Manusia yang berpikir menurut Descartes

0
40
Rene Descartes
Rene Descartes - Foto/estudioscavernarios.com

Siapa itu manusia? Menjawab pertanyaan ini, mungkin kita tidak akan berpikir panjang dan langsung bisa memberi jawaban “manusia adalah saya, Anda dan kita.”

Jawaban demikian tidaklah salah,  tetapi apakah definisi manusia sesingkat itu? Apakah manusia hanya sebatas saya, Anda dan kita?

Ulasan ini berupaya menampilkan kepada pembaca tentang manusia menurut Rene Descartes.

Mungkin sebagian dari para pembaca belum mengenal siapa itu Descartes? Mari kita sejenak berkenalan dengan beliau!

Descartes umumnya dikenal sebagai bapak filsafat modern (1596-1650). Ia lahir di La Haye Touraine, Prancis, dari sebuah keluarga bangsawan.

Dikisahkan bahwa ia pernah menempuh pendidikannya pada sebuah sekolah Yesuit kemudian belajar ilmu hukum, kedokteran dan ilmu alam.

Jika kita pernah mendengar semboyan “saya berpikir maka saya ada” atau istilah kerennya “cogito ergo sum”, Descarteslah pencetus semboyan tersebut.

Selain itu, ia juga mengklaim bahwa hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan (pasti). Terkait dengan satu hal itu, tidak ada seorang pun yang dapat menipu kita, sekalipun dia adalah iblis. Hal tersebut adalah “bahwa aku ragu-ragu terhadap segala sesuatu”.

Menurut Descartes, ini (meragukan segala sesuatu) bukanlah khayalan melainkan kenyataan, karena pada saat itulah (ragu-ragu) aku sedang berpikir. Bahwa aku berpikir, bukanlah sebuah khayalan melainkan kenyataan, karena pada saat itu tiada seorang pun yang bisa menipu aku, melainkan aku sungguh sadar bahwa aku memang sedang berpikir dan karena itu aku ada.

Itulah sekilas inti pemikiran dari Descartes mengenai filsafatnya (manusia yang berpikir). Jika Anda sulit memahami dan menerima pemikiran dari Descartes ini, (cobalah baca sehingga Anda bisa pahami dengan baik) itu pertanda bahwa Anda sedang ragu-ragu, dan karena Anda ragu-ragu, maka Anda sedang berpikir, dan karena Anda sedang berpikir maka Anda ada.

Oleh karena itu, Anda tidak ragu-ragu (pasti) bahwa Anda sedang berpikir dan itu pertanda bahwa Anda ada (baca: sadar). Selanjutnya, mari kita mengenal siapa itu manusia dalam alam pemikiran Descartes.

Sebelum masuk ke alam pemikiran Descartes, mari kita melihat definisi manusia secara umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manusia adalah makhluk yang berakal budi.

Apa itu makhluk? Lebih lanjut KBBI menjeslakan bahwa makhluk adalah sesuatu yang dijadikan atau yang diciptakan oleh Tuhan. Sesuatu yang diciptakan itu bisa berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi dalam hal ini, sesuatu yang dimaksudkan itu adalah manusia (saya, Anda dan kita).

Manusia sebagai makhluk (ciptaan) tidak berdiri sendiri, melainkan padanya juga disematkan akal budi, sehingga dengan demikian disebut sebagai makhluk yang berpikir.

Pada manusia (saya, Anda dan Kita) ada yang disebut akal budi. Lantas apa yang dimaksud dengan akal dan budi? Akal sendiri merupakan daya atau kemampuan untuk berpikir (kemampuan melihat dan memahami sesuatu/realitas).

Sedangkan budi merupakan alat batin/jiwa (perasaan menimbang baik dan buruk). Manusia jika dipahami dari definisi umum ini, maka kita bisa menarik suatu pemahaman bahwa manusia bukanlah makhluk yang berdiri sendiri, melainkan padanya ada beberapa “perangkat lunak” yang memiliki peran yang amat penting sehingga pribadi manusia itu bisa disebut sebagai manusia atau makhluk (ciptaan) yang berpikir.

Manusia dalam pandangan Descartes

Ajaran Descartes tentang manusia bersifat dualistis (rohani dan jasmani/bendawi). Bahwa manusia terdiri dari dua unsur yakni rohani dan jasmani. Unsur rohani mendapat penekanan yang lebih dominan bagi Descartes, artinya bahwa unsur rohani dalam diri manusia sebagai makhluk memiliki peran yang substansial. Sedangkan yang jasmania hanya dilihat sebagai sebuah perangkat yang akan berfungsi apabila mendapat “inspirasi” dari unsur rohani. Unsur rohani itu berupa jiwa sedangkan yang jasmani yakni badan.

