Orasi ala komika

0
abdur arsyaad
Abdurrahim Arsyad , runner up SUCI 4 Kompas TV - Tangkapan layar Youtube Stand Up Kompas TV

Berbicara di depan banyak orang seperti Master of Ceremony (MC) dengan sedikit kritikan pedas nan cerdas dan sarkas, merupakan acara hiburan televisi tanah air yang paling digemari khalayak. Setidaknya menurut pengamatan saya pada beberapa saluran televisi sejak tahun 2013.

Sejak kemunculan Abdur Arsyaad, peserta dan runner up kompetisi stand up comedy Indonesia Sesi Empat (SUCI 4) Kompas TV tahun 2014, banyak orang Indonesia bagian timur, saya kira, merasa bahwa suaranya terwakili. Suara-suara minor dari pelosok negeri disampaikan kawan Abdur melalui stand up comedy.

Saya dan beberapa kawan kerap menonton beliau hingga akhir kompetisi, bahkan menonton penampilannya di youtube. Pertama-tama dan terutama karena kawan yang satu ini menang sebagai runner up tahun 2014. Juri memenangkan David Nurbianto si anak Jakarta itu sebagai juara pertama.

Kefasihan berbicara, bahasa Indonesia yang baku, kritis dan kreativitas anak Lamakera, Lembata, Nusa Tenggara Timur ini layak berada di posisi pertama. Tapi tim juri punya otoritas dan kriteria atau penilaian yang tidak mungkin bisa diganggu gugat.

Kecuali itu, materi yang dibawakan Abdur dianggap sebagai fragemen-fragmen realitas yang terjadi di Indonesia bagian timur, terutana NTT, tempat asal sang komika yang familiar dengan “Asyik, Asyik, dan Adu Mama Sayange.”

Bagi saya dan kawan-kawan ketika itu, Abdur jago berpidato, dan karenanya dia cocok menjadi politisi di senayan, menjadi orator dan MC. Ini tentu tidak berlebihan. Wajar jika tiap orang mempunyai kesan dan penilaian seperti ini, barangkali.

Sebelum stand up comedy popuper di tanah air Indonesia, ternyata model humor ini dimulai sejak abad ke-18 di benua biru dan Amerika, seperti dilansir dari laman nationalgeographic.co.id, Selasa, 19 Juni 2012 dalam artikel berjudul “Stand up Comedy Sudah Berakar Lama di Budaya Indonesia. Komik atau orang yang membawakan materi stand up comedy menceritakan sesuatu atau banyak hal yang bersifat lucu. Namun lelucon mereka, yang pendek-pendek durasinya, bermuatan kritikan atau sindiran. Kadang-kadang juga menggunakan alat peraga.

Di bar-bar, kafe, teater atau kampus kala itu biasanya diadakan stand up comedy. Nama Jerry Seinfield, Chirs Rock, Daniel Tosh, Woody Allen, dan Rowan Atkinson alias Mr. Bean santern terdengar sejak saat itu. Di Indonesia, monolog asal Yogyakarta, Butet Kertaradjasa, Taufik Savalas dan Ramon P. Tommybend disebut-sebut sebagai pelopor stand up comedy.

Sejak beberapa tahun terakhir, nama Raditya Dika, Asep Suadji, dan Panji Pragiwaksono juga mewarnai panggung komedi tunggal Indonesia. Anak-anak muda dari Indonesia timur (NTT, Papua, Sulawesi, Maluku), seperti Ari Keriting (juara 3 SUCI 3 Kompas TV), Abdur Arsyad (runner up SUCI 4 Kompas TV), Epi Kupang, Mamad Alkatiri (SUCI 7 Kompas TV) dan John Yewen, serta beberapa nama lainnya juga meminatinya. Semakin ke sini, bahkan orang-orang bule yang tinggal di Indonesia pun turut mengambil bagian dalam kompetisi stand up comedy.

Di Papua, salah satu stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu (kini sudah tiada) mempunyai mata acara bernama mop. Dalam KBBI mop artinya lelucon, dari bahasa Belanda. Mop dengan pencerita Mr. Chiko, menceritakan sesuatu yang membuat penonton terkekeh-kekeh karena kelucuannya. Dia bahkan bisa meniru dialek tiap suku atau daerah di Tanah Papua.

Dalam acara-acara tertentu juga, ada semacam “sesi wajib” untuk membawakan mop di sela rehat atau sekadar mencairkan pertemuan-pertemuan dan acara-acara lainnya. Model komik seperti ini memang paling diminati masyarakat.

Di Manggarai, bagian barat Pulau Flores, NTT, juga mempunyai “acara” semacam mop di Papua atau stand up comedy di telivisi. Orang Manggarai mengenal ganda-ganda atau joak. Biasanya orang-orang mulai ganda-ganda di natas saat sore hingga malam atau ketika dipertemukan dalam sebuah acara. Namun itu tidak sepopuler di Tanah Papua atau stand up comedy, karena orang Manggarai biasanya bercerita menggunakan bahasa Manggarai.

Bila dicermati dengan baik, entah kita memiliki sense of humor atau tidak, stand up comedy atau mop di Tanah Papua memang bermuatan kritik, sarkas, dan kadang-kadang juga pujian, selain menceritakan realitas yang entah. Ada juga semacam “angkat-banting”.

Dalam konteks tertentu, stand up comedy seperti berpidato atau orasi. Dalam ilmu komunikasi dikenal retorika—kesenian untuk berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alam dan keterampilan teknis. Retorika merupakan gabungan antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam retorika ada dialogika dan monologika—seperti pidato tadi.

Dori Wuwur dalam “Retorika” (1991) menyebutkan ciri-ciri pidato yang baik, seperti, pidato yang saklik. Pidato harus objektif dan sesuai realita. Pernyataan-pernyataan dalam pidato didukung data dan fakta.

Pidato juga harus jelas, hidup, mempunyai klimaks, terdapat pengulangan, berisi hal yang mengejutkan, singkat padat dan jelas, serta mengandung humor. Demikian pun dalam stand up comedy. Sekurang-kurangnya memenuhi unsure-unsur seperti itu tadi.

Para komik—sebutan untuk pencerita dalam stand up comedy—memang tidak sedang berpidato, tetapi paling tidak, ada pesan yang mereka bawakan. Bila ditarik unsur-unsur pidato yang baik dalam komika, mereka sebenarnya mempunyai elucitio atau kelancaran berbicara. Mereka berorasi, tapi dalam konteks berkomedi. []

#Ltg 11221

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here