Mimpi dari ayah*

*Catatan untuk Ayah — Ragamu telah tiada, tetapi senyummu abadi selamanya….

Kaki kecilku melangkah di atas ubin yang beku, berjalan lunglai di lorong rumah sakit yang ramai oleh tangis juga jeritan kehilangan. Air mata masih menggenang di pelupuk, siap untuk terjun dan pecah menjadi lautan di pipiku. Ayah pernah bilang,

“Jangan pernah menyerah sekalipun dunia meninggalkan kita.” Akan tetapi, ayah tidak pernah menjelaskan bagaimana caraku bertahan jika sosoknya tiada.

Semesta memang senang sekali bercanda, mempermainkan hati manusia dan memporak-porandakannya, membawa seseorang pada bahagia lalu sedetik kemudian menghantarkannya pada duka yang teramat dalam. Seperti perasaanku, dua jam yang lalu, Ayah masih tertawa terbahak-bahak bersamaku di tepi Danau Sentani sembari menghitung waktu kapan matahari akan terbenam untuk mengakhiri hari.

Sinar senja memantul pada permukaan air danau yang sebening kaca. Di antara bias cahaya, Ayah tersenyum dengan begitu hangat, menampilkan dengan jelas keriput di tepi kelopak matanya pertanda usianya tak lagi muda.

“Nak, kamu tahu kenapa ayah senang sekali menghitung waktu senja?” tanya Ayahku.

Aku menoleh, menatap manik matanya yang berwarna kecokelatan. “Tidak, Yah. Memangnya kenapa?”

Perlahan, ia mengelus rambutku dengan tangannya yang lebar.

“Karena senja lebih paham caranya mengucapkan salam perpisahan. Nak, suatu saat nanti, ada masa di mana kamu merasa jika dunia itu benar-benar kejam, tapi berjanjilah, Nak, berjanjilah pada ayah jika kamu tidak akan pernah menyerah.”

Aku mengangguk, “Stella janji, Yah. Stella akan jadi orang yang sukses dan tidak menyerah pada dunia.”

“Ayah sayang sama kamu, Nak.” ucap Ayah pelan, terdengar seperti bisikan.

Ayah menunduk, mencium keningku lama. Air matanya menetes membasahi pipiku, lalu sepersekian detik kemudian, tubuhnya yang renta jatuh tepat di sampingku. Aku kebingungan, lantas berteriak meminta tolong pada siapa pun yang ada di sana.

Air mataku luruh, ketakutan menghantam tubuhku, diikuti senja yang perlahan memudar, tubuh ayah digotong oleh beberapa lelaki yang berada di sana dan dimasukkan ke dalam mobil, entah mobil milik siapa menuju ke rumah sakit Dian Harapan.

Dua puluh menit kemudian, Ibu datang dengan derai air mata. Aku yang sebelumnya duduk meringkuk di depan pintu UGD pun berlari memeluknya, tenggelam dalam hangat tubuhnya, menumpahkan segala ketakutan yang bercokol dalam pikiran. Aku terisak, tubuhku gemetar lantas, satu pertanyaan lolos dari bibir mungilku.

“Ibu, Ayah baik-baik saja kan?”
Ibu tak menjawab. Ia hanya mengangguk.

Lima menit kemudian, sang dokter keluar. Ia menatapku iba, sambil berkata, “Tuan Endruw telah meninggal dunia.”

Hening.

Semua inderaku mati rasa. Tanganku bergetar, mataku memejam, aku tidak percaya jika Ayah telah tiada. Mungkin saja Ayah sedang bermain sebuah drama dan ketika drama yang diperankannya telah usai, semua ini akan berakhir.

Namun ketika Ibu membawaku untuk menemui Ayah, aku sadar semua ini nyata. Di hadapanku, tepatnya di sebuah brankar yang tertutupi kain putih, tubuh Ayah telah menjadi kaku, dingin bagai es batu, dengan senyuman tipis yang menjadi pertanda bahwa ia telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

Sepertinya baru kemarin Ayah mengajariku bersepeda, baru kemarin ia memarahiku karena aku dengan bangganya melompat masuk ke dalam kolam ikan milik tetangga, rasanya baru kemarin ia terharu bersama Ibu karena aku berhasil menduduki peringkat satu di kelasku. Rasanya seperti baru kemarin, tapi mengapa secepat ini Ayah pergi?

Benar kata William Shakespeare, waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu, sangat cepat bagi mereka yang merasa takut, sangat panjang bagi mereka yang bersedih, dan sangat pendek bagi mereka yang berbahagia. Seperti waktuku bersama Ayah yang terlampau sementara namun meninggalkan banyak kenangan.

Seminggu setelah pemakaman Ayah, Ibu menjelaskan apa yang menyebabkan Ayah meninggalkan kami. Ibu bilang, “Ayahmu mengalami kelainan pada jantungnya, Nak. Itulah alasan mengapa lelaki tua yang menyebalkan namun Ibu cintai itu pergi lebih dahulu dibandingkan kita.”

Aku menunduk, jemari kecilku bertautan, lalu menatap pigura Ayah yang terpampang di dekat ruang tamu.

“Ayah, Stella janji. Stella akan menjadi dokter jantung agar bisa menyelamatkan Ayah orang lain supaya mereka tidak merasakan sakitnya kehilangan seorang Ayah. Ayah percaya ’kan dengan mimpi Stella?”

Sejak saat itu, aku bertekat untuk menjadi dokter jantung. Aku tahu, biaya sekolah dan menjadi dokter itu tidak murah karenanya setiap hari aku berjualan kue di sekolah untuk membiayai kehidupanku dan Ibu, lalu sisanya aku tabung untuk biaya sekolahku. Hasilnya tidak seberapa, tapi aku bersyukur setidaknya aku dan Ibu masih bisa bertahan hidup. Awalnya, aku diejek oleh kawan-kawanku di sekolah, mereka bilang,

“Haha, lihat! Stella sudah tidak punya Ayah!”

“Bajunya dekil, sepatunya robek, iih!”
“Jauh-jauh dari Stella! Nanti kita ikut-ikutan miskin.”

Mereka tertawa, merasa bangga karena berhasil mengolok-olokku. Tentu aku sakit hati, tapi aku masih mengingat perkataan Ayah untuk tetap kuat.

Sebulan kemudian, ujian kelulusan sekolah dilaksanakan. Aku belajar mati-matian, tubuh kecilku kelelahan, tapi aku percaya, tiada hasil yang mengkhianati usaha. Tuhan ada bersamaku dan tidak akan pernah meninggalkan aku. Dua minggu kemudian, pengumuman kelulusan terdengar, aku lulus bahkan dengan nilai terbaik. Ibu memelukku, erat dan tentunya hangat.

“Stella, Ibu bangga sama kamu.” ucap Ibu.

Sebuah kalimat yang sederhana, tapi berhasil membuatku merasa lega juga bahagia.

Dua bulan kemudian, Ibu mendaftarkanku di sebuah Sekolah Menengah Pertama yang letaknya tidak jauh dari rumah. Lagi-lagi masih sama, semua anak menjauhiku, hanya ada dua orang yang mau berteman baik denganku tanpa memandang siapa aku, Kisa dan Biru namanya. Aku masih ingat awal kami berkenalan. Saat itu sudah waktunya pulang sekolah, tapi aku masih betah berlama-lama di taman belakang sambil membaca buku IPA yang kupinjam dari perpustakaan sekolah.

Saat itu Kisa dan Biru sedang bermain di atas pohon jambu air yang ada di belakangku. Kalian tahu? Saat itu Biru terjatuh dan menimpa aku. Untungnya tubuh kami tidak patah. Lucunya lagi, bukannya menangis kami malah tertawa.

Kisa turun dari atas pohon, sedangkan Biru bangkit dari tanah dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku menerima uluran tangannya dan membalas senyum tipisnya.

“Maaf ya, tadi aku kurang berhati-hati,” kata Biru.

