Poti: Sebuah kajian semantik

Tulisan ini mengkaji secara linguistik kata “poti” pada postingan di akun facebook atas nama Chrystian Candra, sebagai reaksinya atas pementasan yang diliput oleh salah satu stasiun TV swasta nasional. Dan untuk kali ini, penulis ingin memaparkan makna kata “poti” pada postingan tersebut secara semantik.

Linguistik adalah ilmu bahasa dan semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari secara khusus tentang makna kata.

Tjiptadi dalam Riadi (2013) menjelaskan bahwa “makna” adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata. Jadi, “makna” dengan bendanya, peristiwanya atau keadaannya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan benda, peristiwa atau keadaan tertentu, maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (www.kajianpustaka.com).

Batasan kajian semantik pada bagian ini fokus pada empat makna, yaitu makna leksikal, makna grammatikal, makna denotatif, dan makna konotatif.

Makna leksikal

Secara leksikal, kata “poti” (bahasa Manggarai) merujuk pada makna “setan”. Jadi, yang dimaksudkan setan oleh pemilik akun tadi ditujukan kepada siapa? Jika nanti kata “poti” merujuk manusia, maka kata ini mengandung makna pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan;

Makna grammatikal

Dalam memaknai kata “poti” secara gramatikal, harus dilihat juga kata-kata atau kalimat yang mengikuti kata tersebut. Penulis ingin mengutip kembali kalimat pada bagian awal postingan tersebut, untuk kepentingan kajian sederhana ini.

oeeee poti, bingi bangas, poti bambo. Nahe lerak. Co tara pande rusak lemeu budaya dami. Co tara pande sebarang nggos meu gewww. Oeeee bambo, laing tara renom le tana aim sebarang kaud pandes…”

Kata “poti” pada tulisan tersebut di atas merujuk pada kata ganti orang “meu” (Anda/Kamu/Kalian) dan kata ganti kepemilikan “dami” (milik kami). Lalu, kata “meu” dan “dami” merujuk kepada siapa?

Pada kalimat lanjutannya tertulis “Co tara pande sebarang nggos meu geww”.

Kata “meu” pada kalimat ini juga tidak jelas, merujuk kepada siapa?
Namun pada kalimat terakhir bagian pertama postingan tersebut tertulis:

Oeeee bambo, laing tara renom le tana aim sebarang kaud pandes” (oe penyakit, pantasan kalian tertimbun tanah karena kalian buat sembarang saja).

Kalimat ini mempertegas makna bahwa kata “meu” pada komentar sebelumnya merujuk pada para korban bencana alam yang tertimbun tanah longsor. Para korban bencana alam yang tertimbun tanah longsor yang dimaksud itu, bencana alam dimana? Tidak jelas.

Pada postingan tersebut, penulis melihat beberapa buah komentar (tanya-jawab) yang menunjukkan bahwa pemilik akun Chrystian Candra menjelaskaan bahwa video tersebut (caci) dibuat di Melo, Kabupaten Manggarai Barat. Kita semua tentunya mengetahui, bahwa pada 7 Maret 2019, terjadi bencana alam di Melo dan sekitarnya.

Dari kajian tersebut di atas, penulis menyimpulkan, bahwa kata “meu” yang ditulis oleh pemilik akun merujuk pada korban bencana di Melo dan sekitarnya.

Secara gramatikal kata poti merujuk pada kata meu dan kata meu merujuk pada para korban bencana longsor di Melo dan sekitarnya.

Jadi, pada bagian pertama postingan viral tersebut, kata poti sama dengan bencana longsor 7 Maret 2019 dan sekitarnya.

Kata poti juga kita bisa lihat pada bagian lain dari postingan tersebut.

“ …Oeeee poti, demi kaud seng meu, pika le meu budaya, Oeeeee sial apa bel ho ge…” (oeeee setan, demi uang, kalian menjual budaya, oeeee sial apa ini?). Pada bagian ini jelas bahwa, kata poti merujuk pada oknum penjual budaya.

Pertanyaan berikut, siapakah yang dimaksud dengan “penjual” budaya? Untuk memperjelasnya, mari kita lihat kalimat lanjutan setelah kalimat di atas. (Sanggar bingi bangas,, manga lemeu baen tai eww = sanggar Tolol nanti kalian akan rasakan kelak) kalimat ini memperjelas bahwa yang dimaksud dengan para penjual budaya oleh pemilik akun itu adalah pemilik dan anggota sanggar Compang To’e.

Dari paparan tersebut di atas, penulis menyimpulkan, bahwa secara gramatikal, kata poti merujuk pada; 1) para korban bencana longsor 7 Maret 2019 di Melo dan sekitarnya; 2) pemilik dan anggota sanggar Compang To’e; 3) makna denotatif. Secara denotatif, kata poti dalam bahasa Manggarai artinya setan; dan 4) makna konotatif. Hemat penulis, secara konotatif, kata “poti” dalam postingan tersebut merujuk pada prilaku manusia (sifat) yang seperti setan dan atau setan (makna sebenarnya) yang berwujud manusia. Lagi-lagi, ini adalah penghinaan terhadap eksistensi kemanusiaan. []

Foto: Ilustras setan – delomesi/ Pixabay

Penulis: Karolus Widiyono Deon, praktisi dan pemuda Manggarai. Tinggal di Manggarai Barat, Flores

Catatan redaksi:

Opini penulis tidak menjadi tanggung jawab redaksi Lomes    
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *