Menulis tak semudah kata ini

0
31
tentang menulis

Judul di atas seperti membuka cerita. Kawan lama bercerita kembali. Menulis tak semudah membalik telapak tangan.

Tak semudah membalik telapak tangan sering didengar dalam keseharian kita. Terutama jika itu berkaitan dengan upaya untuk meraih sesuatu yang diimpikan.

Ya, kata tersebut mudah diucapkan. Begitu pula dalam hal menulis. Bercerita melalui tulisan memang gampang-gampang susah. Pun sebaliknya susah-susah gampang.

Sewaktu SMA di seminari menengah, SMA Katolik Santu Ignatius Loyola-Seminari Menengah Yohanes Paulus II, Labuan Bajo, Flores Barat, kami belajar menulis. Opini, cerita pendek, puisi, bahkan menulis catatan harian adalah aktivitas yang tidak asing lagi bagi kami seminaris muda.

Waktu berjalan terus. Zaman pun berganti. Kami bertumbuh dan berkembang dalam zaman. Menulis terus. Jika aktivitas menulis kami diibaratkan dengan makhluk hidup, entah sebesar atau sematang apa. Namun fakta berkata demikian.

Proses belajar adalah hal yang kami lalui. Saya tak bisa mengelak dari kata-kata, frasa, klausa, kalimat dan paragraf.  Karena memang itu profesi saya, jurnalis.

Lima tahun lalu, saya baru saja menjadi jurnalis. Usia yang sangat muda untuk sebuah profesi yang membutuhkan keberanian, kecekatan, kemahatahuan, dan lain-lain.

Pekerjaan menulis memang sangat susah. Setidaknya membutuhkan latihan yang terus-menerus. Dalam laman facebook Tempo Media disebutkan bahwa menulis bagus biasanya dimulai dengan membaca bagus. Namun tak semua yang membaca bagus bisa menulis bagus. Seorang penulis baik biasanya seorang pembaca yang tekun dan kritis.

Pada suatu kesempatan tahun 2012, saya dan beberapa kawan jurnalis, mengikuti kelas menulis kolom di kantor redaksi Suara Perempuan Papua (SPP). Selama tiga hari. Instrukturnya Andreas Harsono, dari Yayasan Pantau. Penulis buku ‘A9ama Saya Adalah Jurnalisme’. Selama tiga hari. Banyak hal diberikan wartawan lulusan beasiswa jurnalistik Amerika itu. Pada hari terakhir beliau berpesan, menulis mengandaikan kita tahu dan berani. Dua kata ini setidaknya menjadi kunci ketika kita menulis.

Chick Rini, wartawan Aceh yang menulis untuk Majalah Pantau besutan Andreas Harsono menulis laporan mendalam ala novel. Judulnya Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft. Lalu dimuat di Pantau pada tahun 2000.

Membaca feature ini, pertengahan 2013, tanpa sadar air mata saya menetes. Lalu tertawa. Bergantian. Senyum juga. Terkadang marah. Terutama karena adegan demi adegan, detail demi detail, Chick Rini mampu membuat pembaca seolah-olah berada dan terlibat dalam perisiwa tragis tersebut.

Waktu kuliah menulis feature, seorang jurnalis senior dan saya hormati, merekomendasikan untuk membaca berita kisah investigatif karya Chick Rini ini. Saya pun membacanya. Pasti banyak teman jurnalis yang sudah membacanya. Saya belum bisa menulis seperti ini. Namun saya mau belajar.

Kembali ke muka. Soal menulis bagus. Sepanjang saya hidup, terutama saat menjadi jurnalis pada media lokal di Papua dan menulis untuk laman pribadi, saya mengalami titik yang bernama jenuh. Saya kira jenuh adalah penyakit penghambat setiap calon penulis. Meski demikian saya tidak menjaminnya.

Dalam sebuah kesempatan, di sela-sela aktivitas jurnalis, saya belajar menulis kolom, esai, opini, cerita pendek, ‘novel’, puisi atau bahkan memoar. Namun susahnya minta ampun. Sangat setengah mati. Padahal saya berpikir bahwa menulis hal-hal seperti itu, bila didukung fakta yang mendukung, referensi terpercaya, kepercayaan diri yang teguh dan kepekaan mendengar suara hati, saya bisa melakukannya. Namun fakta lain. Huh, susah-susah gampang.

Sewaktu kuliah, seorang dosen saya, jurnalis, pernah mengatakan begini, ‘saya menjadi jurnalis karena gemar menulis catatan harian’.

Apakah semua jurnalis disebut penulis? Belum tentu juga. Saya bermimpi bahwa suatu saat saya menjadi jurnalis yang penulis. Namun dalam perjalanan waktu, diiringi kematangan usia, saya pun mengalami apa yang dinamakan kebuntuan dalam menulis.

Ketika saya membaca tulisan beberapa penulis tersohor di tanah air dan dunia, semisal Pak Gunawan Muhammad dengan Catatan Pinggir-nya, Andera Hirata dengan beberapa novelnya yang laris manis, Rabinranath Tagore dengan Gitanjali-nya, di situ terkadang saya berpikir bahwa betapa mudahnya mereka menulis. Berbicara dalam tulisan. Saya pun berupaya untuk setidaknya belajar dari mereka. Dan juga penulis lainnya yang saya hormati dan hargai.

Memang menulis itu membutuhkan latihan. Menulis terus-menerus sambil belajar dan rendah hati adalah kata yang sering saya dengar dalam percakapan sehari-hari. Ketika itu dipraktikkan, betapa sulitnya.

Di bawah terang cahaya Philips dengan slogannya ‘terus terang Philips terang terus’ saya mengutak-atik memoriku biar tidak lupa. Saya mencoba menguraikan fakta demi fakta dengan rapi, merangkai kata demi kata, tetapi hanya tulisan  sederhana ini yang bisa saya tulis. Saya pun belajar untuk menulis lebih rapi lagi yang pada gilirannya pembaca berdecak kagum, terhibur dan terpengaruh.

Menulis memang tidak semudah membalik telapak tangan. Menulis itu seperti saya mengasah parang sewaktu kecil sebelum ke kebun dan mencari kayu api di hutan rimba. Menulis itu seperti saya mendaki di gunung, melewati tebing yang terjal, melalui duri-duri tajam dan berjalan bermil-mil jauhnya. Seperti juga pepatah klasik menulis ‘dimulai dari langkah pertama’. Saya harus mengakui memang begitu adanya.

Waena, Jumat, 24 April 2015, dinihari, bersama kopi dan rokok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here