Penyebar hoaks: Cerminan jati diri palsu

Begitu banyak berita beredar di media sosial (medsos). Pencari berita dan para penggemar informasi baru terbahagiakan dengan adanya berita-berita yang terkirim ke ponsel pintar. Tentu banyak yang diperlukan sebagai referensi bacaan dan ada pula yang dipakai sebagai pencerah, inspirasi kehidupan.

Resah, gelisah dan cemas tentu dialami ketika informasi yang muncul di ponsel pintar itu adalah hoaks. Arus viralnya informasi hoaks itu sudah laju dan susah dikontrol lagi. Efeknya sangat banyak.

Jika spirit hoaks adalah membunuh karakter orang lain, betapa dahsyatnya kehancuran pribadi yang disasar oleh penyebar hoaks ini. Fitnah dan kebencian yang diakibatkannya pasti sangat mengganggu dan berakibat buruk bagi pribadi yang disasar.

Siapapun yang terlibat dalam meneruskan hoaks pasti juga turut merasa bersalah, karena menyebarkannya tanpa diketahui hoaks atau tidak. Tidak tahu soal hoaks atau bukan hoaks tergantung tingkat pendidikan dan kesadaran seseorang tentang suatu informasi.

Pribadi yang suka hoaks dan menyebarkannya sudah pasti punya penyakit mental, asosial dan amoral. Dalam dunia nyata pribadi yang suka berkata bohong pasti tidak disukai dalam pergaulan sosial. Di medsos orang seperti ini seringkali anonim, tidak punya identitas pasti.

Produksi hoaks dalam medsos di era milenial, sepertinya sudah menembus batas ruang dan waktu. Bahwa ada oknum yang senang jika orang lain menderita, senang membunuh karakter orang lain.

Tujuan terburuk adalah tercapainya hidden agenda pemilik pabrik hoaks. Hidden agenda ini cukup susah dideteksi oleh kaum awam.

Hanya aparat keamanan yang bisa mendeteksi apa tujuan hoaks yang disebar. Pasti diawali kajian serius terkait sumber dan kesamaan data, arah data dan kemana data hoax ini disasar.

Ada yang berorientasi pada pembunuhan karakter, fitnah, dan ada pula yang berorientasi politis, penyebaran paham tertentu, dan pengkondisian situasi.

Penggemar hoaks sudah pasti sedang berusaha memporak-porandakan bangunan dan rumah, yang punya sistem sosial dan sudah tertata dengan baik, dalam seluruh segi kehidupan.

Niat dan aksi negatif berkedok informasi tertentu di medsos tentu tercipta oleh kaum tak berperikemanusiaan, kaum yang tidak memiliki keutuhan pribadi. Jati diri palsu. Tentu Ini timbul karena minusnya pemahaman agama, minus etika dan minus pemahaman tentang pentingnya hidup rukun dan damai.

Menangkal dan mencegah arus informasi hoaks tidak lain adalah membentengi diri dari semua informasi. Semua informasi perlu diendapkan, dan disteril terlebih dahulu sebelum memviralkannya.

Data yang masuk di ponsel pintar tidak semua harus diviralkan. Yang baik dan benar boleh diteruskan. Yang berpotensi tidak baik dan tidak benar dihapus saja atau tidak diteruskan kepada siapapun. Sangat bagus jika ada usaha chek and rechek dengan sesama tentang suatu informasi.

Menteri Rudyantara mengatakan bahwa mencegah hoaks adalah tanggung jawab semua orang. Semua diajak untuk cerdas mengolah semua informasi. Semakin cerdas seseorang mengolah informasi, semakin cerdas pula ia bertutur dan bersikap dalam berkehidupan sosial.

Hematku jika semua orang hanya menyebarkan informasi sebatas dan pasti yang diketahuinya saja, maka efeknya pasti bisa dipertanggungjawabkan. Semua yang mencantumkan nama dan alamat lengkap sumber informasi sajalah yang boleh disebarkan kepada publik. Yang anonim, tanpa nama sebaiknya dengan penuh hati-hati menyebarkannya.

Ketelitian, kepekaan dan kejelian dalam mengolah informasi pada zaman milenial sudah merupakan keniscayaan. Kebenaran dalam menyikapi semua informasi yang ada, sangat membantu mencerdaskan siapapun di Indonesia ini.

Indonesia sangat membutuhkan pribadi yang punya jati diri yang utuh dan murni. Ini sangat bisa dilakukan jika nilai-nilai pancasila dan UUD 1945 masih kukuh, kuat dan teguh dimiliki oleh semua pribadi di NKRI. []

Foto: Kominfo mencatat penyebaran informasi hoaks melonjak saat Pemilu – CNN Indonesia/Andry Novelino

Penulis: Geradus Wen, PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi, Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *