Peran misionaris perempuan dalam perkembangan Gereja Katolik di Papua selatan

0
118
suster PBHK
Pelayanan Suster-Suster PBHK di Papua Selatan zaman dulu -foto/fdnscprovindo.id

Sudah dilihat bagaimana pastor dan bruder bersama dengan guru-guru membawa agama kepada suku-suku bangsa Irian Selatan (sekarang Papua Selatan). Namun masih persoalan yang belum mendapatkan perhatian sepantasnya.

Benar bahwa guru-guru datang dengan keluarganya. Akan tetapi, tidaklah mustahil untuk memperhatikan peranan nyora-nyora yang berani mengikuti suami sampai jauh di pedalaman.

Kesulitan perjalanan, keanehan pergaulan, kesusahan bangsa itu, semua mereka alami juga.

Semangat kerasulan mereka tidak kurang dari pada semangat rohani pria-pria. Sering iman dan sikap religius mereka membuat suami tahan uji dalam situasi yang mengecewakan mereka berdua.

Memang, pekerjaan harian rupa-rupanya tidak luar biasa. Mulai dalam sebuah bevak, kemudian dalam rumah sederhana, urusan ibu menghasilkan suatu suasana hidup sehat dan akrab dalam keluarga.

Dari pagi sampai sore, mama sibuk mempersiapkan makanan, suatu makanan, yang berbeda dari makanan tanah asal. Beras tidak ada, kebun harus dikerjakan terus-menerus.

Membersihkan pakaian, alat dapur dan alat meja, mencari bagaimana membantu guru dalam tugasnya, lalu memberi kesempatan kepadanya beristirahat.

Tambah lagi kenyataan bahwa siang malam penduduk, besar kecil, datang ke dapurnya, meminta-minta atau menukar keperluan hidup. Keramahtamahannya menjamin pergaulan guru-guru demi karya kerasulan bersama.

Kemudian anak-anak lahir, yang perlu dijaga, dipelihara dan dididik siang malam.

Penyakit adalah hal biasa, belum lagi terhitung jumlah anak-anak yang meninggal. Siapakah yang menghibur mereka berdua, jika keluarga tetangga tinggal di kampung lain yang berjauhan? Famili sendiri sulit dihubungi.

Kei, Tanimbar adalah pulau-pulau hampir asing.

Gadis-gadis yang menolong, harus dididik dalam segala-galanya. Pakaian anak-anak sekolah harus dijahit dengan tangan, mesin jahit belum ada.

Nyora-nyora tidak hidup tertutup dalam rumah sendiri, mereka selain berjalan di kampung, memikirkan bagaimana penghuni dapat dibantu, khususnya wanita yang akan bersalin.

Harapan para ibu ini adalah mama nyora. Penyakit epidemi harus diberantas dan hal itu semua dibuat tanpa diketahui orang luar. Tidak dinantikan supaya dipuji, semuanya itu bisa toh!

Bilamana pastor datang, nyora menjadi ibu pastor juga. Pastor berbeda paham dengan guru, malahan bertengkar mulut, nyora meredakan situasi suami dan memberi tahu bagaimana berbicara dengan pastor supaya kerja sama dapat lancar kembali.

Peranan nyora-nyora berlangsung tanpa menonjolkan diri tetapi dengan tekun bertahun-tahun lamanya. Terima kasih mama atas jasamu.

Di Merauke pada tahun 1928, tiba suster-suster, yang pertama anggota-anggota dari Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (PBHK). Yang pertama datang adalah Sr. Adriana, Sr. Christina dan Sr. Xaveria.

Mereka dijemput dengan segala hormat. Rumah biara sederhana sudah tersedia. Anak-anak sekolah meniup suling waktu suatu pawai mengantar mereka dari dermaga ke gereja.

Uskup Yohanes Aerts, MSC dan Pater Verhoeven bersama dengan pegawai pemerintah menjabat tangan mereka, suatu hal yang tidak dapat mencegah suster-suster melihat bahwa di sekeliling mereka berdiri rombongan penduduk asli, telanjang bulat, hanya dicat dan dihias.

Mereka saat ini insyaf bahwa sudah tiba di Irian Jaya, tugas boleh dimulai. Suster-suster membuka asrama, tetapi dengan segera mengalami bahwa anak-anak Irian sulit diatur atau diurus. Tata tertib, disiplin, duduk tenang, belajar apa-apa tidak gampang menjadi hal biasa.

Kesabaran, maju langkah demi langkah, dituntut agar dapat mengharapkan suatu perkembangan di masa depan. Sampai tahun 1950, suster-suster hanya bekerja di Merauke. Kemudian mereka masuk juga ke pedalaman.

Cerita-cerita tentang perkembangan agama di daerah Muyu dan Mappi menyangkut kenyataan bahwa perang dunia yang dahsyat itu mengamuk di seluruh muka bumi. Di daerah Muyu, kekurangan materiil menghantam tenaga sekalian, karena transpor barang macet secara total.

