapkan dalam kehidupan ini.

“New Normal” ala Levinas 

Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 di Kaunas, Lithuania, dalam keluarga keturunan Yahudi. 

Lithuania pada waktu itu termasuk Rusia di bawah pemerintah Tsar dan merupakan daerah di mana agama Yahudi dan studi Talmud berakar kuat.  

Sekitar tahun 1917 ia menyaksikan revolusi Rusia karena beberapa tahun lamanya ia bersekolah di Ukraina. 

Ia menyelesaikan sekolah menengah di tempat asalnya, Kaunas. Pada tahun 1923 ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Strasbourg di Prancis. 

Ia merasa sangat terkesan dengan suasana intelektual dan kultural di sana. Pada tahun 1928 selama dua semester ia belajar pada Husserl di Freiburg-im-Breisgau. 

Tahun 1929 ia menulis suatu artikel panjang tentang buku Husserl yang dikenal sebagai ideen I

Ia kemudian menyelesaikan studinya pada tahun 1930 di Universitas Sorbonne, Paris dengan disertasi La theorie de I’intuition dans la Phenomenologie de Husserl

Ia kemudian mulai dikenal oleh dunia ketika karyanya yang luar biasa terbit pada tahun 1961 yang berjudul Totalite et infini (totalitas dan tak berhingga). 

Berdasarkan buku ini ia memperoleh gelar ‘doktor nagara’ . Ia kemudian diangkat menjadi profesor pada tahun 1967 di Universitas Paris X di Nanterre. Kemudian pada tahun 1973 ia menjadi profesor di Sorbonne sampai pada masa pensiunnya (1976). 

Karyanya yang paling penting sesudah ‘totalitas dan tak berhingga’ adalah Autrement qu’être ou audela I’essence (Lain dari pada Ada atau di seberang Esensi). Emmanuel Levinas meninggal dunia pada tanggal 25 Desember 1995 (Bertens, 2014: 271-275).

‘New normal’ ala Levinas adalah persoalan tanggung jawab. Hal yang paling ditekankan oleh Levinas dalam berangannya adalah ‘responsibility for other’

Ia melihat ‘wajah yang lain’ dalam diri sesama. Wajah di sini yang dimaksudkan adalah bukan ‘tampilan muka’ tetapi lebih tepatnya adalah substansi dirinya ‘yang lain’ (yang sama sekali lain). 

Bagi Levinas yang lain adalah pembuka horizon keberadaan kita, bahkan pendobrak menuju transendentalitas kita. Manusia pada hakikatnya terasing atau sama sekali lain. 

Untuk menjebatani ini, Levinas menawarkan apa yang disebutnya sebagai ‘perjumpaan etis’ perjumpaan yang dimaksud adalah perjumpaan dengan ‘yang lain’. Yang Lain adalah orang lain, sesama manusia, pribadiyag lain sebagai person dalam keluhuran martabatnya (Fawaid, dalam Jurnal Poetika Vol.I No. 2, 2013: 133).  

Adapun hakikat tanggung jawab menurut Levinas adalah tanggung jawab sebagai fakta terberi  eksistensial, tanggung jawab non normatif, tanggung jawab bagi orang lain, tanggung jawab substitusional, tanggung jawab sebagai dasar bagi eksistensi, tanggung jawab memanusiakan saya, dan tanggung jawab yang membuat saya unik dari orang lain. 

Etika tanggung jawab Levinas ini memiliki dua sifat yakni tanggung jawab bersifat konkret dan asimetris (Sobon, dalam Jurnal Filsafat; Vol. 28, No. 1, 2018: 48). 

Tanggung jawab sebagai fakta terberi  eksistensial 

Berkaitan dengan fakta terberi eksistensial, Levinas mengatakan bahawa “pada saat orang lain memandang saya, saya bertanggung jawab terhadap dia dan tanggung jawab itu bertumpu pada saya” (Levinas, El, 1985:96)

Hal ini dimaksudkan Levinas sebagai tanggung jawab yang sudah diatributkan kepada manusia mendahului kehendak. 

Tanggung jawab pada dasarnya ada tanpa intensionalitas kehendak. 

Dalam arti ini tanggung jawab sudah mendahului atau mendasari sikap dalam bahasa sehari-hari kita (sebut saja tanggung jawab orang tua terhadap anak). Tanggung jawab adalah hakikat dari segala sikap dan tindakan, yakni saya ada demi orang lain. 

Jelaslah bahwa tanggung jawab yang dimaksudkan adalah tanggung jawab yang bukan dimulai dari suatu komitmen dan keputusan tanpa prinsip (arche) dan asal usul (origin), karena tanggung jawab itu berada di luar pengetahuan (Levinas, OTB, 1978:10). 

Tanggung jawab bagi orang lain

Bagi Levinas tanggung jawab selalu mengarah pada ‘yang lain’, melalui orang lain (through the other). Penampakan ‘wajah’ selalu mengundang saya untuk bertanggung jawab. 

