Mendidik generasi milenial dalam lingkup seminari

Penulis: Fr. Charles Matly, calon imam Keuskupan Agung Merauke, Papua, sedang studi S2 di Ambon, Maluku

0
244
Seminari Katolik
Ilustrasi masuk seminari - foto/instagram/@katolik_garis_lucu

Dewasa ini, generasi milenial menjadi topik yang cukup hangat di kalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi maupun moral dan budaya. Selain itu, generasi milenial terkenal juga sebagai generasi yang punya gaya hidup serba cepat, praktis dan mudah.

Terlebih dalam lingkup pendidikan harus diakui juga bahwa generasi ini terkenal sebagai generasi yang sulit dididik. Dalam mencermati kenyataan demikian saya lantas bertanya bagaimana cara mendidik generasi milenial?

Sebagai pembelajar saya kemudian mulai mendalami pelbagai macam teori, khususnya yang berbicara tentang pendidikan. 

Perihal cara mendidik generasi milenial, hal penting yang ingin saya katakan adalah bahwa pada era yang baru ini, yang harus dididik tidak hanya anak, tetapi juga orang tua. Letak persoalannya adalah pada masalah perubahan. 

Sekarang kita berada di abad perubahan, karena itu jelas bahwa peradaban antara orang tua dan anak pun sudah sangat berbeda. Mengutip nasihat Aidh Abdullah Al-Qarni dalam bukunya, “Cahaya Zaman” sebagai berikut; 

Nasihat bagi para orang tua adalah hendaknya mereka membiarkan anak-anak mereka berjalan sesuai dengan kecenderungan, watak dan karakter masing-masing. Beri mereka kebebasan untuk memilih jurusan sekolah, jenis kegiatan, pengembangan potensi, dan jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Dengan tetap menjadikan agama, nilai-nilai luhur dan akhlak mulia sebagai kontrol dan barometer. Yang lain boleh berkompromi, tapi dalam hal agama, nilai dan akhlak tidak ada kata kompromi lagi.” 

Maka akan sangat celaka ketika orangtua mulai menyekolahkan anaknya sama dengan cara seperti dulu ia disekolahkan. 

Konkretnya, ada sebagian orang tua yang memasukkan anaknya ke jurusan sekolah yang dia inginkan, tanpa mau memperdulikan keinginan dan kecenderungan anak itu sendiri, sehingga akhirnya si anak gagal dalam studinya, karena dia dipaksa mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak dia sukai. 

Sebagian orang tua memaksa anaknya untuk bekerja di dalam bidang tertentu yang sebenarnya tidak disukai oleh si anak, sehingga akhirnya si anak gagal dalam pekerjaan tersebut. Kenyataan inilah yang seharusnya menjadi keprihatinan orang tua, untuk tidak menutup ruang dan kesempatan bagi anak, dalam mengeksplorasi bakat dan potensinya berhadapan dengan arus perkembangan masa kini.

Tidak hanya itu, kemajuan teknologi dan informasi semakin menjadi tumpuan bagi generasi milenial, untuk mengakselerasi skill dan wawasan. 

Dalam konteks pendidikan, bagi generasi ini media sosial menjadi sumber atau rujukan utama belajar. Pengetahuan-pengetahuan teknis dengan jalur cepat, dapat diakses menggunakan internet. 

Situs-situs belajar dan video-video yang berkaitan dengan pengetahuan teknis dapat menjadi rujukan untuk belajar secara efektif. Ini membuktikan bahwa dunia telah memberikan kesempatan yang luas bagi generasi milenial untuk berkarya dalam bidang apapun. 

Dengan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa semua orang memiliki independensi atau suatu kebebasan untuk mengeksplorasi apa yang disukai. Kendati memang terhadap pertumbuhan teknologi perlu kejelian dan kejernihan berpikir untuk menganalisis konten-konten yang tersedia. 

Secara mendasar dibutuhkan digital literacy dan religious literacy, agar tidak menyebabkan para pemuda terjebak pada fitnah, hoaks, dan kesalahan menganalisis sumber data. Inilah tantangan bagi generasi milenial, yang akan menjadi wajah Indonesia masa depan.

Selama hidup di tengah-tengah umat saat menjalankan tahun karya di Merauke, dinamika sosial generasi milenial terasa begitu dekat. Rutinitas kehidupan yang terjadi lewat interaksi dan komunikasi antarseminaris (anak seminari) membuatku mengamati sekaligus menilai, seperti apa generasi milenial sekarang ini. 

Bagi saya, generasi milenial sekarang punya kekurangan yang sangat mendasar, yaitu ketidakmampuan melihat tujuan. Mengapa dikatakan demikian? Karena banyak orang tua yang mengambil proses pengambilan keputusan yang seharusnya independen oleh anak. 

Sebagai contoh, “ketika mengadakan rekoleksi dengan beberapa seminaris. Saya memberikan beberapa pertanyaan, yang salah satunya berkaitan dengan motivasi menjadi imam. Rata-rata dari mereka menjawab, karena keluarga yang mendorong untuk harus menjadi imam.” 

Bagi saya ini sebuah keputusan yang diambil dengan tidak sadar dan bebas. Mereka dipaksa untuk mengikuti kehendak orang lain tetapi berada di bawah tekanan, baik secara internal maupun eksternal. Karena itu, sebagai pembina perlu adanya kewaspadaan berhadapan dengan persoalan demikian. 