Jiwa dan tubuh

Jiwa; pandangan umum mendefinisikan jiwa sebagai roh yang ada di dalam tubuh yang menyebabkan seseorang menjadi hidup. Dengan demikian jiwa memiliki peran penting karena denganya manusia menjadi hidup.

Sejalan dengan itu, Descartes mengartikan jiwa sebagai substansi/hakikat yang tunggal, tidak bersifat bendawi dan tidak dapat mati. Jiwa memiliki pemikiran sebagai sifat asasinya, atau dengan kata lain, berpikir merupakan sifat dasar dari jiwa. Jiwa merupakan semacam “sistem” yang bertugas menggerakan tubuh sehingga menjadi hidup.

Jika dianalogikan secara “dangkal” jiwa ibarat sebuah mesin mobil misalnya. Jika tanpa mesin, tentu mobil tersebut tidak dapat dijalankan. Mobil tanpa mesin, maka mobil tersebut tidak akan hidup, demikian pun manusia tanpa jiwa, manusia tidak akan hidup.

Tubuh/badan merupakan hal kedua dari diri manusia yang bersifat bendawi. Mengapa merupakan hal yang sifatnya nomor dua? Hal ini dikarenakan Descartes menganggap bahwa jiwa memperalat tubuh untuk perbuatan-perbuatan tertentu. Di antara tubuh dan jiwa ada pertentangan yang tak terjembatani.

Kesatuan yang tampak antara jiwa dan tubuh hanya bersifat lahiriah saja, sebab masing-masing mewujudkan hal yang berdiri sendiri-sendiri. Hakikat manusia ada pada jiwanya. Jiwa berada di dalam sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil (glandula pinealis). Secara tidak langsung jiwa mempengaruhi tubuh dengan mengambil alih gerak-gerak tubuh (Harun Hadiwijono, 1980:24).

Manusia yang utuh

Sepintas, demikianlah gambaran jiwa dan tubuh yang menjadi unsur pembentukan manusia sebagai makhluk yang berpikir menurut Descartes. Oleh karena itu, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Descartes memahami manusia bukan sebagai satu kesatuan antara jiwa dan tubuh. Manusia menjadi utuh apabila jiwa (daya pikir) yang ada padanya “mengambil alih kemudi” untuk membimbing manusia  (saya, Anda dan Kita) itu sendiri kepada apa yang disebut olehnya sebagai “Kesempurnaan” yakni Allah. Mengapa demikian? 

Descartes yang terkenal dengan semboyan cogito ergo sum menyadari dirinya sebagai makhluk yang terbatas. Ia sedikit berpikir tentang sebuah akal budi (jiwa) sebagai kodrat yang senantiasa bertanya.

Sebagai kodrat yang bertanya, maka manusia adalah sebuah ketidaksempurnaan. Refleksi ini (ketidak sempurnaan karena senantiasa bertanya) membimbingnya sampai pada salah satu bukti dari eksistensi Allah.

Descartes tahu, dengan berbagai kesaksiannya, bahwa ia bukanlah sebuah (makhluk) yang sempurna. Ia berusaha menyimpulkan bahwa tentang “kesempurnaan” pasti tidak pernah datang dari dirinya atau dari ada (makhluk)yang tidak sempurna lainnya.

Kesempurnaan tersebut hanya datang dari sesuatu yang sempurna pada dirinya sendiri, yang ia sebut Allah. Allah adalah kenyataan dengan semua kesempurnaan-Nya (James Garvey, 2010: 67).

Pemahaman Descartes tentang manusia yang lebih menekankan peranan jiwa sebagai intisari dari kehidupan manusia itu sendiri, sesungguhnya ingin menghantar manusia sebagai makhluk yang terbatas itu untuk memikirkan tentang sebuah realitas “kesempurnaan hidup”.

Oleh karena tubuh merupakan hal jasmani yang dapat binasa (mati), maka pada dasarnya tubuh tidak akan bisa mencapai “kesempurnaan” hidup. “Kesempurnaan” hanya akan mungkin jika manusia menggunakan jiwanya (daya pikir) untuk memikirkan sekaligus mengarahkan tubuh kepada realitas “kesempurnaan” yang ia sebut sebagai Allah. Hal ini menjadi mungkin karena menurut Descartes jiwa tidak dapat binasa (mati) dan karena itulah ia sangat menekankan jiwa (daya pikir) sebagai substansi yang mendasari kehidupan manusia sebagai makhluk.

Sebuah refleksi

Amat mungkin bagi manusia menggunakan jiwanya (baca: daya pikir) untuk mengarahkan dirinya kepada Allah sebagai sebuah realitas kesempurnaan hidup dalam pemikiran Descartes dan tentunya kita sebagai umat beriman yang senantiasa menaruh harapan pada-Nya sebagai asal, sumber dan tujuan kehidupan kita.

