“Para Pembunuh Tuhan” ala Nietzsche

0
84
Nietzsche
Tantangan bagi orang-orang beriman jika diperhadapkan dengan ateisme Nietzsche, kiranya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Nietzsche sendiri, yaitu kehendak bebas (berkuasa) manusia beriman diperhadapkan dengan kemahakuasaan Tuhan - flickr.com

Tak seorang pun di dunia ini yang sudah pernah berjumpa atau bertemu dengan Tuhan secara langsung. Tetapi entah kenapa, orang senantiasa berharap kepada-Nya dan mengagung-agungkan Dia? 

Tidak hanya itu, di seluruh dunia, dari dulu hingga saat ini dan juga seterusnya manusia akan senantiasa mewartakan tentang Dia. Manusia juga tahu bahwa Dia adalah yang mahabaik, mahakasih, penyayang, dan lain sebagianya. 

Manusia tahu tentang Tuhan yang tidak pernah mereka temui dan jumpai secara langsung. 

Mungkinkah manusia sebelumnya sudah pernah mengalami kedekatan dengan Tuhan, sehingga mereka tahu tentang Dia dan bahkan senantiasa berharap kepada-Nya? Ataukah pengetahuan manusia tentang Tuhan sekadar pengetahuan saja? 

Ataukah pengetahuan itu ada karena manusia mengalami kedekatan dengan Tuhan? Lantas dimana manusia mengalami kedekatan dengan Tuhan itu?

Pada tulisan ini penulis akan memperkenalkan pemikiran Friedrich Nietzsche (1844-1900), filsuf Jerman yang muncul abad ke-19. 

Tulisan-tulisannya dikenal sangat kritis, tajam dan menyakitkan. Jika Anda bertanya apakah Tuhan ada? Tentu ia akan menjawab  tidak ada, “Tuhan telah mati”. 

Nietzsche begitu terusik dengan eksistensi Tuhan dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Nietzsche beranggapan bahwa kepercayaan akan Tuhan mempermiskin kehidupan manusia. 

Mari kita simak alasan mengapa Nietzsche begitu “membenci eksistensi Tuhan”. Ada dua alasan besar mengapa Nietzsche mengatakan Allah telah mati. 

Pertama, pemahaman Nietzsche tentang kehendak berkuasa. Nietzsche beranggapan bahwa eksistensi manusia sebagai sebuah proses yang dikarakterisasi oleh kehendak untuk berkuasa. 

Sesungguhnya kehidupan adalah sekadar untuk berkuasa. Individu memiliki bakat dan kemampuan yang bervariasi. Pandangan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa ini akan berbenturan dengan eksistensi Tuhan, karena selama Tuhan ada, maka tentu manusia tidak akan dapat berkuasa. 

Manusia tetap menjadi “budak”, karena segala-galanya akan diatur oleh Tuhan, manusia harus mengikuti kehendak Tuhan, bukan kehendaknya sendiri.            

Realitas demikian menurut Nietzsche, membuat manusia menjadi tidak bebas oleh karena tindakan yang dilakukan oleh manusia merupakan intervensi dari Allah.

Jadi, seolah-olah manusia menjalankan apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Manusia bertindak bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan karena intervensi dari pihak Allah. 

Supaya manusia dapat bebas dalam bertindak, maka Tuhan harus “dilenyapkan” atau ditegaskan bahwa Tuhan telah mati, supaya dengan demikian manusia itu dapat berkuasa, dan pada akhirnya bisa bebas dalam menentukan nasib dan tindakannya; tidak lagi mendapat intervensi dari Tuhan, melainkan oleh karena atas kehendaknya sendiri;

Kedua, Nietzsche melihat orang-orang sezamannya seolah-olah hidup tanpa Tuhan. Perkembangan sains dan teknologi telah menggerogoti ide tentang ketergantungan manusia pada Tuhan, dan menggantikan konsep itu dengan kepercayaan baru pada kekuatan manusia dan kemungkinan kemajuan melalui usaha manusia semata.