Dalam hal ini, penting untuk melihat dan memastikan bahwa mereka masuk ke seminari bukan karena terpengaruh misalnya oleh saudara atau didorong oleh alasan lain. 

Ada beberapa kasus bahwa seseorang masuk ke seminari hanya untuk memperoleh keuntungan akademik. Perhatikan, yang harus diingat ketika orangtua secara gamblang memaksa putra mereka masuk ke seminari. Mereka hanya tertarik bahwa putra mereka akan memperoleh pendidikan murah namun berkualitas. 

Dengan mengizinkan ia masuk, dalam kasus ini, akan mengalahkan tujuan seminari dan berkompromi untuk sanggup membentuk mereka supaya benar-benar memikirkan panggilan imamatnya. 

Ini membuktikan hal tersebut akan merusak diri mereka sendiri karena ia hidup dalam kebohongan, di lingkungan di mana ia tidak terpanggil dan ia tidak dapat mengenalinya. 

Selain itu, ada pula calon imam (seminaris) yang motivasinya mau menjadi imam akhirnya keluar dan meninggalkan panggilannya karena motivasi panggilan yang ia miliki tidak kuat dan tidak mengakar di dalam dirinya, yang akhirnya melemahkan semangatnya untuk berjuang sampai pada tujuan imamat. 

Lantas bagaimana memahami ketajaman panggilan hidup secara tepat bagi seminaris?

Kesan saya memahami pertanyaan di atas mungkin hanya Tuhan yang mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab panggilan merupakan suatu misteri; misteri di mana ketika kita mencoba meyakini bahwa itu suara Tuhan, di sisi yang sama suara lain berkata bahwa itu mungkin hanya fantasi kita. 

Jika dipikir lebih dalam, jarang sekali orang yang mau untuk hidup tidak menikah, terikat aturan, hidup melulu dalam biara dan komunitas. Namun itulah suara-suara yang menemani perjalanan hidup seseorang. Tinggal bagaimana kita berserah kepada Tuhan atas keterbatasan kita dalam memahami suara-suara tersebut. 

Untuk alasan ini, saya yakin doa merupakan tugas pertama bagi siapa pun yang mempunyai tanggung jawab yang sulit, untuk dapat masuk dalam pusat pembentukan imamat. 

Seminari Katolik
Dokumen Optatam Totius tentang pembinaan imam – foto/dokpenkwi.org

Walaupun demikian, gereja melalui dekrit Optatam Totius (tentang pembinaan imam) mengharapkan agar semua motivasi panggilan yang dimiliki oleh calon imam itu dirasakan benar-benar membahagiakan, seperti yang dikatakan dalam OT: 

“Hendaknya dalam hati para seminaris makin menemukan kegembiraan panggilan mereka sendiri” (OT., art. 5). 

Artinya, bahwa calon imam harus merasa gembira dan bahagia dengan panggilan yang sedang ia geluti. Karena dengan demikian, ia akan terarah dengan sendirinya pada imamat suci sebagai tujuan dari perjalanan panggilannya.

Lantas bagaimana caranya agar seorang calon imam dapat dikatakan sebagai pribadi yang memiliki motivasi panggilan yang murni dan benar, mendalam dan dewasa, kuat dan bertahan. Tentunya calon imam adalah seorang yang sehat secara psikologis. 

Dalam artian bahwa calon imam harus mampu bertanggung jawab terhadap keputusannya. Untuk itu, ia perlu memiliki motivasi yang kuat dan dewasa dalam menggunakan waktu-waktu luang, untuk belajar agar motivasi panggilan yang dirasakannya itu tetap membuatnya kuat dan bertahan dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada. 

Konkretnya ialah berusaha untuk hidup dalam kebenaran dengan belajar hidup jujur dari hal-hal sederhana, seperti dalam pergaulan dengan sesama seminaris, maupun dengan pembina serta karyawan/karyawati yang juga turut membantu mereka dalam perjuangan menuju panggilan imamat. 

Perlu menyadari diri juga sebagai pribadi yang beretika dan memiliki sopan santun dalam berperilaku maupun dalam bertutur kata dengan orang lain sebagai penegasan atas kedewasaannya. Selain itu belajar juga untuk mendewasakan diri dalam mengolah dorongan seksualitasnya, dan berbagai hal lainnya. 

Semua ritme perjalanan panggilan seorang calon imam akan semakin kuat apabila ada usaha untuk menghayati nilai-nilai luhur yang diperoleh dalam pendidikan. Namun motivasi untuk menjadi seorang imam itu akan melemah dengan sendirinya apabila semua nilai yang diperoleh dalam pendidikan itu dirasakan sebagai sesuatu yang mengekang kebebasan.

Untuk itu, motivasi panggilan yang murni dan benar, mendalam dan dewasa, kuat dan bertahan dalam diri calon imam untuk menjadi seperti Kristus harus menjadi perhatian terus-menerus sejak awal, dari calon imam itu sendiri dan dari pembina yang ditugaskan Gereja untuk membina para calon imam. 

Apabila motivasi yang demikian ini terus disoroti dan menjadi target dari calon imam sendiri beserta para pembina dalam proses pembinaan, maka tentu diri calon imam akan semakin mendapat arahan dari Kristus agar menjadi seperti Dia, yang berani menderita karena kasih dan bersedia mati demi kebenaran. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here