Orang beriman Kristen yang terlibat dalam masyarakat (sebuah refleksi teologis)

0
71
Iman kristen
Allah adalah Sang Pencipta, baik yang rohani maupun yang jasmani. Ilustrasi - Foto/Pixabay

Acuan dasar untuk suatu refleksi teologis atas hubungan antara iman dan dunia adalah sebuah pertanyaan ini: bagaimanakah iman Kristen memahami sikap Allah terhadap dunia dan masyarakat?

Segala sesuatu adalah ciptaan Allah Yang Esa. Ini berarti di satu sisi, segala sesuatu mempunyai sifat saling berkaitan dan saling membutuhkan. 

Menurut iman Kristen, Allah bukanlah semata-mata Pencipta ruang lingkup rohani saja dan membiarkan ruang lingkup alamiah berada pada suatu otoritas yang lebih rendah dan tidak termasuk dalam lingkup rohani. 

Sebaliknya, Allah adalah Sang Pencipta, baik yang rohani maupun yang jasmani. 

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada pertentangan di antara yang materi dan yang rohani. 

Di sisi lain, pernyataan di atas berarti bahwa segala sesuatu mempunyai makna bagi Sang Pencipta.

Iman Kristen tidak dapat menerima gagasan yang menyatakan bahwa sebagian dari ciptaan-Nya tidak punya arti apa-apa bagi-Nya, seakan-akan itu diciptakan tanpa suatu tujuan. 

Kepercayaan Kristen pada Allah sebagai Sang Pencipta menghindari konsepsi mana pun mengenai satu Allah yang hadir dalam suatu dunia lain yang tak kelihatan, atau hadir dalam kesadaran batin dari orang-orang tertentu, tetapi yang tidak hadir dalam realitas dunia ini ( A. Dumas “Theologia Of Reality”, 1971, hal. 282).  

Sebaliknya, Dia sendiri adalah Sang Pemrakarsa dan Penopang dari segenap proses perkembangan dunia ini dan semua anasir dari proses ini secara terus menerus memiliki makna bagi Dia.

Berbicara tentang Allah sebagai Sang Penolong dari proses keberlangsungan dunia, segera akan memperlihatkan bahwa kata penciptaan haruslah dimengerti tidak hanya sebagai suatu tindakan pada awal mula saja, tetapi juga sebagai suatu kegiatan yang terus-menerus, artinya proses penciptaan dunia ini masih tetap berlangsung. 

Di samping itu, ciri khas yang paling menonjol dari sebuah proses ini adalah selalu munculnya bentuk-bentuk yang baru dan lebih tinggi nilainya dari pada yang terdahulu. 

Sesungguhnya, kata Sang Penolong adalah suatu istilah yang terlalu statis. 

Sebaliknya kita berpikir tentang Allah sebagai Sang Pelaksana. Artinya, Allah tidaklah hanya sumber dan tujuan yang bersifat transenden, tetapi juga yang bersifat imanen dalam proses itu. 

Dialah Allah yang menuntun dan memanggil, yang mewujudkan niat penciptaan-Nya. (A. Dumas, hal. 298).  

Sekalipun demikian, hubungan antara keterlibatan Sang Pencipta dan ciptaan-Nya ini, haruslah tidak ditafsirkan sedemikian rupa sehingga mengaburkan perbedaan yang pokok itu.

Realitas ciptaan, mengandaikan munculnya taraf-taraf baru secara terus-menerus, telah menjadi sadar akan dirinya, yaitu pada diri umat manusia dan dengan demikian telah mencapai nilai tersendiri dari kenyataan itu. Karena akal budi manusia mengenal jagat raya, sedangkan jagat raya tidak mengenal akal budi manusia. 

Dengan alasan seperti ini, di dalam urusan realitas ciptaan manusia memiliki kedudukan yang istimewa. 

Ini bukan hanya karena kesadaran akan dirinya sendiri berhadapan dengan segenap alam sekitarnya, tetapi juga kesadaran manusia akan diri sebagai gambar Allah, yaitu makhluk yang mampu menanggapi Sang Pencipta dan mampu menjadi mitra dalam karya penciptaan itu.

Dalam kenyataan dunia saat ini, ada berbagai persoalan yang kita alami sebagai bagian dari kenyataan yang tak dapat dipungkiri terjadi. 

Terjadi pengrusakan hutan berskala besar, banyak orang miskin, terjadi pelanggaran HAM yang tak kunjung tuntas, korupsi yang menjadi budaya, kekerasan atas nama keutuhan suatu negara, kekerasan atas nama agama dan berbagai persoalan lainnya. 

Persoalan-persoalan ini mengajak setiap kita yang mengimani Kristus sebagai Tuhan untuk terlibat, sekurang-kurangnya menyuarakan kebenaran demi terciptanya kedamaian dan kebaikan bersama.

Dengan demikian, iman kita yang tertuju kepada Allah, bukanlah iman yang hanya tinggal di tempat atau hanya iman yang pasif, melainkan iman itu menunjukkan suatu tindakan yang mempunyai dampak. 

Sekecil apapun cara kita untuk membawa kebenaran dan damai, di situlah kita turut menyatakan karya keselamatan bagi sesama dan alam ciptaan ini. 

Iman kita akan Allah yang terlibat dalam masyarakat mengantar kita pada kesaksian yang bernilai besar. []

Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, mahasiswa Pasca Sarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here