Untunglah waktu hubungan dengan kepulauan Maluku diputuskan, Pater Hoeboer berani mulai mendidik guru asli Irian.

Di daerah Mappi kemerosotan kewibawaan pemerintah mengakibatkan adat pengayauan kembali dengan hebat. Daerah yang paling menderita adalah Pantai Mimika, yang diduduki tentara Jepang. Penduduk setempat dikenai kerja paksa secara kejam dan tidak manusiawi.

Situasi Merauke belum dibicarakan. Hanya diberitahukan bahwa pengeboman oleh Jepang merusakkan gedung-gedung Misi dan pastor pastor harus mengungsi ke kampung Buti.

Waktu itu Merauke pertama-tama mengalami kedatangan arus pelarian dari Hindia-Belanda, ialah orang-orang yang melarikan diri ke Australia. Di Australia didirikan suatu pemerintahan dalam pembuangan.

Pedagang-pedagang menyembunyikan cadangan barang mereka dan harga gula, garam, tembakau tak dapat dibayar lagi oleh penduduk asli.

Para guru mengalami bahwa pembayaran gaji mereka dihentikan. Dengan sendirinya adat Marind berkembang kembali. Rambut diperpanjang lagi, ritual dirayakan lagi, wanita-wanita disalahgunakan seperti dahulu kala.

Hal ini semua terjadi sesudah karya misi berlangsung, ingat program desa teladan, lebih dari 35 tahun, dan pesta permandian sudah dirayakan di pantai dan di pedalaman. Padahal sekarang orang serani berbuat begitu.

Kekurangan makanan di Merauke memaksa pemerintah menuntut agar sagu dikumpulkan di kampung-kampung dan dibawa ke Merauke; sedangkan dari distribusi beras penduduk asli dikecualikan. Sagu mereka dibayar dengan harga adil.

Misi Merauke menerima dengan ramah-tamah tentara sekutu, tetapi keamanan menghendaki bahwa suster dan bruder berangkat ke Australia; anak-anak asrama harus pindah ke pedalaman. Suatu catatan dalam buku harian amat mengesankan.

Waktu bantuan sekutu tiba di Merauke, Misi hanya mohon diberi tepung, agar hostia untuk kurban misa dapat dibakar lagi.

Pada tahun 1943, kampung Kimaam dihujani bom tiga kali. Nyaris Pater Thieman terbunuh. Syukurlah ia luput.

Pemberontakan penghuni yang menyusul, hanya oleh pastor hal itu dapat diredakan.

Pemerintah Belanda mulai membangun kembali kota Merauke pada tahun 1944 dan meminta bruder-bruder dipanggil pulang dari Australia ke Merauke.

Bruder Tops dan Br. Galliart mendirikan kembali rumah sakit dan tangsi, sedangkan Br. van Dam mencoba menghidupkan kembali perusahaan kopra di perkebunan Misi di kolam-kolam Okaba.

Namun tukang-tukang Br. Galliart dibayar terlalu kurang dan untuk transpor kopra tidak ada kapal. Baiklah, bahwa Pater Hoeboer dan Pater Grent di Australia memikirkan masa depan dan berhasil mencetak secara baru buku-buku agama dalam bahasa Irian itu.

Akhirnya juga pemerintah mulai menghargai kesetiaan orang Irian serta bantuan yang telah mereka berikan dalam situasi darurat ini. Suatu jumlah yang besar dari penduduk asli diberikan tempat pemukiman, di samping sekolah dan asrama anak-anak, dibangun suatu lembaga pendidikan pegawai asli Irian.

Pater Verschueren memperoleh subsidi untuk membangun sekolah pertaniannya di Sula dekat Erambu di Sungai Maro.

Tidak mungkin mengakhiri pembicaraan tentang perkembangan agama Katolik di Keuskupan Agung Merauke tanpa mendengar juga pendapat orang Irian sendiri tentang perkembangan itu.

Dengan gampang dikatakan: akhirnya mereka bertobat dan menjadi serani karena mereka dipengaruhi dari luar, perlahan-lahan melihat untung dan kebaikan mengikuti perubahan zaman dan setuju mengubah pola hidup mereka.

Namun sudah dilihat bahwa perubahan zaman itu tidak berjalan sedemikian lancar dan minta waktu beberapa generasi. Oleh sebab itu boleh dikatakan: mengapa suku-suku bangsa itu melawan sedemikian lama perubahan pola hidup mereka, dan apa sebabnya, sekurang-kurangnya generasi muda akhirnya menerima perubahan itu, pada waktu mereka sendiri menjadi orang dewasa!

Agak sulit untuk memperoleh suatu jawaban langsung dari penduduk sendiri, yang belum biasa dengan suatu analisa ilmiah tentang diri sendiri. Dua orang ahli, yang hidup dan bekerja lama di tengah mereka, sudah mencoba merumuskan suatu jawaban atas dua pertanyaan tersebut.

