Nasib rusa Merauke

Siapa yang tidak kenal dengan Merauke? Kota di selatan Papua ini begitu terkenal, terutama dalam lagu “Dari Sabang Sampai Merauke“.

Selain itu, jika menyebut nama Merauke, yang muncul pertama kali adalah dendeng rusa. Di Papua, Merauke juga dikenal dengan sebutan “Kota Rusa”.

Rusa sangat populer di Merauke, sehingga para penjual bakso keliling lebih banyak menjual bakso rusa. Hingga kini Merauke dikenal sebagai kota rusa.

Namun, saat ini untuk melihat rusa di sekitar Kota Merauke sangat susah. Berkurangnya rusa juga terlihat dari semakin lama harga dendeng rusa pun semakin mahal. Begitu pula harga kulit rusa juga semakin mahal per lembarnya.

Menurut pedagang daging rusa di Pasar Merauke, daging rusa yang mereka jual berasal dari perbatasan Kabupaten Boven Digoel atau Mappi.

Selain itu daging rusa, mereka dapatkan dari pemburu asal Papua Nugini.

Sebuah pertanyataan yang menarik adalah apakah rusa merupakan fauna asli Papua dan Papua Nugini?
Herbivora endemik Papua bercirikan memiliki kantung.

Herbivora terbesar endemik Papua adalah kanguru. Rusa termasuk dalam herbivora tetapi bukan binatang endemik Papua.

Rusa di Papua dalam bahasa ilmiah dikenal sebagai Cervus timorensis, merupakan rusa tropik khas Indonesia timur. Rusa ini habitat aslinya banyak dijumpai di Pulau Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Keberadaan rusa di Merauke berawal dari tahun 1928, saat itu pemerintah Belanda pertama kali mendatangkan rusa (Cervus timorensis) dari Maluku Tenggara ke Merauke.

Pada waktu itu rusa dijadikan sebagai hewan peliharaan (hewan eksotik) di halaman rumah guru dan pegawai Belanda. Iklim dan kondisi alam Merauke sangat cocok untuk rusa.

Dalam perkembangannya kemudian, rusa ini berkembang cepat. Dan oleh Belanda, sebagian rusa dilepas di savana sekitar Kota Merauke. Rusa ini tidak boleh diburu.

Karena tingginya populasi rusa, akhirnya Belanda kemudian memperbolehkan rusa untuk diburu secara terbatas. Perburuan hanya diperbolehkan satu tahun sekali, yaitu pada bulan Desember menjelang Natal saja.

Rusa yang boleh diburu adalah rusa jantan yang tua dan tidak produktif. Pada akhirnya, berawal dari Merauke, rusa kemudian berkembang secara luas ke seluruh wilayah Papua hingga Papua Nugini terutama di daerah savana dan, hutan yang pohonnya tidak terlalu rapat.

Perkembangan rusa yang cepat ini didukung oleh tidak adanya karnivora besar seperti harimau sebagai pemangsa. Satu-satunya karnivora di Papua hanyalah quoll, itu pun hanya sebesar tikus rumah dan hidup di pegunungan Papua.

Selain ke Merauke, pemerintah Belanda juga mengirimkan rusa (Cervus timorensis) ke Australia tahun 1868 hingga 1912, dan Selandia Baru pada 1907.

Pelajaran berharga dari pemerintah Belanda pada masa lalu adalah penerapan dengan sungguh-sungguh undang-undang konservasi lingkungan.

Rusa benar-benar dilindungi dan tidak bisa dibunuh seenaknya. Jika terus diburu, maka cepat atau lambat rusa merauke hanya tinggal nama.

Saat ini, di Australia dan Selandia Baru, rusa sudah dibudidayakan dan daging dan tanduknya diekspor. Tetapi itu hanya untuk rusa bersertifikasi hasil penangkaran bukan berasal dari alam liar.

Pemerintah Indonesia harus belajar dari Australia dan Selandia Baru.
Undang-undang konservasi lingkungan harus diterapkan dengan tegas di Papua, sehingga kita dapat melihat lagi rusa bebas berkeliaran di Taman Nasional Wasur. []

Foto: Ilustrasi rusa timor – CNN Indonesia/Thinkstock/Goddard_Photography

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *