Lebih dekat dengan petani sawah

0
170
Salah satu petani sedang membersihkan ladangnya di Persawahan Golo Mongkok, Manggarai Timur

Belakangan ini, ragam aktivitas petani di sawah kerap kali menjadi objek yang saya perhatikan. Maklum, warga di sekitar tempat tinggal saya rata-rata sebagai petani. Berkebun di sawah merupakan bagian dari rutinitas dalam kehidupan harian mereka.

Buntutnya, topik tentang bertani jadi suguhan saat bersua dengan warga yang lain. Isu-isu sentral dalam dunia pertanian sudah kelampau akrab di telinga kami sebagai anak kampung, entah tentang proses sejak masa tanam, merawat, hingga masa panen.

Semenjak masa tanam, kesibukan petani sudah mulai tampak. Benih-benih padi disiram di salah satu petak. Orang-orang di tempat saya menyebutnya petak bibit. Setelah dibiarkan tumbuh dan berkembang selama tiga minggu, benih-benih itu siap untuk ditanami.

Proses selanjutnya dilakukan dengan membersihkan petak-petak sawah. Perlahan-lahan pemilik sawah meninggalkan aktivitas yang lain, apapun itu. Konsentrasi petani hanya menyiapkan petak-petak untuk ditanami.

Petak-petak yang akan ditanami dibajak dengan menggunakan kerbau. Orang yang memiliki kerbau biasanya akan membajak sawah dengan memakai tiga ekor kerbau atau lebih. Kerbau-kerbau itu akan diikat menjadi satu, lalu diarahkan oleh salah satu orang sebagai pengendali. Kaki-kaki kerbau itu yang akan mengemburkan tanah di dalam petak sawah.

Revolusi industri turut berpengaruh juga pada dunia pertanian. Kalau dulu mengandalkan kerbau, saat ini sudah beralih dengan memanfaatkan traktor. Masuknya teknologi pada dunia pertanian perlahan-lahan meninggalkan pengolahan tanah secara tradisional. Boleh dibilang, saat ini kebanyakan petani kita tak lagi menggunakan kerbau, traktor sebagai solusinya.

Membajak sawah dengan menggunakan kedua pola di atas memang prosesnya berbeda jauh. Dengan menggunakan kerbau, waktu yang dibutuhkan lebih lama. Sementara menggunakan traktor diuntungkan dengan efektivitas dan efisiensi. Waktu dipangkas, biaya operasional pun lebih murah.

Setelah proses penyiapan di awal masa tanam telah usai, petani pun melanjutkan dengan mulai menanam padi. Orang Manggarai menyebutnya rede. Saat rede, biasanya orang Manggarai mengandalkan tradisi gotong royong yang cukup melekat. Di wilayah kecamatan Rana Mese, kabupaten Manggarai Timur, kami menyebutnya dodo.

Dodo merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang-orang yang terlibat di dalam dodo akan bekerja secara bergilir pada ladang dari mereka yang terlibat di dalam sistem dodo tanpa diberi upah sama sekali.

Di zaman serba edan ini, perlahan-lahan sistem dodo ditinggalkan. Sekarang untuk melakukan proses tanam di sawah hanya mengandalkan buruh harian. Tenaganya dibayar, tak ada yang gratisan.

Setelah proses tanam, petani boleh lega untuk sementara waktu. Pada masa ini dapat diisi dengan mencari kesibukan lain. Apapun itu, entah menjadi buruh harian di tempat orang, ataupun mengolah ladang yang lain.

Padi perlahan-lahan mulai bertumbuh dan berkembang. Anak padi mulai bertambah. Petani yang baik tentu akan memberi pupuk pada tanamannya. Pupuk-pupuk yang dipilih bisa dari pupuk kimia maupun dari pupuk organik.

Di masa kini, rata-rata petani kita masih mengandalkan pupuk kimia. Minimnya kemampuan dalam mengolah pupuk organik mengakibatkan pemupukan padi masih bersumberkan dari pupuk kimia. Intervensi pemerintah masih kurang, entahlah!

Waktu terus bergulir, padi sebagai ladang asa dari para petani agar dapur tetap berasap terus bertumbuh dan berkembang. Bersamaan dengan padi yang terus tumbuh, tanaman lain juga ikut tumbuh menghambat proses pertumbuhan.

Pada masa ini, petani siap-siap membersihkan sawahnya dari rumput liar. Orang Manggarai menyebutnya tawi. Tawi dilakukan untuk membersihkan tumbuhan liar yang menghambat proses bertumbuh dan berkembang dari padi. Tawi bisa mengandalkan tenaga harian, bisa juga mengandalkan dodo, tergantung kemampuan ekonomi dari pemilik sawah.

Setelah tawi, para petani bisa rehat sejenak. Aktivitas yang lain bisa dijalankan, asalkan tetap memantau perkembangan tanamannya di sawah. Bukan tidak mungkin, di masa-masa setelah tawi, serangga perusak tanaman akan mengganggu. Obat-obat penyemprotan harus disiapkan jika sesekali dibutuhkan dalam membasmi serangga pengganggu tanaman.

Padi mulai berbunga. Walau tidak semua, tetapi tampilannya yang mulai menunjukkan harapan bagi petani patut disyukuri. Benih-benih di awal masa tanam yang tampaknya tak menghasilkan apa-apa kini menunjukkan harapan.

Makin jauh hari berganti, bulir-bulir padi mulai menunjukkan warna kuning keemas-emasan. Makin hari, padinya makin merunduk. Bulir-bulir padi terlihat anggun dengan buahnya yang kian merunduk.

Kita akan tiba di aktivitas pamungkas. Memanen padi namanya. Orang Manggarai menyebutnya ako. Ako merupakan aktivitas memanen padi di sawah. Bisa dilakukan dengan mengedepankan budaya dodo, atau pilihan terakhir dengan membayar tenaga harian.

Perempuan dalam dunia pertanian Manggarai biasanya yang melakukan ako, sedangkan laki-laki biasanya yang lahong. Lahong merupakan aktivitas mengambil padi yang telah dipanen di petak untuk dibawa menuju tempat perontokkan padi.

Di masa kami kecil, merontok padi menggunakan cara tradisional. Disebut rik. Padi diinjak menggunakan kaki, lalu dipisahkan isi dengan tangkainya. Sekarang dengan teknologi yang kian pesat, ada mesin perontok padi. Masyarakat kita lebih akrab dengan nama mesin rontok.

Begitu ritme yang dilakukan oleh para petani sawah. Mulai mengolah sawah sejak masa tanam hingga panen dengan doa yang begitu istimewa; semoga dapur tetap mengepul. Barangkali dengan membeli jerih payah petani dengan harga tinggi, kita telah mendukung mereka jika bertani bukan pekerjaan yang kotor, apalagi menjijikkan.

Jauh dalam kehidupan kita sehari-hari, kiranya kita tetap memakai ilmu padi. Semakin tua semakin merunduk, semakin berisi semakin rendah diri. Tidak angkuh. Salam dari pematang sawah yang ada di kampungmu ini. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here