Kisah jurnalis menggunting kuku penderita gangguan jiwa

Kisah jurnalis Markus Makur mendampingi ODGJ di Kabupaten Manggarai Timur, Flores-NTT

0
219
ODGJ
Markus Makur, jurnalis Kompas.com ketika menggunting kuku kaki penderita ODGJ di Manggarai Timur - Foto/IST

“Saya memberi biskuit roma kelapa kepada seorang ibu yang menderita gangguan jiwa dan sudah dipasung selama 3 tahun, dan menggunting kuku kaki dan tangan mereka.”

Jurnalis Kompas.com untuk wilayah Flores barat, Markus Makur, memulai kisahnya kepada saya akhir September 2020. Dia memiliki kepekaan hati untuk mengunjungi dan merawat penderita gangguan jiwa atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Lembah, bukit dan gunung di wilayah sembilan kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur, Flores-NTT sudah dia jajaki sejak tahun 2017. Markus, demikian dia disapa, akhirnya menjadi koordinator relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli ODGJ yang didirikan oleh Pater Avent Saur, SVD yang berpusat di Kabupaten Ende. 

Kelompok Kasih Insanis yang digawangi Markus, adalah kelompok sukarelawan yang terpanggil hatinya untuk mengunjungi, melayani dan mendata penderita gangguan jiwa yang dipasung, maupun yang tidak dipasung di NTT, khususnya di Manggarai Timur.

Pada Jumat, 25 September 2020, sekitar jam 9 pagi, Markus bersama tiga rekannya, Ambrosius Adir, Nansi dan Edy Beren melaju dengan sepeda motor dari perkampungan Peot, Kelurahan Peot. Mereka melalui jalan trans-Flores menuju ke arah barat Manggarai Timur. 

Setiba di Jalan Golo Mongkok, mereka mengambil jalan belok kiri menuju ke jembatan Crossway Atas dari Kali Wae Musur.

“Kami berempat berhenti sejenak di Jembatan Crossway Wae Musur Atas sambil menyaksikan warga timba air di Sungai Wae Musur untuk keperluan masak,” katanya.

Markus dibonceng oleh Ambrosius Adir, sukarelawan yang bekerja dengan hati demi sesama yang menderita gangguan jiwa. Awalnya dia mendapatkan informasi dari Ambrosius Adir tentang seorang mama yang menderita gangguan jiwa, yang sudah tiga tahun dipasung di Kampung Tewuk, Desa Satarlaing, Kecamata Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur. 

Markus bercerita bahwa sang penderita ODGJ baru dikunjungi Jumat itu. Dia bersyukur karena Tuhan menuntun relawan KKI untuk berkunjung ke pondok penderita gangguan jiwa yang dipasung.

Mengendarai sepeda motor di jalan mendaki dari jembatan crossway Wae Musur dengan penuh hati-hati, karena jalan berbatu. Bersyukur mereka tiba dengan aman di rumah penderita gangguan jiwa.

Perjalanan yang lelah membuahkan hati yang gembira, karena empat sukarelawan ini berjumpa dengan mama yang dipasung di dapurnya. 

“Pertama kami diterima oleh seorang guru di kampung itu, selanjutnya bertemu dengan anak mantu, serta cucunya yang selama ini setia merawatnya,” katanya.

Awalnya penderita itu tak mau menerima mereka. Namun, mereka tetap berusaha dengan tabah, hingga mama yang dipasung bersedia kuku kaki dan tangannya dibersihkan Markus. 

Sebuah gambar Yesus dengan mahkota duri pada kertas putih, digantung di dinding. Gambar ini seakan tersenyum menyaksikan aksi langka yang dilakukan sang jurnalis.

“Kami bersyukur karena kami bisa menyapa penderita gangguan Jiwa yang di pasung di bagian dapur. Kami terus bersyukur karena Tuhan Yesus memakai kami yang rapuh dan lemah ini untuk melayani,” katanya.

Panggilan hati nurani dan kepekaan hati membuat Markus tergerak oleh belas kasihan untuk mengunjungi dan melayani ODGJ yang dipasung.

“Hanya bersyukur yang bisa diucapkan kepada Sang Guru Agung yang datang untuk menyembuhkan orang sakit. Bersyukur dan bersyukur,” ucapnya.

Markus hampir sudah mengunjungi sejumlah kampung di Manggarai Timur untuk mengunjungi ODGJ. 

“Begitulah kerja kemanusiaan dan kerja dengan hati.”

Komunitas sukarelawan yang dipimpinnya fokus di Manggarai Timur, tetapi sesekali mereka mengunjungi Manggarai saat visitasi dengan Pater Avent Saur, SVD, Pendiri KKI Peduli ODGJ NTT.

Saat mau mengunjungi para ODGJ, keluarga Markus memberikan dukungan. Istri dan anaknya bahkan pernah dilibatkan saat membagikan sembako.

“Mereka (ODGJ) sesungguhnya membutuhkan perhatian dan pendampingan.”

Sejak bergabung dengan KKI keluarga para ODGJ juga tidak pernah menolak kehadiran mereka. Meski demikian, ada ODGJ yang masih agresif walaupun masih di pasung. 

Ada kisah unik Markus selama menjadi sukarelawan ODGJ. Dia menahan rasa lapar karena perjalanan jauh serta berupaya menggali kisah dari penderitaan lewat keluarga terdekatnya. 

Pengalaman yang khusus bahwa ada istri atau suami yang setia merawat dan menunggu pemulihan yang istri dan suami yang derita gangguan jiwa. 

Memang tidak semua seperti itu. Intinya ini bukan karya saya sebagai manusia rapuh melainkan karya Tuhan Yesus melalui saya yang rapuh ini. 

“Orang kecil saling melayani orang kecil yang menderita gangguan jiwa,” katanya.

Pertama kali terjun 2017 dan sampai sekarang masih sebagai relawan karena panggilan hati karena terinspirasi oleh gerakan kemanusiaanya Pater Avent Saur, SVD melalui postingan di media sosial facebook dan membaca berita di Flores Pos. 

Kemudian ada seorang Lurah Ronggakoe, yang kini sudah pensiun, yang mengundang Markus untuk meliput ODGJ yang pulih dan sehat setelah dirawat di Panti Renceng Mose Ruteng, Manggarai.

Melihat kondisi ODGJ yang pernah dipasung dan pulih membuat hatinya tersentak. ODGJ juga bisa pulih karena minum obat selama dirawat di Panti tersebut. 

Markus bertemu Pater Avent Saur, SVD untuk pertama kalinya dan sejumlah rekan-rekan wartawan di Manggarai Timur, seorang guru dan seorang lainnya di salah satu warung di Borong, saat pater balik ke Kabupaten Ende, sesudah mengantar penderita dari Ende ke Panti Renceng Mose Ruteng. 

“Sesudah itu saya terus bergerak sambil meliput,” katanya. 

Tahun 2018 dia pernah mengunjungi ODGJ di salah kampung di gunung di Kecamatan Elar. Jalan kaki. 

Hingga saat ini dia masih terpanggil dan hati untuk para ODGJ di Manggarai Timur. Dia bersyukur bahwa Tuhan datang melalui Pater Avent Saur, SVD yang menginspirasi dirinya yang rapuh, untuk melayani dan mendampingi penderita ODGJ di Manggarai Timur. 

Biasanya hal-hal sederhana yang dilakukan para sukarelawan adalah membawa sabun, sikat gigi bersama odolnya, rinso dan biskuit, serta membersihkan kuku kaki dan tangan yang panjang. 

“Semua ini terdorong oleh kekuatan Tuhan Yesus yang menggerakkan hati dan pikiran saya. Saya belum kalah untuk merawat mereka yang membutuhkan kepedulian semua orang,” ujarnya. []

#Jpr30920

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here