Mencari jejak leluhur yang hilang

Dari jurang yang dalam, entah dia berteriak minta tolong dan berdoa atau apa pun. Yang pasti jejak kepergiannya dimulai dari tempat ini. Di tebing yang tinggi dan jurang yang dalam bernama Tengku Cireng. Dari jurang pencarian ini, ditemukan harapan dan tunas-tunas baru. Jejak sang leluhur terlacak.

Pada zaman dulu dia jatuh ke jurang saat istrinya sedang hamil. Sejak saat itu keberadaannya tidak diketahui sang istri dan dipastikan sudah meninggal.

Namun, namanya tidak diketahui sehingga keturunannya hanya menyebut Empo Nggolong. Nggolong artinya jatuh ke jurang (seperti terguling-guling).

Dia nggolong di sebuah jurang yang oleh orang-orang di kampung sebut Tengku Cireng.

Ihwal nggolong-nya juga masih dugaan karena kurangnya referensi tutur. Namun cerita tutur diwariskan dari generasi ke generasi hingga sekarang. Diprediksi empo ini nggolong karena tiba-tiba saja ketika itu dia hilang.

Tokoh muda Kampung Lentang, Alex Rasul menuturkan kepada saya pada Rabu, 6 November 2019 melalui pesan WhatsApp bahwa:

Menurut ata peci toe nggolong melainkan wendo le darat atau lekor tae data tu’a. Memang one lupi ngampang one meseng akhirnya sepakat teti eta bea (Menurut orang berilmu, dia bukan jatuh melainkan dibawa lari oleh makhluk halus bernama darat atau orang-orang tua menyebutnya lekor. Memang penemuannya persis di jurang yang dalam sekali sehingga masyarakat sepakat mengangkat jenazahnya).”

Baca juga:

Makna upacara kelas orang Manggarai

Jika berdiri di tengku itu, kita tampak berhadapan dengan gunung tertinggi kedua di Tana Manggarai, Poco Kuwus, di arah barat laut Pulau Flores.

Kepergian atau kematian Nggolong tidak dituturkan, apakah kemudian dibuat ritual setelahnya atau upacara apa pun. Hanya dituturkan dia nggolong dan di sekitar kawasan Tengku Cirenglah kampung pertama orang Lentang (Desa Lentang) dan Lamba (Desa Lamba-Ketang), Manggarai.

Tahun berlalu dan musim berganti keturunannya tumbuh dan berkembang hingga menjadi dua kampung dan sejumlah anak kampung di Kecamatan Lelak.

Pada suatu ketika dia datang melalui mimpi dan diamini oleh “ata peci” atau “ata mata gerak” (tetua adat atau warga yang punya pengetahuan supranatural) sebagai Empo Nggolong.

Singkat cerita ata peci dan tetua adat berkesimpulan bahwa empo ini, mayatnya masih tidur begitu saja di sebuah jurang yang dalam. Oleh sebab itu, jenazahnya harus diangkat dan ke tempat yang layak di puncak tengku (tebing). Maka dibuatlah ritual pengangkatan dan pembuatan rumahnya (boa) di Puncak Tengku Cireng pada Selasa, 5 November 2019.

Persis dua hari setelah peringatan Hari Arwah umat beriman dalam tradisi Gereja Katolik, warga Kampung Lentang yang terdiri dari Pat Ame (empat keturunan) dan Woe Lela serta Anak Rona Ara, dan disaksikan keturunan kakak dari kampung tetangga–Lamba–berbondong-bondong ke Tengku Cireng untuk menggelar ritual tersebut.

Di sana mereka membuat beberapa ritual, di antaranya, adak teti tobo (mengangkat jenazah), ancem peti (memasukkan dalam peti jenazah) wae lu’u (semacam uang duka), dan boak (penguburan) disertai tudak atau doa-doa permohonan dan harapan.

Ritual tersebut dilakukan dengan menggunakan telur sebagai tuak, ayam persembahan, dan uang wae lu’u.

Sejak upacara pembuka ini, empo ini diketahui bukan lagi hanya disebut Nggolong, tetapi bernama Benggar (e dibaca seperti pada kata emak, elang, atau mengeram).

Nama Benggar kemudian menjadi “perdebatan” bagi sejumlah anak muda generasi milenial, sebab dikaitkan dengan kata “bengkar“. Bengkar artinya keluar dengan sendirinya dari benda tertutup seperti kacang dari kulitnya, bambu, cangkang, dan sejumlah tempat tertutup lainnya. Keluar dari persemaian.

Kata bengkar biasanya terdapat dalam go’et atau ungkapan “bengkar one mai belang agu bok one leso” (muncul dari dalam bilah bambu/suluh dan bertunas dari matahari). Orang-orang Manggarai biasa menyebut keturunannya dengan “bengkar one belang” jika merujuk pada penduduk asli atau jelmaan dari wujud yang tidak ada menjadi ada.

Nama Benggar pun dikaitkan dengan go’et tersebut dan diperkirakan kejadian nggolong atau hilangnya empo ini terjadi pada 900 tahun lalu.

Penduduk Lentang dari Pat Ame, woe dan Anak Rona Ara akhirnya sudah membuat rumah (boa) Empo Benggar dan upacara selanjutnya (kenduri dan lain-lain) akan dihelat setelah melalui kesepakatan dalam lonto leok (duduk bersama) di rumah adat (mbaru tembong). Sekiranya Ema Benggar tenang di alam sana!

Benggar adalah wake agu pu’un (akar dan pohon) bagi keturunan Kampung Lentang. Benggar memperanakkan Empo Tuke, dan Empo Tuke memperanakkan Ratus Makur, Teka Wewam Ntoal dan Ngara Waem Rani.

Ngara Waem Rani memperanakkan keturunan atau generasi Kampung Lentang dan beberapa anak kampung di sekitarnya di Desa Lentang, sedangkan Ratus Makur dan Teka Wewam Ntoal dua kakaknya ini melahirkan generasi Kampung Lamba, Desa Ketang, Kecamatan Lelak. 

Baca juga:

Tradisi wuat wa’i dan pesta sekolah di Lentang

Beberapa keturunan Ngara Waem Rani tersebar di Golo Karot Lembor dan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, serta sekitar daerah Reok, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, dan beberapa daerah lainnya di Manggarai dan Flores.

Porong ca malok kali lako, ca tonggong kali tombo. Cama lewang nggari pe’ang, cama po’e nggari one” (Semoga semakin seiring sejalan, seiya sekata. Sependapat dan seperjuangan). []

#JPR6NV2019

@kredit foto dan video, Kaka Adrianus Rabun dan Kaka Alex Rasul
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *