Makna upacara kelas orang Manggarai

Dalam tata budaya kematian orang Manggarai, Flores, dikenal adanya upacara kelas (e dibaca seperti pada kata enak). Kelas merupakan upacara terakhir dari seluruh rangkaian acara tatkala seseorang meninggal dunia.

Pada saat upacara kelas, segenap keluarga hadir, berkumpul dan berdoa untuk keselamatan sanaknya yang telah meninggal. Pada saat itu, biasanya seekor babi (di beberapa wilayah tertentu, khususnya di Manggarai Timur, bisa dipersembahkan kerbau) dipersembahkan sebagai kurban demi keselamatan dia yang meninggal dunia.

Babi atau kerbau itu didoakan (tudak) terlebih dahulu sebelum dibunuh dan dipersembahkan sedikit dagingnya kepada dia yang dikelaskan, dan sebagian besarnya dimakan bersama oleh segenap keluarga.

Orang Manggarai juga seringkali menyebut kelas dengan istilah “Icing luni, pedeng bokong“. Dalam arti ini, kelas merupakan saatnya keluarga yang masih hidup memberikan bekal kepada orang yang meninggal (yang dikelaskan).

Bekal yang dimaksudkan di sini berupa doa-doa dan hewan kurban. Bekal itu bertujuan agar dia yang dikelaskan selamat dan lancar sampai di rumah Tuhan di surga.

Hal ini nampak dalam go’et berikut: “Denge lite ema Domi (misalnya saja). Ai ho’o de leso remong rapak reke, ngasang ami ca keluarga mese, anak rona, anak wina, pa’ang mandung, ase-kae kudut adak icing luni pedeng bokong dite“.

Terjemahan:
“Dengarlah Bapak Domi (misalnya saja). Karena hari inilah hari yang dijanjikan, kami satu keluarga, kami satu keluarga besar, anak rona, anak wina, satu kampung, adik/kakak–famili, mengadakan upacara pemberian bekalmu.”

Selain itu, orang Manggarai juga menyebut kelas dengan istilah “paka di’a” (harus baik). Paka di’a pertama-tama dimaknai sebagai upacara, dimana, segenap keluarga yang masih hidup berkumpul dan berdoa untuk orang yang telah meninggal dunia supaya ia “harus baik”.

Harus baik di sini, dalam arti, supaya ia yang telah meninggal itu memperoleh kebaikan atau keselamatan kekal di surga. Ia boleh tinggal bersama Allah di surga. Hal ini terungkap dalam go’et tudak/torok tatkala upacara kelas berlangsung:

Porong hia ema Domi (misalnya saja) kali ga, lako molor ngger eta mbaru surga. Neka da’et one mangkeng, neka do’ong one golo. Neka bas sangged ata da’at, agu neka lorongs sangged jogot du lonto golon. Porong hia ata poli benta le Dewa-awit le Jari kali ga, lako di’a-di’a hia nggere le ranga de Morin agu Ngaran. Le ngaji dite, porong nggelok agu nggeluk wakar diha nggereta mbaru Surga.”

Terjemahan:
“Semoga kau bapak Domi (misalnya), jalan baik-baik ke rumah di surga. Jangan berhenti di lembah, jangan berhenti di bukit. Jangan bawa semua yang jahat, jangan mengikuti kemauan rasa benci selama hidup di kampung. Semoga dia yang sudah dipanggil Tuhan, pergi dengan baik ke pangkuan Sang Pemilik Kehidupan. Ole karena doa-doa kita, semoga (ia) dibersihkan dan dikuduskan menuju surga.”

Namun, orang Manggarai meyakini juga bahwa paka di’a, yang artinya “harus baik” bukan hanya untuk kebaikan/keselamatan orang yang meninggal, tapi juga untuk kebaikan kita yang masih hidup atau ditinggalkan oleh orang yang telah meninggal.

Kita yang masih hidup memohon berkat dan perlindungan Tuhan atas hidup dan karya kita. Tepatnya, kita yang masih hidup memohon berkat dan perlindungan Tuhan dengan perantaraan dia yang telah meninggal dunia (dia yang dikelaskan).

Memohon kepada Allah supaya dia yang telah meninggal itu juga yang mengaruniakan berkat dan perlindungan kepada kita. Di sini, kita melihat bahwa dia yang telah meninggal dunia telah memiliki kekuatan seperti Allah. Ia bisa menjadi pemberi berkat bagi yang masih hidup.

Ini terjadi karena kita meyakini bahwa dia yang telah meninggal dunia, telah memperoleh keselamatan atau telah tinggal bersama Allah di surga. Ia telah menjadi “orang kudus”. Sebagai orang kudus, pantaslah kita memohon doanya.

Hal ini misalnya terungkap dari go’et berikut:

Hitu pate hitun, sua laing du’ang, tara mangan lonto torok-loce neki, one acara kelas ho’o, kudut tegi momang agu berkak de Morin latang sanggen keluarga ata ledong le ema Domi. Mai ga ite, keng agu condo kamping Morin, latang sangged ase-kae, anak rona-anak wina, pa’ang agu ngaung ata ledong agu pencang liha ema Domi. Porong wecak le gerak-worang le momang-agu widang ciar le Morin agu Ngaran. Porong hia ema Domi ata poli wale benta de Morin, hia kali ga ata pengge le-tadu lau sangged darap agu kolang de tana latang sangged keluarga ata ledong agu pencang liha. Porong hia ema Domi kali ga neka potos hae lonton, agu neka dades hae ka’engn. Neka manga nipus sangged po’ong agu paeng. Le ngaji diha ema Domi kamping Morin agu Ngaran, porong ite kali ga beka agu buar. Kembus wae teku, mboas wae wo’ang. Nggalas nawa kudut nganceng kawe hang bara. Nggaring nai kudut nganceng kawe mose nai. Uwa gula, bok leso. Langkas haeng ntala, uwa haeng wulang. Wiko le ulu, jengok lau wa’i.”

Terjemahannya:
“Itulah bagian lainnya, kedua, sebab-musabab duduk sama-sama dalam satu tikar, di acara kelas inu, untuk meminta belas kasihan dan berkat Tuhan bagi semua keluarga yang ditinggalkan Bapak Domi. Marilah kita, memohon dan meminta kepada Tuhan, untuk adik/kakak (keluarga), anak rona-anak wina, satu anggota kampung yang ditinggalkan Bapak Domi. Semoga dilimpahi cahaya, disirami cinta kasih (belas kasihan), diberikan semangat oleh Tuhan Sang Pemilik Kehidupan, semoga Bapak Domi yang dipanggil Tuhan, menjadi penghalang panasnya untuk keluarga yang dia tinggalkan. Semoga Bapak Domi jangan menarik (panggil) teman semasa hidup dan jangan bawa teman hidup. Jangan mengingatkan (lagi) tanaman dan hewan-hewan ternak. Oleh karena dia Bapak Domi kepada Tuhan Dan Pemilik Kehidupan, semoga kita berkembang dan bertambah. Aliran air di mata air tetap deras, deras mata air yang  menghidupan warga satu kampung. Jiwa yang bersemangat agar bisa mencari nafkah. Hati yang lapang (iklas) supaya bisa mencari kehidupan. Tumbuh dan berkembang di pagi dan siang, tinggi mencapai bintang, tumbuh mencapai bulan. Tumbuhkan tanaman penyedia air di mata air (hulu), dan jengok di hilir.” []

Foto: Ilustrasi doa di makam, Juni 2019 –  delomes/dokpri

Penulis: Pater Rikardus Nsalu SMM, rohaniwan dan biarawan Katolik dari Ordo Societas Maria Montfortana (SMM)

Catatan:

  • Terjemahan dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas redaksi Lomes
  • Anak rona : sebutan untuk keluarga mama dalam hubungan kekeluargaan orang Manggarai
  • Anak wina atau woe: sebutan untuk saudari dari bapak dan anak perempuan
  • Jengok: tumbuhan rimpang sejenis jahe yang biasa digunakan untuk obat-obatan dan penangkal roh halus.
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *