Perdamaian Papua melalui kebenaran

Penulis: RP Edy Doga OFM, Staf SKPKC Fransiskan Papua

0
113
arti persahabatan
Ilustrasi - foto/Pixabay

Pada permulaan hidup baru dan semangat baru, setiap kita yang ada di Tanah Papua memulai perjalanan iman yang baru secara bersama.

Kita mesti terus-menerus mencari perdamaian Papua melalui kebenaran, kalau iman kita menjadi layu. Kita harus terus-menerus merefleksikan iman dalam situasi kita di Papua zaman ini, kalau tidak, pengaruhnya mengganggu kita tanpa kita menyadarinya.

Dalam tulisan ini ditegaskan tiga ancaman besar perdamaian kita di tanah Papua saat ini: terorisme, nihilisme, dan fundamentalisme.

Kebenaran damai di Papua ditolak oleh terorisme yang menciptakan keadaan takut yang tidak aman di mana-mana di seluruh tanah Papua. Sering itu merupakan buah dari nihilisme yang tragis dan ngeri.

Nihilisme adalah visi bahwa tidak ada apapun dalam kenyataan yang berharga dan berarti, termasuk kita hidup di tanah Papua.

Kita perlu menyadari bahwa yang membunuh dengan tindakan teror adalah orang yang putus asa terhadap manusia, hidup, dan masa depan. Segala-galanya pantas dibenci dan dihancurkan.

Nihilisme juga menjadi sumber budaya kematian dan konsumerisme di negeri kaya tetapi lama-kelamaan orang menjadi putus asa karena tidak ada artinya, tidak ada nilai yang baik, dan tidak ada yang memuaskan. Malahan dalam krisis global zaman ini di tanah kita, Papua, menjadi kentara bahwa hidup berdasarkan uang.

Selain nihilisme, sikap fanatik religius yang disebut fundamentalisme mendukung gerakan teror.

Tindakan yang mau memaksakan kebaikan orang lain dengan kekerasan untuk menerima keyakinan diri sendiri tentang kebenaran, merupakan serangan terhadap martabat manusia dan alam semesta yang luhur.

Nihilisme dan fundamentalisme, kedua-duanya melawan kebenaran di tanah Papua.

Nihilisme menolak bahwa ada kebenaran di Papua, sedangkan fundamentalisme mau memaksakan pandangannya akan kebenaran pada orang lain. Kedua-duanya mengungkapkan penghinaan terhadap nilai kebenaran karena itu untuk menuju perdamaian di tanah kita Papua.

Nihilisme menolak bahwa kebenaran ada dan tidak melihat penyelenggaranya yang damai, sedangkan fundamentalisme merupakan penyimpangan dari kebenaran yang penuh kasih, setia, dan belas kasihan. Maka kebenaran di tanah Papua ini diganti dengan berhala.

Setiap kita yang hidup di tanah Papua ini digoda oleh nihilisme. Setiap kali kita down, putus asa, dan tanpa harapan untuk masa depan, setiap kali bertanya, mengapa saya? Mengapa kami? Mengapa semuanya ini terjadi? Depresi dibebaskan oleh egoisme, sukuisme dan, warna kulit kita sangat dikecewakan.

Kalau kita tidak suka sesuatu, lebih baik hal itu tidak ada, kalau susah sedikit, cepat mengeluh, saya mau mati saja lebih baik minum/mabuk, karena hidup saya atau kami tidak sesuai dengan apa yang saya mau atau kami mau, Papua tidak berarti, dan tidak berguna.

Pada dasarnya egoisme dan sukuisme adalah kebencian akan segalanya yang bukan saya atau kami, yang bukan milik saya atau kami, yang tidak di dalam kekuasaan saya atau kami.

Egoisme dan sukuisme adalah sikap tidak menerima kenyataan di luar saya atau kami yang tidak punya. Semua yang bukan saya atau kami mengganggu dan pantas ditolak dan ditiadakan.

Kita bisa bersaksi dengan teror sekurang-kurangnya dalam bayangan kita. Kita dapat bersikap seolah-olah orang lain tidak ada.

Mendiamkan dan menghindarinya dengan seribu alasan yang membenarkan kita. Kita melihat segalanya yang dia buat secara negatif dan menyebarkan pandangan kita pada orang lain dengan gosip—menganggap menganggap sebagai terorisme, suku lain lebih benar dan berharga dibanding dengan suku lain. Warna kulit lain lebih berharga dibanding dengan warna kulit lain. Status lain lebih berharga dibanding dengan status lainnya. Masyarakat lain lebih penting dengan masyarakat lainnya. Ini merupakan tindakan terorisme, nihilisme, dan fundamentalisme, yang mengabaikan (upaya) menuju Papua damai melalui kebenaran.

Kita juga digoda menjadi fundamentalis setiap kali kita merasa bahwa pendapat kita, cara kerja kita, dan pikiran kita adalah yang terbaik dan mutlak benar, sehingga kita ingin memaksakan cara pikir kita pada orang lain.

Di situlah muncul konflik horizontal dan vertikal dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran untuk mewujudkan perdamaian tanah kita, Papua ini.

Setiap kita yang hidup di tanah Papua ini mesti hidup dengan hati yang jujur dalam mengungkapkan sikap-sikap yang jujur untuk mencari perdamaian melalui kebenaran di tanah kita Papua ini. Kita terbuka kepada rahasia yang membimbing alam semesta dan ingin menyembah yang benar yang ditujukan kepada kita.

Kita mesti terbuka kepada sesuatu yang melampaui pengetahuan kita, tidak mengukur kenyataan dengan akal budi sendiri, membuat perjalanan panjang ke tempat asing tanpa tahu pada alamat yang dituju. Kita terbuka pada kenyataan bahwa berdamai melalui kebenaran adalah hal yang berhala bagi terorisme, nihilisme, dan fundamentalisme.

Kehadirannya tidak akan menguntungkan kita secara pribadi, suku maupun warna kulit. Dengan rendah hati kita meminta informasi dari orang lain yang lebih tahu. Segalanya dihargai karena semua menjadi tanda kehadiran kebenaran untuk menuju perdamaian di tanah kita Papua ini.

Kebenarannya mesti kita cari dan ikut bukan memiliki kita sendiri, suku, dan warna kulit, tetapi menjadi tanggung jawab setiap kita yang ada di tanah Papua ini.

Kita mesti meninggalkan (cara) hidup terorisme, nihilisme, dan fundamentalisme, semua kepentingan dan ukuran kita.

Baca juga:

Selamatkan ibu bumi kita Papua

Ada makhluk-makhluk lain, ada kekuasaan-kekuasaan lain yang jahat dan yang baik. Ada perjuangan hebat di mana kita tidak berdaya. Ada perjalanan penuh bahaya dan yang perlu ditempuh. Kita saling membutuhkan tetapi kelemahan kita juga menjadikan bahaya satu bagi yang lain.

Kemenangan tidak tergantung dari diri kita, kekuasaan, kebaikan yang tidak benar dan tidak jujur. Kita masing-masing punya peran, tugas, dan didukung oleh semangat bersama.

Masing-masing kita harus menghadapi penyerahan diri yang terpenting sendiri. Masing-masing harus berani menderita demi kebaikan umum.

Ada lubang yang tidak beralas di dalam diri kita yang gelap dan penuh dengan makhluk yang menakutkan. Kita perlu keselamatan, karena zaman sekarang ini dikuasai oleh kegelapan. Maka kegelapan zaman sekarang ini diterangi melalui kebenaran.

Kebenaran diukur dari kejujuran kita untuk mengatasi terorisme, nihilisme, dan fundamentalisme di tanah Papua ini, agar tanah Papua menjadi tanah damai untuk Indonesia dan dunia. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here