Melalui jiwa (daya pikir) memungkinkan manusia untuk memahami diri dan kehidupannya sebagai makhluk yang terbatas, dan pada saat yang sama membutuhkan suatu kepastian akan masa depannya yang bernilai abadi (disempurnakan).      

Pernahkah manusia berpikir seperti ini; “bahwa sebelum ia lahir, ia tidak ada. Setelah lahir ia kemudian ada, akan tetapi pada saat kelak mengalami kematian maka ia tidak akan ada lagi di dalam dunia ini”.

Lantas dari mana ia datang dan kemana ia pergi? Ataukah ia akan ada untuk selama-lamanya? Dalam bentuk apa? Roh? Atau badani? Sejumlah hal ini mungkin bisa tersingkap apabila manusia sungguh mampu mengarahkan jiwanya (daya pikir) pada Allah sebagai realitas “Kesempurnaan”. Hanya dalam “Kesempurnaan-lah” (baca: Allah) segala misteri tentang kehidupan manusia bisa tersingkap.

Melalui jiwa (daya pikir) manusia paling kurang bisa menyingkapkan tentang asal usulnya. Contoh: sebagai seorang pribadi, manusia mempunyai orang tua yang melahirkannya atau dengan kata lain menyebabkan pribadi manusia tersebut sehingga ia boleh ada di dunia ini.

Orang tua yang melahirkan itu, juga masih dilahirkan lagi oleh orang tuanya (kakek-nenek kita), demikian pun seterusnya bahwa sebelum manusia melahirkan, terlebih dahulu ia harus dilahirkan. Muncul pertanyaan; “siapa yang menjadi penyebab pertama dari kelahiran yang terjadi pada kita manusia”?  

Dengan jiwa (daya pikir), manusia harus mampu mengakui bahwa mesti ada “orang tua” yang paling pertama “melahirkan” kita, atau dengan kata lain menciptakan kita sebagai manusia, sehingga kita menjadi ada, karena pada awalnya kita tidak ada. Dari rangkaian ini, dapat dikatakan bahwa “orang tua” pertama dari manusia sebenarnya adalah Allah yang diyakini sebagai pencipta segala sesuatu.

Manusia sebagai ciptaan, menandakan bahwa manusia itu sendiri bukanlah sesuatu yang sempurna. Hal ini sejalan dengan refleksi Descartes yang melihat dirinya sebagai makhluk yang tidak sempurna. Salah satu hal yang pasti, terkait dengan ketidak-sempurnaan manusia yaitu peristiwa kematian.

Manusia betapapun mulianya dan mengagung-agungkan dirinya bahagia selama hidupnya di dunia, ia pasti akan mengalami kematian.

Menjadi suatu tanda tanya besar bagi manusia pada saat mengalami kematian. Ke manakah ia (baca: manusia) pada saat tubuhnya mengalami kematian? Satu yang pasti terekam oleh indera ialah dibaringkan dalam liang lahad ataukah dibakar hingga menjadi debu. Amat miris, menyaksikan peristiwa yang demikian. Manusia yang dulunya mengagung-agungkan dirinya bahagia, berakhir dengan peristiwa yang miris, menjadi debu. Itulah akhir dari hidup manusia (saya, Anda dan kita).

Melihat realitas manusia (saya, Anda dan kita) yang demikian memungkinkan adanya perasaan takut, cemas dan khawatir dengan peristiwa yang akan menimpah diri kita, karena hanya akan berakhir pada liang lahad. Seakan-akan hidup manusia berhenti di situ, tidak ada masa depan yang lebih jelas dan cerah.

Maka satu-satunya cara untuk bisa memastikan bahwa kita akan mengalami masa depan yang lebih baik dan pasti setelah kematian ialah berpikir dan berharap pada Allah yang menjadi sumber dan tujuan hidup kita, sebab Dialah realitas kesempurnaan. Tiada kekurangan pada-Nya.

Berpikir dan berharap bahwa masa depan kita tidak hanya akan berakhir pada liang lahad. Adanya jiwa (daya pikir) memungkinkan kita untuk senantiasa berharap pada Allah sebagai realitas kesempurnaan.

Entah bagaimana masa depan kita secara pasti setelah mengalami kematian, mungkin itu adalah urusan Allah yang telah menciptakan kita. So! don’t worry. Sejauh kita bisa berpikir dan mendekatkan diri serta berharap kepada-Nya, mungkin itulah yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita yang utama. []

Penulis: Fr.Wandi, OFM, Biarawan Fransiskan Papua, sedang menjalani Tahun Orientasi Karya (TOK) di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi, Jayapura

Referensi

Garvey, James. 2019. 20 Karya Filsafat Terbesar, Yogyakarta: Kanisius.

Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius

Smith, Linda dan Reaper, William.2000.Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, Yogyakarta: Kanisius.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here