Selain itu, kritik filosofis dari argumen teologis dan konflik yang senantiasa hadir antara munculnya kejahatan dan penderitaan dengan penegasan tradisional tentang kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan. Kombinasi antara faktor-faktor itu telah membawa perhatian manusia pada dirinya dan dunianya serta terlepas dari Tuhan (John K.Roth, 2003: 312).

Menurut Nietzsche orang-orang sezamannya telah membunuh Tuhan. “Pembunuhan” Tuhan ini dianalogikan dengan sebuah kisah:

Ada seorang gila pada siang hari berlari menuju ke pasar sambil membawa pelita dan berseru “saya mencari Tuhan! Saya mencari Tuhan!” Tindakan si gila ini menimbulkan tawa dari orang-orang yang ada di pasar tersebut. Dalam kelucuan itu, orang-orang kemudian bertanya kepada si gila “apakah Tuhan telah hilang, atau bersembunyi ataukah telah pergi?” Orang gila itu kemudian menjawab “Tuhan telah mati dan kita telah membunuh-Nya.

Analogi ini memperlihatkan gambaran pasar yang penuh dengan hiruk-pikuk dan kesibukan. Eksistensi Tuhan jelas terkubur dalam hiru-pikuknya pasar tersebut. Orang tidak lagi sempat berpikir tentang Tuhan dalam suasana demikian, dan karena itulah Nietzsche menyimpulkan bahwa kita (manusia pasar) telah membunuh Tuhan.

Tuhan tidak lagi dipikirkan oleh manusia karena hiruk-pikuknya kehidupan mereka. Titik tolak perhatian mereka adalah diri mereka sendiri, bukan lagi Tuhan. Kedua alasan ini menjadi pemicu munculnya ateisme Nietzsche.

Alasan pertama mengindikasikan lahirnya penyangkalan terhadap Tuhan dengan cara yang terkesan “disengaja” (pura-pura atau menganggap Tuhan tidak ada atau mati), supaya dengan kematian-Nya manusia kemudian dapat berkuasa (bebas untuk menggunakan kehendaknya).

Alasan kedua lebih mengarah pada penilaian Nietzsche terhadap orang-orang yang hidup pada zamannya, yang mana karena kemajuan sains dan teknologi dianggap dapat menggantikan peran Tuhan.

Akibat kemajuan itu, manusia tidak lagi sibuk mengurus relasinya dengan Tuhan melainkan lebih mengarahkan pandangannya pada kemajuan itu. Melihat realitas demikian, Nietzsche kemudian berkesimpulan bahwa orang-orang sezamannya telah membunuh Tuhan.

Perilaku orang-orang sezamannya itu dilihat sebagai tindakan mengabaikan Tuhan. Mungkinkah zaman kita juga telah membunuh eksistensi Tuhan? 

Penegasan Tuhan telah mati berhadapan dengan kaum beriman. Tantangan bagi orang-orang beriman jika diperhadapkan dengan ateisme Nietzsche, kiranya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Nietzsche sendiri, yaitu kehendak bebas (berkuasa) manusia beriman diperhadapkan dengan kemahakuasaan Tuhan.

Orang-orang Kristen ditantang untuk menggunakan kebebasannya di hadapan Tuhannya. Apakah kaum beriman akan tetap merasa bebas menggunakan kehendaknya jika diperhadapkan dengan kemahakuasaan Tuhan? Dan apa sebenarnya landasan dari kebebasan yang dimiliki oleh kaum beriman itu?

Dalam kitab suci orang-orang Kristen, pada dasarnya manusia telah diperhadapkan dengan kemahakuasaan Tuhan. Hal ini dapat kita telusuri dalam Kejadian 3:1-24.

Dalam kisah itu, manusia pertama diberikan kebebasan untuk menyantap semua jenis buah-buahan yang ada di dalam taman Eden, kecuali ada satu pohon yang tidak boleh dimakan, diraba pun tidak boleh (Kej 3:3).

