Redaksi

Halo kawan-kawan dan pembaca budiman, selamat bertemu di sini. Apa kabar? Sekiranya tetap sehat jasmani dan rohani dan dikarunia berkat berlimpah.

Kawan mungkin bertanya, lomes itu apa kah? Sabar eeee. Jika Anda berselancar ke Om Google perihal keterkaitan nama atau diksi dalam blog ini, lomes adalah sebuah kota (paroki) di Spanyol Utara.

Namun, dalam blog ini, Lomes dari kata bahasa Manggarai, Flores. Secara sederhana lomes artinya bersolek, indah, elegan, dan anggun. Itu dari hasil “solek”. Penggunaan kata lomes kadang-kadang juga tergantung konteksnya. Misalnya pemain caci di Manggarai harus lomes. Lomes merupakan salah satu nilai yang dipertontonkan. Lomes mencakup tata gerak (congka), ketangkasan, keluwesan, dan suara yang merdu. Selain itu, lomes juga ditujukan kepada laki-laki atau perempuan Manggarai yang flamboyan.

Nah, mengapa lomes dijadikan nama blog ini? Ya, kalimat yang indah, masuk akal, sejuk, menggelitik dan bisa diterima, saya kira, merupakan hasil kerja cerdas dan kreatif, kritis, tekun dan sabar. Dari “lomes” itu tadi. Sekiranya tulisannya terus di-update.

Admin Blog Lomes - Timoteus Rosario MartenDi blog ini saya kira, menulis, harus diasah. Kreativitas dan hati nurani yang terus diasah. Menulis dan merefleksikan kembali. Terutama tentang sosial-budaya, lingkungan, wisata, dan hal-hal faktual. Ditulis dengan sederhana. Ada juga tulisan imajinatif.

Tentang logo, gambar mata dan biji matanya bintang yang merupakan bentukan dari pena.

Menulis adalah menggoreskan pena, melukis kata-kata di atas kertas putih nan suci, dari yang amburadul menjadi mudah dimengerti, sederhana, dan indah, serta diharapkan dapat menginspirasi pembaca. Bak melihat bintang bertabur indah di angkasa.

Biru adalah harapan, merah adalah keberanian dan putih adalah keikhlasan, kemurnian, dan kesucian.  Mengandaikan bahwa tulisan yang indah lahir dari hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Bulatan merah dan biru adalah ibarat nimbus.

Ihwal bintang–dalam tradisi orang Manggarai, bintang adalah dambaan dan metafor sesuatu yang ideal. Biasa dipakai dalam go’et (doa, ungkapan) seperti: porong uwa haeng wulang agu langkas haeng ntala (semoga bertumbuh mencapai bulan dan berkembang/tinggi mencapai bintang).

Bintang juga diabadikan untuk tetua dari kampung saya yang sudah meninggal. Namanya Ema Linus. Dalam tarian caci, biasanya ada semacam julukan (paci atau rait) tiap pemain caci. Ema Linus punya rait Ntala Gewang–artinya bintang yang muncul pagi-pagi buta sebelum matahari terbit (par leso).

Dalam tradisi gereja Katolik, Bunda Maria ibu Yesus yang melaluinya Dia turun ke dunia, sehingga Maria dihormati sebagai bintang kejora atau bintang timur atau bintang laut (stella maris). Seruan doa melalui dia kepada Yesus (Ad Jesum Per Mariam)–bintang kejora–biasa disebut dalam litani.

Cahaya bintang kejora juga yang menuntun tiga raja dari timur (orang majus) untuk menyembah bayi Yesus Kristus yang lahir dari Maria di palungan di Nazareth.

Meski penamaan blog, simbol dan logo diambil dari bahasa daerah saya, tulisan yang tersaji tidak melulu tentang Flores, Sumba, Timor, Alor (Flobamora), tetapi semua tentang sosial-budaya, lingkungan, dan wisata, serta hal-hal aktual dan imajinatif.

Pengelola blog juga menerima sumbangsih pikiran pembaca dan kawan-kawan yang tertarik dengan hal yang disebutkan tadi. Buah pikiran Anda dapat dikirim ke email saya, timoteusaugustm@gmail.com atau via facebook Timoteus Rosario Marten atau fanpage de Lomes  dan DM di Instagram nana_rosario_mr.

Dengan senang hati, saya menerima tulisan kawan-kawan, tapi tentu melalui penyuntingan, dengan tidak menghilangkan isi dan gaya kawan sendiri. Tapi dengan rendah hati saya mau bilang, tulisan tidak dibayar. Hehhe…

Meski demikian, rasanya terima kasih berlimpah patut diberikan kepada pembaca dan saudara/i yang rela tulisannya dimuat di sini.

Pengelola blog ini saya sendiri. Blog sebelumnya bernama Luju Nai. Saya Timoteus “Rosario” Marten. Orang Manggarai, Flores, enTETE. Sejak SD – SMA di sana, dan kuliah di Jayapura, Papua. Kini bekerja sebagai jurnalis di media lokal. Redaktur di Koran Jubi dan Jubi.co.id dan pernah di Koran Suluh Papua (kini sudah tiada).

Saya belajar untuk hidup. Belajar sambil bekerja dan bekerja sambil belajar. Belajar terus untuk hidup, bukan hanya saat untuk mendapat ijazah. Seperti dalam adagium klasik (Romawi): “Non Scholae Sed Vitae Discimus“.

Dalam berbagai referensi yang saya baca, adagium ini berasal dari surat pujangga dan filsuf Romawi yang hidup tahun 4 SM – 65 SM. Namanya, kalau saya tidak salah, Seneca Muda. Surat itu adalah Epistular Morales ad Lucillium CVI, 12.

Jika tulisan-tulisan dalam lomes dirasa bermanfaat dan mau diambil, hendaknya menyertakan link sumber, sebagai bentuk penghormatan terhadap hak intelektual.

Dari ruang bertepi, teruntai catatan harapan dan doa. Selamat membaca. Lihatlah dan bacalah. Berikan kritikan konstruktif dan berkacalah pada fakta, agar dunia terinspirasi dari ide-idemu.

Ingat: Erare Humanum Est sed Perseverare diabolicum — Keliru itu manusiawi, tapi mengulang kesalahan adalah perbuatan iblis. Karena itu, saya menerima segala kritikan konstruktif dengan lapang dada. []


Salam

Timoteus Rosario Marten
Jayapura, Papua

 

Facebook Comments