Puisi-Puisi Ayu Harung

0
226
Dua sejoli - pixabay
Ilustrasi dua sejoli - foto/pixabay

Ketika Aku Merindu

Benar-benar aku mempercayai langit sore ini

Mendungnya hanya sementara 

Tak akan lama-lama

Benar-benar aku mempercayai tangis hari ini

Pergimu hanya sementara

Tak akan kubiarkan

Kita tak bersapa lama-lama

Pesanku seturut kepergianmu

Kita hanya berjarak pandang 

Bukan berarti akan saling melupakan

Candu kita hanyalah waktu

Yang sementara masa akan lambat melaju

Terakhir,

Semua rindu akan terus melagu, tak mengubah apapun dari aku dan kamu

Ilusi kita melambung seputar ingin bertemu

Namun keadaan dengan paksa mengharuskan

Kita untuk tetap menunggu

*kita hanya berdiri di atas tanah yang berbeda jenis, bukan awan yang berbeda warna.

Mari menutup angkasa, agar tidak lupa bahwa kita masih satu harap

Juni, 2020

Terpikat

Kataku membisu.

Ketika kita bertatap luruh 

Senyummu sendu dan aku dipaku.

“Inikah seni kehidupan?”

Dipandangmu tanpa kedipan?

Aku menggila jika berlama-lama,

Tapi jangan kemana-mana

”kamu itu candu, tak ada duanya.

Kamu itu satu, satu-satunya saja”

Juni,2020

Kangen 

Kelam ini usai.

Kita menjadi melodi seirama

Berjalan selaras dan saling mengimbangi.

Dipandang memesona dan menggelora

Seiring dengan itu, 

Berdatangan orang-orang tak menyangka

Lalu bertanya:”kita siapa?”

Mari tegas menjawab:

“yang dulu kalian sapa.

Mereka yang bukan apa-apa”

Juni, 2020

Penulis: Ayu Harung, siswi SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng, Manggarai, Flores, NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here