Natal di kampung yang penuh kreasi

0
56
natal

Bunyi petasan menggelegar. Lagu-lagu natal terdengar. Syahdu sekali. Gang-gang sudah dihiasi dengan lampu-lampu natal. Tak ketinggalan, rumah-rumah warga dihiasi dengan aksesoris natal yang apik. Tulisan Merry Christmas and Happy New Year dipajang di pintu rumah. Kandang natal dibangun, dilengkapi patung kanak-kanak Yesus di dalamnya. Pohon natal dibuat dengan ragam desain yang memanjakan mata.

Ragam nuansa ini mengindikasikan tentang Natal yang kian dekat, tentang tanah Manggarai yang dihiasi ragam aksesoris demi menyambut kedatangan Sang Juru Selamat.

Minggu lalu, dalam kotbah di gereja, pastor paroki kami mengajak umat agar menyiapkan hati menyongsong Natal yang mendamaikan.

“Persiapkan hatimu. Sambut Natal dengan sukacita. Mari berbagi kasih dengan sesama saudara yang ada di lingkungan sekitar,” tuturnya berapi-api.

Natal telah membudaya dalam masyarakat kita agar menyiapkan segala sesuatu dengan meriah. Entah tentang hati yang bersih, juga aksesoris natal yang indah dipandang. Jangan heran, ingar-bingar menyambut hari Natal lebih riuh dibandingkan hari besar lainnya dalam Gereja Katolik.

Tentang Natal, saya mau bilang, Natal di kampung jauh berbeda dengan Natal di tanah rantau. Beruntung sekali, pada Juni kemarin, saya memutuskan untuk pulang kampung, tinggal di kampung dan tentu saja, merayakan Natal di kampung halaman.

Perantau tidak seberuntung kami yang tinggal di kampung. Nuansa natalnya berbeda. Jauh sekali. Saya pernah merantau, soalnya. Saya pun tahu betul situasi natal di tanah rantau. Syukurlah jika dapat menepi sejenak dari rutinitas di tanah rantau, lalu pulang demi merayakan natal di tengah keluarga. Natal memang identik dengan mengundang rindu pada kampung halaman, pada Natal di dusun yang kecil, pada ragam kenangan yang pernah terukir di kampung halaman.

Natal di kampung-kampung kecil nan udik di Flores akan terlihat semenjak memasuki masa Adven. Dalam tradisi Gereja Katolik, masa Adven sebagai masa penantian akan kelahiran Yesus Kristus. Masa Adven akan diisi dengan kegiatan kebaktian seperti; latihan koor, merias lingkungan dengan asksesoris natal, bakti sosial di gereja, juga akan ada rekoleksi dan pengakuan dosa.

Semenjak masa Adven, anak-anak kampung akan unjuk gigi dalam berkreasi. Berbekal semangat dalam kebersamaan yang masih kokoh, mereka mulai berkreasi untuk menata lingkungan sekitar. Akan ada kebersamaan yang terlihat; ada ketulusan menyambut natal dengan merias lingkungan lewat pernak-pernik natal.

“Mari sudah. Kita buat kandang natal di pelataran kampung.”

“Kalian yang siapkan bambu.”

“Oh ya, Ketua KBG (Kelompok Basis Gerejani) bilang kalau ia yang siapkan paku.”

“Itu enu (nona) yang tugas di Pustu siapkan kopi. Dia cantik em, kopinya pasti sedap untuk diseruput,” timpal yang lainnya.

“Bapak Ketua Dewan Stasi yang siapkan patung Kanak-kanak Yesus,” sambung salah satu di antara kami.

“Lampu natal ditanggung oleh Om Linus ee. Ia baru jual kemiri kemarin di Borong.”

“Saya siapkan alang-alang dari kebun. Saya su cari kemarin sore.”

Begitu percakapan yang terjalin di antara kami, malam sebelum berkreasi di keesokan harinya.

Tidak berlebihan, kalau saya bilang, natal itu bulan kreatif. Sumpah. Jiwa seni anak-anak kampung akan terlihat saat menyambut natal. Tangan-tangan kreatif mulai beraksi dengan mendesain kandang natal, pohon natal, juga bintang natal. Dengan peralatan seadanya, mereka berkreasi sepenuh hati.

Proses kreatif yang dilakukan dijalankan dalam semangat persaudaraan yang kental. Kalau yang lain sedang membelah bambu, maka yang lain ditugaskan untuk merancang bintang natal. Sementara yang lain perlahan-lahan memasang bambu pada kandang natal. Sesekali terdengar tawa yang membahana, akibat dari percakapan yang mengundang gelak tawa.

Setelah kesibukan dari anak-anak kampung yang menyita energi, pernak-pernik menyambut natal pun jadi. Lampu-lampu natal dipasang di pohon natal. Kandang natal sudah dibangun. Patung kanak-kanak Yesus terlihat agung di dalamnya. Natal terasa meriah dengan kreasi yang seadanya, tapi terlihat indah saat diselesaikan dalam semangat kebersamaan. Entah kandang natal atau pohon natalnya tak terlalu elok dipandang, tak jadi masalah. Selama itu karya sendiri, tidak apa-apa.

Jangan heran saat Anda sambangi perkampungan di Flores umumnya dan Manggarai khususnya, di saat menyambut natal seperti sekarang, akan terlihat hiasan di tepi jalan yang berbeda dari situasi sebelumnya. Indah dan mendamaikan, tentunya.

Pemandangan tepi jalan terlihat berbeda saat di malam hari. Gemerlap lampu natal menyambut para pengguna jalan. Seketika kita disadarkan tentang kehadiran Sang Juru Selamat supaya disambut dengan hati yang lapang.

Di akhir waktu, saat sudah puas melihat gang-gang yang penuh dengan hiasan menyambut natal, engkau akan bilang,”Natal di sini keren sekali. Saya kembali ke sini di masa yang akan datang.”

Begitu em, perantau. Saya mau bilang, jangan lupa pulang. Sekadar untuk melihat kreasi anak kampung, juga merasakan sensasi daging babi yang dipanggang di bawah pohon kemiri sembari menyeruput Sopi Kobok atau Sopi Ntau’r, air kata-kata kebanggaan orang Manggarai Timur.

Selamat menyambut Hari Raya Natal. Berkah dalem untuk kita semua. Tuhan jaga. []

 

Foto: Ilustrasi/Pixabay

Penulis: Erik Jumpar, anak kampung yang tinggal di Golo Mongkok, kecamatan Rana Mese, kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Sedang serius memelihara babi di kandang demi menghalalkan anak gadis di kecamatan tetangga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here