Ahli ahli itu ialah Dr. J.van Baal, peneliti adat istiadat Marind, waktu beliau sebagai pegawai pemerintah di Merauke, 1937 – kemudian menjadi Gubernur dan Pater Verschueren.

Justru pandangan pater ini diakui inspiratif oleh teman-temannya, khususnya adik-adiknya para pastor muda.

Doktor J.van Baal lebih memperhatikan generasi tua. Katanya: orang dewasa menghadapi kenyataan bahwa pola hidup asli mereka dihancurkan oleh pemerintah maupun misi.

Orang Marind tidak diizinkan lagi merayakan pesta-pesta erotis mereka. Namun “anim-ha” itu berpendapat bahwa dunia mereka, yaitu dunia dema, totem dan tatanan masyarakat sesuai dema dan totem itu, akhirnya tidak dapat dipertahankan, jika kesuburan dunia asli itu tidak boleh dipupuk oleh kejantanan dan kewanitaan mereka sendiri.

Kebudayaan itu menguasai juga wilayah pedalaman dari sungai Maro, Kumbe dan Bian, lagi pula Pulau Kimaam.

Orang Mappi mengalami bahwa adat-istiadat mereka, yang menuntut keberanian yang dibuktikan pada pengayauan, tidak diakui lagi sebagai sumber daya hidup dan basis kewibawaan dalam masyarakat.

Orang Muyu dipaksa melepaskan kebudayaan rumah tinggi di hutan, sedangkan sanksi terakhir atas pola hidup, yaitu pembunuhan tersembunyi, dicabut dari tangan mereka oleh pemerintah dengan hukuman penjara.

J.van Baal berpendapat, bahwa suku-suku Irian mengalami bahwa dunia kecil dan sempit mereka tidak laku lagi dalam bentuknya yang asli. Maka mereka mulai mencoba membangun suatu dunia baru, di mana apa yang mereka miliki dihargai, yaitu mengurus hidupnya sendiri, dapat dipertahankan.

Dunia baru, artinya pola hidup dalam bentuk baru, harus kembali menjadi suatu dunia milik mereka sendiri, sebab suatu dunia yang masih asing, yang diatur oleh orang-orang lain dan diurus berdasarkan hukum yang lain, tidak diakui dan diterima.

Mereka bersikap konservatif, hanya bersedia menggunakan alat dan pakaian baru dalam kehidupan tradisional mereka.

Pater Verschueren mengakui bahwa ada kebenaran dalam pandangan van Baal, tetapi beliau berpendapat bahwa pandangan itu berat sebelah.

Menurut pengalamannya sendiri bahwa orang Irian memikirkan jauh lebih dalam dan jauh lebih ke depan. Problem orang Irian dirumuskan demikian:

Justru keyakinan iman mereka, kepercayaan mereka bahwa pola hidup nenek moyang merupakan kebenaran mutlak, digoncangkan. Bukan hanya suatu hidup baru dengan segala gejala kelahiran baru dipertontonkan kepada mereka, melainkan hidup baru itu ditawarkan bersama dengan suatu iman dan kepercayaan baru. Dan lagi, pendatang tidak hanya hidup lebih kaya melainkan juga lebih tenteram dan berbahagia. Mungkin nenek moyang mereka lebih pintar dan lebih bijaksana.

Khusus generasi muda, melihat contoh hidup pastor dan keluarga guru dan mengalami kebaikan hati dan kerelaan membantu tanpa tuntutan imbalan, walaupun mereka berbahasa lain.

Bagi orang muda nampak suatu dunia yang sungguh-sungguh baru. Mereka tertarik kepadanya.

Namun mereka hidup di antara dua dunia, yaitu dunia lama dari orang tua mereka dan dunia baru dari para pendatang.

Menurut pengalaman Pater Verschueren, pemuda dan pemudi yang terbaik mulai berjuang masuk benar-benar ke dalam dunia baru itu. Sering masih bingung, sering menempuh jalan yang ternyata buntu, tetapi dunia baru adalah sasaran perjalanannya.

Apa yang tepat sama dengan orang tua dipertahankan oleh mereka, yaitu bahwa mereka menerima dunia baru itu. Nekad juga, bertentangan dengan orang tua, melihat ke masa depan. Menerima dipermandikan dan melepaskan adat lama, sejauh adat itu berlawanan dengan pola hidup baru, selalu merupakan suatu keputusan pribadi.

Mereka mondar-mandir antara zaman dulu dan masa depan, tetapi mencari jalan untuk mengambil bagian, berpartisipasi dalam zaman modern. []

Diringkas dan disalin kembali oleh, Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Referensi:

Keuskupan Agung Merauke, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan”, Merauke; 1995

Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat Jilid II

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here