Menulis, epen kah?

membaca itu penting

Mengapa ko menulis kah? Mengapa ko menulis kah? Mengapa ko menulis kah? Saya yakin tiap pribadi punya pertanyaan seperti ini. Sebelum melakukan sesuatu—termasuk berbicara melalui tulisan—hampir pasti didahului pertanyaan seperti tadi. Lalu mengapa saya menulisnya di sini?

Berbicara tentang menulis, agaknya saya ragu bahwa pendapat saya bisa diterima sidang pembaca. Ini beralasan mengingat saya harus mengakui subjektivitas tiap individu. Apalagi jika belum ada karya semacam buku yang diterbitkan, maka hampir mustahil penglamannya bias diterima.

Pertanyaan di atas bisa dijabarkan lagi: memangnya menulis itu apa? Bila Anda menulis karya jurnalistik atau karya fiksi, maka berbahagialah Anda, karena dengan demikian, Anda sudah mengabadikan kenyataan, refleksi, dan harapan. Besok atau lusa, ide-ide dan pengalaman tertulis itu menjadi inspirasi dan motivasi bagi pembaca. Itulah alasan mengapa kita harus menulis—menulis apa yang dilihat, dirasakan, diketahui, dan harapan bagi dunia yang lebih baik.

Meski demikian, saya mau membagikan secuil pengalaman, yang barangkali menjadi motivasi dan bahan refleksi. Kalaupun sudah memahami, melakukan dan membagikannya kepada publik, saya kira tidak salah jika saya menulis lagi di sini.

Lalu apa saja manfaat kita menulis? Bagaimana memulainya? Hmmm, itu tadi. Tiap penulis memiliki cara tersendiri.

Pada galibnya tiap orang menulis karena mengetahui/memahami, peka dan mempunyai “tugas moral” untuk mengedukasi sesamanya, memberi informasi dan memotivasinya. Pertama-tama dan terutama mereka tidak pelit membagi pengalaman dan ilmunya. Saya harus mengagumi dan menghormatinya. Patut diapresiasi.

Saya mempunyai pengalaman rumit dalam menulis. Susahnya minta ampun. Oleh karena itu, saya mau tulis di sini. Tapi sudahlah…

 

Baca juga

Menulis Tak Semudah Kata Ini

 

Setelah saya pikir-pikir, tulisan Mary Leonhardt pas untuk dibagikan. Leonhardt adalah seorang guru SMA di Amerika Serikat. Dalam bukunya yang diterjemahkan Eva Y. Nukman berjudul 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis (Bandung: Kaifa: 2004, 19-27) ia mengemukakan sepuluh alasan bahwa (aktivitas) menulis itu penting.

Pertama, rasa suka terhadap suatu kegiatan merupakan pra syarat untuk keberhasilan di bidang apa pun. Demikian halnya dengan menulis;

Kedua, hanya anak-anak yang suka menulis saja yang akan menulis dengan sering dan teliti–hal yang mereka butuhkan untuk menjadi penulis ulung;

Ketiga, hanya siswa yang gemar menulis dan banyak menulis secara mandiri, yang akan mengembangkan irama dan gaya pribadi mereka;

Keempat, hanya anak yang terbiasa menulis mandiri sajalah yang akan belajar dan menulis dengan fokus yang tajam dan jelas;

Kelima, anak-anak harus sering dan bebas menulis (dan membaca) supaya spigel (sangat terampil) dalam menggunakan struktur kalimat yang kompleks dan benar secara tata bahasa;

Keenam, anak-anak yang menikmati tulis-menulis jarang menunda menyerahkan makalah dan laporan sekolah yang ditugaskan;

Ketujuh, anak-anak yang suka menulis dan sering menulis untuk iseng, juga lebih memahami hal-hal yang dibacanya;

Kedelapan, anak-anak yang gemar menulis menjadi murid yang mudah dan unggul dalam hampir semua mata pelajaran;

Kesembilan, anak-anak dengan kebiasaan menulis pribadi yang mandiri mempunyai cara yang mudah untuk mengatasi trauma emosional;

Kesepuluh, penulis yang prigel dan fasih mempunyai keuntungan luar biasa dalam sebagian besar bidang pekerjaan.

Ia menyebutkan, penulis ulung sejati adalah penulis berkepribadian. Bila menilik esai mahasiswa menurut Leonhardt, esai perguruan tinggi adalah esai yang segar dan jujur, tetapi juga harus memberikan sedikit wawasan tentang diri kita kepada mereka.

Mungkin kawan-kawan bertanya: ah, itu kan menurut dia. Ya, iyalah, kan saya sudah tulis di awal. Bahwasannya setiap individu mempunyai argumen masing-masing perihal aktivitas yang satu ini.

Argumentasi dengan alasan dan referensi yang sahih membuat siapa pun terangguk-angguk. Tidak bisa tidak itu. Saya pun punya cara tersendiri. Menulis di sini.

Bila rujukan satu-satunya buku—artinya harus menulis buku dulu—baru bisa membagikan pengalamannya tentang menulis, saya pikir itu terlalu naïf. Lantas untuk apa adanya motivator dan inspirator?

Di era digital seperti sekarang ini, menjadi blogger merupakan sebuah alternatif untuk menulis. Dengan menulis di blog, apalagi dengan kemudahannya mendaftar pada blog gratis, dan tulisannya “berkelas”, saya yakin ko selalu dikenang.

Saya jadi teringat sebuah tukilan dari legenda Indonesia. Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) namanya. Ia bilang, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Terus menulis itu epen kah? Jupen tooo! Lalu dimulai darimana? Sekarang atau tidak sama sekali, kawan! Atau potius sero quam numquam (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali).

Tapi, perlu direnungkan juga bahwa salah satu alasan kenapa tulisan-tulisan legenda dan penulis kawakan selalu bernas adalah kegemaran mereka melahap buku. Menciptakan tulisan-tulisan “bergizi” bukan hal sepele. Itu didapat setelah melalui perjuangan ekstra keras. Perjuangan yang terus-menerus. Kemampuan yang diasah terus-menerus. Begitu. []

Foto: delomesfoto/dokpri

Tulisan ini dipostig sebelumnya di blog Lujunai dengan edit seperlunya

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *