Puisi-puisi Ewaldus Onesianus Kaur

1
302
Pantai
Pixabay.com

Puasa Kangen

1.Sayang, kangenku telah berbuah,

anak cucunya telah membuatku sinting.

Mengapa engkau membiarkan ku terlarut di dalamnya. 

Kangenku hinggap bak kupu-kupu di ubun-ubun.

2.Izinkan aku melepas kangen. Kangenku

Membuatku mengong, bisa- bisa aksara setia yang

Sedang berlabuh akan tenggelam.

3.Sayang, buatlah aku memiliki masa pra dan masa puasa kangen.

Biarlah masa pra kangen membuatku tobat kangen dan

masa puasa kangen membuatku terciduk sendiri.

4.Sayang kangen itu sinting. 

Biarlah menjadi prasasti bila bertemu nanti, dan 

cukup dikenang.

Pena + kertas sajak Robek.

Sesunyi ini, aku menulis indah di matamu.

Bibirmu keluh menggugurkan anarki cinta. 

Penaku menulis sajak sayang, yang  kau robek.

Atas alasan alay kau membuang sajak sayang. 

Sayang dalam sajaku, agar kau mengerti aksara cinta

tidak selalu alay, dan indah di matamu yang ku tulis adalah

sayang.

Beranda rumah 

Beranda rumah….

Tempatku mengulurkan tangan di tengah rinai hujan

Membiarkan dingin menyapa cantikmu di relung sukma.

Biarlah rinai hujan di berandaku menghapus jejak dan peluh 

Pada cantik indahmu.  Sebenarnya di beranda rumah ku tentang 

Penantian. Penantian kamu yang bersembunyi di balik rinai-rinai hujan selepas 

Angelus.

Salam sayang dari Cerpen

Cerpen yang tandas kau baca, kini sunyi.

Tokoh- tokoh dalam cerpen itu kini mudik ke tema- tema 

Yang kian rampung dibuat. Selepas mudik tiba, cerpen itu menitipkan salam 

Perpisahan.

“padamu pemilikku, aku kangen kau belai. Tokoh- tokohku kini mudik 

dan tema dalam ceritaku kini sunyi dan cengeng meminta jatah dibaca.

Segenap salam sayang dari kami keluarga besar cerpen kepadamu.”

Mungkin salam sayang ini takan tersampaikan, setelah pemilik cerpen 

didapati tidur di pusara.

Penulis: Ewaldus Onesianus Kaur, siswa SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur, Flores, NTT

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here