Kala saya menyapa

0
44

Saya biasanya dipanggil kraeng oleh kawan-kawan. Bahkan bukan orang Manggarai sekalipun. Itu karena si kawan sudah mengenal saya. Begitu pula saat saya menyapa mereka. Menyapa dengan kata itu. Mengapa?

Saat di kampung, orang-orang tua juga biasa memanggil kraeng dan sengaji untuk kawan bicaranya. Misalnya Kraeng Lipus, Kraeng Nabas, Kraeng Nadus, dan lain-lain.

Sapaan ini juga terbawa-bawa dalam komunikasi nonformal, dalam kehidupan sehari-hari di lintasetnis. Orang-orang dari etnis lain yang mengenal saya dan Manggarai, hampir pasti menyapa dengan sebutan kraeng. Kraeng Rigit, misalnya.

Begitu juga ketika saya memanggil mereka. Misalnya menyebut nong untuk kawan-kawan dari Maumere, ama bagi orang Lembata dan Adonara–yang punya tradisi tombak paus itu, ame untuk orang Ende, yang punya danau tiga warna (Kelimutu)–jejak Sang Proklamator, ndoe untuk kawan-kawan dari Nangaroro, Flores.

Semakin ke sini, sapaan itu terasa akrab dan enak di telinga. Ala biasa karena terbiasa. Dalam pergaulan sehari-hari, kami biasa menyapa sesama kawan dengan sebutan khas (bahasa, dialek) daerah masing-masing di Papua.

Misalnya, saya memanggil nai untuk anak laki-laki bagi orang Paniai, nayak untuk orang Wamena (Jayawijaya), napi atau mansar untuk orang Biak dan yauw untuk orang Sentani (Jayapura) atau dhoto untuk Tanah Merah (Jayapura), akut untuk orang Sorong (Papua Barat), dan nyong untuk orang Ambon (Maluku).

Begitu juga memanggil kawan-kawan dari etnis lainnya; mas untuk orang Jawa, lae untuk orang Medan (Sumatra Utara)–horas lae! Atau menyapa kawan-kawan pemilik ulayat Mama Kota–Kemane, Bang?

Menyapa kawan bicara dengan dialek khas atau bahasa daerahnya, tentu semakin merekatkan pergaulan atau relasi sosial. Memang begitulah seharusnya. Demi harmonisasi, solidaritas, rasa respek, dan kepekaan sosial.

Bahasa merupakan salah satu unsur dalam kebudayaan manusia. Heterogenitas penduduk, suku, bahasa daerah, dan kelompok dalam relasi menjadikan negara ini unik dan lebih beda. Maka ada slogan berbeda-beda tetapi tetap satu.

Kembali ke kraeng tadi. Atau sengaji. Sengaji dan kraeng adalah bahasa Manggarai. Kini Manggarai menjadi tiga kabupaten–Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Maka bahasa Manggarai dipakai penduduk tiga kabupaten yang berada di bagian barat pulau Flores. Bahasa Manggarai merupakan satu dari 650-an bahasa daerah yang dimiliki Indonesia.

Dulu kraeng dan sengaji merupakan gelar atau panggilan terhormat untuk raja atau gelar tertinggi lainnya. Misalnya, Kraeng Adak, Mori Sengaji (Baginda Raja, Tuan, Paduka, Yang Mulia).

Sengaji tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V Luring. Hanya kata sangaji, yaitu gelar untuk pemimpin kelompok dalam Kesultanan Bacan, Halmahera, Maluku. Namun kraeng ditemui sebagai gelar bangsawan di Manggarai sana. Terima kasih KBBI.

Seiring waktu berjalan, sistem kerajaan sudah tiada. Tinggal nama dan sistem atau model-model serta warisan lainnya. Kini dua kata ini “berubah” rasanya menjadi lebih familiar untuk semua strata sosial.

Kraeng dan sengaji biasa digunakan untuk kata sapaan “kau” atau Anda, yang lebih sopan, dalam percakapan sehari-hari. Juga untuk kata sandang–seperti kata sri, si dan sang–dalam bahasa Indonesia.