Aku mengangguk,”Iya, tidak apa-apa,”
“Oh iya, kita belum berkenalan. Siapa namamu?” tanya Kisa.

Aku menatapnya terkejut. “A-ah, aku Stella. Stella Meridian. Kamu?”
“Aku Kisa Penggu. Panggil saja aku Kisa. Kalau yang ini sahabatku, namanya Biru Daneswara, panggilannya Biru. Nama belakangnya memang rumit. Kamu mau jadi teman kami?” ucap gadis berambut pendek bernama Kisa itu dengan riang.
“Mau! Tapi…kalian tidak malu berteman dengan orang miskin seperti aku?” tanyaku.

Biru menggeleng, “Tuhan saja tidak membeda-bedakan manusia ciptaannya. Kenapa kita sebagai manusia malah membeda-bedakan?” jawab Biru.

Jawabannya yang sederhana itu membuatku tersenyum. Benar apa kata anak lelaki berambut lurus kecokelatan itu. Untuk apa membeda-bedakan? Toh semua manusia itu sama di mata Tuhan.

Dari sanalah kami berteman dengan baik hingga lulus SMP dan masuk ke SMA yang sama. Di SMA kami sekelas tiga tahun berturut-turut dan hal itu membuat pertemanan kami semakin lama semakin erat. Mereka selalu ada di saat aku senang maupun sedih, percayalah, jika harus memilih antara seribu teman atau Kisa dan Biru, maka dengan senang hati aku memilih mereka berdua.

Lulus SMA aku mendapatkan beasiswa ke Berlin dengan jurusan kedokteran. Semua itu berawal dari aku yang mengikuti tes beasiswa dan dipanggil ke Jakarta untuk wawancara, dan luar biasanya lagi aku berhasil. Awalnya aku ingin merelakan beasiswa ini, rasanya aku tidak tega meninggalkan Ibu sendirian di Jayapura.

Namun Ibu bilang, beliau akan baik-baik saja. Bermodal tabungan dari kecil, uang saku yang tak seberapa dari Ibu dan kedua sahabatku, juga beasiswa akhirnya, aku berangkat ke Berlin, meninggalkan Ibu, Kisa, Biru, kota, kenangan, juga Ayah.

Dari Jayapura aku berangkat menuju Jakarta, rehat sejenak, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Berlin dengan maskapai KLM yang akan transit di Paris (Perancis). Setelah 24 jam lamanya berada di pesawat, aku akhirnya mendarat di Berlin Tegel Airport dengan selamat. Aku segera keluar dari bandara dan menaiki bus kota menuju ke asrama kampus, ketika sampai aku segera melapor ke kepala asrama dan segera memasuki kamar yang telah ditentukan dan beristirahat.

Keesokan harinya, aku memilih untuk berjalan-jalan di kota ini. Udara di Berlin begitu dingin. Maklum, sudah memasuki musim dingin di sini. Sambil menenteng sebuah buku tebal aku berjalan menyusuri Berlin— Ibu kota negara Jerman. Kota yang penuh dengan bangunan bergaya arsitektur kuno juga keindahannya. Tempat yang pertama kali aku datangi adalah Bradenburg Gate.

Bradenburg Gate merupakan simbol utama gerbang Berlin yang dibangun pada abad ke-18 sebagai lambang penyatuan dari Berlin Barat dan Berlin Timur. Aku terpaku sejenak, mengambil beberapa gambar dengan kamera yang dihadiahkan oleh Biru ketika ulang tahunku yang ke-17.

Aku menghela napas sejenak lalu menduduki sebuah bangku taman yang tidak jauh dari posisiku berdiri saat ini, duduk sambil membaca buku kedokteran tebal yang diberikan oleh salah satu guruku di SMA dulu. Setelah puas membaca, aku segera berjalan menuju stasiun terdekat untuk menuju ke kampusku. Di sinilah perjalanan studiku dimulai, meraih mimpi demi Ayah.