Sehubungan dengan itu Levinas mengatakan bahwa yang dipahami seharusnya sebagai tanggung jawab adalah tanggung jawab bagi orang lain. 

Saya memahaminya demikian jadi seperti tanggung jawab pada apa yang adalah bukan perbuatan saya, atau untuk apa yang bahkan bukan persoalan untuk saya; atau yang mana justru melakukan persoalan atas saya adalah bertemu seperti saya dengan ‘wajah’(Levinas, EL, 1985: 467). 

Wajah yang dimaksudkan di sini adalah bukan persoalan fisis atau psikis yang tampak pada sebuah wajah melinkan yang dimaksud adalah le visage nu: ‘wajah telanjang’ artinya wajah itu itu begitu saja, wajah dalam keadaan polos. 

Wajah itu menyatakan diri sebagai visage sognifiant, Levinas mengatakan lagi: wajah yang mempunyai makna secara langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks. 

Sejalan dengan pemahaman ini, Noddings (1984:3) mengatakan bahwa ‘secara ontologis manusia selalu berelasi dengan orang lain’. 

Levinas menegaskan bahwa subjek bertanggung jawab atas yang lain sebagai eksistensi dirinya. Dalam hal ini ia menentang Descartes yang mengatakan bahwa ‘Cogito ergo sum’ (saya berpikir maka saya ada). 

Bagi Levinas, pemahaman Descartes menjadikan filsafat modern mengarah pada ‘egologi’ dan ‘egologi’ ini sampai pada Husserl (Bertens, 2014: 280). 

Dengan demikian Levinas menampik eksistensi manusia sejauh itu bersifat ‘egologi’. 

Ia melihat bahwa eksistensi manusia didasari oleh sejauh mana manusia itu bertanggung jawab kepada yang lain. Ini yang kemudian bisa dikatakan dengan “respondeo ergo sum” (saya bertanggung jawab maka saya ada).

Bagi Levinas, tanggung jawab atas orang lain mempunyai makna mendalam bagi saya sebagai subjek yang bertanggung jawab. 

Tanggung jawab menjadi struktur hakiki dari saya sendiri. Di sini Levinas hendak menegaskan bahwa tanggung jawab adalah sesuatu yang mutlak bagi subjektivitasku. 

Dengan demikian, bagi Levinas subjektivitasku itu sendiri secara radikal merupakan tanggung jawab. Tanggung jawab di sini mendasari eksistensiku. 

Ia memahami subjektivitas dalam konteks etis. Dalam hal ini Levinas menegaskan tanggungjawab sebagai relasi etis asimetris. Sikap tanggung jawab atas orang lain tanpa menunggu resiprositas dari orang lain (Levinas, EL, 1985:98).

Tanggung jawab memanusiakan saya dan orang lain

Subjektivitas selalu erat dengan tanggung jawab. Eksistensi subjektivitas ditentukan oleh tanggung jawab saya terhadap ‘yang lain’. 

Tanggung jawab memanusiakan saya dan orang lain artinya bahwa tanggung jawab dipahami sebagai fakta eksistensial dan itulah yang menggerakan seseorang untuk selalu bertanggung jawab atas orang lain. 

Lewat tanggung jawab itu subjektivitas mengakui eksistensi orang lain yang juga secara langsung mengangkatkan eksistensi pribadi. 

Di sini ‘yang lain’ tidak dipahami sebagai objek. ‘Yang lain’ adalah sama sekali lain.

‘Yang lain’ setara dengan saya sejauh saya bertanggung jawab atas dirinya. Dalam hal ini Levinas menampik  resiprositas yang dikatakan oleh Buber sebagai relasi ‘Aku-Engkau’. 

Keberatan fundamental Levinas ialah bahwa relasi dengan orang lain tidak ditandai resiprositas melainkan asimetri. Tampilnya orang lain mengakibatkan saya bertanggung jawab. Inilah Kejadian yang sama sekali menentukan (Bertens, 2014: 282). 

Akhirnya tanggung jawab yang memanusiakan saya dan orang lain itu harus bersifat konkret dan asimetris. 

Konkret berarti tanggung jawab subjektivitas saya selalu mengarah kepada tindakan yang nyata. 

Realisasi tanggung jawab saya harus memanusiakan ‘yang lain’. Relasi itu bersifat asimetris. Dalam hal ini relasi subjektivitas tanggung jawab itu tidak bersifat resiprositas. 

Saya bertanggung jawab karena memang saya harus bertanggung jawab. Saya bertanggung jawab karena bukan persoalan kesalahan saya, bukan persoalan menggantikan posisi orang lain, tetapi saya bertanggung jawab karena eksistensi subjektivitas saya mengarahkan saya untuk bertangung jawab. 

