Pandemi covid-19 dalam perspektif teologi pengharapan

0
66
Covid-19
Ilustrasi - Foto/Pixabay

Pandemi covid-19 merupakan virus yang pertama kali ditemukan atau terdeteksi di Wuhan, China. Seseorang berusia 55 tahun dari Provinsi Hubei, China diduga adalah orang pertama yang tertular covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru yang telah tersebar di seluruh dunia. 

Penelusuran media South China Morning Post menemukan 17 kasus awal yang terdeteksi pada 17 November 2019 (m.detik.com, 6 Mei 2020).

Virus ini menyerang paru-paru manusia. Gejalanya mirip seperti orang yang sakit pneumonia. Hingga saat ini covid-19 telah merebak hampir di seluruh dunia sehingga kemudian menjadi pandemi yang menakutkan. 

Negara-negara yang paling parah terdampak pandemi ini adalah China, Italia, Amerika, dan masih banyak negara lagi yang terkena dampak covid-19 ini, termasuk Indonesia. 

Dalam masa pandemi ini tentunya jumlah korban yang berjatuhan tidak sedikit. Data dunia menunjukkan bahwa manusia yang terpapar akibat wabah ini sudah mencapai hingga 2 juta orang (bdk. Data dari Coronavirus Global Cases. John Hopkins University, Wikipedia.com).

Hal ini kemudian menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia, sehingga menyebabkan aktivitas manusia secara global menjadi terhambat. 

Semua orang dihimbau untuk tinggal di rumah dan bekerja dari rumah–kini memasuki new normal

Sekolah-sekolah dan perkantoran diliburkan. Pembatasan aktivitas mulai diberlakukan di mana-mana. Hal ini demi mencegah penyebaran covid-19 yang semakin mengganas. 

Dalam situasi penderitaan dan ketidakpastian akan kapan berakhirnya wabah ini, teologi pengharapan diperhadapkan dengan situasi yang demikian. 

Manusia menjadi takut dan kehilangan harapan. Orang menjadi tidak optimismis.

Banyak stigma yang dikenai pada mereka yang terdampak. Telah terjadi penolakan di mana-mana bagi mereka yang menjadi pasien maupun mereka yang telah berkontak dengan pasien covid-19 atau para tenaga medis (Beritasatu.com, 19 April 2020).

Mereka dianggap sebagai orang-orang yang menyebabkan penderitaan orang lain. 

Dalam hal ini mereka dicurigai akan menularkan covid-19 kepada yang lain sehingga mereka ditolak. Hal ini menyebabkan mental mereka begitu terpuruk. 

Situasi penderitaan dan kematian akibat covid-19 membuat manusia lalu bertanya-tanya dimanakah Allah? Mengapa Allah begitu terasa jauh dari kehidupan manusia? Mengapa Allah meninggalkan manusia sendiri dalam penderitaan? Jika Allah itu memang ada mengapa manusia harus menderita bahkan terkena wabah yang mengerikan?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang kemudian mengguncang iman, harapan dan kasih bagi orang Kristiani. 

Keutamaan teologal orang Kristiani ini diperhadapkan pada situasi yang sulit sekarang ini. Kita menjadi marah kepada Allah, seolah-olah Allah tidak berpihak pada kita. Allah tidak menolong kita dan membiarkan kita sendirian. 

Dalam situasi demikian inilah kita akan mencoba merefleksikan sejauh mana teologi harapan memberikan kepastian akan kehadiran Allah dalam pergumulan hidup kita. 

Membongkar derita dengan pengharapan

Penderitaan dan kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Haruslah dipahami dalam konteks kekristenan bahwa orang Kristiani menjadi kuat dalam penderitaan karena memiliki harapan. 

Harapan memampukan orang beriman untuk terus mengasihi Allah dalam segala persoalan yang dihadapinya. 

Berkaitan dengan situasi covid-19 saat ini manusia memang diperhadapkan pada situasi penderitaan. Situasi di mana wabah ini membuat manusia tidak berkutik. 

Manusia tidak mampu mengandalkan diri sendiri melainkan sifat spiritual manusia mengarahkan dirinya untuk keluar dari kekuatan dirinya dan melihat kekuatan lain di luar dirinya yakni Allah. 

Dalam penderitaan yang luar biasa ini, kisah Ayub (Ayub 1-2) menjadi rujukan yang tepat untuk diteladani oleh umat kristiani saat ini. 

Ayub mengajarkan kita untuk tetap bertahan pada situasi penderitaan sambil terus berharap akan pertolongan Allah. 

Bertahan dalam penderitaan bukan berarti kita bersifat naif, melainkan dengan iman yang kita miliki kita berusaha keluar dari dalam penderitaan menuju pada kesempurnaan kebahagiaan bersama Allah. 

Kitab Ayub mengajarkan tentang pentingnya persahabatan dalam penderitaan, khususnya tentang bahasa nasihat yang terlalu sederhana atau naif, ataupun penghiburan palsu. 

Dalam hal ini Ayub tidak memperlihatkan bahwa ia menyerah terhadap penderitaan namun karena imannya ia lalu berserah pada Allah. 

Ia tetap yakin bahwa Allah penyelamat dan penolong akan menyelamatkannya. 

Dalam situsasi penderitaan Ayub tidak berpaling dari Allah. Justru ia semakin kuat dan terus memupuk pengharapan dalam kasih Allah. 

Kesetiaan Ayub kepada Allah adalah kunci Ayub dalam menghadapi penderitaan. Dengan demikian, harapan akan penyelamatan dalam Allah sungguh terjadi dalam kisah Ayub (bdk.Lasor, dkk., 2001: 142).

Dalam penderitaan dan situasi maut umat Kristiani diajak untuk terus menghayati harapan dengan sungguh-sungguh. 

Iman yang dimiliki seharusnya menjadi senjata utama dalam berpengharapan kepada Allah. Sambil menantikan keselamatan yang datang dari pada Allah sendiri, umat manusia harus terus menerus memupuk kerinduan, sambil tetap percaya dengan bertekun pada kehendak Allah. 

Karena jelaslah bagi umat Kristiani bahwa pengharapan merupakan penjabaran iman, dan iman menghindarkan kita dari bahaya yang melayang-layang di angkasa khayalan subjektif-psikologis atau objektif-apokaliptif. 

Senada dengan itu Moltmann mengatakan bahwa pengharapan memampukan kita memikul salib sekarang (Dister, 2004: 539).  

Pergumulan iman manusia dalam menghadapi pandemi covid-19 saat ini adalah persoalan keterlibatan. 

Panggilan untuk terlibat adalah cara kita membongkar derita dengan iman dan harapan yang kita miliki. 

Dengan memiliki iman dan harapan yang besar dalam situasi penderitaan ini kita diajak untuk terlibat. Iman kita percaya bahwa karena kasih-Nya akan dunia ini Allah telah terlibat untuk menyelematkan manusia dari kejatuhan dosa dan penderitaan. 

Allah dalam diri Yesus telah menunjukkan keterlibatan total dalam solidaritas penderitaan kepada manusia. 

Oleh sebab itu, keterlibatan adalah proses kita membantu sesama atau membantu diri sendiri keluar dari penderitaan. 

Komunitas yang kuat berdasar pada kehendak Allah memampukan setiap orang untuk melihat penderitaan bukan akhir dari kehidupan, melainkan penderitaan menguatkan orang untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menuju pada harapan kebersatuan dengan Allah. 

Melihat Allah sebagai kekuatan melawan penderitaan dan kematian berarti percaya bahwa Allah yang menderita tidak mengekalkan penderitaan atau Allah sendiri hancur dalam penderitaan. 

Keterlibatan Allah di dalam penderitaan tidak membuat penderitaan menjadi tanpa akhir, tetapi menempatkan penderitaan itu pada satu horizon harapan akan berakhirnya penderitaan (Kleden, 2006:327). 

Kesimpulan 

Keterlibatan manusia dalam penderitaan menjadi harapan dan kekuatan dalam mengahadapi wabah covid-19 ini. Dalam situasi ini teologi pengharapan memberikan makna penderitaan yang dalam bagi umat Kristiani. 

Penderitaan bukan dilihat sebagai suatu ketakutan, melainkan dalam penderitaan, terutama dalam menghadapi situasi covid-19 ini, manusia dibuat semakin kuat dalam iman, harapan dan kasih. 

Manusia terpanggil untuk terlibat dalam menghadapi situasi wabah covid-19. Panggilan untuk terlibat ini tentunya berasal dari harapan yang besar akan keselamatan yang dimiliki oleh manusia.

Dengan demikian, harapan umat Kristiani tidak hanya bersifat menantikan ciptaan yang baru pada akhir zaman. 

Roh Tuhan diutus untuk memperbaharui muka bumi, maka harapan-harapan yang sekarang ini pun menjadi obyek harapan kristiani: keterlibatan dalam penderitaan, pembaharuan hati manusia dalam keadilan dan kesucian, penataan dunia yang lebih baik, menegakkan perdamaian diantara bangsa-bangsa menjadi pijakkan harapan yang menjadi antisipasi akan harapan masa depan. 

Harapan yang dimiliki manusia saat ini karena peristiwa Yesus adalah harapan  yang pasti sebagai antisipasi yang kemudian karena ketekunan dan kepercayaan kepada Allah memampukan manusia untuk menantikan harapan yang ‘tidak pasti’ dalam Allah di masa depan. []

Penulis: Fransiskus Batlayeri, mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua, dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG) 

 

Kepustakaan 

Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika II. Jogjakarta: Kanisius

Kleden, Paul Budi. 2006. Membongkar Derita; Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi. Maumere: Ledalero

Lasor, W.S.,dkk. 2001. Pengantar Perjanjian Lama 2. Terj. Lisda Tirtapraja & Lili W. Tjiputra. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here