Perlahan, aku mulai beradaptasi di lingkungan baruku. Di sini aku mendapatkan banyak teman yang untungnya tidak memandang latar belakangku. Bertahun-tahun aku di negeri orang demi meraih mimpi akhirnya hari yang ditunggu itu pun tiba, hari di mana aku berhasil memakai toga, lulus dengan gelar sarjana kedokteran bahkan dengan IP yang hampir sempurna.

Semuanya seperti mimpi, namun di atas euforia itu, di balik gemuruh tepuk tangan, di antara seru-seruan bahagia, aku justru merasa ada sesuatu yang hilang. Tak ada Ayah juga Ibu di sini.
Seminggu setelah kelulusan, aku langsung mengurus program koasku.

Aku menjalani koas selama satu setengah tahun dan setelahnya aku menjalani ujian tertulis dan ujian praktis agar bisa dilantik menjadi dokter, beruntung aku berhasil menjalani ujian tersebut.

Setelah aku dilantik dan mengucapkan sumpah dokter aku langsung menjalani program dokter intership di salah satu rumah sakit yang ada di Berlin dan bekerja di rumah sakit tersebut selama setahun. Setelahnya, aku kembali menjalani sekolah kedokteran dan mengambil jurusan spesialisasi jantung selama tiga setengah tahun. Akhirnya aku benar-benar menjadi seorang dokter jantung, dengan rasa bangga aku mengurus kepindahanku ke Indonesia.

Rasanya aku ingin sekali cepat sampai di tempat Ibu. Sudah sebulan aku tidak bertukar kabar dengan beliau, aku jadi semakin rindu dengannya.

Empat hari kemudian, setelah menempuh jarak ribuan mil jauhnya, aku sampai di Jayapura dan segera menaiki taksi menuju rumah. Tiga puluh menit kemudian, aku sampai di rumah, tak ada yang berubah dari rumah tua ini semuanya masih sama kecuali catnya yang semakin memudar. Dengan senang, aku mengetuk pintu rumah.

“Sebentar!” teriak Ibu dari dalam.

Tepat ketika pintu itu terbuka, aku memeluk tubuh rentanya dengan erat. Ibu sudah semakin tua dengan rambut putih yang memenuhi kepalanya. Namun senyumnya tidak pernah berubah.

“Ya Tuhan! Stella kamu pulang!” teriak Ibu bahagia.

“Ibu, Stella sudah menjadi dokter jantung. Lusa, Stella sudah bisa bekerja di rumah sakit Dian Harapan. Rumah sakit di mana Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Stella sudah memenuhi janji Stella pada Ayah. Sekarang, Stella akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan Ayah orang lain. Stella berhasil, Bu! Stella berhasil memenuhi mimpi dari Ayah!” ucapku bahagia.

Ibu menangis di bahuku sambil mengelus rambut panjangku.
“Ayah dan Ibu selalu bangga padamu, Nak. Selalu.” ucap Ibu.

Perlahan, aku memasuki rumah. Lalu berhenti tepat di depan pigura Ayah yang sedang menggendongku sambil tersenyum. Air mataku mengalir. Ah, Ayah. Aku sungguh merindukan sosoknya. Usiaku sudah 30 tahun, pertanda Ayah sudah meninggalkanku selama delapan belas tahun lamanya.
Aku menatap pigura itu lama.

“Ayah, Bintang Selatanmu ini sudah berhasil. Mimpi dari Ayah telah Stella penuhi. Ayah, terima kasih.”

Akhirnya, Stella Meridian, nama perempuan yang berarti Bintang Selatan itu bersinar dalam kelamnya kehilangan. Mimpinya berhasil ia capai meski rintangan menghadang jalannya. Satu yang pasti dalam hidupnya, ia tidak akan pernah menyerah sekalipun dunia berusaha menjatuhkannya. []

* Cerpen ini ditulis Februari 2019 saat kelas menulis cerpen untuk SMA di Balai Bahasa Provinsi Papua dan didaulat sebagai cerpen terbaik ketika itu

Foto: Dok penulis

Penulis: Sri Rejeki L. Pongtiku, Siswa SMA Negeri 4 Jayapura, Papua. Penyuka puisi dan sastra klasik Eropa

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *