Metafisika Thomas Aquinas

0
113
tomas aquinas
Menurut Aquinas, pengada ialah apa yang mengada - lifeder.com

Tulisan ini mungkin agak rumit untuk dipahami, tapi jauh lebih baik dan bermanfaat apabila tulisan ini dibaca dengan suatu niat mau memahami sesuatu dari tulisan ini. Tulisan ini, mengajak para pembaca untuk membangun suatu semangat bernalar secara kritis dalam memberi makna atau arti terhadap realitas kehidupan yang sebenarnya tidak ada begitu saja, melainkan dilandasi oleh sesuatu yang bersifat melampaui. 

Metafisika dapat dimengerti sebagai ilmu yang mempelajari penyebab terakhir (ultimate cause) dan prinsip-prinsip pertama serta universal (first and universal principle) dari realitas yang ada. Dalam arti ini, metafisika dapat disebut sebagai “sebuah realitas” yang melampaui dunia fisik (yang kita inderai), atau yang mengatasi dunia empiris (tempat kita hidup) dan melatar-belakangi atau melandasi dunia fisik itu, sehingga dunia riil menjadi mungkin. “Metafisika juga disebut studi tentang dasar, prinsip, alasan, sumber dan sebab eksistensi segala sesuatu yang mendasari, serta penuh/sempurnah dalam dirinya sendiri, yang tidak tergantung dan yang sepenuhnya menentukan sendiri serta menjadi dasar bagi eksistensi yang lain” (Lorens Bagus, 624). 

Siapa itu Thomas Aquinas? Mungkin baik apabila sejenak, kita mengenalinya secara singkat. Aquinas diperkirakan lahir pada 1224 atau awal 1225 dari keluarga bangsawan di Roccasecca Italia Selatan. Ia adalah seorang biarawan dari Ordo Dominikan, pernah belajar di Universitas Paris, sebuah universitas yang sangat terkemuka pada masa itu. Ia belajar di sana selama tiga tahun dari 1245-1248. Di sanalah ia berkenalan dengan Albertus Agung. “Ia juga menemani Albertus Agung memberikan kuliah di Studium Generale di Cologne, Perancis pada tahun 1248-1252” (Drs. F. D. Wellem, 2000: 18). Mari kita secara lebih jauh mengenal pemikiran Aquinas tentang metafisika ini. 

Ada beberapa istilah yang dipakai oleh Aquinas dalam metafisikanya. Di dalam pembahasan ini akan diuraikan beberapa istilah yang dipakai olehnya di dalam metafisikanya tersebut. Jika merasa sulit memahami tulisan ini, syukur bahwa hal itu terjadi. Itu pertanda bahwa Anda secara perlahan-lahan telah bernalar secara kritis.     

Ens (Pengada)

Menurut Aquinas, pengada ialah apa yang mengada. Definisi ini mengandung dua elemen, yaitu subjek dan suatu tindakan. Dua elemen ini membentuk satu kesatuan utuh secara tumpang-tindih, sehingga pengada memuat aktivitas mengada (suatu tindakan). Pengada yaitu apa saja yang secara spontan dapat ditangkap oleh intelek.

Pengada merupakan objek langsung dari intelek, sehingga apa saja yang dapat dimengerti oleh intelek boleh disebut “pengada”. Jadi, pengada adalah apa yang ada atau sesuatu yang dapat ditunjuk eksistensinya “di sana”. Dalam hal ini, pengada atau ens dapat dimengerti sebagai “sesuatu yang berada”.

Antara pengada dan mengada bisa digambarkan pada diri seorang pelajar. Pelajar atau orang yang sedang belajar menyatakan bahwa ia sedang melakukan tindakan atau perbuatan, yakni belajar. Ia tak dapat disebut sebagai pelajar apabila ia tidak ambil bagian dalam belajar itu. Atau dengan kata lain, belajar adalah prinsip dasar yang mesti dimiliki atau dilakukan si subjek agar dapat dikatakan sebagai pelajar atau orang yang sedang belajar. Sama halnya dengan pengada.

“Seorang pengada” disebut sebagai pengada oleh karena ia mengambil bagian atau terlibat dalam aktivitas mengada. Ia tidak dapat disebut sebagai pengada tanpa adanya aktivitas mengada yang padanya ia melibatkan diri sehingga ia disebut sebagai pengada.

Jadi, sebagaimana belajar adalah prinsip dasar yang padanya seorang pelajar melibatkan diri sehingga disebut pelajar, demikian pun mengada merupakan prinsip dasar yang padanya pengada harus melibatkan diri agar ia dapat disebut sebagai pengada. Tanpa keikutsertaannya dalam hal mengada, maka ia pun tak dapat menjadi pengada. Dalam artian ini, pengada menyatakan sesuatu yang secara aktual mengada. Pengada merupakan sesuatu yang hanya berpartisipasi dalam aktus mengada atau sesuatu yang sedang beraktifitas. 

Oleh karena pengada hanya berpartisipasi dalam mengada, maka dapat dipastikan bahwa pengada sifatnya tidak mutlak. Artinya pengada dapat tidak ada atau bersifat kontingen. Pengada yang bersifat tidak mutlak itu, dapat dipastikan pula bahwa ia (pengada) bukan asas dari sejumlah eksisten-eksisten yang ada, karena pengada sendiri dalam tahap tertentu dapat tidak ada.

Pengada adalah sesuatu yang juga bersifat bergantung. Dalam hal ini pengada bergantung pada mengada, sedangkan mengada menjadi prinsip dasar dari pengada. Dapat pula kita katakan bahwa pengada adalah akibat, sedangkan mengada adalah sebab. Pengada sebagai akibat, bisa saja ia tidak ada, tetapi mengada sebagai sebab mesti ada atau mutlak ada.

Esse (Mengada)

Tentang esse atau mengada, Aquinas menjelaskan bahwa dialah yang memungkinkan segala sesuatu bereksistensi secara aktual, sesuatu dapat menjadi aktual kecuali sejauh ia bereksistensi.

“Mengada merupakan hal yang paling sempurna dari segala sesuatu. Karena jika dibandingkan dengan segala sesuatu yang lain, dialah yang memungkinkan segala sesuatu bereksistensi secara aktual. Tidak satupun hal dapat menjadi aktual, kecuali sejauh ia bereksistensi (mengada). Karena itu, mengada merupakan hal yang mengaktualkan segala sesuatu” (ST.I.q, 4.a, 1).

Dari pernyataan ini, “Allah” oleh Aquinas didefinisikan dalam bingkai pengertian esse, oleh karena itu segala sesuatu dikatakan mempunyai hubungan dengan esse. Karena apa pun yang ada mengada (bereksistensi) atau dengan kata lain apa pun yang ada mengambil bagian dalam mengada. Sehingga apa pun yang ada itu mengambil bagian dalam apa yang telah mengada. Tanpa keikutsertaanya dalam hal mengada maka ia (apa pun itu) tidak dapat ada. 

Secara fundamental esse mengkondisikan eksistensi aktual dari segala sesuatu. Esse merupakan prinsip aktualitas. Karena itu, ia memungkinkan semua jenis aktivitas terjadi. Dalam arti itu, “mengada” menjadi prinsip aktualitas dari segala jenis tindakan. Esse merupakan “yang tersempurna dari semua yang sempurna” yang padanya tidak satupun hal lain dapat ditambahkan. Sebagai yang tersempurna, esse terletak pada lapisan terdalam dari segala sesuatu dan secara fundamental mendasari setiap pengada.

Dengan demikian, apa pun yang mempunyai esse atau apa pun yang mengada, secara aktual menjadi pengada (ens) dan dapat dikatakan bereksistensi. Karakteristik yang paling fundamental dari esse adalah, ia bukan saja sekadar aktus, tetapi aktus yang sempurna dan secara radikal mendahului atau melandasi semua jenis aktivitas yang dapat dijalankan oleh suatu pengada.

Dalam konteks itulah dapat dimengerti kata “eksistensi” yang dipakai sebagai terjemahan modern untuk istilah Aquinas mengenai esse. Oleh karena itu, eksistensi merupakan corak dinamis atau aktif dari aktus mengada. Jadi, bagi Aquinas, eksistensi bukan sekadar fakta empiris bahwa sesuatu ada. Secara primer, eksistensi menyatakan prinsip aktualitas yang secara fundamental dan spesifik melandasi adanya setiap pengada partikular (Johanis Ohoitimur, 50-51).

Essentia (Esensi)

Istilah lain yang mempunyai sangkut paut dengan ens dan esse adalah essentia. Kata bahasa Latin essentia diturunkan dari bentuk infinitif esse. Karena itu, secara etimologi, essentia dan esse saling bertalian. Akan tetapi, dalam konteks metafisika Aquinas, dua istilah tersebut mempunyai arti yang berbeda.

Aquinas menjelaskan arti kata essentia dalam beberapa cara.

Pertama, esensi adalah sesuatu yang secara umum dipunyai oleh semua yang alamiah. Atas dasar esensi, hal-hal yang berbeda dapat dikelompokkan menurut kelas-kelas berbeda yang disebut spesies. Dengan kata lain, apa saja yang merupakan pengada riil tentu mempunyai esensi.

Dengan perantaraan esensi tersebut, spesies pengada yang satu dapat dibedakan dari spesies pengada yang lain. Jadi humanitas merupakan esensi dari setiap individu (manusia) konkret, begitu pula binatang (animal) adalah esensi dari setiap gaja dan kuda atau lain sebagainya;

Kedua, oleh karena penempatan suatu makhluk atau benda dalam ruang spesiesnya menyatakan hakikat makhluk atau benda itu, maka Aquinas mempertahankan pendiriannya bahwa pengertian esensi dapat merupakan jawaban terhadap pertanyaan “apa itu?” Esensi adalah “keapaan” dari sesuatu, atau dengan kata lain esensi adalah prinsip yang memungkinkan sesuatu menjadi dirinya sendiri;

Ketiga, akhirnya Aquinas mengartikan kodrat (natura) sebagai esensi. Esensi/kodrat, yakni merupakan sesuatu yang melaluinya benda-benda riil dapat dimengerti oleh intelek. Esensi adalah “apa yang melaluinya dan didalamnya suatu pengada mendapatkan eksistensinya”. Jadi, esensi dari seorang manusia ialah apa yang karenanya ia menjadi seorang manusia, dan bukan menjadi sebuah batu atau malaikat. Karena esensinya, ia bisa bereksistensi (mengada) secara aktual sebagai manusia dan disebut pengada. Dalam arti “kodrat”, esensi menjelaskan aktivitas yang khas pada pengada. Sementara dalam arti “keapaan” esensi mendefinisikan hakikat sesuatu.” (Johanis Ohoitimur, 51-53).

