Refleksi persahabatan dalam perspektif St. Agustinus-Hippo

Penulis: Fr. Simon Welerubun, OSA, biarawan Agustinian, tinggal di biara Buper, Jayapura

0
294
Makna persahabatan
Ilustrasi - Foto/Pixabay.com

Kata persahabatan tidak asing lagi didengar pada zaman modern ini. Hal ini bukan berarti kita sudah memahami secara baik apa itu persahabatan.

Tentu setiap orang mempunyai pilihan untuk memiliki seorang sahabat agar saling berbagi pergumulan hidup. Singkat kata persahabatan sering kali diungkapkan dengan relasi dua orang, yang menjalin hubungan komunikasi yang begitu lama. 

Relasi persahabatan tersebut dapat membentuk mereka untuk saling mengenal, saling berbagi, dan saling menguatkan dalam pilihan hidup. 

Namun bagaimana perspektif St. Agustinus tentang persahabatan?

Santo Agustinus adalah uskup dan pujangga gereja. Nama lengkapnya Augustinus Aurelius. Ia dilahirkan pada 13 November 354 di Tagaste, sebuah kota kecil yaitu Numedia (Afrika Utara), yang tidak jauh dari Hippo Regius. 

Ayahnya bernama Patricius (seorang kafir) dan ibunya bernama Monica. Seorang ibu yang saleh dan penuh kasih sayang, serta memiliki sikap cinta dan kerendahan hati yang sangat dalam. 

Santo Augustinus menempuh pendidikannya di Tagaste, kemudian ia mempelajari ilmu retorika (suatu jenis pendidikan yang mempersiapkan seseorang menjadi pengacara atau ahli di bidang administrasi negara) dan filsafat di Kartago, ibu kota provinsi Afrika Utara (lih. Augustinus Tahanan Tuhan, Hal 21.).

Ia meninggal dunia pada 28 Agustus 430 ketika Hippo dikepung bangsa vandal. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Basilika Santo Petrus.

Makna persahabatan

Santo Agustinus-Hippo menampilkan makna persahabatan yang awalnya dirasakan atau dialami sendiri bersama saudara-saudaranya dalam hidup membiara atau komunitas religius (Pengakuan IV, 6, 11 dan 8, 13). 

Namun dalam persahabatan ini, ia tidak hanya memberi makna persahabatan dalam hidup membiara, tetapi juga memandangnya sebagai bantuan penghiburan dengan ungkapannya:

Saya membiarkan diriku melemparkan diri dengan mudah dan seutuhnya pada kasih sahabat-sahabat karibku, terutama ketika aku terbebani skandal-skandal duniawi, lantas aku menemukan keteduhan dalam kasih itu, bebas dari kecemasan-kecemasan. Ini terjadi karena aku merasakan Allah hadir di sini, kepada siapa aku melemparkan diriku tanpa takut, dan di dalam Dia kutemukan istirahat yang aman. Dalam keamananku ini, aku tidak takut akan ketakpastian hari esok, suatu hal yang menjadi sifat manusia lemah. Ide-ide dan pikiran-pikiran yang kupercayakan kepada seseorang manusia yang dipenuhi kasih kristiani dan menjadi sahabat setiaku, bukanlah kupercayakan kepada seorang manusia, melainkan kepada Allah, di dalam Siapa manusia ini berdiam dan Yang membuatnya menjadi sahabat setia” (Surat 73,3,10).

Bagi St. Augustinus persahabatan itu, merupakan hasil akal manusiawi yang terdalam. Hal demikian disebabkan karena seorang yang sendirian tidak mudah untuk tertawa.

Wejangan ini, menghantar penulis untuk mengungkapkan bahwa persahabatan adalah relasi spiritual melalui kehadiran seseorang ke dalam kehidupan orang lain, yang dapat membuka hatinya sebagai titik terang dalam pilihan hidup yang mau dijalaninya. 

Dengan demikian, persahabatan tidaklah menjadi sekat bagi sesama manusia, tidak pula menjadi hambatan bagi lawan jenis, melainkan menjadi bentuk cinta kasih dalam pemberian diri untuk saling mengenal, berbagi makna kehidupan, yang bertujuan membangun harapan baru dalam perjalanan hidup setiap orang menuju perjalanan persahabatan yang ideal.

Persahabatan yang ideal

Persahabatan yang ideal, ketika manusia sungguh-sungguh menyadari dirinya dalam persahabatan dengan Allah (Yoh 15:14a). Allah telah menjadi sahabat bagi manusia karena Roh Allah ada dan hadir dalam setiap diri manusia. Terutama Allah menjadi daya kekuatan (energi baru) dari semua relasi dalam persahabatan. 

Tindakan konkret ini membentuk, merangkul dan menyadarkan kita untuk menjadi sahabat bagi sesama kita dalam relasi spiritual yang bergabung dalam kesenangan, kesedihan, dan keharmonisan untuk bersatu dalam kasih dan kemurahan Allah. 

Ketika seorang sahabat menaruh kepercayaan kepada Allah, sahabat itu telah menaruh kepercayaan kepada sahabatnya pula, karena sahabat menjadi ladang untuk saling barbagi dan menaruh kesetiaan dalam pergumulan hidup.

Persahabatan telah membentuk seseorang untuk menjadi dewasa dalam zaman yang penuh harapan dalam pergumulan hidup. Dengan demikian, makna lain dari persahabatan adalah jalan dan jembatan untuk menghubungkan seseorang dengan orang lain untuk bergandeng tangan, saling menyingkapi untuk menghadapi zaman penuh persahabatan dalam kegembiraan. 

Hal ini telah diungkapkan oleh Santo Agustinus, jangan takut untuk melemparkan pergumulan hidup kita kepada sahabat yang kita percayakan, karena sahabat yang kita percayakan itu, Allah hadir dalam dirinya dan semampunya akan siap mendengar dan memberikan titik terang yang didapat dari Roh Allah yang ada dalam dirinya, untuk memberikan jalan terang bagi kita dalam menghadapi skandal-skandal hidup.

Ketika kita sudah melemparkan skandal yang kita hadapi kepada sahabat kita, tentu kecemasan-kecemasan yang membentengi diri kita akan dipulihkan melalui kasih dari sahabat atau seseorang yang kita percayakan untuk siap sedia mendengar pergumulan hidup, karena dalam Dia kita merasakan ketenangan jiwa. 

Hal demikian menghantar kita untuk bergabung dengan berbagai ungkapan dari hati sekelompok orang, yang memberi dan menerima cinta, ungkapan yang diperlihatkan dengan wajah, suara, mata dan seribu isyarat lain yang menggembirakan. 

Artinya jiwa-jiwa kita, seolah-olah dinyalakan dan walaupun kita banyak, kita dilebur menjadi satu dalam kepastian persahabatan.

Jalan terang syarat dalam persahabatan di mana seharusnya mendatangkan rahmat Tuhan; agar perjumpaan sungguh-sugguh membuahkan kebaikan dan kebenaran dalam kebersamaan, dan hal demikian dapat memperkaya kepribadian ketika setiap orang setia dalam komitmennya, dan hidup dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan, tanpa ada suatu kemunafikan (topeng) bagi sahabatnya demi kepentingan diri sendiri melainkan setia dan komitmen tersebut dilihat melalui hati yang tulus, berjiwa bening dan memikirkan kepentingan sahabatnya. 

Baginya keselamatan sahabatnya lebih utama daripada keakraban, kebersamaan bahkan persatuan yang semu. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here