Larangan ini, kiranya memperlihatkan bahwa kebebasan itu sifatnya “terbatas”. Sifat keterbatasan itu didukung dengan realitas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, oleh karena itu pasti terbatas. Keterbatasan itu adalah konsekuensi sebagai ciptaan dan tidak akan mungkin bisa menyamai penciptanya. 

Realitas ini bisa disandingkan dengan perkataan Yesus yang juga pernah hadir dalam kehidupan nyata sebagai seorang manusia (lahir, hidup dan mati serta bangkit): “Aku berkata kepadamu sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya” (Yoh 13:16).

Inilah kiranya yang mesti dipahami oleh manusia akan keberadaannya sebagai makhluk ciptaan yang terbatas dalam menggunakan kehendak bebasnya, bahwa tidak semua hal dapat dilakukan dengan sebebas-bebasnya, ada batasan-batasan tertentu yang mesti diperhatikan.

Kehendak bebas untuk berkuasa dalam arti negatif (menindas/menguasai) tentu bertentangan dengan iman Kristen, oleh karena itu kebebasan dalam arti demikian tidaklah dibenarkan, karena arti kebebasan yang sesungguhnya adalah sebuah kehendak atau pun tindakan yang dapat menghasilkan keselamatan, baik untuk pribadi tetapi juga secara bersama.

Letak kesalahan manusia pertama (Adam) persis terletak pada penggunaan kebebasannya itu. Ia tidak mengindahkan larangan yang terkandung di dalam kehendak bebasnya. Sebagai akibatnya, manusia pertama kemudian merasa tidak bebas lagi (adanya perasaan takut) pada Tuhan.

Andai kata manusia pertama itu mengindahkan apa yang dikatakan oleh Tuhan, tentu ia akan tetap merasa bebas di hadapan Tuhan. Ia tidak akan takut untuk hidup di hadapan-Nya.

Jadi sebenarnya dasar atau landasan kebebasan kaum beriman terletak dalam keserasian tindakan dengan ajaran-ajarannya (amanat dari Tuhannya) itu sendiri.

Tindakan bebas di sini dilihat sebagai semacam “upaya atau usaha,” sedangkan ajaran-ajarannya boleh dikatakan sebagai “keselamatan”. Jadi untuk memperoleh keselamatan itu, kaum beriman mesti menggunakan kebebasannya sambil tetap menjaga keserasian dengan ajaran-ajaranya (amanat Tuhannya).

Oleh karena itu, kebebasan kaum beriman menjadi berarti apabila ia memperoleh keselamatan, baik secara pribadi tetapi terlebih secara bersama.    

Tuhan telah mati, kita telah membunuh-Nya. Kematian Tuhan yang dimaklumkan oleh Nietsche terkait dengan perilaku orang-orang zesamannya kiranya juga masih amat relevan dengan kehidupan orang-orang zaman ini.

Kebisingan kehidupan globalisasi, informasi dan ekonomi pasar pada dunia masa kini, keseharian yang hiruk pikuk telah menjadi kebiasaan bagi kebanyakan orang.

Sikap mendewa-dewakan tubuh, pertarungan kapital yang tidak sehat, mengutamakan karier dan kekuasaan telah mengubur kecemasan eksistensial orang kebanyakan dalam timbunan kesibukan. Karena itu pantaslah apabila Nietszche bertanya “kemanakah Allah? Kita sudah membunuhnya, kalian dan aku. Kita semua pembunuh.”

Kondisi modern telah menanduskan kehidupan ilahi. Akankah orang tidak lagi terbuka pada dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari dan terus menjadi kerumunan nomad? Telah hilangkah yang mistis? (F. Budi Hardiman, 2003: 1).

Kita (para pembaca dan mereka yang ada di sekitar kita) adalah orang-orang yang hidup dalam dunia modern, dunia yang telah mengutamakan kemajuan teknologi yang tidak lain adalah produksi atau hasil karya manusia itu sendiri.

Oleh karena kemajuan yang dihasilkan manusia itu, bisa jadi menyababkan Tuhan tidak lagi dibutuhkan perannya dalam kehidupan. Titik tolak tidak lagi mengarah kepada Tuhan, tetapi kepada manusia itu sendiri.

Dalam kenyataan seperti itu, kiranya manusia tetap menyadari bahwa setiap pribadi adalah ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan maka akan tetap ada unsur keterbatasannya.

Unsur keterbatasan inilah yang kiranya bisa menjadi jambatan bagi manusia menuju kepada Tuhan yang sempurna, yang tidak memiliki kekurangan atau keterbatasan sedikit pun.

Manusia mestinya bisa belajar dari dirinya sendiri yang mampu mempertanyakan keterbatasannya-keterbatasannya. Dalam hal ini manusia bisa merujuk atau belajar pada Rene Descartes (filsuf Prancis) dan Karl Jasper (filsuf Jerman) yang mempertanyakan keberadaan mereka sendiri.

Descartes melihat manusia (dirinya) sebagai kodrat yang bertanya, oleh karena itu ia adalah sebuah ketidak-sempurnaan (terbatas). Refleksi dia terhadap ide kesempurnaan itu, membimbingnya sampai pada salah satu bukti dari eksistensi Allah.

Descartes tahu, dengan berbagai kesaksiannya, bahwa ia bukanlah sebuah ada yang sempurna. Ia kemudian menyimpulkan bahwa ide tentang kesempurnaan pasti tidak pernah datang dari dirinya atau dari ada yang tidak sempurna lainnya. Ide tersebut hanya datang dari sesuatu yang sempurna, yang ia sebut Allah.

Allah adalah ide tentang kenyataan dengan semua kesempurnaan-Nya. Eksistensi adalah bentuk kesempurnaan, begitu juga Allah niscaya ada. Eksistensi itu ada di dalam konsep tantang Allah. Jika kita sungguh mengerti ide tentang Allah, kita harus menerima bahwa Allah itu ada (James Garvey, 2010: 67).

Sama halnya dengan Descartes, Karl Jasper menerima eksistensi Allah dengan bertitik tolak dari dirinya sendiri, ia mempertanyakan eksistensinya sendiri:

“Meskipun saya mendapat pengertian lebih baik tentang keberadaan saya, namun masih tetap tinggal pertanyaan tentang ‘Ada’ yang sebenarnya. Ada dari dunia tidak sama dengan segenap ada karena masih terdapat ‘Ada’ yang lain, yang melingkupi dunia dan manusia yaitu Yang Transenden yakni Allah. Yang melingkupi itu seolah-olah merupakan dasar bagi saya serta dunia dan serentak juga mengatasi kedua-duanya. Yang melingkupi segala-galanya adalah Allah, semacam super-Ada, misterius, tak terperikan dan tak mungkin diobjektivasi. Akan tetapi, selain dalam suatu permenungan metafisis, saya terutama dapat menghubungi Allah secara eksistensi dan dengan penuh tawakal mengarahkan diri kepada-Nya” (P.A van der Weij, 2000: 142).

Kemajuan pemikiran manusia modern, kiranya tidak dapat menggantikan eksistensi Tuhan, karena bagaimanapun juga kemajuan yang diciptakan oleh manusia itu memiliki unsur-unsur keterbatasan (tidak mampu merangkum semua hal yang ada dalam dunia hidup).

Oleh karena itu, manusia yang menjadi penyebab kemajuan itu tetaplah terbatas, ia bukanlah kesempurnaan yang sesungguhnya. Maka dari itu, mereka mestinya mengakui akan adanya realitas sempurna yakni Tuhan.

Dialah yang melingkupi segala-galanya. Ia seperti super-Ada, misterius, tak terperikan dan tak mungkin diobjektivasi. Manusia hanya butuh berserah kepada-Nya. Selamat mendatangkan Tuhan dalam diri Anda, di dunia yang penuh dengan kebisingan ini. []

Penulis: Sdr. Domisius Wandi Raya, OFM, biarawan Fransiskan, sedang menjalani masa Tahun Orientasi Karya (TOK) di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena-Jayapura, Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here