Hubungan antara Esensi dan Mengada

Sebagai salah satu konsekuensi dari pengertian esensi seperti dijelaskan di atas, Aquinas tiba pada keyakinan bahwa esensi harus dibedakan dari eksistensi. Perbedaan itu paling jelas dipahami dari perspektif hubungan potensialitas-aktualitas (bisa menjadi-telah menjadi). Seperti sudah dikatakan, Aquinas mengerti esse sebagai aktus yang secara fundamental mencirikhaskan setiap pengada.

Semua jenis pengada yang secara riil memenuhi realitas atas salah satu cara, niscaya berpartisipasi dalam esse yang pada dirinya bersifat tidak terbatas. Karena esse merupakan prinsip aktualitas satu-satunya yang memungkinkan segala sesuatu menjadi aktual, maka partisipasi setiap hal dalam esse, tentu segera berarti penerimaan eksistensi. Tanpa partisipasi pada esse, tidak ada pengada atau eksisten-eksisten partikular. Jadi, sesuatu dapat bereksistensi karena ia berpartisipasi dalam mengada atau esse (Johanis Ohoitimur, 51-53).

“Apa statusnya sebelum partisipasi tersebut? Aquinas menjawab, potensialitas pasif bagi eksistensi. Potensialitas ialah apa yang secara aktual belum bereksistensi dan hanya mengada secara potensial. Aquinas memberikan suatu nama khusus pada potensialitas jenis ini, yakni “esensi”. Berarti, esensi tidak selalu bersifat aktual. Ia memberikan penjelasan demikian. Kalau esse merupakan prinsip aktualitas, maka esensi adalah prinsip limitasi yang memberikan pembatasan pada esse, sehingga suatu benda mendapatkan aktualitas sebagai pengada dari spesies tertentu. Dengan kata lain, melalui esensi, aktus mengada diterima oleh benda partikular, sehingga secara aktual menjadi, misalnya seekor kuda, dan melalui esensi pula kuda itu menjadi kuda dan bukan badak. Tampak bahwa eksistensi (esse) berperan sebagai “yang diterima”, sedangkan segala sesuatu yang lain merupakan penerima-nya” (ST.I, q. 4, a. 1, ad. 3).

Dijelaskan bahwa esse adalah kesempurnaan dan yang sempurna. Kini dalam hubungan dengan esensi sebagai prinsip limitasi perlu dikatakan bahwa eksistensi aktual yang diterima oleh benda-benda partikular sesungguhnya merupakan partisipasi terbatas pada esse yang tidak terbatas dan sempurna tersebut. Jadi, eksistensi benda partikular selalu lebih sempit dari aktus mengada yang otentik.

Aquinas mengerti esensi sebagai potensialitas yang darinya pelbagai hal dapat dispesifikasikan, sedangkan eksistensi disejajarkan dengan aktualitas. Ia menulis, “Eksistensi (esse) ialah apa yang membuat format kodrat menjadi aktual, karena ‘kebaikan’ dan ‘humanitas’ dapat dikatakan aktual hanya kalau mereka benar-benar dipercakapkan sebagai hal-hal yang bereksistensi. Oleh karena itu, hubungan antara eksistensi dan esensi sebagai dua hal berbeda dapat dibandingkan dengan hubungan antara aktualitas dan potensialitas” (ST. I, q. 3, a. 4).

Sebagai potensialitas, esensi merupakan sumber dari benda-benda yang berbeda spesies. Melalui esensi pengada menjadi tertentu, dan tanpa esensi tidak ada pengada partikular. Sementara itu, eksistensi merupakan prinsip aktualitas yang melaluinya sesuatu dapat dikatakan mengada atau bereksistensi. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa “eksistensi” menyatakan apakah sesuatu ada atau mengada, sedangkan “esensi” menyatakan hakikat atau keapaannya. Jadi, esensi tidak dapat menjadi aktual tanpa apa yang diterimanya dari esse.

Bagaimana? Rumitkan untuk dipahami? Silakan berupaya memahami secara mendalam metafisika Aquinas ini, semoga kita semakin mampu bernalar secara kritis terhadap realitas kehidupan kita.  []

Penulis: Sdr. Domisius Wandi Raya, OFM, biarawan Fransiskan, sedang menjalani masa Tahun Orientasi Karya (TOK) di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena-Jayapura, Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here