Menepi sejenak demi kopi di Tokol

0
85
sita borong
Salah satu ibu di Persawahan Golo Mongkok sedang membersihkan ledeng

Sabtu siang, di dua puluh satu Desember 2019, Ruteng sedang diguyur hujan. Desember di Ruteng memang harus hujan. Ruteng tanpa hujan sensasinya tentu berbeda. Kota yang oleh bos besar Mukarakat, Lipooz, menyebutnya kota 1.000 gereja akan menunjukkan yang memukau di masa natal.

Lampu-lampu natal yang dipasang di tepi jalan menyambut kedatangan kami semenjak tiba di depan Gereja Paroki Kumba. Indah nian. Kandang natal berukuran besar juga terbangun di sisi jalan. Gang-gang di Kelurahan Tenda dihiasi dengan lampu-lampu natal.

Malam hari menjadi pemandangan yang indah. Lampu-lampu natal akan menyala, memanjakan mata dari pengguna jalan.

Di hari itu, jalanan di tengah kota yang terletak di bawah kaki Pegunungan Mandosawu itu disesaki oleh para pengguna jalan. Kendaraan roda dua dan roda empat memadati jalanan.

Para pengunjung memadati toko-toko yang menjual pakaian. Natal pemicunya, baju, celana, dan sepatu menjadi incaran para pembeli.

Kami mengunjungi Toko Utama, salah satu toko yang terletak tepat di depan lapangan Motang Rua. Toko ini dipadati para pengunjung. Seperti namanya Toko Utama, pokonya di toko ini menjadi prefrensi para pengunjung untuk mencari pakaian mode terbaru. Saking banyaknya pengunjung, kami harus antre saat membayar barang  belanjaan di meja kasir.

Rerintik hujan masih menyelimuti Kota Ruteng. Di sela-sela hujan yang belum mengurungkan niatnya, kami memutuskan untuk pulang. Menunggu hujan lekas mereda  di Ruteng sama seperti menunggu jawaban pasti dari si doi yang menggantung hubunganmu bak jemuran yang lupa diangkat.

Tanpa menunggu hujan yang kian deras lekas mereda, kami memutuskan untuk menyibak hujan dengan percaya diri. Susuri jalan pulang menuju arah timur Kota Ruteng, mulai dari kampung Carep melewati Rongket, salah satu titik rawan longsor di Kabupaten Manggarai.

Di tempat ini, pada beberapa tahun silam, dilanda longsor. Jumlah korban cukup banyak. Tragedi Rongket selalu terngiang di kepala pengguna jalan yang melewati tempat ini.

Jalanan mulai berkelok-kelok, tikungan tajam hiasai perjalanan semenjak dari Rongket. Rongket juga menyuguhkan pemandangan yang elok. Pada salah satu  jurang terdapat salah satu pohon yang pada bulan tertentu dedaunannya lekas berubah dari hijau menjadi merah muda.

Melewati Rongket kita akan tiba di Robo, titik masuk menuju Gunung Ranaka. Gunung Ranaka merupakan gunung berapi yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tingginya 2.140 mdpl. Perjalanan ke Gunung Ranaka sejauh 9 Km hingga tiba di puncak gunung.

Hujan belum jua reda, sayup-sayup rerintikkannya terdengar memecah kesunyian, kami tiba di Wae Reno. Wae Reno merupakan titik masuk menuju Kabupaten Manggarai Timur.

Di Wae Reno terdapat salah satu kantor yang berfungsi untuk memantau lalu lintas kendaraan yang keluar dan masuk Kabupaten Manggarai Timur. Pada pos masuk ini terpampang tulisan Kakor Ge Manggarai Timur. Pesan yang sangat menggugah hati pengguna jalan, khususnya bagi orang-orang Manggarai Timur.

Suguhan perjalanan masih diwarnai dengan kondisi jalanan yang berkelok-kelok. Sesekali kita diharuskan untuk ekstra hati-hati, sebab ada badan jalan yang terkelupas dan berlubang. Walau jalan Ruteng menuju Borong merupakan jalan nasional, namun kondisinya tak serba mulus. Lubang menganga akan kita jumpai di beberapa titik.

Hujan belum jua reda, akibatnya kondisi jalanan berubah menjadi serba licin. Kami harus memacu kendaraan dengan hati-hati.

Kami tiba di lembah Bea Laing. Di sini, mata kita dimanjakan oleh banyak tanaman cengkeh dan kopi di tepian jalan. Bea Laing menjadi daerah penghasil cengkeh seantero Manggarai Timur. Jangan heran di pelataran rumah warga kita jumpai banyaknya cengkeh yang sedang dijemur.

Dari Bea Laing, kami memasuki Bea Nekes. Bea Nekes merupakan titik masuk menuju Taman Wisata Alam Ruteng.

Hutan lebat menghiasi Bea Nekes. Tanaman liar tumbuh di dalamnya. Dari tepian jalan, kita dapat menyaksikan lebih dekat rimbanya hutan Taman Wisata Alam Ruteng.

Bea Nekes juga diwarnai dengan cerita mistis yang beredar di tengah masyarakat Manggarai Timur. Katanya, sering terlihat makhluk-makhluk aneh di tempat ini. Entah benar atau tidak, saya juga kurang tahu.

Anak-anak desa sedang mengais asa di Danau Rana Mese – Lomes/dok. pribadi

Tiba di sini, kami  disambut dengan kabut. Para pengguna jalan dari arah Ruteng menuju Borong ataupun sebaliknya tentu tak asing lagi dengan suguhan kabut di kawasan ini. Perjalanan pun penuh hati-hati, lampu kendaraan dinyalakan. Badan pun lekas mengigil, rasa dingin di tempat ini sebagai pemicunya.

Nyaringnya bunyi burung-burung yang menghuni hutan Taman Wisata Alam Ruteng sesekali terdengar. Kicauannya mengingatkan pengguna jalan bahwa hutan ini menjadi rumah yang nyaman untuk burung-burung endemik tanah Flores.

Setelah  dari Bea Nekes, kita memasuki salah satu tikungan yang sering menjadi spot foto para pengguna jalan. Biasanya pengguna jalan akan menepi sejenak, lalu mengeluarkan hape atau kamera digital untuk memotret. Di tikungan ini juga terdapat papan informasi terkait keberadaan salah satu jenis burung yang menghuni hutan Taman Wisata Alam Ruteng.

Sepanjang jalan pepohonan menjulang tinggi. Hujan kian deras, kabut masih menyelimuti, kami pun tiba di Danau Rana Mese.

Danau Rana Mese merupakan salah satu destinasi wisata favorit dari pengguna jalan. Letaknya yang berada di dekat jalur trans Flores mendorong pengguna jalan untuk menepi sejenak demi mengagumi karya Tuhan yang indah.

Puas melihat Danau Rana Mese, kita akan tiba di kampung Lerang, desa Golo Loni kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur.

Di sini, kita bisa melihat hamparan persawahan dari warga desa yang memanjakan mata. Pepadian yang mulai menguning memberi harapan bagi para petani tentang hasil yang tidak mengecewakan.

Saat menepi di senja hari, pada mentari yang hendak kembali, kita dapat bersua dengan para petani yang baru saja mengais asa di ladang kebanggaan mereka. Tidak ada salahnya untuk mengajak mereka ngobrol sebentar, menggali pelajaran hidup dari mereka yang bertahan hidup dengan bercocok tanam.

Kami terus memacu kendaraan dengan hati-hati. Hujan masih lebat, beruntung kami memakai mantel, juga jaket yang cukup tebal.

Jalanan lurus nan-mulus menyambut kami saat tiba di kampung Rentung, desa Golo Loni kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur. Memandang ke arah barat dari tepi jalan di kampung Rentung, kita dapat menyaksikan ladang garapan warga. Jika sedang musim tanam, kita menyaksikan para petani yang membajak sawah menggunakan kerbau.

Setelah lewati Rentung, menyibak hujan dan melawan kabut, kami memilih menepi kuda besi di kampung Tokol desa Compang Kempo kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur. Dinginnya sore itu memaksakan kami untuk berhenti sejenak di salah satu kedai kopi yang terletak di tepi jalan.

Kini kampung Tokol menjadi salah satu pilihan favorit dari pengguna jalan trans Flores untuk beristirahat. Perpaduan antara keramahan pemilik kedai kopi, ditambah dengan letaknya di ketinggian dengan pemandangan persawahan warga di lembah ngarai jadi suguhan utama.

Menepi di sini bisa jadi salah satu pilihan yang tak akan kamu lewati. Sembari menyaksikan petani yang sedang menggarap ladangnya, kita dapat memesan kopi. Sebelum menyeduh kopi ke dalam cangkir, pemilik kedai akan melontarkan pertanyaan perdana pada para pengunjung.

“Nana, kopi pahit atau kopi manis?” Tanyanya dengan senyuman yang ramah. Orang Manggarai Timur biasa menyeduh kopi pahit. Jangan heran apabila kamu mendapat pertanyaan kopi apa yang kelak akan kamu minum.

“Kopi manis, tanta.” Jawabku.

Kami pun menyeruput kopi. Teman perjalanan saya, Yogis Mite, mengambil kamera untuk mengambil gambar. Persawahan warga yang sebagiannya mulai menghijau terlihat memukau, sementara lainnya sedang dibajak menggunakan kerbau untuk ditanam padi.

Hujan belum juga sirna, kami menyeruput kopi hingga dasar cangkir terlihat. Jarum jam kian meninggi, sore kian melaju bersama kabut yang belum juga pergi. Kami memutuskan untuk pulang setelah membayar kopi yang sudah diminum.

Perjalanan pun dilanjutkan, melewati Sita lalu melihat anak-anak desa di tepian jalan yang menjajal dagangannya. Mereka memiliki daya juang untuk terbang tinggi demi meraih mimpi. Meski mereka masih kecil, namun semangat mereka tidak mungil. Mereka kuat seperti baja.

Akhirnya, usai menyibak hujan yang lebat, kami tiba di Golo Mongkok desa Watu Mori kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur. Cuaca cerah menyambut kedatangan kami.

Perjalanan yang sebelumnya diguyuri hujan lebat terasa melelahkan saat kami tiba di rumah. Beruntung saat tiba  di rumah, Mama menimpali saya dengan pertanyaan perdana.

“Nana, pasti dingin im?”

“Mama buat kopi ee.”

Ah, Mama memang paling baik su di jagat raya. Saya tentu menyetujui tawarannya. []

Erik Jumpar, tinggal di Manggarai Timur. Sedang bermimpi untuk membangun rumah baca untuk anak-anak di kampung halamannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here