Catatan kritis: kewajiban ganda negara

Kesehatan merupakan kondisi sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang wajib dilindungi. 

Pemerintah dalam hal ini bertanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina dan mengawasi penyelenggaraan  upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat.  

Pemerintah juga bertanggung jawab atas ketersediaan akses informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan  dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. 

Dengan demikian, menjadi sebuah tanggung jawab negara dalam hal ini pemerintah untuk memastikan kehidupan yang sehat bagi setiap warga negaranya. 

Tujuan pemerintah menjunjung tinggi kesehatan adalah untuk meningkatkan  kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara ekonomis dan sosial.   

Selain pemerintah bertanggung jawab melindungi masyarakat atas kesehatan, masyarakat juga dijamin berdasarkan UUD 1945, UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi oleh UUD No. 12 Tahun 2005. 

Dengan aturan hukum yang jelas, pemerintah memiliki kewajiban ganda, yakni membentuk mental masyarakat untuk memprioritaskan hidup sehat, serta memastikan terjaminnya kesehatan bagi setiap warga negaranya. 

Dengan demikian, ‘new normal’ ala Levinas menjadi berarti bagi eksistensi negara itu sendiri. 

Subjektivitas negara dalam mempertanggungjawabkan masyarakatnya menjadi prioritas utama yang mesti dikedepankan. 

Negara harus memastikan ‘new normal’ menjamin kehidupan sosial masyarakat, kestabilan ekonomi dan perlindungan hak-hak masyarakat berpendapat.  

Dua puluh lima kota/kabupaten dan empat provinsi yang akan menjadi daerah percontohan diberlakukannya ‘new normal’ oleh pemerintah menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi negara.  

Dalam hal ini pemerintah perlu memastikan hak-hak hidup sehat bagi masyarakat, terutama untuk mereka yang miskin dan tertindas. Selain itu, pemerintah juga memastikan kehidupan ekonomi yang layak bagi para buruh yang sudah di-PHK. 

Hal ini harus diprioritaskan mengingat pandemi ini telah memporak-poranda segi kehidupan manusia, terutama kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. 

Oleh sebab itu, cara negara bertanggung jawab akan persoalan ini yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transparansi negara dalam menjamin seluruh hak-hak masyarakatnya. 

Jangan lagi ada diskriminasi, tindakan sewenang-wenang dan pengaturan BLT yang sepihak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga hal ini benar-benar menjamin tanggung jawab negara terhadap rakyatnya. 

 Penutup 

 “New normal” ala Levinas adalah suatu model ‘eksistensi kehidupan manusia’ yang menjamin hak hidup setiap pribadi. 

Levinas memaparkan tanggung jawab sebagai eksistensi manusia yang utuh. Dengan belajar pada Levinas, manusia bereksistensi terhadap manusia lain. 

Tanggung jawab menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari tindak tanduk kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat modern saat ini. 

Oleh sebab itu, kenormalan baru yang dipelajari dari Levinas adalah tanggung jawab menjaga kesehatan diri sebagai tanggung jawab menjaga kesehatan orang lain. 

Mengikuti dengan taat protokol kesehatan yang dipaparkan pemerintah adalah tanggung jawab setiap manusia dalam memastikan kesehatan diri sendiri dan orang lain. 

Selain itu, negara menjamin setiap hak hidup sehat manusianya (rakyatnya) dengan memastikan kenormalan baru yang dijalankan sesuai SOP yang berlaku. []

Penulis: Fransiskus Batlayeri, mahasiswa pada STFT Fajar Timur, Abepura dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

 

Daftar Rujukan

Bertens, K. 2014. Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis; Jilid II. Jakarta: Gramedia

Levinas, Emmanuel. 1978. Otherswise and Being Or Beyond Essence, Translated by Alphonso Lingis. Martinus Nijhoff Publishere: The Hague

______. 1985. Etichs and Infinity, Translated by Richard A. Cohen. Dusquesne University Press: Pittsburgh, Pa

______. 1985. Totality and Infinity; an Essay on Exteriority, Translated by Alphonso Lingis. Martinus Nijhoff Publishere: The Hague

Markus. Paul. 2008. Being For Other; Emmanuel Levinas, Ethical Living and Psychoanalysis. Marquete University Press: Millwauke

Fawaid, Ahmad. Perjumpaan Etis dengan Wajah Yang Lain: Membaca Karya Sastra dengan “Etika” Levisinasian (online), dalam jurnal Poetika. Vol. I No. 2, Desember 2013, http://journal.ugm.ac.id, diakses Sabtu, 6 Juni 2020, Pukul 12. 00 WIT

Sobon, Kosmas. Konsep Tanggungjawab dalam Filsafat Emmanuel Levinas (online) dalam jurnal Filsafat. Vol. 28, No.1. Februari 2018, http://media.neliti.com, diakses Sabtu, 6 Juni 2020, Pukul 10.00 WIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here