Dari mana asal kedua kata ini? Apakah kata asli bahasa Manggarai atau kata serapan? Untuk menjawab pertanyaan ini, sedianya bisa dilacak dalam jejak-jejak masa lalu-.

Tanah Manggarai pernah dipengaruhi kerajaan lain di Nusantara, selain Belanda dan Portugis (?) dalam bidang agama, pemerintahan, dan pendidikan

Bila ditelusuri lebih jauh, kedua kata itu tak asing di daerah lainnya. Bagi orang-orang berbahasa Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan, karaeng merupakan gelar raja atau orang terpandang. Begitu pula kata sengaji tadi. Di Maluku (Ternate) ada nama marga Sangaji (kalau saya tidak salah) dan Kampung Sangaji, Ternate Utara, Maluku Utara.

Jejak dua kata bahasa Manggarai di atas, bisa jadi punya kaitan dengan Bugis-Makassar dan Ternate. Konon, kira-kira abad ke-16 atau 17, wilayah Kerajaan Ternate dan Goa-Makassar meluas sampai ke Flores dan Kerajaan Bima di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Ketika itu Manggarai di barat Flores dikuasai Kerajaan Bima dengan aliansinya Kerajaan Goa, yang dibantu Belanda. Pengaruh Bugis-Makassar atas Manggarai berakhir dengan ditetapkannya Traktat Bonggo 1669 (Kristiyanto: 2009, 240).

Selain bahasa, pengaruh Bugis (dan Bima) yang menyata hingga kini, di antaranya, bisa jadi dalam hal penggunaan peci atau songkok. Orang-orang tua menyebutnya Jongkong Dima.

Songkok ini familiar dengan motif tenunan songke, bergambar komodo (varanus komodoensis), dan motif-motif tenunan lainnya.

Di kampung-kampung, pemakaian jongkong (topi) menyerupai peci ini merupakan salah satu (pelengkap) busana resmi bagi orang Manggarai. Saat ke gereja dan upacara adat bahkan songkok ini dipakai selain sapu (destar–kain pengikat kepala)

Tak bisa ditampik bahwa relasi kerajaan-kerajaan dan pertukaran budaya dari luar dengan penduduk setempat di Manggarai zaman dulu, melahirkan apa yang kemudian kita kenal dengan akulturasi.

Antoropolog Koentjaraningrat mendefinisikan akultrasi sebagai proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima, dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal itu sendiri.

Sama halnya bahasa latin, yang menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Konon dipengaruhi oleh akulturasi kebudayan Romawi dan Yunani kuno.

Jadi, kalau Anda berwisata ke Pulau Komodo, Labuan Bajo, Kampung Wisata Wae Rebo dan Niang Todo, situs manusia purba Homo Floresiensis di Liang Bua, dan objek wisata Flores barat lainnya, hampir pasti disapa kraeng dan sengaji. Atau para pejabat dari Mama Kota sekelas presiden dan mentri, sudah pasti disapa Kraeng Menteri atau Kraeng Presiden, Presiden Sengaji dami (Tuan Presiden kami).

Paling tidak, itu adalah sapaan akrab dan terhormat bagi para tetamu yang sudi mampir dan menengok tana Manggarai yang dikenal dengan sebutan Nucalale. Sembari menikmati keindahan alam, keunikan budaya, dan keramahan masyarakat di daerah, yang dikenal punya senyum manis dan ramah itu, jangan lupa kraeng dan sengaji. Ole kraeng! Hehehhe.

Dan….,

Kalau sampai di Nucalale, kraeng akan terkesima dengan gadis-gadis Manggarai yang aduhai. Siapa tahu bisa mengingat kembali kenangan pada para Mantan Gadis-Gadis Berambut Tergerai. Disingkat Manggarai, kata kawan saya suatu ketika. []

Foto: Ilustrasi orang Manggarai dengan busana tarian caci (dokpri)

#Jpr DDOK18

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here